PENGERTIAN BID’AH MACAM-MACAM BID’AH DAN HUKUM-HUKUMNYA

PENGERTIAN BID’AH MACAM-MACAM BID’AH DAN HUKUM-HUKUMNYA

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

PENGERTIAN BID’AH

Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Sebelumnya Allah berfirman.

Badiiu’ as-samaawaati wal ardli
“Artinya : Allah pencipta langit dan bumi” [Al-Baqarah : 117]

Artinya adalah Allah yang mengadakannya tanpa ada contoh sebelumnya.

Juga firman Allah.

Qul maa kuntu bid’an min ar-rusuli
“Artinya : Katakanlah : ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul”. [Al-Ahqaf : 9].

Maksudnya adalah : Aku bukanlah orang yang pertama kali datang dengan risalah ini dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambanya, bahkan telah banyak sebelumku dari para rasul yang telah mendahuluiku.

Dan dikatakan juga : “Fulan mengada-adakan bid’ah”, maksudnya : memulai satu cara yang belum ada sebelumnya.

Dan perbuatan bid’ah itu ada dua bagian :

[1] Perbuatan bid’ah dalam adat istiadat (kebiasaan) ; seperti adanya penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalamnya penyingkapan-penyingkapan ilmu dengan berbagai macam-macamnya). Ini adalah mubah (diperbolehkan) ; karena asal dari semua adat istiadat (kebiasaan) adalah mubah.

[2] Perbuatan bid’ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukumnya haram, karena yang ada dalam dien itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru (berbuat yang baru) di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut, maka perbuatannya di tolak (tidak diterima)”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan : “Artinya : Barangsiapa yang berbuat suatu amalan yang bukan didasarkan urusan kami, maka perbuatannya di tolak”.

MACAM-MACAM BID’AH

Bid’ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam :

[1] Bid’ah qauliyah ‘itiqadiyah : Bid’ah perkataan yang keluar dari keyakinan, seperti ucapan-ucapan orang Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang sesat sekaligus keyakinan-keyakinan mereka.

[2] Bid’ah fil ibadah : Bid’ah dalam ibadah : seperti beribadah kepada Allah dengan apa yang tidak disyari’atkan oleh Allah : dan bid’ah dalam ibadah ini ada beberapa bagian yaitu :

[a]. Bid’ah yang berhubungan dengan pokok-pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at Allah Ta’ala, seperti mengerjakan shalat yang tidak disyari’atkan, shiyam yang tidak disyari’atkan, atau mengadakan hari-hari besar yang tidak disyariatkan seperti pesta ulang tahun, kelahiran dan lain sebagainya.

[b]. Bid’ah yang bentuknya menambah-nambah terhadap ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat kelima pada shalat Dhuhur atau shalat Ashar.

[c]. Bid’ah yang terdapat pada sifat pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah yang sifatnya tidak disyari’atkan seperti membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan dengan cara berjama’ah dan suara yang keras. Juga seperti membebani diri (memberatkan diri) dalam ibadah sampai keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

[d]. Bid’ah yang bentuknya menghususkan suatu ibadah yang disari’atkan, tapi tidak dikhususkan oleh syari’at yang ada. Seperti menghususkan hari dan malam nisfu Sya’ban (tanggal 15 bulan Sya’ban) untuk shiyam dan qiyamullail. Memang pada dasarnya shiyam dan qiyamullail itu di syari’atkan, akan tetapi pengkhususannya dengan pembatasan waktu memerlukan suatu dalil.

HUKUM BID’AH DALAM AD-DIEN

Segala bentuk bid’ah dalam Ad-Dien hukumnya adalah haram dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Barangsiapa mengadakan hal yang baru yang bukan dari kami maka perbuatannya tertolak”.

Dan dalam riwayat lain disebutkan :

“Artinya : Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak didasari oleh urusan kami maka amalannya tertolak”.

Maka hadits tersebut menunjukkan bahwa segala yang diada-adakan dalam Ad-Dien (Islam) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat dan tertolak.

Artinya bahwa bid’ah di dalam ibadah dan aqidah itu hukumnya haram.

Tetapi pengharaman tersebut tergantung pada bentuk bid’ahnya, ada diantaranya yang menyebabkan kafir (kekufuran), seperti thawaf mengelilingi kuburan untuk mendekatkan diri kepada ahli kubur, mempersembahkan sembelihan dan nadzar-nadzar kepada kuburan-kuburan itu, berdo’a kepada ahli kubur dan minta pertolongan kepada mereka, dan seterusnya. Begitu juga bid’ah seperti bid’ahnya perkataan-perkataan orang-orang yang melampui batas dari golongan Jahmiyah dan Mu’tazilah. Ada juga bid’ah yang merupakan sarana menuju kesyirikan, seperti membangun bangunan di atas kubur, shalat berdo’a disisinya. Ada juga bid’ah yang merupakan fasiq secara aqidah sebagaimana halnya bid’ah Khawarij, Qadariyah dan Murji’ah dalam perkataan-perkataan mereka dan keyakinan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan ada juga bid’ah yang merupakan maksiat seperti bid’ahnya orang yang beribadah yang keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shiyam yang dengan berdiri di terik matahari, juga memotong tempat sperma dengan tujuan menghentikan syahwat jima’ (bersetubuh).

Catatan :
Orang yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah syayyiah (jelek) adalah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Artinya : Sesungguhnya setiap bentuk bid’ah adalah sesat”.

Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukumi semua bentuk bid’ah itu adalah sesat ; dan orang ini (yang membagi bid’ah) mengatakan tidak setiap bid’ah itu sesat, tapi ada bid’ah yang baik !

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan dalam kitabnya “Syarh Arba’in” mengenai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap bid’ah adalah sesat”, merupakan (perkataan yang mencakup keseluruhan) tidak ada sesuatupun yang keluar dari kalimat tersebut dan itu merupakan dasar dari dasar Ad-Dien, yang senada dengan sabdanya : “Artinya : Barangsiapa mengadakan hal baru yang bukan dari urusan kami, maka perbuatannya ditolak”. Jadi setiap orang yang mengada-ada sesuatu kemudian menisbahkannya kepada Ad-Dien, padahal tidak ada dasarnya dalam Ad-Dien sebagai rujukannya, maka orang itu sesat, dan Islam berlepas diri darinya ; baik pada masalah-masalah aqidah, perbuatan atau perkataan-perkataan, baik lahir maupun batin.

Dan mereka itu tidak mempunyai dalil atas apa yang mereka katakan bahwa bid’ah itu ada yang baik, kecuali perkataan sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu pada shalat Tarawih : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, juga mereka berkata : “Sesungguhnya telah ada hal-hal baru (pada Islam ini)”, yang tidak diingkari oleh ulama salaf, seperti mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu kitab, juga penulisan hadits dan penyusunannya”.

Adapun jawaban terhadap mereka adalah : bahwa sesungguhnya masalah-masalah ini ada rujukannya dalam syari’at, jadi bukan diada-adakan. Dan ucapan Umar Radhiyallahu ‘anhu : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, maksudnya adalah bid’ah menurut bahasa dan bukan bid’ah menurut syariat. Apa saja yang ada dalilnya dalam syariat sebagai rujukannya jika dikatakan “itu bid’ah” maksudnya adalah bid’ah menurut arti bahasa bukan menurut syari’at, karena bid’ah menurut syariat itu tidak ada dasarnya dalam syariat sebagai rujukannya.

Dan pengumpulan Al-Qur’an dalam satu kitab, ada rujukannya dalam syariat karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan penulisan Al-Qur’an, tapi penulisannya masih terpisah-pisah, maka dikumpulkan oleh para sahabat Radhiyallahu anhum pada satu mushaf (menjadi satu mushaf) untuk menjaga keutuhannya.

Juga shalat Tarawih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat secara berjama’ah bersama para sahabat beberapa malam, lalu pada akhirnya tidak bersama mereka (sahabat) khawatir kalau dijadikan sebagai satu kewajiban dan para sahabat terus sahalat Tarawih secara berkelompok-kelompok di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup juga setelah wafat beliau sampai sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu menjadikan mereka satu jama’ah di belakang satu imam. Sebagaimana mereka dahulu di belakang (shalat) seorang dan hal ini bukan merupakan bid’ah dalam Ad-Dien.

Begitu juga halnya penulisan hadits itu ada rujukannya dalam syariat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis sebagian hadits-hadist kepada sebagian sahabat karena ada permintaan kepada beliau dan yang dikhawatirkan pada penulisan hadits masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum adalah ditakutkan tercampur dengan penulisan Al-Qur’an. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, hilanglah kekhawatiran tersebut ; sebab Al-Qur’an sudah sempurna dan telah disesuaikan sebelum wafat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka setelah itu kaum muslimin mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai usaha untuk menjaga agar supaya tidak hilang ; semoga Allah Ta’ala memberi balasan yang baik kepada mereka semua, karena mereka telah menjaga kitab Allah dan Sunnah Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak kehilangan dan tidak rancu akibat ulah perbuatan orang-orang yang selalu tidak bertanggung jawab.

[Disalin dari buku Al-Wala & Al-Bara Tentang Siapa Yang harus Dicintai & Harus Dimusuhi oleh Orang Islam, oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan At-Tibyan Solo, hal 47-55, penerjemah Endang Saefuddin.]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=439&bagian=0

About these ads

202 comments

  1. hmmm…. Guys,, jdi agk bingung nie.. berarti bisa jadi, orang yg mngelompokan ‘BID’AH’ itu terbagi aliaz ada bid’ah yg baik. dosa donk orang tsbut, lantas bagamna dngn facebookan? atw saya mu tanya, apakah Baginda Rassulullah saw pernah pacebookan? sukron ………..

    1. mas uday kan udah ada penjelasannya di atas facebook itu bid’ah yang masuk di dalam adat atau kebiasaan literatur masyarakat.jadi g masuk di dalam syariat ibadah jadi ya g masuk dalam bid’ah yang menyesatkan .Akan tetapi facebook menjadi haram manakala melupakan manusia itu daripada mengingat allah atau menjadi lahan untuk narsis diri agar mendapat pujian orang lain, sedangkan hanya ALLAH swt dan Rasulnya yang berhak mendapat pujian.

  2. Obat itu baik, Vitamin itu baik tapi kalo tdk sesuai dgn resep dokter maka ada efek samping nya karena over dosis begitu ibadah itu baik (Hasanah) tapi kalo tidak sesuai dgn petunjuk Allah SWT & Rasul nya maka ibadah itu menjadi sesat (dzolalah )

  3. Khalifah Umar bin Abdul Azis membukukan hadits, padahal ada hadits Nabi yang melarang menuliskan hadits (karena khawatir tercampur dengan Al-Qur’an).
    Semua atsar diatas menunjukkan bahwa tidak semua perkara baru adalah bid’ah dhalalah, jadi perlu diselidiki dulu faktor maslahat dan manfaatnya, illat hukumnya, maqashid syariahnya dan sebagainya.

    jangan gampang memvonis bid’ah dhalalah terhadap semua perkara baru, tapi juga jangan terus seenaknya membuat perkara baru yang tanpa ada tujuan dan kemaslahatan yang nyata.

  4. Kita tidak boleh fanatik dengan pendapat satu imam saja, seperti imam maliki. di dalam dunia islam,ada 4 Imam Madzhab. dan keempat imam itu berbeda-beda….. jangan langsung menuduh saudara semuslim seiman sesat . . .

  5. ﴾ Al Ahzab:41 ﴿
    Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.

    Maha benar Allah dengan segala firman NYA…

    Ternyata untuk orang yg BERIMAN…

  6. meskipun itu adalah bid’ah hasanah ttep aja namanya Bid’ah!!!
    perkara khalifah ustman membuat mushaf adalah bid’ah menurut bahasa!!

  7. aku setuju pada mas,,,,menurut saya juga bidah itu sesat,,karna rasul pnah bersabda setiap amalan2 yg d tembah2i ialah bidah,,,dan setiap bidah sesat!!!kd untuk yg bilang bahwa sanya bidah ada yg baek,,,saya minta satu hadis ajj bahwasanya bidah itu ada yg baik!!!!coba jelaskan

  8. Yup betul…..agama adalah tuntunan, bukan tontonan…hal yg sudah umum ada dimasyarakat yg dianggap “baik” belum tentu itu ada dlm syariat. Baru2 ini, istri seorang artis inisial SJ meninggal kecelakaan, sbl dimakamkan, sang suami melakukan adzan…….(Berarti adzannya dikuburan)…

  9. bid’ah tidak bisa dianggap masalah kecil bukankah perpecahan Islam berawal dari bid’ah??? konflik internal Islam tingkat penghacurannya lebih dahsyat dibanding dengan konflik dengan orang-orang kafir yang terang-terangan memerangi Islam, kita lihat bagaimana lahirnya aliran-aliran dalam Islam, khawarij, syiah, ahmadiah, dsb, kalau antum pelajari sejarah perkembangannya, itu terjadi karena bid’ah yang terus dibiarkan dan akhirnya berkembang menjadi besar, di Indonesiapun seperti itu (maaf bukannya suudzhon).

    Namun ada halnya bid’ah itu bermanfaat yaitu bid’ah khasanah, bid’ah yang satu ini biasanya bid’ah yang di luar cara pandang keyakinan dan ibadah kita kepada Allah, seperti perkembangan terknologi dalam segala bidang, yang manfaat dan mudharatnya jauh lebi banyak manfaatnya, bukankah rosul pernah berpesan “kamu lebih mengerti dunia mu??”

    wallahu a’lam… (tanpa bermaksud menggurui) semoga Allah mempersatukan umat Islam dalam satu prinsip yang sama tentang Islam,, amienn…

  10. terkadang….. kita terlalu egois untuk menolak sesuatu hal yg bertentangan dengan pemahaman kita, meskipun itu datangnya dari Al-qur’an dan Al-Hadits

    alangkah ruginya kita apabila melakukan suatu ibadah, tetapi tidak sesuai dengan yang telah di contohkan olah rosululloh

    semoga kita semua tidak termasuk golongan yang tetap melestarikan bid’ah

  11. kiat hrs punya niatan, untuk tidak melakukan bid’ah. meminimalisir bid’ah, dengan tujuan untuk memurnikan ajaran agama Islam. semakin kita bisa menyamakan bacaan maupun cara-cara beribadah dengan Rasulullah SAW, maka semakin kita mencintai rasulullah. semakin taat pula kita kepada Allah SWT dan rasulnya. mari kita cari ilmu sebanyak-banyaknya, untuk mencari tatacara ibadah yang diajarkan rasulullah. insya Allah hati kita akan tenang. Sebaliknya, kalau kita senantiasa punya niatan untuk tidak peduli mencari hadis-hadis yang sohih, tidak punya niatan untuk memurnikan Islam, tidak punya niatan untuk menolak bid’ah, maka kita tidak tentram. Bid’ah jelas dilarang, maka pembahasan bid’ah harus jelas ada.

  12. saya sering denger orang pada saat ceramah, sambutan, pidato, khutbah, guru saat mau memulai mengajar, atau akan memulai pembicaraan seringnya mengucapkan hadits tentang bid’ah sehingga saya jadi kurang seneng dengernya, begitu mudah orang membacakan hadits itu di depan orang banyak, jadi saran saya tolong hal-hal ini jangan sering diucapkan kecuali kalau memang ada orang yang melakukan perkara bid’ah ya “silahkan” tapi dengan cara yang baik.

  13. Pengertian Bid’ah

    Oleh : hamba allah.yg g mera paling benar…

    Setelah membahas masalah As Sunnah tersebut maka kini sampailah pada pembahasan mengenai bid’ah. Hal yang ditekankan pada pembahasan disini mengenai makna bid’ah, pengertian bid’ah yang dinilai Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai kesesatan dalam agama. Para ahli telah banyak mendefisinikan arti atau makna bid’ah meskipun terjadi perbedaan lafalnya yang kemudian menyebabkan perbedaan cakupan pada bagian-bagian pengertian bid’ah tersebut, tetapi tujuan akhir dari pengertian bid’ah tersebut adalah sama. Jika di tinjau dari sudut pandang bahasa, bid’ah adalah diambil dari kata bida’ yaitu al ikhtira ‘/mengadakan sesuatu tanpa adanya contoh sebelumnya. Seperti yang termaktub dalam Kitab Shahih Muslim bi Syarah Imam Nawawi dijelaskan sebagai berikut:

    والمراد غالب البدع . قال أهل اللغة : هي كل شيء عمل على غير مثال سابق

    “Dan yang dimaksud bid’ah, berkata ahli bahasa, dia ialah segala sesuatu amalan tanpa contoh yang terlebih dahulu”[1]

    Sedangkan jika ditujukan dalam hal ibadah pengertian-pengertian bid’ah tersebut diantaranya:

    البدعة: طريقة مستحدثة في الدين، يراد بها التعبد، تخالف الكتاب، والسنة وإجماع سلف الأمة

    “Bid’ah adalah suatu jalan yang diada-adakan dalam agama yang dimaksudkan untuk ta’abudi, bertentangan dengan al Kitab (al qur`an), As Sunnah dan ijma’ umat terdahulu“
    البدعة في مقابل السنة، وهي : (ما خالفت الكتاب والسنة أو إجماع سلف الأمة من الاعتقادات والعبادات) ، أو هي بمعنى أعم : (ما لم يشرعه الله من الدين.. فكل من دان بشيء لم يشرعه الله فذاك بدعة

    Bid’ah adalah kebalikannya dari sunnah, dan dia itu apa-apa yang bertentangan dengan al qur`an, as sunnah, dan ijma’ umat terdahulu, baik keyakinnanya atau peribadahannya, atau dia itu bermakna lebih umum yaitu apa-apa yang tidak di syari’atkan Allah dalam agama…maka segala dari sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah maka yang demikian adalah bid’ah.

    الْبِدْعَةُ فِي الشَّرِيعَةِ إحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    Bid’ah dalam syari’ah adalah apa yang diada-adakan yang tidak ada perintah Rasulullah shalallahu ta’ala ‘alaihi sallam.

    وَعَنْ الْهَرَوِيِّ الْبِدْعَةُ الرَّأْيُ الَّذِي لَمْ يَكُنْ لَهُ مِنْ الْكِتَابِ وَلَا مِنْ السُّنَّةِ

    Dan dari al Harawi bahwa bid’ah ialah pendapat pikiran yang tidak ada padanya dari kitab (al Qur`an) dan as Sunnah.

    Ibnu Hajar al As Qalani dalam Fathul Bari menjelaskan
    والمراد بقوله ” كل بدعة ضلالة ” ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام

    “Dan yang dimaksud dengan sabdanya “Setiap bid’ah adalah sesat” yakni apa yang diadakan dan tanpa dalil padanya dari syari’at baik dengan jalan khusus maupun umum”[2]

    Menurut Ibnu Taimiyah: ‘ Bid’ah dalam agama ialah sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan rasul-Nya yaitu tidak diperintahkan dengan perintah wajib atau perintah sunnah. Adapun yang diperintahkan dengan perintah wajib dan sunnah serta diketahui perintah-perintah tersebut dengan dalil-dalil syar’i, maka hal itu termasuk yang disyari’atkan oleh Allah, meskipun terjadi perselisihan diantara ulama di beberapa masalah dan sama saja, baik hal itu sudah diamalkan pada masa Rasulullah atau tidak.

    Menurut As-Syahtibi: ‘ Bid’ah adalah suatu cara di dalam agama yang diada-adakan (baru) menyerupai agama dan dimaksudkan dalam melakukannya untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah ta’ala.

    Menurut Ibnu Rajab: ‘ Yang dimaksudkan dengan bid’ah adalah sesuatu yang diadakan tanpa ada dasarnya di dalam syari’at. Adapun suatu yang ada dasarnya dalam syara’, maka bukan bid’ah meskipun dikatakan bid’ah menurut bahasa.’

    Menurut As-Suyuti: ‘ Bid’ah ialah suatu ungkapan tentang perbuatan yang bertentangan dengan syari’at karena menyelisihinya atau perbuatan yang menjadikan adanya penambahan dan pengurangan syari’at. ‘

    Ulama bersefaham bahwa dari beberapa pengertian bid’ah tersebut diatas yang paling mengena pada maksud bid’ah yang dapat dikatakan sesat adalah yang diartikan oleh Iman As- Syathibi.[3] Dari definisi-definisi tersebut dapat diambil pokok-pokok pengertian bid’ah menurut syara sebagai berikut:

    a. Bid’ah ialah sesuatu yang diadakan di dalam agama. Maka tidak termasuk bid’ah sesuatu yang diadakan di luar agama untuk kemaslahatan dunia seperti pengadaan hasil-hasil industri dan alat-alat untuk mewujudkan kemaslahatan manusia yang bersifat duniawi.

    b. Bid’ah tidak memiliki dasar yang menunjukkannya dalam syari’at. Adapun hal-hal yang memiliki dasar-dasar syari’at, maka bukan bid’ah meskipun tidak ada dalilnya dalam syari’at secara khusus. Contohnya pada zaman kita ini orang yang membuat alat alat seperti kapal terbang, roket, tank, dll. dari alat-alat perang modern dengan tujuan persiapan memerangi orang-orang kafir dan membela kaum muslimin. Maka perbuatannya bukan bid’ah meskipun syari’at tidak menjelaskannnya secara rinci, dan Rasulullah tidak menggunakan alat-alat tersebut untuk memerangi orang-orang kafir. Tetapi membuatnya termasuk dalam firman Allah secara umum, ” Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja.” (Al-Anfal : 60). Begitu pula perbuatan-perbuatan lain yang semisal. Maka setiap sesuatu yang memiliki dasar dalam syara’, ia termasuk syari’at dan bukan bid’ah.

    c. Bid’ah di dalam agama kadang-kadang dikurangi dan kadang-kadang ditambah, sebagaimana dijelaskan oleh As-Suyuti meskipun perlu pembatasan bahwa sebab menguranginya adalah agar lebih mantap dalam beragama. Adapun jika sebab menguranginya bukan agar lebih mantap dalam beragama, maka bukan bid’ah. Seperti meninggalkan perintah yang wajib tanpa udzur. Itu disebut maksiat bukan bid’ah begitu pula meninggalkan perkara sunnat tidak dianggap bid’ah.

    Berdasarkan hal tersebut diatas maka bahwa bid’ah itu hanya ada dalam hal agama/ibadah, ini sesuai dengan sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam:
    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

    Artinya: “Siapa yang membuat hal baru dalam ajaran agama kami apa yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya itu tertolak.”[4]

    Dan dapat kita lihat keterkaitan antara hadist diatas dengan hadist dibawah yaitu mengenai niat dalam beribadah:

    Artinya: “Sesungguhnya segala amalan ibadah itu tergantung dari niat.”[5] Jadi para ulama bersepakat bahwa ciri amal ibadah agar diterima oleh Allah adalah:

    a. Meniatkan amal perbuatannya semata demi Allah SWT dan ikhlas kepada-Nya

    b. Amal ibadahnya itu dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat.

    Oleh karena itu, saat Imam al-Fudhail bin Iyadh yang beliau adalah gurunya Imam Asy Syafii, daa beliau juga adalah seorang faqih yang zaahid, ditanya tentang firman SWT, “….supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya….” (Al-Mulk:2), Penanya: “Amal apakah yang paling baik ??” Beliau menjawab: “yaitu amal ibadah yang paling ikhlas dan paling benar” Penanya: “Wahai Abu Ali (al-Fudhail bin Iyadh), apa yang dimaksud dengan amal ibadah yang paling ikhlas dan paling benar itu ?” Beliau menjawab: “Suatu amal ibadah, meskipun dikerjakan dengan ikhlas, namun tidak benar maka amal itu tidak diterima oleh Allah SWT. Kemudian meskipun amal ibadah itu benar namun dikerjakan dengan tidak ikhlas juga tidak diterima oleh Allah SWT. Amal ibadah baru diterima bila dikerjakan dengan ikhlas dan dengan benar pula. Yang dimaksud dengan ikhlas adalah dikerjakan semata untuk Allah SWT dan yang dimaksud dengan benar adalah dikerjakan sesuai dengan tuntunan Sunnah.[6]

    Dengan demikian nyatalah bahwa segala sesuatu itu dianggap benar apabila ibadah dilakukan ikhlas dan sesuai dengan syari’at. Jika ada ulama yang berani mengatakan bahwa jika kita beribadah asalkan dengan niat yang ikhlas akan tetapi tidak dilakukan sesuai dengan syariat atau tidak ada perintahnya mengenai peribadahan tersebut akan diterima oleh Allah maka kadar keilmuan seorang ulama itu harus di pertanyakan. Bahkan ada pula sebagian dari para ustadz-ustadz di daerah yang mereka berani sekali mengatakain asalkan niat Lillahi Ta’aala maka segala sesuatunya itu bisa diterima atau ditolak itu menjadi urusan Allah. Karena manusia hanya berusaha Allahlah yang menentukan. Mereka (para ulama-ulama tersebut) lupa atau tidak mengetahui bahwa selain ikhlas harus juga sesuai/diperintahkan oleh syari’at.

