Al-Auza’i -rohimahulloh-

ABU AMRU ABDURRAHMAN AL-AUZA’I

Syaikhul Islam, seorang ulama dari Syam
Diambil dari majalah Fatawa

Siapakah al-Auza’i? Dan Bagaimana Nasabnya?
Beliau adalah Abu Amru Abdurrahman bin Amru bin Muhammad al-Auza’i ad-Dimasyqi, beliau adalah ulama dari Syam yang kemudian berpindah ke ke Beirut sampai wafatnya, yang mendapat julukan Syaikhul Islam.
Beliau lahir tatkala sebagian para sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Al-Auza’i merupakan nisbat kepada sebuah desa yang terkenal di kota Hamadan, Damsyiq yang bernama Al-Auza’. Beliau lahir pada tahun 88 H, dikenal sebagai orang yang baik, utama, memiliki banyak ilmu, baik dalam bidang hadits maupun fikih, dan ucapan beliau dipakai sebagai hujah.

Bagaimana Masa Mudanya?
Al-Abbas bin al-Walid bercerita bahwa guru-gurunya berkata, bahwa al-Auza’i bercerita, “Ayahku meninggal ketika aku masih kecil. Pada suatu hari aku bermain-main dengan anak-anak sebayaku, maka lewatlah seseorang (dikenal sebagai seorang syaikh yang mulia dari Arab), lalu anak-anak lari ketika melihatnya, sedangkan aku tetap di tempat. Lantas Syaikh tersebut bertanya kepadaku, “Kamu anak siapa?”; maka saya menjawabnya. Kemudian dia berkata lagi, “Wahai anak saudaraku, semoga Allah merahmati ayahmu.” Lalu dia mengajakku kerumahnya, dan tinggal bersamanya sehingga aku baligh. Dia mengikutsertakan aku dalam dewan (kantor/mahkamah pengadilan) untuk bermusyawarah dan juga ketika pergi bersama rombongan ke Yamamah. Tatkala aku sampai di Yamamah, aku masuk ke dalam masjid jami’. Pada waktu keluar masjid ada seorang temanku berkata kepadaku, “Saya melihat Yahya bin Abi Katsir (salah seorang ulama Yamamah) kagum kepadamu; dan dia mengatakan, ‘Tidaklah saya melihat di antara para utusan itu ada yang lebih mendapatkan petunjuk daripada pemuda itu!’” Al-Auza’i berkata, “Kemudian aku bermajelis dengannya dan menulis ilmu darinya hingga 14 atau 13 buku, kemudian terbakar semuanya.” Beliau adalah orang yang pertama kali menulis buku ilmu di Syam.

Beliau adalah orang yang menghidupkan malamnya dengan shalat lail, membaca al-Qur’an dan menangis. Bahkan sebagian penduduk kota Beirut bercerita bahwa pada suatu hari ibunya memasuki rumah al-Auza’i dan memasuki kamar shalatnya, maka dia mendapati tempat shalatnya basah karena air mata tangisan malam harinya.

Siapa Guru-Gurunya ?
Beliau banyak belajar kepada para tabi’in (yaitu orang-orang yang menuntut/menerima ilmu langsung dari para sahabat Rasululloh). Di antaranya adalah: Atha’ bin abi Rabbaah, Abu Ja’far al-Baaqir, Qatadah, Bilal bin Sa’ad, Az-Zuhri, Yahya bin Abu Katsir, Ismail bin Ubaidillah bin Abul Muhajir, Muth’im bin al-Miqdam, Umar bin Hani’, Muhammad bin Ibrahim, Salim bin Abdulloh, Syadad abu Ammar, Ikrimah bin Khalid, ‘Alqomah bin Martsad, Muhammad bin Sirin, Mauimun bin Mihran, Nafi’ maula Ibnu Umar, dan masih banyak lagi dari para Tabi’in dan yang lainnya.

Al-Abbas anak dari al-Waliid bercerita, “Tidaklah saya mengetahui keheranan ayahku terhadap sesuatu di dunia ini, sebagaimana keheranannya terhadap al-Auza’i. Dahulu al-Auza’i adalah anak yatim lagi miskin yang berada dalam pengasuhan ibunya. Beliau sering berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya. ‘Wahai anakku,’ –lanjut ayahnya– raja-raja tidak mampu menjadikan dirinya orang yang beradab dan tidak juga anak-anaknya; sedangkan al-Auza’i melatih dirinya untuk beradab. Tidaklah satu kalimat yang didengar darinya melainkan dijadikan hujah bagi orang yang mendengarnya untuk menetapkan sesuatu darinya; dan apabila menasehati manusia tentang hari kiamat, –maka aku berkata pada diriku sendiri–, ‘Apakah engkau tidak melihat di dalam majelisnya hati yang tidak menangis?”.

Siapakah Murid-Muridnya?
Amat banyak penuntut ilmu yang belajar kepada beliau. Di antara murid-murid yang meriwayatkan dari beliau, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Syu’bah, Sufyan ats-Tsauri, Yunus bin Yazid, Malik, Ibnul Mubarok, Abu Ishaq al-Fazari, Yahya al-Qadhi, Yahya Al-Qaththan, Muhammad bin Katsir, Muhammad bin Syu’aib dan masih banyak lagi.