    Setelah hal tersebut diatas kemudian timbul lagi permasalahan baru yang disebut sebagai Bid’ah hasanah. Sebenarnya ungkapan bid’ah hasanah ini muncul ketika Umar r.a mendapati suatu kaum muslimin pada zamannya melakukan shalat tarawih pada malam bulan Ramadhan dengan sendiri-sendiri dan bahkan ada yang berjama’ah hanya dengan beberapa orang saja dan ada yang berjama’ah dengan jumlah besar. Keadaan ini terus berlangsung hingga Amirul Mu’minin Umar r.a mengumpulkan mereka kepada satu Imam, lalu beliau radhiallahu ‘anhu berkata: “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (shalat taraweh secara berjama’ah)”.

    Yang kemudian bisa dijadikan pertanyaan adalah apakah benar qiyamul lail dengan berjama’ah di bulan Ramadhan itu temasuk bid’ah yang dikatagorikan kepada bid’ah yang menyesatkan? Hal ini dijawab oleh Syaikh Muhammd bin Shalih al Utsaimini bahwa hal tersebut bukan bid’ah akan tetapi termasuk sunnah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan muslim dari Aisyah r.a, bahwa nabi pernah melakukan qiyamul lail di bulan Ramadhan dengan para sahabat selama tiga malam berturut-turut, kemudian beliau sholallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukannya pada malam berikutnya dan bersabda: “Sesungguhnya aku takut kalau shalat tersebut diwajibkan atas kamu lalu kamu tidak akan sanggup melaksakannya.”

    Disini jelas sekali bahwa Umar r.a tidaklah mengada-ada atau membuat ajaran baru berupa qiyamul lail dibulan Ramadhan secara berjama’ah dengan satu imam, akan tetapi beliau r.a mencoba ingin menyatukan orang-orang yang shalatnya bersendiri-sendiri dan sebagian yang lain berjama’ah. Tidak mungkin apa yang Umar r.a ucapkan “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (shalat taraweh secara berjama’ah)” adalah bid’ah yang sebagimana yang disabdakan Nabi: Setiap bid’ah itu adalah sesat.” Juga sesuatu yang tidak mungkin jikalau Umar r.a melakukan sesuatu yang dilarang oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, karena beliau adalah salah seorang hamba dikalangan sahabat yang mendapat jaminan masuk surga dan beliau juga dikatagorikan sebagai golongan generasi terbaik dan termasuk Khulafa Arasyidin yang lurus dan adil.

    Disamping itu pula ada pendapat imam Syafii yang disalahkan artikan dari sebagian kaum muslimin yang kemudian dijadikan kontrovesi dan perselisihan, dan sebagian para ulama berlindung pada qaul Imam Syafi’ie ini. Yaitu tentang pembagian bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi‘ah (buruk). Imam Syafi’I berkata:

    عَنْ حَرْمَلَة بْنِ يَحْيَ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ : سَـمِعْتُ الشَّا فِعِيَّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَقُوْلُ : اَلْبِدْعَةُ بِدْ عَتَانِ بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مُحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَ السَّنَّةَ فَهُوَ مَذْمُوْم .ٌ

    Dari Harmalah bin Yahya rahihullah berkata: “Aku mendengar as Syafi’ie rahimahullahu ta’ala berkata: Bid’ah ada dua, yaitu bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Apa yang bersesuaian dengan sunnah maka itu adalah terpuji dan apa yang bertentangan dengan sunnah berarti tercela.”[7]

    وَقَالَ الرَّبِيْعُ رَحِمَهُ اللهُ : قَالَ الشَّـافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى : اَلْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلاُمُوْرِ ضَرْبَانَ : اَحَدُهُمَا مَا اَحْدَثَ يُخَالِفُ كَتَابًا اَوْ سُنَّةً اَوْاِجْمَاعًا اَوْ اَثَرًا فَهَذِهِ الْبِدْعَةُ الضَّلاَلَةُ . وَالثَانِيْ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هَذَا فَهِيَ غَيْرُ مَذْمُوْمَة.

    Berkata Ar-Rabbi rahimahullah: Telah berkata as-Syafi’ie rahimahullahu Ta’ala: perkara-perkara yang diadakan terbagi dua: yang pertama apa yang di buat bertentangan dengan al-Kitab (al Qur’an), Sunnah, Ijma atau atsar, maka inilah bid’ah yang sesat. Kedua apa yang di buat berupa kebaikan yang tidak bertentangan dengan salah satu dari perkara (al Qur’ah, Sunnah, Ijma, dan atu atsar) maka itu perbuatan yang tidak tercela.[8]

    “Bid’ah itu terbagi kepada yang baik dan yang buruk, atau yang terpuji dan tercela. Dalam perkara ini, termasuklah setiap yang diada-adakan selepas zaman Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam dan para Khulafa Ar-Rasyidin”[9]

    Persoalan-persoalan qaul Imam Syafii ini telah dijelaskan oleh salafus shalih, diataranya Abdul Qayyum bin Muhammad bin Nasir as-Shaibani rahimahullahu dalam kitabnya اللمع فى الرد على محسني البدع hal 36 – 37.

    Beliau menjelaskan qaul Imam Syafii tersebut diantaranya:

    a. Tidak diterima seharusnya perkataan sesorang manusia yang bertentangan dengan sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam walau siapapun orangnya. Sabda Nabi adalah hujjah bagi setiap orang dan bukan perkataan seseorang itu menjadi hujjah untuk menentang/meninggalkan sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam[10] sedangkan nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda tentang bid’ah:
    وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

    Artinya: “Setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu dari neraka.”[11] Dalam hal ini juga Abdulah bin Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata:

    Artinya: Tidak ada pendapat seseorang (yang) dapat diambil atau ditinggalkan kecuali sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam.[12] Sebagai kesimpulan bahwa pendapat seseorang itu tidak bisa berketerusan diterima bila bertentangan dengan sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam.

    c. Bagi siapa yang mau mencoba untuk memahami tentang qaul Imam Syafii maka dia tidak akan ragu-ragu lagi bahwa yang dimaksudkan dengan Imam Syafii bid’ah dari segi bahasa (لغوى) bukan syar’i (شرعي). Ini berdalilkan kenyataan dari Imam Syafii sendiri sesungguhnya setiap bid’ah dalam syara bertentangan dengan al Qur’an dan As-Sunnah. Imam Syafie sendiri mengaitkan bid’ah yang baik dengan apa yang tidak bertentangan dengan al Qur’an dan as-Sunnah karena setiap bid’ah bertentang dengan firman Allah dan hadist Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam. Seperti firman-Nya
    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

    Artinya: Hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu agamamu (Al Maidah: 3) dan juga sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam:
    مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

    Barang siapa yang membuat hal baru dalam ajaran agama kami apa yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya itu tertolak.”[13] Lalu yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh Imam Syafie sebagai bid’ah hasanah/mahmudah (baik/terpuji), yaitu pembukuan mushaf mushaf Al qur’an, kitab-kitab hadist dan shalat tarawih, ini amat tepat menurut definisi bahasa karena walaupun ia tidak ada contoh sebelumnya tetapi dia ada dasarnya dari syara yakni uncapan dari para sahabat Rasul sholallahu ‘alaihi wasallam. Dan juga pembinaan madrasah karena menuntut ilmu itu wajib menurut syara. Jadi semua yang berkaitan dengan dunia yang tidak memudharatkan adalah sesuatu yang baru lagi baik/terpuji karena tidak bertentangan dengan syara.

    Penjelasan tersebut diatas menunjukan bahwa setiap bid’ah yang dikatakan terpuji sebenarnya bukanlah bid’ah, karena ia tidak melibatkan urusan agama hanya di sangka bid’ah lantaran kurang memahami istilah bid’ah menurut bahasa dan syara. Adapun bid’ah yang dianggap sesat setelah didapati secara qath’I ialah yang bertentangan dengan al Qur’an dan as sunnah dan juga tiada dalil syara yang menyertainya.

    d. Sebenarnya bagi ulama yang mengetahui pendirian Iman Syafie rahimahullah yang tegas, beliau sangat teliti dalam mengikuti Sunnah Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam dan sangat membenci kepada muqallid (orang yang bertaqlid buta) dan orang yang menolak hadist Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam. Maka sepatutnyalah seseorang itu tidak berprasangka terhadapnya sehingga kita dapati pandangan beliau terhadap hadist sahih. Terutama hadist ” Sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat”. Maka dari itu yang paling tepat dan benar ialah bahwa ucapan Imam syafie ini semestinya di letakkan di tempat yang sesuai dengan hadist tersebut bukan dijadikan alasan untuk menentang hadist tersebut, karena apa yang dimaksudkan Imam syafie ialah bid’ah dari segi bahasa (lughah) bukan dari segi syara’ atau dalam persoalan agama. Imam Syafie rahimahullah menegaskan:
    قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى : اِذَا وَجَدْتُمْ فِى كِتَابِيْ خِلاَفَ سُنَّةَ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُوْلُوْا بِهَا وَدَعُوْا مَا قُلْتُه.ُ

    “Apabila kamu temui di dalam Kitabku apa yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah, maka berkatalah (ambil/peganglah} kamu dengan sunnah tersebut dan hendaklah kamu tinggalkan apa yang telah aku katakan.”[14]

    Jika ditinjau dari segi bahasa bahwa sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi “Kullu” ini bermakna bahwa setiap atau semua. Kata Kullu ini juga dapat dipahami “semua atau setiap” seperti dalam Firman Allah surah Al Imran ayat 185, yang berbunyi ” Kullu nafsin zaa iqotul maut yang artinya Setiap atau Semua yang bernyawa pasti akan mati. Kullu disini mencakup segala-galanya, maka kata “Kullu”secara sah dan secara nyata bahwa tidak ada benda yang benyawa yang tidak akan mati.

    Jadi sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam “Kullu Bid’atin dhalalah” sudah tentu mencakupi semua bid’ah pasti sesat tanpa harus adanya bid’ah yang baik dalam hal syara’. Dengan demikian jelaslah bahwa semua dalil yang ada bersifat umum dan mutlak meskipun banyak tetapi tidak ada pengecualian sedikitpun dan sudah menjadi ketetapan ilmu ushul bahwa setiap kaidah syar’i yang umum atau dalil syar’i yang umum bila berulang-ulang di banyak tempat dan mempunyai pendukung-pendukung, serta tidak ada pembatasan dan tidak ada pengkhususan, maka hal tersebut menunjukkan tetap dalam keumumannya

    Oleh karena itu tidak layak bagi ulama zaman sekarang untuk berlindung dibalik ungkapan “Ini adalah bid’ah hasanah” bila di kaitkan dengan hal ibadah karena tidak ada jaminan dari Nabi bahwa ulama sekarang adalah sebaik-sebaiknya generasi yang disebutkan dalam sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam yang telah dijelaskan sebelumnya. Jadi intinya perkataan seorang ulama boleh diterima atau di tolak terkecuali Sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam yang mengharuskan kita terima. Yang terpenting adalah bagaimana beramal yang ikhlas dan sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya.

    Mengapa Islam keras terhadap permasalahan Bid’ah

    Permasalahan bid’ah memanglah sangat ditentang oleh agama karena bid’ah akan membawa kesesatan dan setiap kesesatan itu berasal dari neraka, bahkan Nabi kita sendiri yang menyebutnya bahwa “setiap bid’ah itu adalah sesat.” [15] Maka dari itu sangatlah berbahaya sekali bid’ah ini, karena bid’ah bisa mematikan sunnah dan merupakan seburuk-buruknya perkara.

    Saya kutipkan dari beberapa kitab hadist yang menyatakan bid’ah itu adalah sesat, dan perlu kita ketahui yang mengatakan sesat ini bukanlah dari seorang ulama akan tetapi dari Nabi kita shalallahu ‘alai sallam, diantaranya:

    * Dalam kitab Shahih Bukhari diriwayatkan sebagai berikut:

    قَالَ عَبْدُ اللَّهِ إِنَّ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَإِنَّ مَا تُوعَدُونَ لآتٍ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

    “Berkata Abdullah sesungguhnya sebaik-baiknya ucapan adalah Kitab Allah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam dan seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakannya dan (sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu tidak sanggup menolaknya – Surah Al An’am: 134)[16]

    * Dalam shahih Muslim diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, bersabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam:

    أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Sebagai pendahuluan sesungguhnya sebaik-baiknya ucapan adalah Kitab Allah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam dan seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat”[17]

    * Dalam Kitab Sunan Abu Dawud diriwayatkan dari ‘Irbadh bin Syariyah, Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإ ِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Aku wasiatkan kepada kamu hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah dan dengarlah serta ta’atlah sekalipun kepada budak Habsyi, karena sesungguhnya orang hidup diantaramu sesudahku dikemudian hari maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka dari itu hendaklah kamu sekalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah khalifah yang mendapat petunjuk dan lurus, hendaklah kamu berpegang dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham mu (berpegang teguh) dan jauhilah oleh kamu sekalian akan perkara yang diada-adakan, maka sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.[18]

    * Dalam Sunan Attirmidzy diriwayatkan dari Katsir bin Abdullah dari bapaknya dari neneknya:

    أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لِبِلاَلِ بْنِ الْحَارِثِ « اعْلَمْ ». قَالَ مَا أَعْلَمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « اعْلَمْ يَا بِلاَلُ ». قَالَ مَا أَعْلَمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « أَنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِى فَإِنَّ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلاَلَةٍ لاَ يَرْضَاهَا اللَّهُ وَر َسُولُهُ كَا نَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَا مِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ ذ َلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

    “Bahwasannya Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Bilal bin Harits (Ketahuilah) Bilal berkata: apa yang harus aku ketahui ya Rasulullah, Bersabda Nabi (Ketahuilah Ya Bilal), Bilal Berkata apa yang harus aku ketahui Ya Rasulullah, Rasulullah bersabda: {Sesungguhnya siapa yang menghidupkan Sunnah dari Sunnahku yang sungguh telah dimatikan dimasa sesudahku, maka sesungguhnya ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya dengan tidak dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa yang mengada-adakan bid’ah yang sesat yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya maka baginya seperti dosa-dosa yang mengerjakannya dengan tidak dikurangi yang demikian dari dosa-dosa orang-orang itu}. Berkata Abu ‘Isa hadis ini hasan.[19]

    * Dalam Sunan An Nasaai diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, Bersabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam:

    كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِى خُطْبَتِهِ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِى عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِىَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْىِ هَد ْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُو رِ مُحْدَثَا تُهَا و َكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

    “Adalah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam dia bersabda dalam khutbahnya dengan memuji kepada Allah dan kepadanya dan kepada keluarganya, kemudian dia bersabda barang siapa yang ditunjuki Allah maka tidak ada yang menyesatkan kepadanya, dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka tiada ada yang memberi petunjuk kepadanya, sesungguhnya sebenar-benarnya perkataan adalah Kitab Allah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam dan seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan dari neraka.”[20]

    * Dalam Mukadimah Sunan Ibnu Majah diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    إِنَّمَا هُمَا اثْنَتَانِ الْكَلاَمُ وَالْهَدْىُ فَأَحْسَنُ الْكَلاَمِ كَلاَمُ اللَّهِ وَأَحْسَنُ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ أَلاَ و َإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ شَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Sesungguhnya tiada lain melainkan dua yaitu al Kalam (perkataan) dan petunjuk, maka sebaik-baiknya kalam adalah Kalam (firman) Allah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam, ketahuilah hendaklah kamu menjauhi perkara yang diada-adakan, maka sesungguhnya seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”

    Diriwayatkan dari Hudzaifah ra, ia berkata: bersabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam:
    لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلاَ صَلاَةً وَلاَ صَدَقَةً وَلاَ حَجًّا وَلاَ عُمْرَةً وَ لاَ جِهَادًا وَلاَ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً يَخْرُجُ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعَرَةُ مِنَ الْعَجِين

    “Allah tidak akan menerima puasanya orang yang berbuat bid’ah, tidak menerima shalatnya, tidak menerima shadaqahnya, tidak menerima hajinya, tidak menerima umrahnya, tidak menerima jihadnya, tidak menerima taubatnya, dan tidak menerima tebusannya, ia keluar dari islam sebagaimana keluarnya helai rambut dari tepung.

    Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah bersabda:
    أَبَى اللَّهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ

    “Allah enggan bahwasannya menerima amal perbuatan bid’ah hingga dia meninggalkan bid’ahnya”

    * Dalam Musnad Ahmad bin Hanbal diriwayatkan dari al Qasim bin Abdurrahman, dari bapaknya dari Abdullah, ia berkata:

    إِنَّهُ سَيَلِى أَمْرَكُمْ مِنْ بَعْدِى رِجَالٌ يُطْفِئُونَ السُّنَّةَ وَيُحْدِثُونَ بِدْعَةً وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا. قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ بِى إِذَا أَدْرَكْتُهُمْ قَالَ « لَيْسَ يَا ابْنَ أُمِّ عَبْدٍ طَاعَةٌ لِمَنْ عَصَى اللَّهَ ». قَالَهَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

    “Sesungguhnya seburuk-buruknya perkara kamu sekalian sesudahku yaitu seseorang yang mematikan sunnah, mengada-adakan bid’ah dan mengakhirkan shalat dari waktunya, berkata ibnu Mas’ud Ya Rasulullah bagaimana apabila aku mengetahui mereka, Rasul bersabda: Ya Ibnu Ummi ‘Abdin tidak ada keta’atan bagi orang yang durhaka kepada Allah” Dia berkata tiga kali.”[21]

    Disamping hal tersebut diatas Dr. Yusuf Qardhawi dalam Kitabnya As Sunnah wal Bid’ah menjelaskan mengenai bahaya bid’ah diantaranya:

    a. Pembuat dan pelaku bid’ah mengangkat dirinya sebagai pembuat syariat baru dan sekutu bagi Allah Swt. Bila bid’ah dapat dibenarkan dalam Islam maka bukan tidak mungkin bila kemudian Islam akan menjadi agama yang sama dengan agama-agama sebelumnya, yang ahli-ahli agamanya menambahkan hal-hal baru dalam agamanya dengan hawa nafsunya sehingga pada akhirnya agama tersebut berubah sama sekali dari yang aslinya. Dengan demikian, orang yang membuat bid’ah meletakkan dirinya seakan-akan sebagai pihak yang berwenang menetapkan hukum dan menjadi sekutu bagi Allah. Sebagai contoh para mufasir menafsirkan ayat:
    غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

    Artinya: Bukan jalan orang-orang dimurkai atas mereka, yaitu mereka yang telah mengetahui kebenaran yang hak tetapi tidak melaksanakannya, dan berpindah kepada yang lain seperti orang-orang Yahudi, mereka telah mengetahui kitab Allah, tetapi tidak melaksanakannya, dan pada ayat selanjutnya Bukan jalan orang-orang yang sesat (al-Fatihah: 7) yaitu orang yang berani-berani saja membuat jalan sendiri diluar yang digariskan oleh Allah dan para Rasul-Nya. Contoh dalam hal ini ialah kaum nasrani karena mereka mengikuti kebenaran akan tetapi mereka tidak benar dalam melakukannya sebab tidak sesuai dengan yang telah disyari’atkan.

    Ada sebuah hadis yang sahih dirawikan oleh Abd bin Humaid dari ar-Rabi bin Anas, dan Riwayat Abd bin Hummaid juga dari pada Mujahid, demikian juga daripada Said bin Jubair dan hadist lain yang dirawikan oleh Imam Ahmad dan lain-lain daripada Abdullah bin Syaqiq, daripada Abu zar, dan diriwayatkan juga oleh Sufyan bin Uyaynah dalam tafsirnya, daripada Ismail bin Abu Kholid. Bahwa Ady bin Hatim r.a. bertanya kepada Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam., “Siapakah yang dimurkai Allah itu?” Jawab Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam., “Alyahud (Yahudi)”. “Dan siapakah yang sesat itu?” Jawab Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam. “An-Nashara (Kristen/Nasrani)”.

    Yang wajib ditekankan ialah kepada sebab-sebab maka Yahudi dikatakan terkena murka dan sebab-sebab nasrani tersesat. Yahudi dimurkai karena mereka selalu mengingkari segala petunjuk yang dibawakan oleh rasul-rasul mereka, kisah pengingkaran yahudi tersebut di dalam kitab-kitab mereka sendiri sampai sekarang, sehingga Nabi Musa AS, pernah mengatakan bahwa mereka itu keras kepala, tak mau tunduk, sampai mereka membunuh Nabi-nabi Allah. Nashoro tersesat karena sangat cintanya kepada Nabi Isa Al masih, mereka katakan Isa as itu anak Allah, bahkan Allah sendiri menjelma menjadi anak, datang kedunia menebus dosa manusia dan juga mereka membuat syari’at-syariat baru dan menambah-nambahkannya diluar dari yang ditetapkan oleh rasul-Nya. Oleh karena itu Allah mengecam tindakan kaum nasrani ini dengan firmannya:

    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan juga (mempertuhankan) Almasih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, Maha suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.” (At-Taubah: 31)

    Sebuah hadist yang diriwayat oleh Imam At-tarmidzy, dari Ady bin Hatim ra. “Bahwa ketika dakwah rasulullah sampai kepadanya, Ady lari menuju syam, ketika itu dia masih beragama Nasrani, akan tetapi saudara perempuannya telah masuk islam. Lalu saudara perempuannya membujuk Ady untuk memeluk Islam. Ady kemudian setuju dan kemudian datang menghadap Rasul dan keadaan dilehernya tergantung tanda salib yang terbuat dari perak. Ketika Rasul melihat salib tersebut, Rasul membaca ayat “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib dari kalangan mereka sebagai tuhan selain Allah….(at-taubah: 31). Ketika Ady mendengar ini, dia menjawab: Tidak ya Rasulullah, mereka tidak melakukan apa yang engkau katakan. Kemudian Rasul menjawab: “Tetapi mereka mengharamkan apa yang telah di halalkan, dan menghalalkan apa yang telah di haramkan oleh Allah. Dan bila ketetapan ini dilakukan oleh kaumnya, inilah yang di maksudkan bahwa mereka telah menyembah orang-orang alim dan rahib-rahib di kalangan mereka sebagai Tuhan mereka.

    Oleh karena tersebut diatas sudah selayaknya kita sebagai mu’min tidak mengikuti pola yang telah diterapkan oleh kaum Nasrani tersebut. Bahwa mutlak yang namanya ibadah yang berkaitan dengan syari’at itu harus sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya agar kita tidak termasuk umat yang salah jalan.

    b. Pembuat bid’ah memandang agama tidak lengkap dan bertujuan melengkapinya. Hal ini bertentangan dengan surat Al-Maidah:3 …Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam sebagai agamamu.” Ibnu Majisyun meriwayatkan dari Imam Malik–Imam Darul Hijrah–bahwa dia berkata, “Siapa yang telah membuat praktek bid’ah dalam agama Islam dan ia melihatnya sebagai suatu tindakan yang baik, berarti ia telah menuduh Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam telah menghianati risalah. Dasarnya adalah ayat di atas. Agama Islam telah sempurna sesuai pernyataan ayat tersebut dan tidak membutuhkan penambahan lagi.

    c. Praktek Bid’ah Mempersulit Agama dan menghilangkan sifat kemudahannya. Agama Islam datang dengan sifat mudah dilaksanakan, kemudian orang-orang yang membuat praktek bid’ah mengubah sifat mudah itu menjadi susah dan berat. Misalnya: Redaksi shalawat yang paling afdhal adalah shalawat yang biasa kita baca ketika Tashawud akhir. Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk membaca shalawat dengan redaksi tadi, Mungkin hanya 1/4 atau 1/2 menit. Namun banyak orang yang mengarang dan membuat redaksi-redaksi shalawat baru kepada Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam yang tidak diperintahkan oleh Allah Swt.

    d. Bid’ah dalam agama mematikan sunnah. Jika seseorang mencurahkan energinya untuk melaksanakan perbuatan bid’ah, niscaya energinya untuk menjalankan Sunnah menjadi berkurang karena kemampuan manusia terbatas. Sebagai contoh dalam sebuah majlis dzikir yang dipimpin oleh seseorang kemudian didalamnya seseorang tersebut memerintahkan kepada pengikutnya untuk membaca misalnya Alfatihah 100X, Al Ikhlas 111 X, Annas 111 X, dan Al falaq 111 X dan sebagainya, dengan tujuan yang tidak jelas dapat ilmunya dari mana akan tetapi ia berani mengatakan bahwa hal ini dilakukan untuk taqarrub kepada Allah, bahkan terlebih parah lagi jikalau untuk sesuatu yang bersifat magic seperti untuk ilmu kebatinan, kekebalan dan lain sebagainya. Dan jelaslah bahwa bid’ah itu dapat menguras energinya sehingga sunnah yang berasal dari Rasulnya tidak terpelajari karena waktu habis terkuras dengan bacaan-bacaan yang bukan di syari’atkan oleh Allah dan Rasul-nya. Apakah lebih baik jika kita membuka dan mempelajari Al Quran/tafsirnya dan Kitab-kitab hadist.

    e. Bid’ah dalam agama membuat manusia tidak kreatif dalam urusan-urusan keduniawian. Generasi Islam yang pertama banyak menelurkan kreativitas dalam bidang-bidang duniawi dan mempelopori banyak hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ilmu-ilmu Islam yang dihasilkan pada saat itu seperti ilmu alam, matematika, astronomi dan lain-lain menjadi ilmu yg dipelajari dunia dan masyarakat dunia belajar tentang ilmu-ilmu itu dari kaum muslimin. Mayoritas yang melatar belakangi generasi Islam pertama ini menggeluti dan mengembangkan ilmu-ilmu tadi adalah motif agama. Misalnya: Al-Khawarizmi menciptakan ilmu aljabar salah satunya untuk menyelesaikan masalah2 tertentu dalam bidang wasiat dan warisan. Karena sebagian darinya memerlukan hitungan-hitungan matematika. Kelihatan bahwa dalam bidang agama mereka semata berpegang pada nash dan Al-Qur’an sedang dalam bidang kehidupan mereka berkreasi.

    f. Bid’ah dalam Agama memecah belah dan menghancurkan persatuan umat. Berpegang teguh pada Sunnah akan menyatukan umat sehingga dapat menjadi satu barisan kokoh di bawah bimbingan kebenaran yang telah diajarkan oleh Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam. Karena Sunnah hanya satu sedang bid’ah tidak terbilang jumlahnya. Oleh karena itu, bila kita secara konsekuen mengikuti Sunnah maka saat itu mereka bersatu padu. [22]

    Setelah mengetahui bahwa begitu bahayanya bid’ah tersebut maka seharusnyalah kita menghindari dari hal tersebut diatas. Maka dari itu tetaplah berpegang pada Al qur-an dan Assunah, atsar dan ijma sahabat, Tabi’in dan tabi’ut tabi’in karena mereka orang yang dinyatakan Rasulullah sebaik-baiknya generasi. Berikut firman-firman Allah serta nasihat-nasihat yang diberikan oleh Nabi-Nya dan generasi terbaik yang telah tersebut diatas dan para salafus shalih untuk tidak berpecah belah lantaran perbuatan bid’ah diantaranya:

    a. Firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 102 – 103
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ – وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

    Artinya: Hai Orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan perpeganglah kamu semua dengan dengan tali Allah dan jangan berpecah-belah. Dan ingatlah nikmat Allah terhadapmu ketika kamu saling bermusuhan maka Dia satukan hati kamu lalu kamu menjadi saudara dengan nikmat-Nya dan ingatlah ketika kamu berada di bibir jurang neraka lalu Dia selamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar kamu mendapat petunjuk.

    b. Firman Allah dalam Surah Al An’am ayat 153
    وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    Artinya: Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus[23] maka ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (lainnya)[24] sebab jalan-jalan itu akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Allah berwasiat kepada kamu mudah-mudahan kamu bertaqwa.

    c. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah meridhai tiga perkara untuk kamu …diantaranya: dan hendaklah kamu berpegang dengan tali Allah.”[25]

    d. Dari abdullah bin Amr ra, dia berkata: ‘Rasulullah bersabda’: “Setiap amal perbuatan memiliki saat untuk semangat dan setiap semangat memiliki waktu lemah. Maka setiap waktu lemahnya kembali kepada sunnahku maka dia mendapat petunjuk, dan barang siapa waktu lemahnya kembali kepada bukan sunnahku maka dia akan celaka.”[26]

    e. Hudzaifah bin Al Yaman r.a berkata: “Hai para qari (pembaca Al qur’an) bertaqwalah kepada Allah dan telusurilah jalan-orang-orang sebelum kamu, sebab Demi Allah seandainya kamu melampaui mereka (para sahabat), sungguh kamu melampaui sangat jauh, dan jika kamu menyimpang ke kanan dan kekiri maka kamu akan tersesat sejauh-jauhnya.”[27]

    f. Ibnu Mas’ud berkata: “Ikutlah (sunnah) dan jangan berbuat bid’ah, sebab sungguh itu (sunnah) telah cukup untuk kalian. Dan bahwa setiap bid’ah itu adalah sesat.” [28] Dan dia r.a juga berkata: “Berpeganglah kamu dengan ilmu (as-sunnah) sebelum diangkat, dan berhati-hatilah kamu dari mengada-adakan hal yang baru (bid’ah), dan melampaui batas dalam berbicara dan membahas suatu perkara, hendaklah kalian tetap berpegang dengan contoh yang lalu.” [29] Dan dia r.a juga berkata lagi: “Sederhana dalam as sunah[30] lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah”[31]

    g. Imam Azuhry berkata: Ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan: “Berpegang dengan as-sunnah itu adalah keselamatan. Dan ilmu itu tercabut dengan segera, maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama).”[32]

    h. Sa’id bin Jubair[33] berkata: “mengenai ayat – Dan beramal shalih kemudian mengikuti petunjuk” (Surah thaha: 82), yaitu senantiasa berada diatas As-Sunnah dan mengikuti al-Jama’ah).”[34]

    i. Ibnu Abbas r.a berkata: “Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar serta jauhilah bid’ah.”[35]

    j. Imam Al Auza’i rahimahullah berkata: “Berpeganglah dengan atsar salafus shalih meskipun seluruh manusia menolakmu, dan jauhilah pendapat orang-orang (selain salafus shalih) meskipun mereka (ahli bid’ah) menghiasi perkataannya terhadapmu.”[36]*

    Demikianlah nasihat-nasihat Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam dan pendapat para generasi terbaik dari umat ini mengenai bid’ah, maka selayaknya mereka itu semua dapat di jadikan ikutan buat kaum muslimin zaman sekarang. Hal ini mereka (para sahabat, generasi setelahnya, dan setelahnya lagi) lakukan demi murninya ajaran Islam dan tidak dikotori oleh bid’ah yang menyesatkan. Ulama-ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan para imam sesudahnya, telah dapat kita lihat kebaikannya pada abad-abad kemuliaan, dan mereka telah bersepakat dalam mencela, memburukkan, menjauhi bid’ah dan pelakunya serta tidak ada keragu-raguan dan tawaquf (berdiam diri). [37]

    Footnote

    [1] Lih: Kitab Shahih Muslim bi syarah An Nawawi pada Kitab Jum’at ketika membahas masalah “Kullu Bid’atun Dhalaalah”

    [2] Lih: Fathul Bari bi syarah Shahih Bukhari Kitab Al I’thisham bikitabi wa sunnah, ketika menjelaskan hadist “sebaik-baiknya ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam dst…

    [3] Nama lengkap dari Imam As-Syathibi ialah Ibrahim bin Musa bin Muhammad al-Lakhami al-Gamathi. Ia adalah seorang ahli ushul fiqh dan hafizh hadist dari kalangan penduduk Garnathah (Grenada – sekarang). Disamping itu ia juga seorang imam madzhab Maliki. Wafat pada tahun 790H/13788 M, (lih: al-A’laam, Zerekly: 10/75). Karya-karya beliau diantaranya al-muwafaqaat fi ushul asy-syaria’ah, dan al-Iti’shaam fi bayaan as sunnah wal bid’ah.

    [4] Muttafaq ‘alaih, dari ‘Aisyah r. lih: Syarh Sunnah, karya al-Baghawi, dengan tahqiq Zuhair asy-syawisy dan syu’aib al-arnauth, 1/211, hadist no.103, juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Lih al-Muntaqa min Kitab at Targhib wa Tarhib, 1/112, hadist no.32 dan Hadist ini juga diriwayatkan oleh Imam Nawawi dalam empat puluh hadits (atau dikenal dalam Kitab Hadist Arba’in)

    [5] Penggalan hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam Bab Permulaan Wahyu, Muslim dalam Kitab al-Imaarah.

    [6] As Sunnah wal Bid’ah karya Syaikh Yusuf Qardhawi hal 17-19

    [7] Lih: Kitab الباعث على انكار البدع والحوادث karya Abi Syamah as-Syafie hal 12, dan dan juga Ibnu Hajar al Asqalani mengutipnya dalam Kitabnya Fathul Bary bi syarah Shahih Bukhari pada Kitab al I’thisham bi kitabi wa as sunnah bab “الاقتداء بسنن رسول الله صلى الله عليه وسلم

    “, ketika beliau rahimahullah menjelaskan hadist [‏إن أحسن الحديث كتاب الله وأحسن الهدي هدي ‏ ‏محمد ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وشر الأمور محدثاتها].

    [8] Kitab Al Haul karya As Suyuti, tahqiq Muhammad Muhyidin Abdul Hamid hal: 539 dan juga Ibnu Hajar al Asqalani mengutipnya dalam Kitabnya Fathul Bary bi syarah Shahih Bukhari pada Kitab al I’thisham bi kitabi wa as sunnah bab “الاقتداء بسنن رسول الله صلى الله عليه وسلم

    “, ketika beliau rahihullah menjelaskan hadist [‏إن أحسن الحديث كتاب الله وأحسن الهدي هدي ‏ ‏محمد ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وشر الأمور محدثاتها]

    [9] Lih. Al-bid’ah Tahdiidiha wa mauqif al-Islami Minha karya Izzat Ali ‘Athiah hal 160

    [10] Manaqib as- Sayfie hal 469

    [11] Lafazh tersebut Kitab Sunan An Nasaii dalam Kitab Shalat ‘Iedain, dan hadist semakna adalah banyak.

    [12] Fatawa aimatul Muslimin I/138 karya Mahmud Khatab as-Subki

    [13] Muttafaq ‘alaih, dari ‘Aisyah r. lih: Syarh Sunnah, karya al-Baghawi, dengan tahqiq Zuhair asy-syawisy dan syu’aib al-arnauth, 1/211, hadist no.103, juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Lih: al-Muntaqa min Kitab at Targhib wa Tarhib, 1/112, hadist no.32 dan Hadist ini juga diriwayatkan oleh Imam Nawawi dalam emapat puluh hadits (atau dikenal dalam Kitab Hadist Arba’in)

    [14] Al Majmu Fatawa’ I/63

    [15] HR Muslim dan Baihaqi dan Baihaqi menambahkan dalam Kitab Asma wa Sifat: Wa kullu dhalalatin fin nar dan An-Nasi’I meriwayatkan pula dengan sanad yang sahih.

    [16] Lih: Shahih Bukhari Kitab Al I’thisham bi kitabi was sunnah bab al Iqtadaa`i bisunnani Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam

    [17] Lih: Kitab Shahih Muslim Kitab Jum’at

    [18] Lih: Kitab Sunan Abu Dawud pada Kitab As Sunnah, Sunan Ibnu Majah pada Mukadimahanya, Sunan Ad Darimy pada Kitab Mukadimah

    [19] HR At Tirmidzy pada Kitab ‘Ilmu dan ia menghasankannya dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dimukadimahnya.

    [20] Lih: Kitab Sunan An Nasaii pada bab Shalat ‘Ieddain.

    [21] Lih: Musnad Ahmad dalam bab Musnad Abdullah bin Mas’ud ra.

    [22] Lih: As Sunnah wal Bid’ah karya Dr. Yusuf Qardhawi, adapun contoh dan lain sebagainya adalah penambahan dari penulis.

    [23] Ibnul qayim menafsirkan masksud dari jalan lurus ialah meng-Esa-kan Allah dalam beribadah dan menjadikan rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai satu-satunya ikutan

    [24] Jalan-jalan lain tersebut ialah berbagai bid’ah, khurafat dan syubhat sebagaimana ucapan Mujahid dan lain-lain tafsir

    [25] HR Al-Baghawy I/202 no.101

    [26] HR Ahmad dan Ibnu Hibban

    [27] As-Sunnah Ibnu Nashr dan Al Laikal I/90.

    [28] AS-Sunnah Ibnu Nashr 28

    [29] Ad Darimy 1/66 no. 143, al Ibanah Ibnu Baththah 1/324 no. 169

    [30] Sederhana dalam sunnah maksudnya tetap dalam as-sunnah meskipun hanya mengamalkan yang wajib. Syaikh Ali Hasan berkata: Kata-kata mutiara dari sahabat rasul ini juga diriwayatkan oleh banyak sahabat lainnya seperti Abu Darda. Abul Ahwas berkata: ” Wahai Sallam, tidurlah dengan cara sunnah dan itu lebih baik bagimu daripada bangun dengan cara bid’ah.

    [31] Ibnu Nashr 30, al Ibanah Ibnu Baththah 1/320 no. 161 dan Al Laikal 1/88 no. 114

    [32] Ad Darimy I/58 no.16

    [33] Murid dari Ibnu Abas r.a

    [34] Al-Ibanah 1/323 no. 165 dan Al-Laikal 1/71 no.72

    [35] Al – Itisham 1/112

    [36] Kitab as-Syari’ah 63 – *Sebagian dari permasalahan ini bisa dilihat di Kitab Lammudzur Mantzur Min Qaoulin Mantzur karya Abu Abdullah Jamal bin Farihan Al-Haristi

    [37] Pembahasan mengenai Sunnah dan bid’ah ini saya ambil dari beberapa kitab diantaranya: Shahih Bukhari dan Fathul Bari syarah Sahih Bukhari, Shahih Muslim bi Syarah Imam An Nawawi, Sunan Attirmidzy, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasai, Sunan Ad Daarimiy, Musnad Ahmad bin Hanbal, Sunan Al Baihaqi, Mauqif ahlus sunnah wal jama’ah min ahli ahwa` wa al bid’a oleh Ibrahim bin Amir ar Ruhaili, Sunah wa al Bid’ah oleh Yusuf Qadhrawi, Ahlus sunnah wal Jama’ah oleh Abu Muhammaad Dzulqarnain, Mauqif Ahluus Sunnah wal Jama’ah min ‘ulamaaniyah oleh Muhammad ‘Abdul Haadi al Mashuriy, Mauqif Ahlus sunnah wa Jama’ah minal bid’a wa al mubtadi’ah oleh Syaikh Abdur Rahman ‘Abdul Khaliq, Man hum ahlus sunnah wal jama’ah wa man hum ahlul bid’a wa Adhalaal oleh Syaikh Islam Taqiyuddin bin Tayimiyah, Hadist Arba’in oleh Imam Nawawi, Kembali kepada Al Quran dan As Sunnah oleh KH Munawar Chalil, Fatawa al Kubra oleh Ibnu Taymiyah pada Kitab Sunnah wa Bid’ah, Tariiqah Mahmuudiyah fii Syarah Thariqah Muhammadiyah wa syari’ah nabawiyah pada bab al awalu li I’thosham bikitabi wa as sunnah.

  14. BID’AH adalah perkara kecil???

    Sesungguhnya saudara, perbuatan bid’ah ini satu jalan menuju ke neraka, dan ada yg tidak menuju ke neraka, tetapi menjadi sia-sia…ianya mungkin perkara kecil tapi kesannya sangat besar…

    Harus di ingat, kalau kita tahu bahawa sesuatu yg kita lakukan itu adalah bid’ah, maka nerakalah tempat kita…

    Tapi kalau kita tak tau apa yg kita lakukan itu adalah bid’ah, Allah tak akan ambil kira, tetapi sesungguhnya apa yg kita lakukan itu adalah sia-sia…

    Sesungguhnya, syaitan sgt sukakan umat Muhammad melakukan perkara yang sia2…

    Wallahualam…

  15. Assalamualaikum…

    Dalamkan ilmu anda ttg bid’ah…

    nak bercerita disini, barangkali ada yang akan bertambah bingung…asalkan ada pengetahuan asas tentang bid’ah ini, Insyaallah semuanya xkan bingung.

    Kalau anda mengatakan “penggunaan microphone pada khotbah/ceramah di masjid…apakah bid’ah juga..??kan gak ada tuh contohx dijaman rasulullah…”

    maka, bagaimana dengan anda yg menaiki kereta/mobil?itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah bukan?

    kalau kita berfikir sebegitu, maka, mungkin ramai yg akan lebih bingung…

    nasihat saya, jumpa lah alim ulama (kalau anda masih bingung ttg artikel ini) untuk mendalami tentang bid’ah supaya kita terhindar darinya.

    Wallahualam…

  16. mau nanya..klo penggunaan microphone pada khotbah/ceramah di masjid…apakah bid’ah juga..??kan gak ada tuh contohx dijaman rasulullah……

    1. Imanem….Rasulullah SAW tidak diutus untuk mengurusi urusan ilmu dunia, tapi diutus untuk meluruskan aqidah ilmu agama, jadi kalau antum mengatakan mikropon adalah bid’ah, antum salah besar, antum ngak paham..Mikropon itu urusan dunia (IPTEK) istilah hal yang baru di dunia ya ngak apa2, tapi mengenai Syariat, Ibadah, Aqidah, Halal Haram, Rasulullah SAW bersabda : Antum ‘Alamu biumuridunyakum yang artinya Kalian dengan Ilmu Dunia lebih tahu dari pada diriku, tapi mengenai Syariat aku lebih tahu dari pada kalian.

  17. Bismillah…Berilmu sebelum beribadah,,,,bagi orang yang sudah berilmu sesuai dengan apa yang ada di Alqur’an dan Alhadits InsyaAllah tidak akan tersesat….dan ana sangat setuju pembahasan tentang Bid’ah, dan sangat berterimakasih kepada penulis yang membahas tentang kitab Bid’ah….saya mengajak kepada saudara2ku sesama muslim, mari kita beribadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, mari kita terus mencarai ilmu yang yg syar’i selama kita masih hidup, jdi intinya Bid’ah itu adlh sesat, dan setiap sesat tempatnya neraka….dan berbahagialah orang2 yg ter asing( Al Ghuroba) karena Allah bersama kita…amin jazakumullah khairan

  18. Assalamu’alaikum wr.wb untuk semua, alangkah baiknya jika pembahasan mengenai bid’ah dikonsultasikan kepada guru2 atau orang2 shalih yg mempunyai sanad atau rantai keguruan yang terus tersambung pada Rasulullah SAW, jika dibahas dalam forum seperti ini maka dikhawatirkan akan dihinggapi perasaan nafsu dan merasa paling benar, sungguh tidak mudah dan amat berat pertanggung jawabannya untuk menyampaikan hal yg kita sendiri belum tentu memahami dengan sepaham-pahamnya suatu permasalahan yg dibicarakan…mari kita sibukkan diri hadir dalam majelis2, Insya Allah sang Maha Rahmaan dan Maha Rahiim akan menenangkan hati kita semua

  19. Keselamatan dan Rahmat Allah semoga tercurah bagi Saudaraku sekalian, baik bagi mereka yang sudah maupun yang belum memahami bid’ah…

    Saudaraku, terlepas setuju atau tidaknya terhadap pendapat anda, saya menghargai semua pendapat tentang bid’ah. Biarlah nuansa perbedaan pemahaman yang ada ini berlangsung terus (dan pasti akan ada hingga akhir zaman)namun tetap dalam semangat islami. Bukankah Rasulullah SAW bersabda bahwa perbedaan yang terjadi pada kaumku adalah rahmat?

    Namun, marilah kita sepakati hal yang paling mendasar dulu, bahwa :
    “Setiap bid’ah adalah sesat” dan “Barangsiapa mengadakan hal baru yang bukan dari urusan kami, maka perbuatannya ditolak”. Karena kedua pernyataan itu berasal dari Rasulullah SAW, maka semua bisa sepakat, bukan? Dalam hal ini kita sepakat bahwa Bid’ah itu berorientasi pada perbuatan ibadah, dan memiliki pengertian : ‘hal baru yang bukan dari urusan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW’.

    Nah, untuk menambah ‘bingung’ perdebatan yang ada, ijinkan saya menawarkan sebuah wacana berikut ini. Kalau diperhatikan, pangkal dari ketidaksepahaman Saudaraku semua adalah: pengertian tentang ‘urusan’ yang dimaksud dalam bid’ah itu sendiri. ‘Urusan” disini haruslah mengandung arti ‘dasar suatu amalan’, dan bukan “tatacara suatu amalan’.

    Sehingga, bid’ah itu lebih pas kalau diartikan : ‘hal baru yang tidak memiliki dasar amalan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW’

    Dengan demikian, menyembah kepada bulan itu termasuk bid’ah, bahkan syirik. Mengapa? karena tidak ada satu pun perintah melalui kalam Allah ataupun Sunnah Rasulullah SAW untuk melakukan hal itu. Sebaliknya, berdzikir secara berjamaah pun tidak ada salahnya, karena dasar amalannya memang ada, dimana kita diharuskan mengingat Allah setiap saat. Tidak mungkin tidak, Rasulullah SAW pasti sering melakukan dzikir, sekalipun tidak dilakukan secara berjamaah. Tidak masalah. Yang kita contoh itu dasar amalannya, bukan tatacaranya. Manakah yang lebih baik antara berdzikir secara berjamaah dengan tidak berdzikir sama sekali?

    Kalau dipaksakan tatacara beribadahnya harus sama dengan Rasulullah SAW, maka akan banyak umat Islam yang dihantui perasaan Bid’ah, contohnya, apakah shalat saya ini tergolong bid’ah? hanya karena tidak adanya keterangan berapa kali Rasulullah menarik nafasnya di setiap rakaatnya. Akan banyak juga yang ragu apakah karena shalatnya tidak bersorban melainkan berpeci maka hal itu tergolong bid’ah?

    Jadi, yang harus dicontoh dari Rasulullah SAW itu bukan tatacaranya, melainkan dasar amalannya. Islam itu bersifat universal yang berlaku untuk setiap zaman. Kalaupun pada zaman Rasulullah belum ada pesawat televisi, maka Tausyiah yang dilakukan para ulama di televisi sekarang ini tidaklah bisa disebut Bid’ah, karena dasar amalan bersyi’ar itu telah juga oleh dilakukan Rasulullah SAW.

    Intinya, ‘biang-kerok’ dari perdebatan tentang Bid’ah ini adalah perbedaan pemahaman. Bid’ah ini masih perkara kecil yang tidak perlu diributkan. Perkara perbedaan yang lebih besar lagi, seperti Mazhab, tokh damai-damai saja selama ini.
    Hal kecil aja kok ribut? Begitu aja kok repot?

    Selamat tambah bingung…! Semoga beroleh hidayah mencerahkan…!

  20. Saya orang awan terhadap addien,alquran dan hadist. Namun mengenai perdebatan bid`ah atau perselisihan di kalangan umat ISLAM,jika terjadi perselihan diantara kamu maka kembali kedasar yakni Al-QUR`AN dan SUNNAH RASUL sebagai hujjah masing-masing ORANG yang berilmu, insyaallah tidak akan membawah perpecahan bahkan sebaliknya merupakan ibro bagi pembaca/pendengar karena ini perintah dari ALLAH SWT JIKA PERDEBATAN DILAKSANAKAN KARENA ALLAH, BUKAN BERDARKAN HAWA NAFSU , MAKA KITA SEMUA INSYA ALLAH AKAN DIPERSATUKAN ALLAH. AAMIIIN YA ROBBULALAMIN, Jika ada tolong beritahu saya liwat emeil

    1. mohon maaf jika keliru, sy pikir ada baiknya jika hal2 yg mengenai bid’ah di konsultasikan pada guru2 atau orang2 shalih yg mempunyai sanad atau rantai keguruan yg jelas hingga kepada Rasulullah SAW, karena dengan rantai atau sanad ini maka akan jelas pertanggung jawabannya, jika di bahas dalam forum ini tentu tidak akan dapat membawa kepada nafsu yg akhirnya menjadikan diri menjadi sombong dan merasa paling benar…

    1. Justeru ini yg saya tunggu2, jika kita konsisten, mustinya yg di maksud KULLU, itu ya ‘semua’, tak terkecuali dan tak terbatasi. Semua ya semua. Karena semua itu termasuk sarana ibadah, terkait dengan ibadah. Paling tidak , ya secara tak langsung. Setelah saya pelajari ternyata yg dimaksudkan itu masing2 memiliki dasar yang sama2 kuat. Hanya saling melemahkan dan menganggap argumennya yang paling benar, Padahal sudah di ingatkan bahwa jangan mengharamkan yg tak diharamkan oleh Allah dalam kitabnya. Dan yg paling benar hanyalah Allah semata. Mohon maaf bila tidak berkenan.

  21. BAGAIMANA DENGAN MUSYHAF AL_QUR’AN?
    Shohabat Utsman menulis dan Memushafkan AL_QUR’AN itu setelah Beberapa Tahun ROSULULLAH SAW wafat.
    bgitu pula dengan HADITS.