Bagaiman perkataan para ulama tentang al-Auza’i?
Ummayyah berkata, “Sungguh telah terkumpul pada diri al-Auza’i sebagai ahli ibadah, berilmu dan perkataan yang benar.”

Imam Malik berkata, “Al-Auza’i adalah seorang imam yang diikuti”. Dan tatkala ats-Tsauri dan al-Auza’i keluar dari majelis; Imam Malik berkata, “Salah satu dari keduanya itu lebih banyak ilmunya dari temannya. Dan salah seorang dari keduanya tidak pantas menjadi Imam dan satunya lagi pantas menjadi Imam (maksudnya al-Auza’i).”

Ibnul Mubarok berkata, “Kalau saya disuruh memilih pemimpin untuk umat ini, maka saya akan memilih Sufyan ats-Tsauri dan al-Auza’i. Dan jika disuruh memilih di antara keduanya, maka saya akan memilih al-Auza’i karena dia lebih lembut.” Hal seperti ini juga dikatakan Abu Usamah.
Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Manusia pada zaman mereka merujuk kepada empat orang: Hamad bin Zaid di Bashrah, Sufyan ats-Tsauri di Kufah, Imam Malik di Hijaz dan al-Auza’i di Syam.
Imam Syafi’i berkata, “Tidaklah saya melihat seorang laki-laki yang ilmu fiqihnya sebagaimana ilmu haditsnya daripada al-Auza’i”.
Sekretaris al-Manshur berkata, “Tatkala al-Manshur diberi kitab-kitab karya al-Auza’i maka kami kagum terhadap kitab-kitabnya. Al-Manshur tidak sanggup menyalin sendiri kitab-kitab al-Auza’i, Karenanya disalinkan untuknya beberapa buku, kemudian diberikan kepadanya. Maka dia banyak memperhatikan isinya dan memuji kebagusan ungkapan-ungkapan yang digunakan Al-Auza’i.”

Al-Walid bin Muslim bercerita, “Saya bersemangat sekali mendengarkan ilmu dari al-Auza’i. Sehingga aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan al-Auza’i berada di sampingnya. Kemudian aku bertanya kepada Rasulullah, “Kepada siapa aku harus mengambil ilmu?” Kemudian Rasululloh menjawab, “Kepada lelaki ini” sambil menunjuk ke arah al-Auza’i. Dan tidaklah aku melihat seseorang yang lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah dari al-Auza’i.

Bagaimana Pengajaran al-Auza’i?
Abu Ishaq al-Fazari meriwayatkan dari al-Auza’i, ada 5 perkara yang para sahabat konsisten di dalamnya, yaitu senantiasa berjamaah (tidak berpecah belah), mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca al-Qur’an dan berjihad fi sabilillah.”

Bisyr bin Bakar bertanya kepada al-Auza’i, “Wahai Abu Amru (kunyah dari al-Auza’i), seorang lelaki mendengarkan hadits dari Nabi yang terdapat kesalahan di dalamnya, apakah harus membenarkan dengan bahasa Arab?” Beliau menjawab, “Ya, karena Rasulullah tidaklah berbicara kecuali dengan bahasa Arab. Dan tidak mengapa memperbaiki kekeliruan dan kesalahan dalam hadits”.

Al-Auza’i ditanya perihal khusyu’ di dalam shalat, beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, merendahkan diri di hadapan Alloh, melunakkan hati yaitu takut kepada Allah”.

Al-Auza’i berkata, “Barangsiapa yang lebih banyak mengingat kematian maka kehidupan cukup mudah baginya (mencari bekal dengan beramal shalih). Dan barangsiapa berucap dengan ilmunya maka dia akan sedikit bicara.”
Al-Auza’i berkata, “Barangsiapa yang lama dalam shalat malam, maka Allah akan memudahkan urusannya dan menaunginya pada hari kiamat”.
Muhammad bin al-Auza’i berkata, ayahku menasehatiku, “Wahai anakku, seandainya kita menerima setiap yang dikatakan manusia, maka hampir-hampir mereka itu menghinakan kita”.

Al-Walid mendengar al-Auza’i berkata, “Wajib atasmu untuk berpegang teguh dengan atsar (teladan) para salaf meskipun manusia menjauhimu. Dan jauhilah kebanyakan pendapat orang-orang meskipun mereka menghiasinya dengan perkataan yang indah. Sesungguhnya perkara yang benar itu akan nampak/jelas dan kamu berada di dalam jalan yang lurus.”
Al-Auza’i memberi nasehat kepada Baqiyah bin al-Walid, “Wahai Baqiyah, janganlah kamu menyebut/membicarakan salah seorang dari sahabat Nabi kecuali kabaikannya. Wahai Baqiyah, ilmu itu apa-apa yang datang dari sahabat Nabi, maka yang datang dari selain mereka bukan merupakan ilmu”. Dan berkata, “Tidak akan terkumpul kecintaan Ali dan Utsman kecuali hanya pada diri seorang Mu’min.”