    ISLAM : “YASSIRUU WALAA TU’ASSIRUU”

    1. rukun iman ada 5:
      1 iman kepada allah
      2 iman kepada malaikat allah
      3 iman kepada KITAB-KITAB Allah
      4 iman kepada rosul allah
      5 iman kepada hari kiamat
      6 iman kepada qada dan qadar

      dalam rukun iman diatas disebutkan bahwa yang ketiga adalah iman kepada KITAB-KITAB ALLAH….
      KITAB berarti BUKU
      ,,,
      mungkin ini yang bisa saya sampaikan…apabila benar, itu datangnya dari allah dan apabila salah, itu smua karena kebodohan saya…

      trimah kasih…..

  22. saya setuju dg tulisan admin…….

    ayo belajar ngaji Qur an dan hadist….., kalau belajar ke2nya insya Allah kita jadi tahu betul ttg bid’ah…..
    kebanyakan kita belajar dr buku karangan orang, ulama2 yg itu bisa jadi ada sbgian yang merujuk ke pemikiran pribadi. cobalah, ngaji langsung ttg hadist2 krn itu ada sanadnya, dibimbing oleh ulama, itu akan lebih lengkap dan afdol. Hidup hanya sekali, jadi kalau belajar agama sumbernya harus benar, Al Qur an dan Hadist. Kalau belajar dr buku2/kitab karangan yg lain, dikawatirkan akan salah, sayang kan..?

  23. melihat pandangan setiap orang berbeda beda, dipengaruhi dari latar belakang, pendidikan, agama, watak dan kondisi baik intern maupun eksternal. memang dalam kenyataan baik yang tertuang dalam catatan sejarah maupun hanya dari wacana-wacana dari zaman ke zaman. bahkan yang tertulis dalam Al Quran nur Qarim maupun Al Sunnah. yang notabene jelas-jelas tertuang pada isinya. tanpa sedikitpun ada perubahan. dan Rosul sendiri yang menyatakan dan dari Allah lah semua sabda Rosul, tanpa ada pendustaan dan kenistaan. yang mana kita tahu Akhlak dan watak Rosul kita yang telah dijamin dalam lindungan penciptanya. ” Barangsiapa mengadakan hal yang baru yang bukan dari kami maka perbuatannya tertolak” saya ulang beberapa kali akan seperti ini hasilnya ” Barangsiapa mengadakan hal yang baru yang bukan dari kami maka perbuatannya tertolak” inilah sabda Nabi yang sering di klaim umat muslimin dan muslimat yang ada di seluruh penjuru dunia. apakah dengan perkataan ini kalian masih meragukan, masih menimbang- nimbang ini adalah bukan peryataan dari Rosul kalian. ingatlah setiap perkataan rosul adalah kewajiban untuk kita jalani. apakah kalian masih meragukan sabda beliau yang langsung dari Sang Kholik. yang menciptakan kalian dari segumpal tanah…. apakah kalian masih mengingkari dan menutup mata hati kalian…. sudah jelas dan sangat jelas perintah dan sabdanya. jadi tidak ada hasanah untuk urusan agama. kalau kalian menganggap bid’ah dalam ruang lingkup agama ada yang baik (hasanah), berarti kalian menganggap Nabi MUhammad belum sempurna mengajarkan umatnya, dan Allah adalah tidak sempurna, padahal telah jelas ” Hari ini telah Kusempurnakan Agamamu… Agamamu… Islam.. Islam…” kalaupun ada keinginan hasanah janganlah yang berkaitan dengan agama. jadi mohon kesadaran bagi saudara-saudara yang mengakui Allah Azza Wa zalla dan RosulNya segera kembali ke jalanNya ( Al Sunnah )…. silahkan simak dan telitilah adakah acara atau ritual seperti ini di Tanah Suci, Haram, Mekkah yang jelas-jelas asal usul dari sana. namun apa yang telah di lakukan penduduk negara Indonesia ini,,,, mengadakan sesuatu yang baru karena berpendapat …” lah nenek moyang kami dulu melakukan begini dan begitu……”…????

  24. wah perlu banyak belajar lagi tuhh !saya mau tanya ada zaman rasulullah orang mengadakan makana berbagai macam seperti dirumah anda,apakan makanan yang banyak macam itu bukan tergolong pada kesombongan bisah pada riya’ kenapa karana orang miskin ga ada yang seperti itu tapi dirumah anda ada bagai mana !saya yakin anda pasti menjawab saya kan beli dengan uang saya,saya mau sehat karna lima sepurna heehe!juga tentang hari kelahiran apakan anda ga bahagia dengan adanya kelahiran anak anda kalo anda ga gembira itu namanya manusia yang ga punya hati nurani.sedangkan anda dapat 1 jabatan aja/suatu keberhasilan sudah buat undangan yang bermacam2x dengan arti syukur apakan itu ada disuruh rasull anda naik haji pake pesawat pulang ke indonesi bawa air zam-zam dengan niat ibadah mau kasih masyarakat tapi adakah rasul menyuruh kita untuk ibadah dengan cara membawa air zam-zam itu .tidak tapi kenapa karna ada kemaslahatan/ nilai hasanah kebaikan maka ga ada larangan pak.apalagi rasulullah kita mengadaka maulit apakah itu salah.kalo salah berarti islam anda yang mengatakan bid’ah itu DIRAGUKAN> SAYA MACAR RASULULLAH.

  25. dalam mempelajari agama qt harus belajar dari para ulama,jngn secra otodidak atau dari informasi2…kdang apa yg tertlis artinya lebh luas dan dalam dri skdar kt2nya.apalg maslh bid’ah.qt jngn berani mengtakn sesuatu yg diluar hak dan pengtahuan qt.seorang guru pun utk mengjarkn ilmu agamanya harus minta ijn dari guru beliau agar tdk ada ajarn yg slh ditafsirkan.qt diberi Allah SWT pengetahuan hanya setetes air dari lautan yg luas.jd jngn menggunakn pemahaman sendiri dalm menafsirkan ayat2 Al-qur’an dan sunah Rasul.bgtu jg dalm memahami tafsiran pda kitab2 agama.qt jngn skdar mengadopsi kt2nya dan memahami sendiri kmudian mendiktenya dan menginformasikannya.tetapi blajrlah dari para ulama.

  26. Assalamu’allaikum Wr Wb
    Marilah kita akhiri perdebatan tentang batasan Bid’ah ini, petunjuk ALLAH SWT yang telah disampaikan ROSULULLAH SAW sudah sangat sempurna, bahkan menjelang wafatnya ROSULULLAH SAW masih memberikan WASIAT kepada kita semua, saya yang masih dangkal pengetahuan agama ini mencoba untuk mengajak saudara sesama muslim untuk kembali merenungkan dengan hati yang paling dalam dan tulus tentang WASIAT ROSULULLAH SAW sebelum beliau wafat dan marilah kita tempatkan WASIAT ROSULULLAH SAW ini pada tempat paling tinggi diantara wasiat-wasiat makluk ALLAH SWT yang lainnya dan terus akan kita gigit dengan graham kita kuat-kuat wassalamu’allaikum Wr Wb

  27. @jimmy~memang benar banyak ulama/ustad yg merokok dengan berbagai macam alasanya.! udah tau haram tetap di lakukan.! berarti orang yg suka meroko, jangan di percaya omonganya..!

  28. Waduh..mau belajar malah jadi bingung… cuma bisa memohon aja supaya dengan nikmat “akal budi’ yang dikaruniai Allah kita bisa diberi pemahaman yang sebaik-baiknya..tidak menjadikan yang sunnah itu wajib atau yang mubah itu haram.. kalau boleh curhat Nalar & Logikaku sih ga’ bisa terima jika suatu kegiatan disebut Bid’ah dan Di HARAMkan padahal kegiatan itu memberi hikmah yang agung & kemaslahatan umat dan kegiatan itu termasuk dalam pengertian IBADAH dalam arti yg luas (bukan Ibadah dalam arti IBADAH YANG TELAH DITETAPKAN SYARAT& RUKUNNYA). Bisa juga ya pemahaman jadi berbeda karena memperluas batasan dalam definisi Ibadah itu sendiri… kalau memang batasannya pada IBADAH dalam arti yang sangat luas jadi sempit juga rasanya ya…?!? Do’a ibadah juga ‘kan… kalau kita berdo’a ga’ sesuai do’a yang nabi contohkan apa udah Bid’ah juga tuh..? HARAM..? Akh jadi serem banget deh.. abis ilmu msh cetek banget yang aku tau’ yang HARAM2 kan biasanya emang yang bawa MUDHARAT aja.. JUDI, MABUK, ZINA… hehehe… Aku ‘kan jadi bingung nih kalau yang baik2 di bilang HARAM…. Tolooong…
    Akhir kata cuma bisa gembira karena tetap berharap diberikan pemahaman yang baik.. katanya ‘kan….
    “Siapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Alloh akan memberikannya pemahaman terhadap Agama” (Sahih Ibnu Majah)

  29. aSS.WR.WB YA AHLI JANNAH….

    ADA BEBERAP1 PERTANYAAN YANG INSYA ALLAH JAWABAN DARI KALIAN PASTI SAMA………….

    1. APAKAH ISLAM YANG DIAJARKAN OLEH NABI MUHAMMAD SUDAH SEMPURNA ?????

    MENURUT SAYA SUDAH 100%SEMPURNA,,,

    2. APAKAH PERLU DITAMBAH-TAMBAHKAN ?
    3. APAKAH PERLU DIKURANG-KURANGKAN ?

    INSYA ALLAH JAWABAN KALIAN PASTI SAMA.

    BEGITU JUGA DENGAN BID’AH. BID’AH ADA KAITANNYA DENGAN PERTANYAAN NO.2 DAN 3.

    SEMOGA PIKIRAN KALIAN TERCERAHKAN….

    KULLU BID’ATUN DOLLAH WA KULA DOLALATIN FINNAR./

  30. Ass. Wahai saudaraku yang komentar tentang bid’ah ( cahaya Sunnah ) semoga ridloi Allah menyertai…..
    Antum mebawa statemen bid’ah bahwa bid’ah adalah sesat….. antum jg mengatakan bahwa bid’ah yang hubungannya dg syari’ah (addin) adalah sesat dan sangat haram.
    begini saudaraku…… saya membaca dari awal ttg jwb saudaraku yang lain, yang pada dasarnya ada dua jawaban setuju dan menolak atas statemen anda.
    saudaraku………. anda mengatakan bahwaperbuatan bid’ah itu ada dua bagian :
    1. Perbuatan bid’ah dalam adat istiadat (‘urf) ; adalah mubah.
    2. Perbuatan bid’ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukumnya haram,
    kalau melihat dari sisi ini saya tanya apakah anda tahu asbabul wurud dari hadits yang anda pakai dan apakah anda faham tentang asbabun nuzul dari ayat yang anda pakai sebagai dasar penolakan bid’ah ?
    contoh ttg hadits ini :
    “Artinya : Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].

    tahukah anda………..? kalau sudah tahu alhamdulillah…………
    tetapi kalau belum tahu anda tolol dan goblok …….. berarti anda taqlid buta ?……
    saudaraku ………….. coba anda jernihkan fikiran dan hati anda jangan gunakan ego dl, keyakinan anda atau anda sendiri tidak lebih pandai atau sepadan dengan para ulama’ seperti para imam madzab seperti Imam Syafii dalam Thobaqotusyafi’iyyah, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Imam Nawawi, Syeikh Izzudin Ibnu Abdissalam dalam Qowaidul Ahkam, beliau2 itu sependapat dan mengakui adanya bid’ah hasanah sebagai mana uraian dr saudaraku Juned,
    saudaraku mencari ilmu itu tujuannya bukan untuk sekedar pandai tetapi bagaimana kita dapat memahami memahami ilmu.
    saudaraku……. saya tanya lag menurut logika dan rasional andai Jika sesuatu yang mana itu baik untuk makhluq (manusia) dan tidak menyimpang dari syari’at agama namun hal itu belum pernah dilakukan oleh beliau Rosulillah SAW menurut anda bagaimana ? ……………
    Saya tanya lagi pernahkan anda perjumpa dengan beliau Rosulillah SAW dan bertanya tentang ini (bid’ah), kalau belum jangan mudah mengeluarkan statemen memprokatif

  31. Jadi kesimpulannya? Mnurut saya, bid’ah tetap bid’ah! Walaupun ada juga macam2 bid’ah. Yg harus kita yakini adalah selagi ada sunah yg mengiringi bid’ah, maka kerjakanlah yg sunah ‘n tinggalkan yg bid’ah, Selagi meninggalkan bid’ah tdk menimbulkan mudhorot. Contoh’y puasa. Kata’y puasa mutih, puasa hari kelahiran, dll itu termasuk bid’ah hasanah. Tapi alangkah baik’y kita tinggalkan puasa tersebut. Toh bila meninggalkan puasa tsb tidak mudorot kan? Alangkah baik’y kita mengerjakan puasa sunah yg sudah pasti mendapatkan pahala bila mengerjakan’y. Itu menurut pendapat saya. Kurang lebihnya mohon maaf.

  32. again and again. bicara tentang bid’ah bukan masalah ilmu dan dalilnya, tetapi bicara tentang siapa yang diberi hidayah oleh Allah dan siapa yang disesatkan. lihatlah apa yang dilakukan para ahli bid’ah mereka berusaha keras mencari-cari dalil dengan akalnya untuk membenarkan pendapatnya bukan menjadikan dalil untuk diikuti tetapi diambil untuk membela pendapat yang diyakini tak mungkin salah. jadi kita bisa lihat mereka membelokkan makna hadits untuk membenarkan pendapatnya sendiri. semoga Allah memberi hidayah kepada orang yang pantas diberi hidayah. tambah hasanah keilmuan kita dengan membaca artikel al bid’ah al hasanah di blog kami. c u

  33. rasa2nya yg calon neraka itu justru si wawan.. yg berani-beraninya mendauhulukan ke putusan Alloh SWT bahwa para pemikut majelis dzikir itu masuk neraka…

  34. Bid’ah itu sejak zaman ulama salaf dahulu sudah menjadi kontrofensi diantara kalangan ulama, artinya pandangan ulama terhadap bid’ah itu terbagi dua :1) ada yang sayyi’ah dan hasanah dan 2) ada yang sayyiah semuanya. sementara ulama yang menyatakan bid’ah itu ada yang hasanah diantaranya seperti Imam Syafii dalam Thobaqotusyafi’iyyah, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Imam Nawawi, Syeikh Izzudin Ibnu Abdissalam dalam Qowaidul Ahkam
    bahkan dari kalangan mazhab hanafi, mazhab maliki, dan syafii, di dalam kitabnya masing-masing, mereka mengakui akan adanya bid’ah hasanah.
    mereka berfaham seperti itu karena cara pandang berfikir mereka itu sangat dalam terhadap memahami hadits-hadits Nabi, tidak memahami secara zhohiriyah saja.
    Kalau dikatakan semua bid’ah itu semuanya sesat sebagaimana dalam hadits: “semua bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu dineraka” tentu tidaklah tepat didalam memahami hadits tersebut. Imam Nawawi dalam syarah Muslim berkata: “ini dalil yang umum yang ditakhsis atau dikhususkan .Tentu hadits ini bersifat Umum, namun keumuman hadits ini dapat ditakhsis dengan dalil yang lain artinya tidak semuanya bid’ah itu sesat, namun ada juga bid’ah yang hasanah sebagaimana imam syafii katakan:”bid’ah itu ada dua terpuji dan tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah maka bid’ah yang terpuji dan apa yang menyalahi sunnah maka bid’ah yang tercela (fathul bari).bahkan syeikh Izzudin Abdussalam mengatakan dalam Qowaidul ahkam “bid’ah itu terbagi lima:Wajib,Sunnah, Haram, Makruh dan Mubah.dan ini pun telah diakui oleh para ulama seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Nawawi dll.
    Dan jangan difahami dengan ada kalimat “Kullu bid’atin dholalah” pada lafadz kullu ini difahami dengan makna umum atau mutlak. Karena ada firman Allah yang berbunyi” فتحنا عليهم أبواب كل شيء artinya “kami bukakan atas ,mereka ( orang-orang yang ingkar) semua pintu sesuatu (Q.S Al-an’am:44) ”kalimat “kullu dan syai’” itu umum namun bermaksud khusus karena ada pintu yang Allah tidak buka yaitu pintu rahmat buat orang yang ingkar. Begitu juga pada surat alahqof:25:” تدمر كل شيء artinya: angin yang menghancurkan segala sesuatu” lafadz kulla syai’ kalau diartikan secara harfiyyah semuanya hancur, tetapi gunung, langit dan bumi tidak hancur. Dalam surat an-Naml : 23 وأوتيت من كل شيء artinya: dan Ratu Balqis diberikan dari semua sesuatu” pada lafadz kullu syai’ ini pun tidak difahami semuanya diberikan kepada Ratu Balqis, karena singgasana dan kekuasaan yang Allah berikan kepada Nabi Sulaiman tidak diberikan kepada Ratu Balqis. Alhasil tidak semua yang dalil yang menunjukkan ma’na kullu bersifat umum tentu ada pengecualiannya
    Coba cermati dalil lain yang dijadikan pegangan oleh ahli tabdi’ yang berbunyi:
    مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
    Siapa yang membuat yang baru dalam urusan agama kami yang tidak ada dari agam kami maka tertolak. HR Muslim.
    Syeikh Abdullah alharori dalam Shorihul bayan mengatakan:” kalimat “MA LAYSA MINHU” maksudnya adalah muhdats (perbuatan yang baru) sesungguhnya perbuatan itu tertolak jika menyalahi syari’at, akan tetapi bila perbuatan muhdats itu sesuai dengan syari’at maka tidak tertolak”. Karena mantuq hadits tersebut adalah perbuatan muhdats yang menyalahi syara’ maka tertolak,mafhumnya bila perbuatan muhdats itu tidak menyalahi syara’ maka diterima. Alhasil perbuatan muhdats itu ada yang sesuai dengan syara’ maka disebut bid’ah hasanah, bila perbuatan muhdats itu menyalahi syara’ maka disebut bid’ah dholalah.
    Syari’at yang merupakan standar rujukan amal ibadah adalah sesuatu yang telah ditetapkan dari alqur’an,hadits, atsar, dan ijma’. Dengan demikian setiap perbuatan yang telah ditetapkan atau dilarang dalam alqur’an dan hadits lalu disalahi maka itu disebut bid’ah dholalah seperti Shalat zuhur yang empat rokaat lalu dikerjakan lima rokaat, maka disebut bid’ah dholalah. Atau dilarang puasa pada hari tasyriq, lalu dilakukan puasa pada hari tasyriq, maka perbuatan itu disebut bid’ah dholalah dan itu ditolak. Karena bertentangan dengan syari’at. Akan tetapi bila perbuatan itu tidak ada didalam syari’at maka itu bukan disebut bid’ah apalagi dholalah, hal ini difahami dari teks hadits tersebut sebagai sumber timbulnya pengertian bid’ah. Oleh karena itu bila ada perbuatan yang tidak ada dasarnya baik itu ditetapkan atau ditiadakan, jangan lebih dahulu divonis bahwa itu perbuatan bid’ah dholalah. Lihat dulu apakah ada dalil yang memerintahkannya atau melarangnya, bila tidak ada maka perbuatan itu kembali ke hukum asal yaitu mubah, dan bernilai pahalanya tergantung pada niatnya. Lihatlah dibawah ini beberapa dalil hadits Nabi yang mencontohkan bagaimana perbuatan sahabat yang dilakukan tanpa dasar petunjuk dari Nabi, dan Nabi mensikapinya dengan bijak.
    .
    dibawah ini dalil-dalil yang mentakhsiskan keumuman hadits diatas Diantaranya:
    1. Dari saidina Umar yang berkata “ni’mati bid’atu hadzihi” dasar ini memang sempat dibantah oleh orang-orang tabdi’ dengan mengatakan bahwa shalat berjama’ah sudah ada dimasa rasululloh saw sehingga kata-kata bid’ah yang dilontarkan oleh saidina Umar itu dikatakan bid’ah lughowiyyah. Tapi apakah demikian maksud saidina Umar, kita lihat keterangan para ulama, diantaranya
    Ibnu hajar dalam fathul bari mengatakan:”(berkata Umar sebaik-baik bid’ah adalah ini) dalam sebagian riwayat lafadznya” Ni’matil bid’atu” dengan tambahan ta, bid’ah pada asalnya, apa-apa yang di adakan tanpa contoh terlebih dahulu, sementara dalam syara’ yang bertentangan dengan sunnah, maka itu tercela,sebenarnya bahwa bid’ah itu jika masuk dibawah sesuatu yang dipandang bagus pada syara’ maka dia bid’ah hasanah, dan jika masuk dibawah sesuatu yang dipandang buruk oleh syara’ maka bid’ah yang buruk, jika tidak demikian, maka dia termasuk bid’ah yang mubah. Sungguh bid’ah itu terbagi lima macam. Dan perkataan Saidina Umar (dan yang tidur itu lebih utama) ini menjelaskan maksud dari perkataan saidina Umar diatas ( ini sebaik-baik bid’ah) bahwa shalat di akhir malam itu lebih utama dari awal malam”.demikianlah Ibnu Hajar menjelaskan perkataan Saidina Umar . Dari perkataan Saidina Umar tersebut dapat difahami sbb:
    1. shalat yang dilakukan dimasa Nabi itu sebelum tidur atau diawal malam, sementara yang dimasa Saidina Umar itu akhir malam. Jelas apa yang dilakukan Saidina Umar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Nabi.
    2. Shalat Jamaah yang dilakukan dimasa Nabi dahulu sempat diberhentikan oleh Nabi setelah Nabi mengetahui sahabatnya ikut shalat, bahkan Nabi tidak menganjurkan, bunyi haditsnya sbb: “ lalu orang-orang dari para sahabat shalat dengan shalatnya Nabi, tatkala Nabi tahu Nabi duduk, dan berkata:”sungguh aku telah tahu dari perbuatanmu, maka shalatlah dirumahmu wahai sahabat. Sungguh shalat yang paling utama adalah shalatnya sesorang dirumahnya , kecuali shalat fardhu”
    Dari keterangan tersebut dapat difahami, bahwa Nabi tidak menganjurkan para sahabat untuk shalat berjamaah, bahkan menyuruhnya shalat dirumah, kalau saja Nabi menganjurkan shalat berjama’ah setelah Nabi tahu akan kekhawatirannya diwajibkan shalat tersebut, tentu Nabi menyuruh sahabat yang lain untuk mengerjakan shalat berjama’ah tanpa Nabi, dan diimami oleh sahabat yang lain. Alhasil shalat terawih dengan berjama’ah pada saat Nabi tidak dianjurkan oleh Nabi, akan tetapi Saidina Umar sebaliknya, malah menganjurkan sahabat yang lain untuk shalat terawih dengan satu imam. Inilah yang dimaksud Saidina Umar sebaik-baik bid’ah.
    3. Penentuan jumlah rokaat shalat terawih, baik itu11 rokaat seperti riwayat dari Saib bin Yazid atau 20 rokaat seperti riwayat dari Saib Yazid dalam Mushonnaf Abdurrozaq. Sementara dimasa Nabi tidak ada keterangan ketentuan jumlah rokaat dalam shalat terawih, meskipun ada keterangan 11 rokaat dalam shohi bukhori, tapi itu bukan shalat terawih melainkan shalat witir, karena Nabi melakukannya dibulan romadhon dan diluar bulan romadhan.
    JADI SEBAIK-BAIK BID’AH ITU ADALAH: DISEBUT BID’AH KARENA PERBUATAN SAIDINA UMAR TIDAK SESUAI DENGAN ANJURAN NABI, DAN DISEBUT BAIK, KARENA SHALAT TERAWIHNYA TELAH DILAKUKAN OLEH RASUL.

    2. Hadits Nabi yang berbunyi”siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam, maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang yang mengikuti perbuatan itu” HR Muslim. Imam Nawawi mengatakan dalam Syarah Muslim: Hadits ini mentakhsiskan hadits yang berbunyi”setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat” dan yang dimaksud hadits ini adalah bid’ah yang tercela. Syeikh Yusuf Said Hasyim Arrifai dalam arrod muhakkam almai’ mengatakan:” hadits ini meskipun datangnya tentang bershodaqoh, namun qo’idah ushul yang telah disepakati”sungguh kalimat yang dii’tibar itu dengan keumuman lafadznya bukan dengan kekhususan pada sebabnya”
    3. Hadits yang diriwiyatkan oleh said alkhudri yang dikeluarkan oleh Abu daud dan albany mengatakan hadits ini shohih yaitu” dua orang sahabat melakukan tayamum, lalu ketika ada air kedua sahabat tersebut melakukan perbuatan yang berselisih, yang satu tidak mengulang shalatnya dan yang satu mengulang shalatnya, akhirnya keduanya mengadu kepada Nabi, dan menceritkan halnya kepada Nabi: lalu Nabi menjawab: yang tidak megulang shalatnya telah menjalankan sunnah, sementara yang mengulang shalatnya mendapatkan dua pahala.” alhasil dari hadits ini Nabi tidak pernah melakukan mengulang shalat, namun sahabat yang mengulang melakukan perbuatan yang Nabi tidak lakukan, akan tetapi Nabi mensikapi dengan bijak dan tidak dilarang, bahkan memberikan respon yang baik
    4. Hadits dari A’isyah yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban” bahwa ada seorang laki-laki mengimami shalat membaca surat alikhlas terus, lalu sahabat bertanya kepada Nabi tentang perbuatan orang tersebut, dan Nabi balik bertanya kepada para sahabat, kenapa dia melakukan hal itu? lalu sahabat kembali bertanya kepada orang tersebut, dan dijawab, karena cinta dengan surat alikhlas, lalu sahabat menyampaikan hal itu kepada Nabi lagi, setelah itu Nabi berkata: katakan Allah mencintainya.” alhasil dari hadits ini, sahabat itu tidak melakukan perbuatan sebagimana Nabi lakukan, sehingga Nabi meminta sahabat kembali bertanya lagi, sebab kalau Nabi telah melakukan hal tersebut tentu Nabi tidak akan bertanya lagi. jadi sahabat itu melakukan perbuatan bid’ah. namun bid’ah yang hasanah, karena Nabi tidak melarangnya, sebagaimana difahami oleh mereka ysang membid’ahkan satu perbuatan yang terus-menerus dilakukan
    5. Ada hadits dari Qois bin Amer, yang dikeluarkan oleh Abu Daud” bahwa ada seorang laki-laki selesai shalat subuh melakukan shalat sunnah dua rokaat, lalu Nabi berkata: shalat subuh hanya dua rokaat, lalu orang tersebut menjawab, sungguh aku belum shalat qobliyah subuh. lalu Nabi diam dan tidak memarahi, karena orang tersebut melakukan perbuatan yang Nabi tidak pernah lakukan. dimana Nabi biasa melakukan qobliyah subuh sebelum sholat subuh. alhasil (perbuatan orang tersebut bid’ah tapi kebid’ahan tersebut masih bisa dimaaf oleh Nabi) hadits ini dinilai shohih oleh albany
    6. Hadits yang diriwayatkan oleh rafi’ azzuraqy, yang dikeluarkan oleh Imam Muslim” ketika Nabi sedang shalat dan bagun dari ruku lalu Nabi mendengar sahabat membaca” robbana walakalhamd hamdan katsiiron thoyyiban mubarokan, lalu setelah shalat Nabi bertanya, siapa yang membaca doa tersebut?lalu orang itu menjawab: saya. lalu Nabi mengomentari dengan baik, tidak melarangnya.” alhasil apakah doa ini pernah dibaca oleh Nabi sebelumnya atau dicontohkan oleh Nabi? tentu belum ada, dan ketika Nabi mendengar sahabat membaca itu Nabi tidak melarang dan tidak berkata kenapa engkau melakukan perbuatan yang aku tidak pernah lakukan? tapi justru Nabi mensikapi dengan bijak. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul bari: ini menjadi dalil atas bolehnya memperbaharui zikir dalam shalat yang bukan ma’tsur jika tidak menyalahi ma’tsur.
    7. Hadits yang dikeluarkan Bukhori, dari Saib bin Yazid: dahulu adzan jum’at awalnya apabila imam duduk di mimbar, pada masa Nabi, Abu Bakar,Umar, tatkala masa Saidina Usman dan orang-orang semakin banyak, maka bertambah adzan jum’at yang ketga di Zaura’ Ibnu Hajar mengatkan dalam fathul bari:” Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari jalan Ibnu Umar: berkata: Adzan pertama pada hari jum’at adalah bid’ah, maka bisa jadi itu atas jalan ingkar, dan bisa jadi yang dikehendaki bahwasanya tidak ada pada masa Nabi, dan semua yang tidak ada dimasa Nabi dinamakan bid’ah, tetapi setengahnya ada yang hasanah, dan setengahnya lagi ada yang menyalahi”
    8. Dalam Sunan Abu Daud riwayat yang datangnya dari Ibnu Umar bahwa beliau menambahkan zikir dalam tasyahud “Wahdahula syarikalah” dan beliau berkata: saya menambahkannya.

    Dan masih banyak lagi perkara yang tidak ada anjurannya dari Nabi, namun dilakukan oleh sahabat, seperti membukukan alqur’an member harkat dan titik pada alqur’an, menulis hadits dan membukukannya padahal nabi sendiri melarang menulis hadits selain alqur’an, membangun madrasah dll. hal seperti ini memang sempat disinggung oleh Syatibi dalam al-I’tishom: bahwa itu bukan disebut bid’ah melainkan masholihul mursalah karena ada maslahatnya. Boleh saja Imam Syatibi mengatakan demikian akan tetapi banyak dikalangan para ulama seperti Syeikh Izzudin Abdussalam dll mereka berpendapat bahwa itu bid’ah yang hasanah, karena bagaimanapun juga satu perbuatan yang tidak dilakukan oleh Nabi disebut bid’ah sementar itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi saw. Namun tidalah itu perbuatan yang Nabi larang dengan sebutan sebagai bid’ah dholalah, akan tetapi bid’ah hasanah sebagai perbuatan yang Nabi tidak di contohkan namun dipandang baik
    Jadi standar bid’ah yang hasanah adalah setiap perbuatan ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi secara langsung, namun perbuatan itu telah dibenarkan dan disepakati oleh para ulama
    Seperti: 1. Peringatan Maulid Nabi saw 2. Peringatan Isra Mi’roj, 3. Berzikir bersama, 4 berdo’a bersama setelah shalat, 5 berjabat tangan setelah shalat/ zikir 6. Membaca surat Yasin bersama-sama, dll.
    walaupun ada dalil yang menyatakan dimana Ibnu Mas’ud melarang para sahabat berzikir bersama membaca tasbih, tahmid dan takbir, namun yang menjadi di i’tibar adalah perbuatan Nabi sebagaimana hadits diatas. Nabi tidak melarang sahabat melakukan perbuatan itu meskipun Nabi tidak melakukannya.
    Demikian tanggapan ini alfaqir tulis, semoga ada manfaatnya.

  35. Kuncinya dakwah bil hikmah dengan kesabaran ,dengan bijaksana dengan kearifan dan kasih sayang.kita harus pintar tapai jgn sok pintar ,harus adil tp jang sok adil ,beriman tp sok beriman kita jalani dengan hati yang lembut InsyaAllah chaya allah akan bersinar dalm hati nurani kita masing masing dan Islam akan menjadi agama yang rahmatan lil alamin.maaf kalo salah kata

    1. MARILAH KITA THOLABUL ILMI AJE SEMUANYE…..SUPAYA KITA TIDAK MERASA PALING BENAR…….BEGITU JUGA SAMA YG GA SUKA ATAS TULISAN TERSEBUT BELAJAR DULU AJE BARU BERI KOMENTAR JADI KOMENTAR NYE BERBOBOT ….TULISAN DI ATAS SANGAT BERBOBOT ADA qUR’AN DAN SUNNAH SERTA PERKATAAN PARA ULAMA……komentnya pun harus berbobot….kalu ada perkataan ulama harus d sampaikan secara menyeluruh jangan sepotong sepotong2…jangan ada yg d sembumyikan…..dan sebagai warga yg anti BID’AH mari kita terus belajar dan belajar….masa kita kalah sama orang yg suka sama BID’AH…..BID’AH itu paling d sukai oleh syaithon karena selalu merasa sudah benar………kalo orang maling ngaku kalo salah tapi kalo orang pelaku bid’ah ga mau ngaku kalo salah……….

  36. Saya dari NU….”Perbedaan dalam umatku adalah berkah” itulah kata Nabi Muhammad.. Kenapa kita mesti repot membahas amalan2 kita sehari2.yang memberi pahala atas amalan yg kami lakukan bukan dari persis ato dari golongan lain,, urusan pahala dan dosa itu urusan kami dengan Alloh, bukan dengan Persis atau Muhammadiyah..hanya ada 1 golongan dari 73 golongan yang akan masuk surga. dan itu bukan NU, Persis ataupun Muhammadiyah. Bukan maksud menggurui…ilmu kita ga seberapa dibanding ilmu para ulama dan para sohabat.
    Hal inilah yg dijadikan alat oleh kaum kafir untuk memecah persatuan umat Islam..ga perlu kita membahas masalah seperti ini… orang barat sudah bisa membuat pesawat,, sementara kita umat Islam masih tertinggal terus…. Mari Kita Bangkit!!!
    Tidak perlu membahas perkara Bid’ah…

    1. Alhmdllah muslim sprti anda sngat d.prlukan,,,, yg mengerti ttng kkurangan kita sbg umat Allah SWT….

      Muslim tidak boleh sampai tertinggal ataupun terbelakang,,,,

    2. HADIST DIATAS ADALAH HADIST PALSU TIDAK SHAHIH, mana mungkin perbedaan adalah berkah, perbedaan adalah musibah….ada2 saja nih….inilah bentuk2 pemecah umat islam..pelajari dulu benar2 makna hadist itu.

  37. Assalamualaikum…

    Untuk semua saudaraku yang seiman, berbahagialah dengan semua keragaman yang ada namun yang perlu diingat adalah pada saat haji wada setelah khutbah Rasulullah SAW yang beliau ucapkan yaitu ” Nabi (SAW) bertanya,” Sudahkah aku tunaikan tugasku sebagai pembawa risalah kepada kalian? Wahai Allah, sudahkah aku tunaikan tugas yang telah Engkau amanatkan kepadaku?” Semua yang hadir pun serentak menjawab, “Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menunaikan tugas risalahmu kepada kami.” maka Allah SWT menurunkan Wahyu “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” jadi sangat naif bagi kita untuk mengatakan ada suatu hal yang baru yang belum disampaikan atau di contohkan beliau (menghina Allah SWTdan Rasulullah SAW), maka jatuhlah sifat (amanah) beliau seandainya ada sesuatu hal yang baru berkaitan ibadah apabila belum disampaikan. demikian semoga manfaat.

  38. Assalamualaikum…

    BId’ah sama dengan menuduh nabi Muhammad Salallohu alaihi wassalam tidak mengajarkan sesuatu yang baik (Menyembunyikan suatu amalan baik) pada saat beliau membawa Risalah Islam sampe akhir hayatnya.. Sehingga dirasa perlu untuk memunculkannya sekarang meski itu tidak pernah di contohkan sama sekali oleh beliau ?? Apa ini bkn berarti menjadi nabi baru karena membawa perkara² baru ??

  39. assalamualaikum ..

    tu kan ,. pada ribut2 ndiri ,. padahal kita semua islam lho . . .
    yang di takut kan rosul tu ya gini ni ,. pada ribut2 sendiri . .
    “ati’ulloha mastato’tum” . . jangan berpecah belah , . .
    pokoknya besuk lebaran yang ada disini ,. yang ribut2 disini saling maaf2 an yaa ??? barang kali ada kata2 yang menyinggung perasaan . .

    kurang lebihnya saya mohon maaf . . :)

    trims . .
    wass . .

  40. Kalau bicara tentang Bid’ah tidak akan pernah selesai, setiap orang , setiap kelompok pasti punya cara pandang sendiri sendiri.. Bahkan ada sekelompok orang yang berpendapat, kalau nama seorang anak dengan nama yang berbau ARAb, sudah merasa lebih islam dibandingkan yang lain. Ada yang berpendapat segala macam budaya lokal adalah bid’ah, yang benar adalah Islam yang seperti di ARAB. Cara memahami agama seseorang lebih tergantung pada Emosi dan kemampuan diri masing-masing. Karena masin-masing punya emosi dan kemampuan, maka cara penterjemahanpun menjadi berbeda. Meskipun sumber Acuannya sama Al Qur’an dan Hadist

  41. Buat penulis artikel ini…

    Tolong anda pelajari lagi…
    Ilmu ttg islam lebih dalam lagi
    jgn hanya bisa mengkutip dari buku lain

    Anda pelajari lagi tuh yg namanya……Nahwu, Shorof, Ushul FIqih, Balaghoh, Ijma, Qiyas, Ijtima’….

    Jangan Cuma dari satu buku aja anda udah bisa mengkutip…dari terjemahan lagi….bahkan artikel serupa ada di blog lain….
    haduuuh..
    sangat disayangkan….

    Wallahu ‘alam….

  42. Yang lucu gini…
    Ada tetangga saya nih….di rumah nya ga ada TV…Tapi Komputer beserta Internet ada….

    Saya : “Mas kenapa ga pake TV mas di Rumah”
    Tetangga : “Ga boleh mas..bid’ah”
    Saya : “Kenapa Bid’ah ?”
    Tetangga : “…..?….”

  43. Sejauh yang saya pernah dengar dan baca, Imam Syafii membagi bid’ah dengan bid’ah hasanah dan syayyi’ah. Namun artikel di atas menafikan adanya bid’ah hasanah.
    Pengumpulan Alquran menurut pendapat yang mengatakan adanya bid’ah hasanah dimasukkan ke dalam kategori tersebut, tetapi pada artikel diatas tidak disebutkan sebagai bid’ah.
    Dalam kitab i’tishom contoh pengumpulan Alquran dalam satu mushaf disebutkan sebagai “maslahah al mursalah” yang justru ditolak oleh imam syafii.
    menurut saya pribadi (wallohu a’lam) ini hanya masalah perbedaan penggunaan istilah.
    maka seyogianya penulis artikel memberi batasan yang jelas mengenai definisi bid’ah dan bedanya dengan maslahah almursalah.

  44. berarti selama ini ajaran wahidiyah sangat menyimpang dari islam karena terlalu banyak bid’ahnya. tolong siaapun yang membaca comment ini harap segera di usut secara tuntas….. karena ajaran wahidiyah tersebut terlalu benyak mengandung bid’ah.

  45. Imam al-Fudhail bin Iyadh yang beliau adalah gurunya Imam Asy Syafii, dan beliau juga adalah seorang faqih yang zaahid, ditanya tentang firman SWT, “….supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya….” (Al-Mulk:2), Penanya: “Amal apakah yang paling baik ??” Beliau menjawab: “yaitu amal ibadah yang paling ikhlas dan paling benar” Penanya: “Wahai Abu Ali (al-Fudhail bin Iyadh), apa yang dimaksud dengan amal ibadah yang paling ikhlas dan paling benar itu ?” Beliau menjawab: “Suatu amal ibadah, meskipun dikerjakan dengan ikhlas, namun tidak benar maka amal itu tidak diterima oleh Allah SWT. Kemudian meskipun amal ibadah itu benar namun dikerjakan dengan tidak ikhlas juga tidak diterima oleh Allah SWT. Amal ibadah baru diterima bila dikerjakan dengan ikhlas dan dengan benar pula. Yang dimaksud dengan ikhlas adalah dikerjakan semata untuk Allah SWT dan yang dimaksud dengan benar adalah dikerjakan sesuai dengan tuntunan Sunnah, bukan amalan bid’ah yang jelas tertolak.

  46. kalau kita ingin selamat dalam beragama, maka lebih aman kalau kita menjauhi segala perkara-perkara yang baru dalam urusan ibadah (Bid’ah) yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullullah serta para sahabat. Wallahua’alm bis showab.

  47. Ass.Wr.Wb.
    Mohon maaf sebelumnya, Pertama saya membuka BLOG ini, saya mengira CAHAYA SUNAH benar-2 ada CAHAYA SUNAH-NYA, ternyata saya keliru menduga, yang saya dapat malah BAHASA diluar CAHAYA SUNAH.
    Jadi, saya stop aja deh singgah disini,namun sebelum keluar ijinkan saya menyampaikan pesan sebagai orang SERAKAH:
    Hati-2 dalam menjaga LIDAH/TULISAN , lebih ARIF lagi menyampaikan ILMU kalau hanya KULIT semata, jangan sampai membuat UMAT Pecah ..kasian SANG RAHMAN & RAHIM, kecewa RASUL, ya,,,,,,,,
    Wass.Wr.Wb.
    SERAKAH-212

    1. Pecah?? kalau yang dimaksud oleh mas (atau) mbak serakah adalah gaya penyampaian saya setuji2 saja, jangan sampai memecah belah. tapi kalau yang Anda maksud adalah substansi kebenaran maka sudah selayaknya kebenaran itu disampaikan walaupun nantinya ada yang MEMBENCINYA.
      Bahkan tidak kurang nabi muhammad pun dianggap sebagai pemecah belah suku Quraisy bukan??
      wallohu a’lam

      1. mbak/mas serakah bnar masak umat islam skrg anda samakn dngan orang qurais yg kapir ktka dulu rosululoh datang dngan mmbwa cahaxa islam .bkankah mngkpirkn sodaramuslim itu adalah hukumxa kapir jd q mohon anda supaya istigpar aku bnxak nenmukn org bgtu cpat membid’ahkn ato mnkpirkan sodara musim itu kbnyakn dri tman yang bru mengnal islam yg bljarnya bkan dipondok dan tdak nengnal ilmu2 alat bljr dri bku2 terjemah kurang faham ilmu2 yang dalam sprti bayan mantek dan balagoh sehingga menandang perso’alan dari bntuk luarxa saja dan biasanya nereka hanya ikut organisasi dan mengenal islam lewat satu pemahaman yang kurang mu’tabar suka mengkelaim diri paling baik dan orang lain semuanya salah se’olah2 kebenaran yag dia fahami adalah kebenaran yang haqiqi dan orang lain semuanya salah . maaf bkan semuanya bgtu tp kebanyakanxa yang saya temukan coba anda amati dngan cermat ! wasaktjam

      2. Benar sekali, biarkanlah yg gak suka dan tetap mau bid’ah mereka memilih jalannya sendiri, yang penting kita jangan, dan jangan balas dengan emosi pula, semoga kita jadi orang yang beruntung

  48. @djoko
    Apa yg anda contohkan itu bukan bid’ah, tetapi mengikuti perkembangan dg maksud untuk lebih memudahkan pelaksanaan sesuatu pekerjaan di luar batas kodrati atau kelaziman tetapi tdk mengubah esensi dasarnya. Kalau ada yg lebih mudah kenapa malah dipersulit? Seperti wudhu’, yg penting pakai air bebas dari hadats besar & kecil. Terserah apa air kran, air sungai, air kemasan dll. Kemudian tentang azan, dulu tdk pakai pengeras suara, karena ipteknya hanya sebatas itu. Apa maksud azan? Tentunya utk pemberitahuan sekaligus memanggil utk shalat. Dg pengeras suara tentu akan lebih jelas lagi drpd tanpa pengeras suara. Tentu saja dalam komunitas terbatas, lebih baik tanpa pengeras suara. Akan sangat lucu kan, jika shalat jama’ah di dalam rumah, lalu si mu’azin azan menggunakan mikropon? (hehehe…) Kemudian berangkat haji pakai unta, karena memang kendaraan yg ada pd waktu itu hanya itu. Esensi haji apa? Tentu pergi ke Baitullah dg memenuhi rukun & syaratnya. Kenapa harus mempermasalahkan cara berangkatnya? Jika cara pandang seperti yg anda maksud, wah…… akan wajar2 saja dong, jika ada orang yang menuding bahwa pemeluk Islam itu kumpulan orang2 bodoh, kaku, intoleran dlsb. Semoga bermanfaat & menjadikan bahan renungan.

  49. dulu jaman Rasululloh berangkat haji naik unta,sekarang berangkat haji naik pesawat terbang,jadi yg naik pesawat terbang juga termasuk bid’ah?dulu Adzan tidak pakai pengeras suara,sekarang pakai pengeras suara,jadi yg Adzan pakai pengeras suara Bid’ah?Dulu kalau berwudlu ga pakai air kran sekarang Wudlu pakai air kran,yg berwudlu pakai air kran berarti bid’ah?

  50. Itu wajar kalo pernyataan tentang Bid’ah ini ada yang menyangkal. karena tingkat pemahaman orang berbeda-beda. Karena bid’ah dalam agama itu walau kecil tapi bahayanya besar. Bid’ah dalam urusan agama itu SESAT, dan kesesatan itu tinggalnya di NERAKA. Misalnya.. zaman sekarang ini banyak orang yang melakukan amalan tapi tak ada dasar sama sekali. Hanya mereka beranggapan ini baik/ itu juga baik tapi baik yang sesungguhnya itu harus mengacu ke AL-Qur’an dan As Sunnah. Ingat…….! Jangan Ajaran agama Islam ini/Al-Qur’an ini yang menyesuaikan kita. Tetapi kita yang harus menaati ajaran agama Islam itu. Sumber dari segala sumber ajaran islam ini adalah Allah. Mengubah ketentuan Allah sama saja menentangnya.

  51. Hari gini masih ngomongin bid’ah? Mari sama-sama kita introfeksi diri kita masing-masing, apakah diri kita sudah benar-benar menjadi hamba Allah? Apakah sholat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah kita yang lain benar-benar karena Allah? Seharusnya da’wah itu kepada orang-orang yang awam n buta agama, terutama kepada saudara2 kita yang terjerumus kepada ajaran sesat dan menyesatkan. Apalagi kita debat tentang masalah2 khilafiah (perbedaan), terus masalah2 furu’iyah dsb yang benar2 tidak ada nash tentang keharamannya. Kapan islam mau bersatu? Kalau begini islam tidak akan pernah maju n selalu ketinggalan oleh orang non islam. cape deh..

    1. anda benar yang banyak berdebat itu kelihatanya baru blajar yang wawasan keilmuanya masih dangkal bid’ah diGembar gemborkan yang blum tentu itv bid’ah yang haram .sementara yang haram dikerjakan apalagi sampai mengklaim raudaranya pasti masuk neraka se’olah2 sorga dan neraka itu punya kakeknya uuuh .coba berfikir tentang bagaimana menhancurkan pornograpi dan porno aksi PSK judi pelacuran ini yang sudah jelas haramnya . tapi yang saya lihat bid’ah melulu yang dibahas yang dampak negatifnya jelas2 perpecahan tapi felem2 cabul digemari heran aku islam model apa itu .maaf ya alu bicara apa adanya lho jangan tersinggung demi kemaslahatan ummat .mohon maaf wassalam

    1. kalo beribadah harus dengan iilmunya agar tidak sia2…jauhi bid’ah laksanakan sunnah..karena umat islam diakhir jaman terbagi menjadi 73 firqoh..saya yakin semua berharap menjadi yang satu dari ke 73 itu..namun karenanya pula mereka berebut untuk posisi itu..semua mengaku ahlussunah waljamaah..untuk mencapai itu harus dengan ilmu, maka terus tuntut ilmu karena ilmu semakin ditimba semakin kita merasa kurang…

    1. innamal a’malu binniat . semua amalan itu tergantung pd niatnya. sendai nya tdur itu krna kelelahan mencari nfkah utk kluarga, mka niatkan lah smata2 krna ALLAH SWT…..

  52. sodara sodara sekalian, knp kok yang di bhas bid’ah mulu ? dri zman kuno ampe modern yang namanya bid’ah gak bakal ada selesenya. yang qta harapkan hanyalah kesadaran orang orang yang mengatakan pembagian bidah jadi hasanah dan dlolalah adalah salah. anda membagi bid’ah qouliyah dan bid’ah ibadah adalah bid’ah. katanya kullu bid’atin dlolalah ? kok masih da bgi qouli ma ibadah ? ni, lagi rame bahas bidah

    http://www.forsansalaf.com/2010/bidah-dholalah-apakah-itu/

  53. Saudaraku semua…
    Coba bacalah Kitab Ar-ruh karya Syeikhul Islam Ibnu Qoyyim Al-Jauziah. Beliau adalah murid Syeikh Ibnu Taimiyah…
    Insya Allah kalian semua akan tersadar dan akan menemukan definisi bid’ah yang sebenarnya….

    Dan mereka itu tidak mempunyai dalil atas apa yang mereka katakan bahwa bid’ah itu ada yang baik, kecuali perkataan sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu pada shalat Tarawih : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, juga mereka berkata : “Sesungguhnya telah ada hal-hal baru (pada Islam ini)”, yang tidak diingkari oleh ulama salaf, seperti mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu kitab, juga penulisan hadits dan penyusunannya”.

    Adapun jawaban terhadap mereka adalah : bahwa sesungguhnya masalah-masalah ini ada rujukannya dalam syari’at, jadi bukan diada-adakan. Dan ucapan Umar Radhiyallahu ‘anhu : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, maksudnya adalah bid’ah menurut bahasa dan bukan bid’ah menurut syariat. Apa saja yang ada dalilnya dalam syariat sebagai rujukannya jika dikatakan “itu bid’ah” maksudnya adalah bid’ah menurut arti bahasa bukan menurut syari’at, karena bid’ah menurut syariat itu tidak ada dasarnya dalam syariat sebagai rujukannya.

    Saya sepakat dalam hal ini….
    Akan tetapi berdzikir bersama itu ada dasar atau rujukan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah…. bahkan banyak sekali dalilnya…
    Silahkan baca Kitab Ar-ruh yg saya recomendasikan di atas sebagai referensinya…
    Semoga Allah SWT ridho kepada kita dan kepada semua umat Muhammad SAW semuanya…

  54. {Orang yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah syayyiah (jelek) adalah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Artinya : Sesungguhnya setiap bentuk bid’ah adalah sesat”.}

    Al ‘ulama warisatul anbiya…

    jangan menghukum seperti itu dong ….