Muhammad bin Katsir mendengar al-Auza’i berkata, “Kami – dan para tabi’in – berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu berada di atas Arsy-Nya, kita beriman sebagaimana berita tersebut datang dalam sunnah tentang sifat-sifat-Nya’”.
Al-Walid bin Mazid mendengar al-Auza’i berkata, “Apabila Allah menghendaki suatu kaum kejelekan, maka Allah akan membukakan baginya pintu berdebat dan enggan untuk beramal.” Dan juga berkata, “Sesungguhnya orang Mu’min itu sedikit bicara banyak beramal dan orang munafiq itu banyak bicara dan sedikit beramal.”

Abdullah bin Ali adalah raja yang zalim, banyak menumpahkan darah, keras kepala, meskipun demikian, Imam al-Auza’i tetap berani dalam menyampaikan kebenaran sebagaimana yang kalian saksikan. Tidak sebagaimana akhlaq para ulama jahat yang menganggap baik sesuatu perkara di hadapan pimpinannya meskipun perkara tersebut kezaliman dan sia-sia, mereka membalik yang batil menjadi haq –- semoga Allah membinasakan mereka-– atau mereka diam (terhadap kemungkaran) meskipun sebenarnya mampu menyampaikan kebenaran.

Al-Manshur meminta al-Auza’i menuliskan nasehat untuknya. Maka beliau menulis, “Ammaa ba’du, wajib atasmu untuk bertaqwa kepada Allah, bertawadhu’lah maka Allah akan mengangkatmu pada hari di mana Allah akan merendahkan orang-orang yang sombong di dunia tanpa haq …”
Muhammad bin Syu’aib mendengar Al-Auza’i berkata, “Barang siapa memanfaatkan ketergelinciran ulama, maka dia akan keluar dari agama Islam.”
Al-Auza’i berkata, “Tidaklah seseorang membuat bid’ah melainkan akan hilang kewara’annya.” [Wara’ adalah menjaga diri dari hal-hal yang dilarang dan sia-sia.]

Ibnu Mazid mendengar al-Auza’i berkata, “Celakalah orang yang belajar dan faham agama Islam tanpa amal ibadah, dan celaka pula orang yang menghalalkan keharaman dengan syubhat-syubhat (kerancuan-kerancuan).”
Muhammad bin Abdul Wahab bercerita, “Saya dan teman-teman sedang bersama Abu Ishaq al-Fazari. Lalu ada seseorang menyebut-nyebut tentang al-Auza’i. Maka beliau berkata, ‘Dia adalah seorang lelaki yang sungguh ajaib keadaannya. Jika ditanya tentang suatu perkara yang di sana ada atsar (ungkapan dan pendapat para sahabat dan dua generasi sesudahnya), maka dia menjawab sebagaimana dalam atsar tersebut. Dia tidak mendahului atsar tersebut dan tidak pula mengeyampingkannya.’”
Al-Auza’i ditanya tentang pakaian berwarna hitam, maka beliau menjawab, “Janganlah dipakai untuk berihram, jangan pula untuk mengkafani mayit, dan jangan dipakai pada waktu pesta pernikahan.”

Kapan Wafatnya?
Muhammad bin Ubaid sedang bersama Sufyan ats-Tsauri ketika datang seorang laki-laki, dia berkata, “Saya bermimpi raihanah (tumbuhan berbau harum) yang berasal dari daerah Maghrib diangkat” Mendengar hal itu Sufyan ats-Tsauri menimpali, “Jika mimpimu benar maka sungguh al-Auza’i telah wafat.” Maka mereka menulis surat menanyakan hal itu, dan ternyata memang benar demikian.

Sebab kematiannya, bahwa setelah beliau menyelesaikan pekerjaannya mengecat sesuatu dengan cat berwarna, kemudian masuk kamar mandi yang ada di rumahnya; sementara istrinya masuk bersamanya dengan membawa tabung yang berisi arang agar beliau tidak kedinginan di dalamnya. Istrinya menutup pintu kamar mandi tersebut. Ketika asap arang itu menyebar, beliau menjadi lemas. Beliau berusaha membuka pintu, tetapi tidak bisa. Kemudian beliau terjatuh, dan kami menemukannya dalam keadaan tangan menghitam dan menghadap ke arah kiblat.

Abu Mushir berkata tentang kematian al-Auza’i, bahwa ketika dia berada dikamar mandi, istrinya menutup pintu kamar mandi tersebut tanpa sengaja, sehingga hal itulah yang menjadi penyebab kematiannya. Karenanya Sa’id bin Abdul Aziz memerintahkan istri al-Auza’i untuk membebaskan seorang budak.

Al-Auza’i tidak meninggalkan harta warisan melainkan uang sebanyak 6 dinar. Beliau meninggal pada tahun 153 H, dan kebanyakan ulama berkata bahwa beliau meninggal pada tahun 157 H di bulan Shafar.

http://muslim.or.id/?p=81

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s