  55. yakinlah Islam itu telah sempurna,,

    tidak ada yg perlu dikurang2i dan tidak ad yg perlu ditambah2kan

    yakin juga,,

    segala sesuatu yg berkaitan dng ibadah,, syariat,, itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah,,

    bid’ah emang bid’ah,,,, sulit diberantas :)

    ad ahlus sunnah

    pasti jg ada ahlul bid’ah

  56. bukankah rosul sudah jelas mengatakan bahwa bid’ah adalah sesat, di dalam suatu hadis rosullah s.a.w mengatakan bahwa, sebaik2 perkataan adalah perkataan allah s.w.t, sebaik2 petunjuk adalah petunjuk rosul muhamad s.a.w. seburuk2 perbuatn adalah yang di ada adakan, dan setiap yng di ada adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di nerka. di dalam hadis ini, terdapat kata “kulla” yang maknaya umum, jadi setiap bid’ah adalah sesat, tidak ada bid’ah hasanah, wong rosul aja mengatakan setiap bid’ah adalah sesat, tidak ada bid’ah hasanah, sekarang ana mau tanya pada semua yang mengatakan adanya bid’ah hasanah, allah s.w.t berfirman syirikan adalah dosa yang besar, apakah antum akan mengatakn juga adanya sirik hasanah, apakah antum akn mengatakn juga adanya zina hasanah.

  57. waalaikum salam pak abu…
    sepakat pak. mari kita saling mengingatkan dengan penuh kasih sayang antar saudara se iman tanpa harus menyakiti. rabbi anzilni munzalammubaarokau wa anta choirumunzilin ‘aamiin!

  58. assalamualikum…..

    surga dan neraka milik Allah, jadi hanya Allah yang mengetahui siapa yang berhak ke surga atau siapa yang dilempar keneraka…surga adalah milik mahluk yang diberi rakhmat oleh Allah…neraka sudah pasti milik mahluk yang bermaksiad kepada Allah…tetapi ingat surat Al Zalzalah ….sebesar biji jarah pun akan di perhungkan oleh Allah…walllahu alam bissawaf..

  59. kiranya saudaraku seiman ada yang mau menjawab pertanyaanku ini, semoga kita sama2 di beri kesabaran dalam mencari ilmu yang diridloiNya, aamiin!
    jika ada orang yang lahir dari keluarga non muslim dan sering berbuat maksiat hingga mendekati ajalnya, tetapi dalam perjalanan hidupnya dia pernah berteman dengan seorang muslim yang gak terlalu pintar dan wawasannya kurang, mungkin juga dia termasuk yang dianggap sebagian saudara kita pelaku bid’ah. tetapi mereka berdua pernah sharing tentang agamanya masing2, salah satu yang disampaikan sang muslim adalah kunci surga adalah dua kalimah syahadat dan temannya yang non muslim tersebut tertarik dan menanyakan arti dari syahadat tersebut karna yang dia tau cuma bahasa suroboyoan sama indonesia tok. PERTANYAANNYA: KETIKA SI ORANG NON MUSLIM TERSEBUT MENDEKATI AJAL DAN DIKELILINGI KELUARGANYA YANG NON MUSLIM. TIBA2 DIA INGAT SECUIL ILMU DARI TEMAN MUSLIMNYA YANG TIDAK BEGITU ALIM DAN MUNGKIN TERMASUK YANG DIANGGAP PELAKU BID’A, TENTANG SYAHADAT. MAKA SEBELUM RUHNYA DICABUT OLEH MALAIKAT IZRO’IL DIA SEMPAT MEMBACA DUA KALIMAH SYAHADAT. APA DIA TERMASUK MUSLIM? APA DIA MASUK SURGA ATAU NERAKA?
    almuslim ahul muslim, jika ada tulisan yang keliru dan menyakiti saudara2ku sekalian saya mohon maaf.

  60. assalamualaikum! alhamdulillah saya lahir di keluarga muslim, dan sampe sekarang saya muslim, mudah2an mati juga membawa iman dan islam, aamiin. saya rasa semua yang commen d atas termasuk saya gak pernah naik mesin waktunya doraemon untuk pergi ke jaman rasululla saw, dan gak pernah tanya langsung kepada beliau tentang yang diributkan di atas. semua pasti punya guru, ustadz, panutan, dan pedoman serta madzab masing2. jika ada perbedaan pendapat itu tidak dapat dielakkan, tetepi jangan sampai kita saling menyalahkan bahkan mengkafirkan sodara kita sendiri, apalagi nyumpahin anak turunnya sendiri jika kita salah atau nyumpahin saudara seiman beserta anak turunnya yang berbeda pendapat. astaghfirullah! kita semua harus terus belajar sampai malaikat izro’il mencabut nyawa kita.
    Semoga kita yang beribadah dengan ikhlas dan mengharap ridlo Allah SWT, diberikan petunjuk kepada yang benar, dan dijauhkan dari yang batil. innamal a’malu bin niyat! wallahu a’lam bis sowab.

  61. hati-hati yee cobe kite lihet muke wahabi kan serem ye. masak iye wali songo yang ude jelas jasenye dikataiin ahli bid’e. bise ape die yang suke bid’e-bid’ein oreng punye berape santrinye. hadisnye apel berape jute… bace alqur’annye rajin engge. puasenye gimane berape juz apelnye… ude melebihi imam gozali apa belum yee.. ude melebihi syarif hidayatullah belum yee… baunye wangi enggak yee…

  62. ya begitulah… kalo menurut aye kita ikut ama ulama yang ude jelas tanda-tanda kesolihannya. ada juga jidat orang ditem-itemin supaye keliatan rajin sujud padahal orang alim mukenye bersinar. terus kita baiknye ikut ame habaib yang jelas keturunannye ame kiyai yang ude ade karomahnye. kite bise menile sendiri aje.

  63. Liuer eeiuy…. bagi saya yang masih belajar soal hadist dan sunnah jadi bingung… ya Allah yang maha mengetahui atas segalanya berikanlah cahaya-Mu agar kami semua tidak tersesat dan tunjukan jalan yang benar menuju jalan-Mu.

    Amin

  64. Kita ini nggak tau mana yang benar ,karena sesungguhnya kebenaran itu milik ALLAH .S.W.T,jangan merasa paling benar takut nanti akan timbul kesombongan dan akhirnya neraka tempatnya.na’udzubillah minzalik makanya kita saling menghormati yang penting sanadnya jelas yang kita ikuti bukan katanya,kata guru saya dan lain

    1. Nabi SAW berguru pada siapa ? Tanpa guru kah..Nabi SAW ? Apakah Nabi SAW pernah mengatakan apa yang bukan kata guru Beliau ?

  65. Assalamu ‘alaikum,
    klo aku sih suka bgt baca2 komentar yang ada di blog blog sperti yang nni, jadi keliatan mana yang mengomentar secara emosi dan merasa sudah tau serta mana komentar yang secara memberi pengertian dengan rendah diri. dan aku ingin membandingkan komentar2 dan menyaringnya serta mengambil hikmahnya untuk menjalani ibadah ini, terimakasih untuk semua yang udah komentar karna maklumlah aku baru belajar agama, MAAF klo ada kata2 yang salah.
    Wassalamu’alaikum,

  66. Saya pnh membaca hadist rosulluhloh saw, “Ya Allah masukkanlah hamba dalam golongan yang sedikit” . Perlu kita pahami semua,bhw Al quran dan Hadist adlh pedoman hidup bagi umat islam, hal yg sngat sempurna & sudah mengatur segala aspek khidupan manusia,dari mengatur hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Jadi sebagai umat islam,jgn pnh kita berbuat sesuatu hal yang tidak sesuai dengan al quran & hadist. Semoga kita semua menjadi golongan yang sedikit, Amien

  67. Islam pada mulanya asing,dan akan kembali menjadi asing di akhir jaman,sbuah ramalan yg pasti terjadi,karna org takut dgn pelor2 sesat salafy..

  68. bidah yaa bidah maulid nabi,tahlilan,tawasul kepada orang mati,baca Al-Quran di kuburan itu semunya bidah bahkan ada yang syrik karena amalan itu semua tidak pernah di contohkan oleh nabi muhammad dan para sahabatnya tabiit tabiut,nah apa namanya kalau amalan yang tidak dilakukan oleh mereka kalau bukan bidah

  69. Ralat… buat Imtinaan90

    Jadi buat Itminaan90,…. mohon pelajari dulu secara tuntas kitab2 Imam Syfi’ie… Karena setahu sy … banyak ajaran2 beliau yg tidak diamalkan bahkan diingkari oleh mereka yang mengaku sebagai pengikut Beliau (Imam Syafi’ie)…. yg selalu mengatakan mereka Ahlu Sunnah Wal Jama’ah…

  70. buat admin… ma’af sy lama gak muncul…

    buat itminaan90…

    semua orang atau golongan selalu lantang mengatakan bahwa dirinya Ahlu Sunnah Wal Jama’ah… padahal kalu tdk salah yg namanya Ahlu Sunnah Wal Jama’ah adalah mereka atau seseorang yg mengikuti Sunnah… dan tentunya juga berusaha menghidupkan sunnah… bukan malah mematikannya dan menggantinya dg bid’ah…

    Nah… sekarang kita tinggal meneliti… memilah dan akhirnya akan bisa memilih mana yg dapat disebut sebagai Ahlu Sunnah Wal Jama’ah… karena yg namanya Ahlu Sunnah Wal Jama’ah bukan yg terbesar jumlahnya… tetapi biarpun sedikit kalu dia mengikuti sunnah… berusaha menghidupkan sunnah dan menjauhi bid’ah… maka mereka disebut Ahlu Sunnah Wal Jama’ah… walaupun hanya seorang diri…

    Jadi buat Itminaan90,…. mohon pelajari dulu secara tuntas kitab2 Imam Syfi’ie… Karena setahu sy … banyak ajaran2 beliau yg tidak diamalkan bahkan diingkari oleh mereka yang mengaku Ahlu Sunnah Wal Jama’ah…

    Jadi jangan sampai kita terpaku pada jumlah jama’ah.. yg terbesar terus kita anggap sebagai Ahlu Sunnah Wal Jama’ah… biarpun dalam dakwahnya mereka selalu mengatakan bhw merekalah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah… padahal sebenarnya sangat jauh dan bahkan menyimpang dari dari ajaran Ahlu Sunnah Wal Jama’ah yg sesungguhnya…

    Hati2lah terhadap bid’ah… krn menurut sy bid’ah itu sangat halus… tapi sangat memaksa… dan memecah belah umat islam…. dan pelaku2 bid’ah sangat mudah tersinggung apabila ada orang muslim yg mempertanyakannya… meragukannya… menentangnya atau tdk mengamalkannya… Sungguh mereka sudah dikuasi oleh ahwa (hawa nafsu)… , pendendam,… biarpun mereka terlihat rajin beribadah…. tetapi mereka juga mematikan sunnah….

  71. Ternyata kalau Ana telah semua….., kebanyakan manusia merasa bahwa dirinya sudah pintar, dirinya sudah benar, apa yang dilakukannya sudah benar, sehingga dalam menaggapi masalah kalau tidak cocok dengan apa yang selama ini dilakukan kita malah tersinggung bahkan mungkin marah……
    Saudara-saudaraku…. seiman dan seaqidah, tentu kita sependapat…… bahwa kita semua tidak ingin apa yang kita lakukan sia-sia bahkan justru jadi dosa.
    Saya berkeyakinan kalau dalam diri kita ada rasa keinginan mencari kebenaran….. Pasti akan Allah tunjukan………! Jangan langsung setiap orang yang tidak sepaham dengan kita, lantas kita benci…. apalagi misalnya menyinggung guru kita yang notabene banyak pengikutnya…….. Banyak pengikut bukan jadi ukuran……. untuk sebuah kebenaran……
    Oleh karenanya mari kita pelajari Al-Qur’an dan Hadist secara gamblang.
    Niatkan dalam hati yang suci…… untuk sebuah kebenaran…..
    pasti akan didapatkan ……

  72. arti bid’ah menurut hadist adalah sesuatu hal yang baru, pertanyaan apakah setiap hal yang baru adalah sesat, jika ada yang mengatakan ” ya ” saya pikir ini sangat keliru. saya harap untuk belajar lagi agamanya,,

    1. itu arti secara bahasa, klo arti secara syar’i adalah sesuatu yang baru dalam ibadah (agama) yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah.

      tolong dibedakan…….

      klo pemahaman spt itu, trs gimana menerjemahkan hadist Rasulullah berikut ??
      “Setiap yang baru dalam ibadah (agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”

  73. Assalamualaikum …..

    Ana ada satu kemusykilah disini, ana berharap tuan pemilik blog dapat memberi sedikit penjelasan mengenainya. Ana khuatir akan tersalah erti dengan konsep bid’ah ini.

    **Catatan :
    Orang yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah syayyiah (jelek) adalah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Artinya : Sesungguhnya setiap bentuk bid’ah adalah sesat”.**

    Bagaimana dengan Imam Syafie RH yang berpendapat bahawa bid’ah terbahagi kepada 2: Bid’ah yang bercanggah dengan Al-Quran, hadith, athar, dan ijma’. Ini adalah sesat.
    2- Bid’ah yang membawa kebaikan dan faedah untuk ummat Islam.

    Imam Syafie adalah imam madzhab Ahle Sunnah Wal Jamaah.Lalu apakah jawapan terbaik untuk menyatukan kedua-dua pendapat ini ?

  74. Rosulullah bersabda yang kurang lebih artinya sebagai berikut..
    Zaman/generasi yang paling baik adalah pada zamanku…kemudian berikutnya lagi dan berikutnya lagi…..dst
    sekarang??????

  75. lebih baik kita pahami hadist rosul ttg “hati”….lalu jika dgn berdzikir sekalipun dgn berjama’ah akan membuat hati kita tenang,damai n selalu mengingat ALLAH kenapa semua itu dinyatakan bid’ah??…sudahlah tak usah dipermasalahkan selama ibadah itu menjadi kita merasa dekat dengan ALLAH (hati tenang,damai dan selalu bersyukur)…ALLAH itu MAHA LUAS KASIH & SAYANG-NYA

    1. merasa dekat dengan Allah……..(ini sih pengakuan sepihak)
      sama dgn merasa kenal dengan orang itu dan itu, padahal orang itu tdk kenal saya…….lucu……

  76. ishbir ya akhii

    @ yang komen di atas …
    astaghfirullah.. sungguh perkataan ga layak diucapkan oleh seorang muslim kepada saudaranya..

    fatwa syaikh tsb dipost dlm blog ini kan tujuannya untuk mengingatkan dan memberi tahu kepada yang lainnya..

    menurut ana kalau antum ga bisa terima kenyataan dan ga bisa mengikuti ya silahkan… toh bukan penulis atau yamg berfatwa yang merugi…

    suka ga suka ini adalah syari’at, kalau bersedia ya silahkan taa… kalau ga juga silahkan… tp ga perlu memaki orang lain.

    semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kesabaran serta ampunannya kpd kita semua amin.

  77. titik dan baris pada qur’an bid’ah nggak?bikin kitab2 agama bid’ah ga?penentuan shalat pakai jam bid’ah nggak?mencaci maki ulama bid’ah apa biadab?jangan cuma berdalih ada perintah ada hadis buat membukukan qur’an dan hadits.kalau memang ada perintah kenapa para sahabat nggak membukukan hadits sampai nunggu ratusan tahun?masak sahabat kagak pada ada yang ngarti.inimah tafsiran lue aja yang semau gue.mas emang orang tolol semua kayak lue

  78. Assalamualaikum akhi pemilik blog ini…

    Ana hanya ingin sekedar membagi pengalaman pada akhi mengenai cara menanggapi ahli dan pendukung bid’ah seperti para komentator di atas.Dulu ana jg pernah dihadapkan oleh orang orang ahli bid’ad dan para pemuja bid’ah dan bahkan mreka membangkang hujjah dalil tentang bid’ah yg jelas-jelas syaiton lebih menyukai orang yg melakukan bid’ah daripada orang yg berbuat maksiat.Karena bahwasannya salafiyyin sejati gx akn pernah melakukan bid’ah.Namun kalo melakukan maksiat mungkin salafiyyin jg berpotensi melakukannya.Singkatnya ana dulu diberitahu oleh salah seorang ikhwan salafiyyin yg insya Alloh dan semoga Beliau tetep istiqomah bahwasannya syaiton memang paling sulit menggoda para pecinta sunnah untuk melakukan bid’ah.Dan Syaiton lebih menyukai bid’ah daripada maksiat.Mungkin sj krn bid’ah itu kebanyakan orang menganggapnya adalah perbuatan baik dan bernilai ibadah sedangkan maksiat itu anak kecil seusia (maaf:anak TK/playgroup) sekalipun udah di ajarkan sejak dini.

    Jadi kita do’akan sj semoga para saudara kita yg mendukung segala bentuk bid’ah ini segera dibukakan pintu hidayahnya olh Alloh Azza Wa jalla. Amin…

    dan satu lagi perkataan seorang ikhwan itu pd ana bahwa: jika kita diajak berdiskusi tentang islam oleh seseorang yg nonmuslim dan bukan karena ia ingin mengetahui islam yg sesungguhnya namun hanya krn ingin sekedar mencela ato bahkan menebarkan syubhat syubhat maka jangan dihiraukan.Dan katakan sj padanya “Andaikan apa yg saya yakini dan saya amalkan tentang ajaran islam ini adalah kebenaran dan ternyata pendapat anda salah maka semoga Alloh melaknat anda dan keluarga anda beserta tujuh keturunan anda.Namun andaikan apa yang saya yakini dan amalkan tentang ajaran islam ini adalah kesesatan/tersalah dan pendapat anda benar, maka semoga Alloh melaknat saya dan keluarga saya beserta tujuh keturunan saya.

    jadi begitu akh,,,

    bisa juga pernyataan ini untuk membungkam mulut-mulut kotor dan keji para pendukung bid’ah yang menolak hujjah dalil kebenaran itu.

    Daripada capek-capek menanggapi ganggap ocehan mreka yang memang sengaja mau menyesatkan diri dalam dosa-dosa besar karena hawa nafsu mreka.

    Mreka itu hanya orang-orang sombong yang dengan tidak ataupun sengaja menganggap bahwa apa yang di contohkan Rosul itu belum sempurna dan harus ditambah lagi dengan amalan baru.Mreka terlalu menuruti hawa nafsu mreka dengan tidak mau mendengar hujjah dalil kebenarannya.

    Ingat kan akh waktu imam imam kita yg ahli hadits itu mengatakan kepada murid-muridnya untuk tidak mengambil pendapat salah satu imam saja dan menganjurkan untuk mengambil pendapat imam lain yg dirasa lebih benar dari pendapat mreka.

    Bayangkan akh…mreka itu ahli hadits dan mreka sangat istiqomah memegang teguh qur’an dan sunnah namun mreka tawadu’

    sedangkan orang-orang yg mencintai bid’ah ini hanya sok menolak dalil kebenaran dan hanya menganggap pendapat mreka paling benar padahal jelas jelas salah total.

    Sudah akh,.,gx usah ladeni mreka.Khawatir akhi nanti emosi.

    (afwan,, ana agak keras dalam hal ini soalnya memang watak ana seperti ini)

  79. Assalamu’alaikum wr.wb,

    Kalau mau aman ikutilah apa yang diajarkan dalam Alqur’an, sunnah Rasul, dan para sahabatnya. Hal ini pernah disampaikan Rasulullah dalam hadis shahihnya… (silakan dicari sendiri..:-) …Hal-hal yang tidak jelas (biasanya tradisi peninggalan nenek moyang), yang menimbulkan pertentangan pendapat sebaiknya tinggalkanlah. Insya Allah, Allah akan memberi jalan untuk hal-hal yang diridhoi-nya. Sebagai umat Islam, sudah kewajiban kita untuk memeluk Islam secara utuh…. sesuatu yang menimbulkan pertanyaan bagi diri sendiri mesti dicari… juklak dari hukum Alqur’an dijelaskan oleh hadis….referensi Ilmu hadis sudah lebih banyak ditemui saat ini… buku-buku banyak, search di Internet juga mudah…. hadis yang lengkap dengan perawinya bisa jadi petunjuk apakah hadis tersebut shahih atau tidak. Hukum bid’ah memang berat… dan sering tidak disadari bahwa hal-hal yang biasa dilakukan pada kenyataannya bid’ah. Mudah-mudahan Allah memberi petunjuk bagi hambaNya yang ingin menggapai ridhonya. Salah satu buku yang bisa jadi referensi: “Bid’ah-Bid’ah yang Dianggap Sunnah” karangan Syaikh Muhammad ‘Abdus-salam.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.

  80. Bid’ah dlm ibadah mmg sesat,wong dalilny jg udah ada..ya sbgai ssma muslim hrs slg mengingatkan,tp sygny yg d ingatkan kdg mlh ngeyel..ngrasa sdh bnr,pdhl salah..heran..

  81. SUDAH SAATNYA KITA BLJR AGAMA DG BENAR DAN SESUAI DG AL QUR’AN.PADAHAL APABILA TELAH SESUAI DG AL QUR’AN,MENJALANKAN ISLAM TDK LAH BEGITU BERAT.MALAH LBH MASUK AKAL DR PD PELAKU BID’AH.THX ATAS ARTIKELNYA.ALLAH MAHA BESAR

  82. Bagaimana kaitannya dengan alquran “Fa man Ya’mal misqola zarotin khoiron yarohu” ? kontradiksi dong?

    Apakah yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah tidak boleh kita kerjakan meskipun itu berdalil kepada Agama?

    seperti misalnya Maulid Nabi? karena Maulid Nabi isinya adalah doa dan pujian serta syiar Islam.

    seperti misalnya Tahlil? kan isinya semua tentang doa2 yang ada di Alquran?

  83. Permasalahan saling menjelek2an antar umat islam ini adalah suatu permasalahan klasik yang telah terjadi selama berabad-abad. semua orang merasa paling benar dengan mengutamakan dalil-dalil yang dibawanya, dan saling menuduh dan mengecam. padahal hanya Allah sajalah yang berhak menilai dan hanya dialah yang yang menentukan segala sesuatu. dan bukanlah hak kita sebagai muslim untuk mengambil hak Allah tersebut dengan mengkafir-kafirkan sesama muslim. naudzubillah…bukankah Allah maha penerima taubat, sedangkan kita saling mengkafir2kafirkan sesama..seakan-akan kita yang paling benar.mengapa kita tidaklah mencari persamaan diantara berbagai macam perbedaan, toh kita esama muslim..sesama orang yang bersyahadat kepada Allah.. sesaama orang yang meyakini Nabi Muhammad SAW adalah rasul dan utusan yang terakhir..toh perbedaan itu tetaplah ada sampai hari kiamat nanti..biarlah “Sang Hakim” saja yang menilai segala perbuatan kita..dan biarkan kita saling berbaik sangka terhadap sesama saudara muslim kita….semoga Allah merahmati kita semua

  84. wawan, banta , noviandi dan semua bercomments di atas,…
    Anda itu belum berhak menilai, dan menyalahkan seseorang dengan mengatakan itu bid’ah, itu salah dan itu tak dilakukan olen nabi sepertinya anda-anda sekalian telah menguasai seluruh ilmu yang ada di dunia ini, pengetahuan yang anda-anda tau itu hanya secuil dari ilmu-ilmu yang ada. saya harap anda jangan sekali menyalahkan seseorang tanpa dalil dan pengetahuan.
    ikhwani….
    jangan gara-gara persoalan bid’ah itu kita umat Islam terpecah-pecah dan saling gondo-gondokan, dan saling salah menyalahkan. orang-orang non musim itu tertawa melihat kita demikian.
    Agar kita selamat..
    marilah kita intropeksi diri apkah amal ibadah kita ini sudah benar, dan apakah kita selalu menjalankan apa yang diperintah oleh Allah dan meninggalkan segala apa yang dilarangNya.
    Kita jangan sibuk dengan urusan orang lain…, perbaikti amal ibadah kita…
    Jangan buka aib sesama orang Islam, itu sangat jelek sekali menjelek-jelekkan teman seakidah, itu tidak boleh, dilarang oleh Allah.ya….
    Akhirnya, anda sekalian..! jangan merasa paling benar, jangan merasa paling berilmu, jangan merasa paling tau, jangan merasa paling sholeh, jangan merasa paling,.. dan pokoknya janganlah merasa…merasa. karena merasa dan menganggap sudah lebih dari yang lain itu adalah termasuk syirik kecil.
    fahaaaam…. kata pak ustadz…!

  85. Yayat Hendrayana, anda terlalu emosional dan tidak mencirikan diri sebagai seorang mukmin yang baik. Mungkin dzikir akbar yang dilaksanakan oleh Kiyai-kiyai itu merupakan bisnis anda, mudah2 an dugaan saya ini salah, sehingga ketika ada yang mengatakan bahwa berdzikir berjamaah itu bid’ah anda langsung kalap. Agar anda maklum bahwa dalil2 yang anda kemukakan dalam tulisan anda itu benar, tidak perlu diperdebatkan; yang menjadi persoalan adalah cara mereka melakukan dzikir. Pernahkan Rasulullah SAW mencontohkan cara dzikir seperti yang dilakukan oleh kiyai2 itu; atau adakah contoh yang seperti itu dari para sahabat atau pernah difatwakan oleh Imam Mujtahid Asli (Hanafi, Maliki, Hanbali dan Syafii). Praktek dzikir berjamaah, tahlil berjamaah, istigozah dan lain-lain adalah ciptaan baru dari kelompok Sufi yang tidak berdasar kepada tata cara dan adab melakukannya yang bersumber dari Rasulullah SAW dan Para Sahabat beliau. Maaf sekali lagi, saya bukan bermaksud menunding; bahwa para kiyai Pesantren di Nusantara ini mengembangkan dan melestarikan cara-cara yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan Para Sahabat dalam berdzikir dan berdo’a guna menempatkan mereka sebagai Public Figure dan mendapat pujian dari masyarakat. Nauzubullahi min dzalik.

  86. Bid’ah adalah salah satu perbuatan yang menyebabkan kerusakan /bencana baik bencana kemanusiaan dan bencana alam dan yang paling berbahaya adalah ancaman allah dan penjelasan rasul terhadap orang yang melakukan bid’ah yaitu hadits riwayat bukhari dan tharmidzi :Allah tidak menerima dari ahli bid’ah sholatnya, puasnya,shadakohnya,hajinya ,umrohnya,perbuatan taubatnya,berlaku adilnya dan jihadnya, ia telah keluar dari islam sebagaimana keluarnya rambut dari tepung sagu. Selain itu berdasarkan al-quran baru akan masuk jannah setelah ada onta bisa masuk lubang jarum (qs: Al a’raf 7 :40 ).

  87. sudahlah… anda tidak berhak menghakimi, belum tentu tafsiran anda benar. terlalu “keras dan kaku” memaknai Sabda Rasul. Oke!
    Peace…

  88. saya attachkan mengenai sholwat semoga bagi kaum yang menamakan dirinya salafi menjadi faham

    SHOLAWAT

    1. Apakah pengertian Sholawat ?

    Sholawat menurut arti bahasa adalah :‘’ DO‘A‘’

    Menurut istilah adalah:

    • Sholawat Alloh SWT kepada Rosululloh SAW berupa Rohmat dan Kemuliaan( Rahmat Tadhim )

    • Sholawat dari malaikat yang kepada Kanjeng Nabi SAW berupa permohonan rahmat dan kemuliaan kepada Allah SWT untuk Kanjeng Nabi Muhammad SAW sedangkan selain Kanjeng Nabi berupa permohonan rahmat dan ampunan

    • Sholawat orang–orang yang beriman ( manusia dan jin ) ialah permohonan rohmat dan kemuliaan kepada Allah SWT. untuk Kanjeng Nabi SAW, seperti :

    ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD

    2. Sebutkan dasar membaca Sholawat !

    Dasar membaca Sholawat kepada Kanjeng Nabi SAW adalah :

    Firman Alloh SWT dalam surat Al Ahzab ayat. 56:

    Artinya: ‘‘ sesungguhnya Allah beserta para malaikatnya senantiasa bersholawat untuk Nabi SAW. Hai orang-orang yang beriman bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkan salam penghormatan padanya (Nabi SAW.).

    3. Bagaimana hukumnya membaca ? jelaskan !

    Mengenai hukum membaca Sholawat, ada beberapa pendapat dari Ulama ada yang Wajib Bil Ijmal, wajib satu kali semasa hidup, adapula yang berpendapat Sunnah .pendapat yang paling masyhur adalah Sunnah mu’akkad akan tetapi membaca Sholawat pada akhir Tasyahhud akhir dari sholat adalah Wajib, oleh karena itu sudah menjadi rukunnya sholat.

    4. Kita Di samping mempersatukan pendapat para ulama tentang kedudukan hukumnya membaca Sholawat diatas yang lebih penting adalah menyadari denan konsekwen bahwa membaca Sholawat kepada Nabi SAW merupakan kewajiban Moral dan keharusan budi nurani tiap–tiap manusia lebih–lebih kita kaum mu’minin, apa sebabnya!

    karena disebabkan :

    • Kita diperintah membaca Sholawat seperti ayat di atas.

    • kita semua berhutang budi kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang tidak terhitung

    3. Banyak dan besarnya , dhohiron wa batinan Syafa’atan wa Haqiqotan.

    Faedah dan manfa’at membaca Sholawat kembali kepada yang membaca sendiri, keluarganya, masyarakat dan makhluk lain ikut merasakannya bacaan Sholawat tersebut.

    5. Apa tujuan membaca sholawat dan bagaimana adabnya ?

    Tujuan dari membaca Sholawat adalah Ikraman, tadhiman wa Mahabbah kepada Kanjeng Nabi SAW. Didalam membaca Sholawat kita harus memperhatikan adab– adab dalam membaca Sholawat tersebut.

    Adapun adab–adab dalam membaca Sholawat antara lain :

    • Niat ikhlas beribadah kepada Alloh SWT tanpa pamrih.

    • Tadhim dan mahabbah kepada Rosululloh SAW.

    • Hatinya HUDHLUR kepada Alloh SWT dan ISTIHDLOR ( merasa berada di hadapan Rosululloh SAW)

    • TAWADDU’ ( merendahkan diri ), merasa butuh sekali kepada pertolongan Alloh SWT, butuh sekali Syafa‘at Rosululloh SAW.

    Adab tersebut merealisasi sabda Rosululloh SAW, sbb :

    Artinya ‘‘ Ketika kamu sekalian membaca Sholawat kepada KU maka bagusilah bacaan Sholawat mu itu . sesungguhnya kamu sekalian tidak mengerti sekirannya hal tersebut diperlihatkan kepadaKU ‘‘

    6.Apakah Manfa’at dan faedah membaca Sholawat

    Manfa’at dan faedah membaca Sholawat antara lain :

    • Membaca Sholawat satu kali, balas Alloh SWT rohmat dan maghfiroh sepuluh kali, membaca sepuluh kali dibalas 100 X dan seratus kali membaca Sholawat dicatat dan dijamin bebas dari munafik dan bebas dari neraka, disamping digolongkan dengan para Syuhadak.

    bersabda :

    “Barang siapa membaca sholawat kepada-Ku 10x, maka Alloh SWT membalas Sholawat kepadanya 100x, dan barang siapa membaca Sholawat kepadaku 100x, maka Alloh SWT menulis pada antara kedua matanya; “bebas d2ri munafzq dan bebas dari neraka “, dan Alloh SWT menempatkan besok pada Yaumul Qiyamah bersama-sama dengan para Syuhadak”.

    • Sebagai amal kebagusan, penghapusan keburukan dan sebagai pengangkat derajat si pembaca Sholawat.

    . Rosulullooh SAW bersabda

    ”Ya benar, telah datang kepada-ku seorang pendatang dari Tuhan-Ku kemudian berkata : barang siapa diantara ummat-mu membaca Sholawat kepada-mu satu kali, maka sebab bacaan Sholawat tadi Alloh SWT menuliskan baginya 10 kebaikan, dan mengangkat derajatnya 10 tingkatan, dan.Alloh SWT membalas sholawat kepadanya sepadan dengan sholawat yang ia baca “.

    7. Manusia yang paling banyak membaca Sholawat , dialah yang paling utama disisi Rosululloh SAW dan yang paling dekat dengan Beliau besok di hari qiyamat Rosulullooh SAW bersabda :

    “Sesungguhnya manusia yang paling utama disisi-ku pada hari Qiyamah adalah mereka yang paling banyak bacaan Sholawatnya kepada-Ku”

    ROSULULLOH SAW BERSABDA :

    ‘Yang paling banyak diantara kamu sekalian bacaan sholawatnya kepada-Ku, dialah paling dekat dengan Aku besok dt hari Qiyamat. (DARI KITAB SA’ADATUD DAROINI HAL : 58).

    8. Sholawat berfungsi Istighfar dan memperoleh jaminan maghfiroh dari Alloh SWT.

    ROSULULLOH SAW BERSABDA :

    “Bacalah kamu sekalian sholawat kepada-Ku, maka sesungguhnya bacaan Sholawat kepada-Ku itu menjadi penebus dosa dan pembersih bagi kamu sekalian dan barang siapa membaca Sholawat kepada-ku satu kali, Alloh SWT membalas kepadanya sepuluh kali (RIWAYAT IBNU ABI ‘ASHIM DARI ANAS bin’ MALIK)

    9. Sholawat merupakan pengawal do‘a dan memperoleh keridhoan serta pembersih amal–amal kita.

    ROSULULLOH SAW BERSABDA

    ‘Sholawat kamu sekalian kepada-Ku itu merupakan pengawal bagi do’a kamu sekalian dan memperoleh keridloan Tuhan-mu, dan merupakan pembersih amal-amal kamu sekalian (RIWAYAT DAELAMI DARI SAYYIDINA ‘ALI KAROMALLOOHU WAJHAH).

    • Merupakan kunci pembuka hijabnya doa hamba kepada Alloh SWT dan menjadi jaminan terkabul nya semua do‘a.

    ROSULULLOH SAW BERSABDA:

    “Segala macam doa itu terhijab~ (terhalangltertutup), sehingga permulaannya berupa pujian kepada Alloh ‘Azza wa Jalla dan sholawat kepada Nabi SAW kemudian berdo’a, maka do’anya itu diijabahi”. (RIWA YA T IMAM NASAI).

    • Orang yang membaca Sholawat 100 X setiap hari, akan di kabulkan 100 maca, hajat oleh Alloh SWT, yang 70 macam untuk kepentingan akhirat danyang 30 macam untuk kepentingan di dunia

    ROSULULLOH SAW BERSABDA:

    “Barang siapa membaca Sholawat kepada-KU tiap hari 100 kali, maka Alloh SWT mendatangkan 100 macam hajatnya, yang 70 macam untuk kepentingannya di akhirot, dan yang 30 macam untuk kepentingannya di dunia ” * (DIKELUARKAN OLEH IBNU MUNDIR DARI JABIR).

    • Orang yang membaca Sholawat 1000 X setiap hari, tidak akan mati sehingga dia melihat tempatnya di sorga.

    ROSULULLOH SAW BERSABDA:

    ‘Barang siapa membaca Sholawat kepada-Ku tiap hari seribu kali, dia tidak akan mati sehingga dia melihat ,tempatnya di surga”. (DARI ANAS bin MALIK).

    • Orang yang menulis Sholawat dimohonkan ampunan oleh para Malaikat

    ROSULULLOH SAW BERSABDA:

    “Barang siapa yang menulis sholawat kepada-Ku di dalam suatu kitab, maka Malaikat tidak henti-hentinya memohonkan ampun baginya selagi namaKU masih berada di dalam Kitab itu “.

    • Bacaan Sholawat menjadi NUR pada hari Qiamat

    ROSULULLOH SAW BERSABDA:

    ” Hiasilah ruangan tempat pertemuanmu, dengan bacaan Sholawat kepada-Ku, maka sesungguhnya bacaan Sholawat kamu sekalian kepada-Ku itu menladi ‘NUR” dihari Qyamat” (DIRIWAYATKAN DARI ANAS bin MALIK)

    • Bacaan Sholawat dapat untuk mencuci hati ( operasi mental ).

    ROSULULLOH SAW BERSABDA:

    ‘Segala sesuatu itu ada alat . pencuci dan pembasuh. Adapun alat pencuci hati seorang mu’min dan pembasuhnya dari kotoran yang sudah melekatIsudah berkarat itu dengan membaca Sholawat kepada-Ku -.(SA’AADA TUD DAROINI HAL : 511).

    • Sholawat akan melancarkan semua usaha dan menghilangkan semua kesulitan hidup yang dihadapi.

    ROSULULLOH SAW BERSABDA:

    Barang siapa yang merasa sulit/ sukar menempuh sesuatu, maka sesungguhnya Sholawat itu akan membuka kesulitan dan menghilangkan kesusahan”. (H.R. THOBRONI DARI ABI HUROIROH RAJ.

    10. Kecaman terhadap orang yang tidak membaca Sholawat

    Kecaman terhadap orang yang tidak membaca Sholawat antara lain :

    • Dia tidak akan melihat wajah Rosulullah SAW

    Sabda rosulullooh Saw :

    ” Tidak akan bisa melihat wajah-Ku tiga macam orang. satu, orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, nomor dua, orang yang meninggalkan (tidak mengerjakan) Sunnah-ku, dan tiga, orang yang tidak-membaca Sholawat kepada-Ku ketika (mendengar) Aku disebut di dekatnya (HADITS MARFU’ DARI AISYAH RA).

    • Tidak sempurna agamanya.

    Sabda rosulullooh Saw :

    ‘Barang siapa tidak mau membaca Sholawat kepada-Ku, maka tidak dianggap sempurna agamanya “. (RlWAYAT IBNU HAMDAN DARI IBNU MAS’UDI).

    • Dia termasuk sebakhil–bakhil manusia.

    Sabda rosulullooh Saw

    “Barang siapa (mendengar) Aku disebut di dekatnya dan tidak membaca Sholawat kepada-Ku, maka dia itulah sebakhil-bakhil manusia” (RIWAYAT IBNU ABI ASHIM DARI ABI DZARRIN AL-GHIFFARI).

    • Dia bukan golongan Rosululloh SAW.

    Sabda rosulullooh Saw

    “Barang siapa (mendengar) Aku disebut, didekatnya dan tidak membaca Sholawat kepadaKu, maka dia bukan dari golongan-Ku dan Akupun bukan dari golongan dia. Kemudian Rosululloh SAW melanjutkan sabdanya (dalam bentuk doa : Yaa Alloh, pertemukanlah orang yang suka berhubungan dengan Aku. dan putuskanlah (hubungan) orang yang tidak mau berhubungan dengan Aku (DIRIWAYATKAN DARI ANAS bin MALIK).

    11. Jelaskan Keistimewaan membaca Sholawat pada hari jumat !

    Keistimewaan membaca Sholawat pada hari jumat siang ataupun malam diterima langsung oleh Rosululloh SAW sendiri.

    “Perbanyaklah membaca Sholawat kepada-Ku pada tiap hari Jum’at, maka sesungguhnya bacaan Sholawat ummat-Ku pada tiap hariJumat itu diperlihatkan kepada-Ku “(Diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad Hasan dari Abi Umamah)

    12. Bagaiman pandangan para ulama mengenai sholawat ?

    Banyak pandangan–pandangan dan pendapat para ulama mengenai Sholawat. ada yang di angkat dari qoidah–qoidah agamis dan ada pula yang berdasarkan atas keyakinan dan pengaruh zaman Dzauqiyah dan hasil–hasil dari mukasyafah antara lain :

    a. Bacaan Sholawat adalah jalan kesurga kata Abu Huroiroh RA.:

    “Membaca Sholawat kepada Kanjeng Nabi SAW adalah jalan menuju ke sorga “.

    b. Memperbanyak bacaan Sholawat suatu tanda golongan / ahli sunnah kata Sayyidina ‘Ali Zainul ‘Abidin bin Husain bin ‘Ali bin Abi Tholib Rodliyallohu anhum :

    “Tanda-tanda ahli Sunnah ialah memperbanyak bacaan Sholawat kepada Kanjeng Nabi Sholialloohu ‘alaihi wa Sallam “.

    c. Jalan yang paling dekat kepada Alloh SWT pada akhir zaman.

    Jalan yang paling dekat (menuju) kepada Alloh SWT pada akhir Zaman khususnya bagi orang-orang yang berlarut-larut banyak dosa, adalah memperbanyak istighfar dan membaca Sholawat kepada Nabi SAW”.(Dari Kitab Sa`aadatud Daroini).

    d. Untuk menjernihkan hati dan Marifat Billah.

    “Sesungguhnya membaca Sholawat kepada Kanjeng Nabi SAW itu (dapat) menerangi hati dan mewushulkan tanpa guru kepada Alloh SWT Dzat yang Maha Mengetahui segala perkara Ghaib “.. (Sa’aadatud Daroini Hal : 36).

    f. Sholawat dapat mewusulkan tanpa guru.

    “Secara keseluruhan, membaca Sholawat kepada Nabi SAW itu (dapat) mewushulkan kepada Alloh SWT tanpa guru. Oleh karena sesungguhnya Guru dan Sanad di dalam Sholawat itu adalah Shoohibush Sholawat (Ya’ni Rosululloh SAW), oleh karena Sholawat itu diperlihatkan kepada Beliau SAW dan Alloh SWT membalas (memberi) Sholawat kepada si Pembaca Sholawat. Berbeda dengan lainnya Sholawat dari bermacam-macam dzikir itu (harus) ada guru (mursyid) yang arif Billah. Kalau tidak, maka syetan akan masuk ke dalam amalan dzikir itu dan orang yang dzikir tidak dapat memperoleh manfaat daripada dzikirnya”. (Juga disebutkan dalam Saaadatud Daroini hal : 90).

    g. Sholawat diterima secara mutlak oleh Alloh SWT.

    Kata Syekh Showi dalam Tafsir showinya :

    ‘Dan sesungguhnya para Ulama’ sudah sependapat bahwa sesungguhnya bermacam-macam amal itu ada yang diterima dan ada yang ditolak terkecuali Sholawat kepada Nabi SAW. Maka sesungguhnya Sholawat kepada Nabi SAW itu “Maqbuulatun Qothl’an “(pasti diterima) “. (Taqriibul Ushul Hal : 5 7).

    f. Menambah rasa cinta kepada Allah SWT wa Rosulihi SAW.

    “Berkata AI-Allamah Syamsuddin bin Qoyyim dalam Kitabnya Jalaail afham : sesungguhnya Sholawat itu menjadi sebab langsungnya rasa cinta kepada Alloh SWT wa Rosulihi SAW & dapat meningkat berlipat-lipat rasa cintanya. Cinta yang demikian itu menjadi ikatan daripada beberapa ikatannya iman, dimana iman itu tidak bisa sempurna kecuali dengannya -.

    g. Tercetaknya pribadi Rosululloh SAW dalam hati orang yang membaca Sholawat.

    Setengah dari pada faedah membaca Sholawat yang paling besar adalah tercetaknya Shuroh Rosululloh SAW di dalam hati si pembaca Sholawat (Sa’aadatud Daroini Hal : 106).

    h. Orang yang ahli Sholawat ketika sakaratul maut dirawuhi oleh Beliau SAW.

    “Barang siapa keadaan hidupnya memperbanyak Sholawat kepada Rosululloh SAW, maka ia berhasil mendapat kebahagiaan yang besar sekali, karena ketika sakarotul Maut Rosululloh SAW rawuh di hadapannya (Sa’aadatud Daroini Ha : 516).

    i. Mudah mimpi ketemu Rosulullooh saw.

    “Sesungguhnya memperbanyak Sholawat dengan mernakai redaksi yang mana saja berfaedah bisa bermimpi ketemu Rosululloh SAW, dan apabila berhasil dengan sungguh-sungguh memperbanyak serta membiasakan/ melanggengkan, maka pembaca Sholawat itu meningkat bisa melihat Rosululloh SAW dalam keadaan jaga “.

    Beliau almukarom Asy Syekh Al-‘Arif Billah Romo K.H. Abdoel Majid Ma’roef Mualif Sholawat Wahidiyyah berkata antara lain

    ”Membaca sholawat adalah termasuk ibadah sunnah yang paling mudah. Artinya tidak ada syarat-syarat tertentu seperti pada ibadah-ibadah sunnah lainnya. Dan diberi bermacam-macam kebaikan yang tidak diberikan didalam ibadah-ibadah sunah lainnya seperti membaca Qur’an , dzikir, sholat sunnah dan lainnya. Yaitu membaca sholawat spontan menerima Syafa’at dari membaca sholawat itu sendiri. Disamping itu membaca Sholawat sudah mengandung dzikir, istighfar dan mengandung Do’a Li-Qodloil hajat. ini bukan berarti dengan membaca sholawat, tidak usah yang lain-lain bukan berarti begitu tapi kita harus ‘‘YUKTI KULLAA DZI HAQQIN HAQQAH”.dengan mengisi di segala bidang .”

    13. Segalah macam Sholawat mempunyai kedudukan yang sama tetapi satu dengan yang lain mempunyai fadlilah yang berbeda – beda, apa sebabnya !

    Segalah macam Sholawat mempunyai kedudukan yang sama tetapi satu dengan yang lain mempunyai fadlilah yang berbeda – beda, ini di sebabkan adanya beberapa faktor yang berpengaruh terhadap fadlilah Sholawat yaitu disamping dari Alloh SWT dan Syafaat Rosululloh SAW, falilahnya ada hubungannya dengan :

    • Kondisi Muallif Sholawat terutama kondisi batiniyah

    • Susunan Redaksi Sholawat

    • Situasi dan kondisi masyarakat ketika Sholawat itu di ta‘lif

    • Tujuan Sholawat itu di ta‘lif

    • Situasi dan kondisi si pembaca Sholawat.

    • Adab lahir dan batin ketika membaca Sholawat.

    14. Macam macam Sholawat dapat di golongkan menjadi 2 golongan yaitu Sholawat Ma‘tsuroh Sholawat Ghoiru Matsuroh. Jelaskan !

    a. Sholawat Ma‘tsuroh : Sholawat yang redaksinya langsung dari Alloh SWT misalnya Sholawat Ibrohimiyah, yaitu seprti dalam bacaan Tasyahhud akhir Sholawat tersebut tidak ada kalimat SAYYIDINAnya. Ini menunjukkan akan keluhuran budi Kanjeng Nabi SAW, selalu sederhana dan tawaddu,yang harus di tiru oleh para umat , adapun kita sering membaca kalimat Sayyidina itu ditambahkan dari para sahabat, sebagai pernyataan penghormataan , ikroman wa mahabbatan.

    firman Alloh SWT :

    janganlah kamu sekalian memanggil / menyebut pada Rosul seperti halnya engkau memanggil / menyebut diantara kamu sekalian”.

    Sabda Rosululloh SAW : .

    ”Saya gusti (pemimpinnya) anak cucu Adam tidak Saya tonjol-tonjolkan (sombong) dan saya permulaannya orang yang dibangunkan dari kubur, dan Saya permulaannya orang yang memberi Syafa’at (pertolongan), dan permulaannya orang-orang yang mendapat syafa’atNYA, ditangan saya benderanya pujian & dibawah bendera itu Nabi Adam AS beserta anak cucunya”.

    b. Sholawat Ghoiru Matsuroh : Sholawat ghoiro ma’tsuroh yaitu: yaitu sholawat yang disusun oleh selain kanjeng nabi SWT yaitu : yaitu oleh para sahabat, tabi’in, ailiyak, para ulama’ dan umumnya orang islam. Misalnya: Shollawat nariyah, munjiyat, badawi, bardah dan masih banyak lagi. Diantara sholawat Wahidiyyah.

    15. Macam-macam nama sholawat dapat dibagi 2 bagian sebutkan !.

    Macam-macam nama sholawat dapat dibagi 2 bagian yaitu :

    • Nama sholawat yang disesuaikan dengan maksud Do’a yang terkandung didalamnya . misalnya : Sholawat Wahidiyyah, Nariyyah.

    • nama sholawat disesuaikan dengan nama muallifnya. Misalnya: sholawat badawi (Disusun oleh imam badawi), sholawat masyisiyah (disusun oleh syekh abdul salam Bin Masysyi Ghouts Fii Zamanihi).

    16. Ada berapa macam redaksi sholawat ? sebutkan !

    Ada berapa macam redaksi sholawat yaitu :

    a. Sholwat yang berbentuk permohonan kepada Allah SWT seperti :

    ALLOHUMMA SHOLLI ‘AALA SAYYIDINAA MUHAMMAD

    b. Sholawat yang langsung dihaturkan kepada beliau nabi muhammad SAW misalnya :

    ASSHOLAATU WASSALAAMU ‘ALAIKA WA ‘ALAA ALIKA YAA SAYYIDII YAA ROSULALLOH

    c. Sholawat yang redaksinya hanya merupakan kalam khobar :

    SHOLLALLOHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.

    17. Bagaiman Kisah membacanya Sholawat Nabi Adam AS dan Nabi Musa A.S kepada Muhammad SAW

    Kisah membacanya Sholawat Nabi Adam AS dan Nabi Musa A.S kepada Muhammad SAW adalah :

    • Kisah Nabi Adam AS membaca Sholawat kepada Rosululloh SAW.

    Diceritakan dalm Hadits (Sa’aadatud Daroini hal;88).

    Ketika Alloh SWT ‘azza,waJalla telah menciptakan Nabi Adam AS nenek moyang kita dan setelah membukakan penglihatan matanya, maka memandanglah Nabi Adam AS pada ‘ARSY dan melihat tulisan ‘MUHAMMAD’ diatas ‘PENDOP0′-NYA’ARSY, maka maturlah kepada Alloh,-: Duhai Tuhanku, adakah orang yang lebih mulya disampingMU selain aku”.Jawab Alloh SWT: “Benar, Yaitu nama seorang Nabi dari keturunan-mu yang lebih mulya disamping-MU dari pada engkau.Dan jika tidak karena Dia, AKU tidak menciptakan langit, bumi,surga dan neraka”

    Setelah Alloh menciptakan Ibu Hawa dari tulang rusuk kiri Nabi Adam AS, maka Nabi Adam AS mengarahkan pandangannya keatas dan terlihatlah olehnya “satu makhIuq” yang lain dari padanya seorang wanita cantik jelita yang karenanya Alloh SWT memberikan rasa syahwat kepada Nabi Adam AS. Dan ketika itu maturlah Nabi Adam AS kepada Alloh SWT :

    Maturnya : Muhai Tuhanku, siapakah gerangan itu ?

    Jawab Alloh : ‘Itu Hawa”.

    Nabi Adam AS: “Kawinkanlah aku Yaa Alloh dengan dia”.

    Alloh SWT : “Beranikah engkau membayar maskawinnya ?”

    Nabi Adam AS: “Berapakah maskawinnya ?

    Alloh SWT :”Supaya engkau membaca Sholawat kepada yang mempunyai nama (Muhammad SAW), 10 kali”.

    Nabi Adam AS: “JIka kulakukan itu apakah Tuhan telah mengawinkan dia dengan aku?”

    Alloh SWT : “Benar demikian”.

    Kemudian Nabi Adam AS membaca Sholawat sepuluh kali kepada Junjungan kita Kangeng Nabi Besar Muhammad SAW. Maka bacaan Sholawat sepuluh kali itu sebagai maskawinnya Ibu Hawa.

    . KISAH NABI MUSA MEMBACA SHOLAWAT KEPADA ROSULULLOH SAW.

    Dikisahkan di dalam Kitab “Syifa’ul Asqom”, Syekh Al Hafidz Abi Nuaem menceriterakan bahwa menurut hadits ada diceriterakan wahyu Alloh SWT kepada Nabi Musa AS sebagai berikut :

    Firman : Alloh *”Wahai Musa, apakah-engkau ingin AKU ‘ lebih dekat kepadamu dari dekatnya kalammu terhadap lesanmu, supaya AKU lebih dekat kepadamu daripada dekatnya pandangan matamu terhadap matamu dan supaya AKU lebih dekat kepadamu daripada dekatnya rohmu terhadap badanmu. ?

    Jawab Nabi Musa AS : “benar duhai Tuhanku”.

    Firman Alloh : “Perbanyak membaca Sholawat kepada Muhammad Nabi-KU”

    1. katakanlah sesuatu itu dengan benar dan mendasar walaupun ada resikonya ( walaupun kita dihina orang ) . kita akan berdosa bila sesuatu yang kita ketahui dan patut diluruskan tapi tidak kita laksanakan , itu artinya kita punya ILMU TAPI tidak bermanfaat. untuk umat nabi muhammad S.A.W berjalanlah aturan AL QUR’AN dan hadist Rasulullah niscaya akan membawa kita kepada keselamatan . saya setuju sama YAYAN

      1. Buat saudara-saudaraku..

        Satu hal yang sekiranya perlu untuk kita pikirkan saat ini adalah bagaimana kita bisa menerima realita bahwa masalah khilafiyah itu memang ada, bukan sekedar diada-adakan.

        Keberadaan urusan khilafiyah ini bukan karena adanya hawa nafsu dan berangkat dari kebodohan, sebaliknya justru datang dari kemampuan para ulama dalam mengistimbat hukum syariah.

        Sudah bukan zamannya lagi bila kita masih berkutat dengan kebekuan berpikir ala kelompok dan elemen umat. Sudah zamannya sekarang ini kita lebih meningkatkan wawasan dan menjalin dialog yang positif dari keberagaman umat.

        Sayang sekali, ternyata mental-mental seperti ini kadang menjadi faktor penghambat dari kebangkitan Islam. Semoga ke depan nanti, kita bisa lebih bisa menerima pluralisme dalam memahami pandangan syariah selama dalam koridor yang tidak melanggar kaidah yang dibenarkan.

  89. ah saya hanya meyakini bahwa baik salafi,jamaah tabligh, NU,PERSIS, Muhammadiyah semua sama islam…dan menyembah ALLAH SWT….

    jangan mudah membid’ahkan sesama muslim yang beribadah khusyu dan tawadhu…jika kita merujuk bahwa nabiyallah ya habiballah sayidinna muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlaq haruslah kita ikuti bukan budaya arabnya yang kita ikuti,,,,apa yang sudah baik dan sejalan di dalam masyarakat indonesia (yang muslim) serta ada didalam aturan islam…teruslah laksanakan secara baik…toh tidak semuanya yang ada didalam hukum masyarakat indonesia bertentangan dengan sunah ….
    pengetahuan kita yang terbatas seringkali mengkungkung pikiran kita dalam meng-persepsikan dan mengartikan negatif terhadap isla, yang universal…..maka kepada anda yang ber-islam dan berpengetahuan islam, terapkan itu ..kaum atau golongan kita belum tentu lebih baik dari golongan lain,,,,,diatas langit ada langit…tapi jika kita sudah bertauhid allah swt dan beraqidah islam serta sudah beriman haruslah menerapkan bahwa umat islam adalah satu….

    jika kaum salafi menganggap begitu mudahnya membid;ahkan yang lain…saya memohon kepada anda untuk menghentikan itu semua……

    terimakasih

  90. Menanggapi dari Iffo bahwa majelis dzikir seperti yang dikatakan diatas adalah memang kegiatan Bid’ah. Apapun dalam bentuk peribadatan kepada ALLAH, SWT yang dianggap baik tetapi tidak ada tuntunannya dari Rasul, Sahabat Rasul, para Tabiin adalah Bid’ah. Ingatlah SEGALA MACAM BID’AH itu adalah SESAT. Walaupun didalam hatinya ada niat yang baik untuk beribadah atau memuja kepada ALLAH. Kenapa kita harus melakukan itu ?? kenapa tidak yang seperti diajarkan Rasulullah, SAW ?? kenapa kita harus membuat suatu ibadah yang baru (sekali lagi walaupun dikatakan baik) . Jadi kesimpulannya, Majelis Dzikir itu Bid’ah. Bid’ah adalah sesat. Sesat adalah Neraka. Jadi Majelis Dzikir nanti tempatnya di Neraka !! Naudzubillah Min dzalik.

    1. kebenaran itu Milik ALLAH hanya ALLAH S.W.T yang patut menghakimi siapa yang benar .kita semua hanya mengikuti ijtihad para mujtahid,yang penting jangan merasa paling bener sendiri dan berijtihad sendiri.jadi untuk wawan ente jangan menghakimi majelis Dzikir tempatnya dineraka emang ente ALLAH yang berhak memasukan orang keneraka atau surga .istigfar ente

      1. kalau kita uda tau : Haqqu mirrobbikum, maka kita wajib mencari kebenaran itu melalui al quran dan hadist,melalui para pakar tadabbur alquran dan pakar hadist

      2. yang berhak menghukum hanya ALLAH……tapi bukankah ALLAH….memberi petunjuk pada manusia kalo org berbuat begini ……maka org itu termasuk dalam golongan ini…. ada petunjuknya dlm quran dan sunnah…agama yg benar disisi ALLAH hanya islam…berarti yg diluar islam tidak di terima…. kita diberi tahu oleh ALLAH…membunuh itu dosa..maka jika ada orang membunuh orang lain tanpa hak org itu berdosa… kita juga diberi tau oleh al quran…. jadi bukan kita yg menghakimi itu ada dasarnya…merasa salah karena menyalahi quran dan sunnah itu wajib….merasa benar….. karena mengikuti quran dan sunnah pun wajib…. kalo tidak merasa benar berarti kita merasa quran n sunnah ga benar juga dong…..kenapa kita ga cari aman saja……. yang diprintahkan dan ada contohnyaaja masih ribuan ,,,,,, kenapa melakukan yg belum jelas…….

    2. kepada saudara wawan jangan suka menghakimi…..
      semuanya ALLAH yang maha tahu,ALLAH yang berhak menentukan apakah ke surga atau neraka….
      apakah ada hukum yang menjelaskan bahwA MAJELIS DZIKIR ITU haram????klau tidak ada mengapa antum beraani memvonis mereka pasti ke neraka????

      1. @ andis. Ya akhi, memang benar hukumnya haram jika ada melakukan sesuatu ibadat baru yang tidak pernah Nabi dan sahabat buat. Semua madhab setuju dengan hukum ini. Tidak menyusahkan kalau berzikir sendiri, kadangkala rasa lebih khusyuk. :)

        Tidak perlu kita menyusahkan diri dengan perkara perkara baru. Tetapi jika hendak buat kerana nak mengajar cara berzikir kepada anak murid, tidak ada masalah. Cuma jangan biasakan jadi amalan seharian. :)

        Wassalaam.

    3. maaf Mas Wawan…. dalam belajar islam, tentunya banyak sekali hal yang harus kita pelajari, mulai dari ilmu Nahwu, Shorof, balagho, selain Fiqih tentunya. kalaupun belum belajar itu, saya kira kita perlu memberikan perhatian kita sedikit pada mereka yang ahli dalam ilmu tersebut.
      Mengenai masalah dalil bid’ah, coba kita belajar tentang balaghonya atau ilmu tata bahasanya, sehingga pemahaman kita lebih luas, tidak men=justifikasikan sesuatu.
      coba buka ini :

      http://1jamuntukkebahagiaanduniaakhirat.blogspot.com/2009/07/bidah-menurut-ulama-nu_31.html

    4. saudara wawan, ente udah punya bekal apa buat ke akherat? emang ente yakin diri ente udah benar? yang ente perlu ingat bahwa sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik di sisi Allah, dan sesuatu yang kita anggap buruk, belum tentu buruk di sisi Allah SWT. introfeksi diri dong…! Jangan memvonis orang salah kalau wawasan ente masih kurang. Wong yang gelarnya profesor atau Doctor aja ngomongnya ga seperti sampean.

    5. Tanda org yg berilmu cara berbicara bijak dan lembut…
      klo cara ucapan seperti inii….apa namanya?
      Apakah ada dalil ttg itu…Bahwa majlis dzikir sesat?
      Apa dalilnya ? Nakli atau Aqli…
      Tolong di jabar kan lagi..

    6. mas wawan kayakxa hukum itu adalah buatan anda sehngga begitu mudah mengklaim orang melakukan BID’AH sampe2 majlis zikir ust ARIFIN ILHAM dan MAJLIS yang dibina oleh para HABA’IB (keturunan rosul) anda ponis SESAT. saran saya coba teliti dulu majlis itu jg asal ponis! saya hawatir anda SALAH FAHAM ato jangan2 memang FAHAM anda yang SALAH

  91. jangan mem-bidah-kan sesuatu tanpa ilmu, tanpa dasar, atau dengan hawa nafsu. segala sesuatu selama tidak keluar dari syariat, apalagi di dalamnya ada kegiatan mengagungkan Allah, memuji Allah, dlsb.

    bagaimana suatu dzikir dapat dikatakan suatu bidah

    “c]. Bid’ah yang terdapat pada sifat pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah yang sifatnya tidak disyari’atkan seperti membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan dengan cara berjama’ah dan suara yang keras. Juga seperti membebani diri (memberatkan diri) dalam ibadah sampai keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”

    Segala sesuatu dikembalikan kepada niat, inna mal a’malu bi niat. apakah bapak merasa suci sampai menghakimi bagaimana cara orang dalam mengagungkan Allah. jika dzikir berjamaah adalah bidah, banyak majelis dzikir di jakarta. misalnya ustz Arifin Ilham. apakah bapak membid’ahkan kegiatan itu. banyak majelis binaan para habib juga mengadakan majelis dzikir. bagaimana bapak menjelaskan hal itu. jika itu adalah sesuatu yang bidah.

    demi Allah, yang mengetahui dalam setiap niat, dan dalam setiap dada hambaNya. biarlah orang beribadah. selama tidak sesat dan masih ada cahaya aqil dalam dadanya.

    1. Ass.Wr.Wb.
      Bagi yang saudaraKU IFFO , yang menyampaikan hal ini sebagai pembanding dan pencerahan dari sisi lain, saya pribadi SEPENDAPAT , dan bagi saudara-2 ku yang lain termasuk yang yang menulis TEMA diatas , jangan TERLALU RINGAN menghakimi UMAT dengan kalimat BID’AH , walaupun referensi segudang tanpa PAHAM benar maksud penulis Referensi tersebut.
      BIJAKSANA lah wahai saudara-2 KU , Janganlah memandang segala sesuatu dalam urusan IBADAH & AMAL dari KULIT semata.
      Ulama-2 SHALEH bukan manusia yang ber-AGAMA 1 atau 2 tahun, dan pendalaman ILMU ber-IBADAH tidak didapat dalam WAKTU SINGKAT.
      Umat butuh PERSATUAN dan DAMAI guna membangun kuatnya BANGUNAN ISLAM,

      Puji dengan SEGALA PUJI milik SANG RAHMAN & RAHIM SEMATA.
      Shalawat SENANTIASA TERCURAH BUAT BAGINDA TERCINTA.
      Wass.Wr.Wb.
      SERAKAH-212.

  92. mengapa di masyarakat kita banyak sekali perbuatan bi’dah mungkin karena dangkalnya pemahaman terhadap pengertian/arti dari sunnah yaitu segala perbuatan yang jika dilakukan berpahala dan jika tidak tidak apa2. akibatnya banyak masyarakat yang melebih-lebihkan dalam beribadah (yang tidak ada contohnya) dengan harapan mendapatkan pahala sunnah dg tidak memperhatikan akibat jangka panjang dari perbuatannya tersebut. apa jadinya 100 tahun kemudian jika perbuatan bid’ah masih terus dilakukan saat ini?

  93. “semoga kita semua mendapat cahaya sunnah, amin..”
    mohon kalau tidak keberatan saya diberi tahu adakah pembagian macam-macam bid’ah di atas berdasarkan al quran atau hadits nabi, atau hanya pendapat ulama yang mu’tabar saja dari kalangan sahabat, tabiin..atau siapakah? jangan sampai pembagian bid’ah diatas justru dapat menjadi bid’ah yang baru, karena kalau itu tak ada sandarannya…bukankah menentukan definisi dan pembagian seperti di atas yang merupakan definisi agama/syariah justru merupakan bid’ah yang baru…mohon pencerahannya.i

  94. menanggapi coment japra_tea diatas, menurut saya pendapat bahwa hp, kulkas,ac dll itu bukan termasuk bi’ah, karena bid’ah itu hanya pada ibadah, sedangkan hal2 diatas bersifat mu’amalah atau keduniawian

    1. kalau menurut anda bid’ah hanya sebatas ibadah, bagaimana al-qur’an yang anda baca saat ini? sedangkan zaman nabi tidak ada. Al-qur’an zaman nabi SAW berupa hafalan. Anda sanggup? setelah nabi wafat (zaman sahabat) pun al-qur’an masih ditulis dipelepah kurma, tulang, batu, dll. Al-qur’an dibukukan pada zaman kholifah utsman bin affan, itupun tulisannya belum ada harokat, titik dan tanda-tanda bacaan seperti sekarang ini. berarti kalau anda membaca al-qur’an zaman sekarang bid’ah dong? Jangan terlalu picik mengartikan bid’ah. Karena Allah melihat kalian bukan dari jasad atau bentuk rupa ataupun amal ibadah. akan tetapi Allah SWT melihat isi hati kalian. Percuma ibadah, kalau hati kita masih kotor, penuh dengan dengki, egois, takabbur dsb..
      Maaf, ini sekedar komentar. bukan menggurui

      1. Allahu Akbar…..
        Shollu ‘alannabiiy…

        Ada Kejadian Gini…

        Ada tetangga saya nih….di rumah nya ga ada TV…Tapi Komputer beserta Internet ada….

        Saya : “Mas kenapa ga pake TV mas di Rumah”
        Tetangga : “Ga boleh mas..bid’ah”
        Saya : “Kenapa Bid’ah ?”
        Tetangga : “…..?….”

    2. kenapa yang dikatakan bid’ah hanya di dalam perkara agama saja,,,sedangkan rasulullah adalah tauladan bagi semua hal,,,jdi klo memg pgrtian bidah adlah krna tdk diajarkan oleh rasululah tntulah perkara muamalah itu juga termasuk bid’ah,,

  95. “sesungguhnya setiap bentuk bid’ah adalah sesat” 100% saya meyakini itu, tetapi ketika dihadapkan dengan kenyataan yang ada banyak kaum Salafy (karena mereka menamakannya demikian) menggunakan HP, mempunyai kulkas, AC dan alat rumah tangga modern. juga naik mobil.
    malah tidak sholat di mesjid.
    mohon pencerahannya. karena pernyataan ” tidak ada bidah hasanah” saya juga meyakini nya 100%.

    damai wahai pemeluk islam,,,

    1. bener, zaman dahulu Qur’an tidak dibukukan. Semua adalah penghafal. Saat sebagian penghafal gugur di medan perang, maka Sayidina Umar mengusulkan pad Sayidina Abubakar untuk menyusun Qur’an. Sayidina abubakar mengatakan itu bid’ah!, dengan kesabaran, sayidina Umar bisa menjelaskan kalau ini bid’ah yang hasanah.. Silahkan dichek mas dalam penyusunan Qur;an. Bagaimana? Qur’an juga salah satu bid’ah pertama khan? Mohon masalah bid’ah tak perlu dilebarkan. Ilmu kita tidak seberapa dengan ulama-ulama dahulu. Lebih baik Rahmatan Lil Alamin saja. Wassalam. segala kesalahan mohon maaf..

      1. Bid’ah Hasanah itu dlm bab duniawi sahaja, mana boleh tambah perkara baru di dalam agama. Kalau nak guna istilah bid’ah hasanah sangat, bagaimanakah kita nak membezakan Al-Islam dgn puak2 lain seperti puak Syi’ah?

        Tidak cukup ke Nabi mengajar agama yang SEMPURNA kepada kita? Semoga Allah lindungi kita dari perkara baru di dalam agama kerana hawa nafsu. Ameen.

    2. mas japra, sesungguhnya sudah banyak banget yang berkomentar seperti anda. saking banyaknya hingga tidak terhitung jumlahnya. coba anda search di google aja mas. banyak sekali kok penjelasannya, karena yg mas sampaikan diatas adalah pernyataan yang amat sangat umum dan banyak sekali. trims

  96. Saudara Nadiyyah,

    Mereka melalukan hal tersebut karena ketidaktahuan mereka, mudah2an kita bisa sabar menghadapinya.

    Ya, mudah2an keadaan segera membaik, terlebih Padang itu menurut sejarahnya merupakan tempat perjuangan tokoh besar Islam di Indonensia yakni Imam Bondjol.

    Memang dimulai dengan orang2 terdekat terlebih dahulu

    Semoga Alloh memudahkan segala urusan kita dalam kebaikan. Jazakallooh

      1. Salaf itu adalah Kurun Shohabat, Tabi’in dan Taabiut taabi’iin…kalau “salafytobat” = “membebaskan diri dari salaf” maka? hehehe

  97. di kampus saya di padang, kata2 bid’ah itu jadi cemoohan gitu….radahal emang banyak yang berbuat bid’ah sih…untuk sekarang, saya cuma bisa ngasih pengertian ama temen2 deket aja…

  98. Untuk Kasih, SEGALA PUJI HANYA BAGI ALLOH TUHAN SEMESTA ALAM, semoga Alloh Subhanahu wa ta’ala mencintai antum, menyayangi antum, dan menambah keutamaan bagi antum. menambah ilmu yang bermanfaat dan kefahaman atasnya. menganugerahkan rizki yang baik. dan amal-amal yang diterima Alloh Subhanahu wa ta’ala.

  99. untuk mas aan, mudah2an Alloh memudahkan urusan antum, urusan kita seluruh kaum muslimin. langkah pertamanya kita harus belajar Islam lebih giat lagi, supaya meningkatkan ketaqwaan kita, syukur2 bisa berda’wah dengan ‘amal-‘amal kita yang baik. dan satu kuncinya mas SABAR.

  100. mas suparwoto, ini bukunya : Al-Wala & Al-Bara Tentang Siapa Yang harus Dicintai & Harus Dimusuhi oleh Orang Islam, oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan At-Tibyan Solo

  101. mohon infonya perihal kitab terjemah pembahasan tentang bid’ah menurut salafy sebagai bagian upaya menambah ilmu karena umum kita mendengar dan melihat sebagian dari kaum muslimin masih memandang pengertian dengan dasar yang bermacam-macam.

  102. ini bukan balasan tapi merupakan keluh kesah saya:
    saya seorang muslim yang tinggal di rumah mertua saya dilingkungan yang sangat sering melakukan bid’ah dan bahkan apabila ada seorang muslim yang mempertanyakan atau menentang atau tidak mengamalkannya dianggap musuh dan tidak dari golongannya dan selalu diintai keburukannya,.. saya sendiri merasa bingung dalam menentukan pilihan karena saya sendiri masih merasa dangkal mendalami agama…
    bagaimana menghadapinya?
    tolong bagi siapa saja yang membaca email saya, saya minta tanggapannya…

    1. assalamualaikum warohmatullohi wabarokatu
      yang harus anda lakukan adalah tetap pada pendirian anda.apabila anda yakin yg anda lakukan benar maka itulah yg Allah berikan kepada kamu.sekecil2xa iman adalah membnci dengan hatinya dan sebesar2xa iman adalah dengan tangaxa.yang anda harus lakukan adalah cukup bersabar.mudah2 ad manfatxa buat anda sbgai cobaan.kita serahkn saja semuaxa kepda Allah SWT.

      1. Setiap orang , setiap kelompok punya pendekatan yang berbeda, ada yang pendekatannya dengan lemah lembut, sampai akhirnya menjadi sadar secara alami. Tapi juga ada juga orang yang pedetannya dengan cara tegas ( tapi tidak keras ), sehingga orang tersebut akan sadar secara otomatis. Nah sekarang kita sebagai umat islam harus bisa membaca tipe seperti apa masyarakat yang kita hadapi, dan kita sendiri juga harus memiliki sikap yang tenang dalam menghadapi segala situasi. Maaf saya hanya sekedar berkomentar. Dan komentar saya bisa jadi akan menambah anda menjadi semakin tenang , dan bisa jadi akan menambah anda menjadi bingung. Semua hanya Allah yang maha Tahu.

    2. saran ana, antum lebih giat lagi menghadiri kajian2 sunnah. karena dengan kita rajin menghadiri kajian2 sunnah maka Allah SWT akan menguatkan hati kita seiring dengan pemahaman kita yang terus bertambah. Misalnya dengerin radio : Radio roja atau Radio Fajri(91,4 fm) demikian..mudah2an bermanfaat.

    1. Penjelasan tentang bid’ah, kurang tepat…..apalagi contohnya. tolong perbanyak refrensinya…alangkah sempitnya jika, semua amalan yng tidak pernah Rasulullah lakukan adalah bid’ah. Da’wah diperlukan cara dan metode….sepanjang cara dan metode itu tidak bertentangan dengan pokok syari’at… maka itu sah saja. lebih lanjut ..silahkan perluas refrensi Anda…., karena sajian keilmuan yg tidak didasarkan kepada maqashidud tasyri’, justru akan lebih menyesatkan.,. ummat. buktinya…dengan paham anda tentang bid’ah ini….,,,ummat jadi resah…..dan….berpecah belah… jaga ukhuwah Islamiyah jauh lebih penting daripada….berdebat masalah khilafiyah.. wallahu a’lam….

      1. kalau alasan bahwa ini akan memecah belah, sesungguhnya nabi juga dituduh sebagai pemecah belah kaum quraisy pada waktu itu. jadi jika ini adalah sebuah kebenaran, maka wajib disampaikan walaupun ada yang TIDAK SUKA
        tetapi “himbauan” untuk memperluas referensi juga tepat. selama ini nyatanya umat islam tidak memahami secara tepat,utuh dan seragam mengenai masalah bid’ah. maka perlu diperjelas batasan-batasan bid’ah dan (dalam istilah yang dipakai oleh imam malik dan sahabat2nya) mashlahah mursalah
        juga yang dipakai oleh imam syafii sebagai bid’ah hasanah. karena kenyataannya orang2 yang mengaku pengikut imam syafii menggunakan istilah bid’ah hasanah untuk hal2 yang boleh jadi oleh imam syafii tidak dikategorikan sebagai bid’ah hasanah

      2. setuju banget tuuuh…..
        menganggap kaum muslim sesat itu tidak boleh,,,jstru bisa” sendirinya ug sesat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s