‘Ulama

Tokoh-tokoh Ahlussunnah

KISAH EMPAT ULAMA BERNAMA MUHAMMAD – BUAH ISTIKHOROH

KISAH EMPAT ULAMA BERNAMA MUHAMMAD

.
Imam adz-Dzahabi rahimahullah menceritakan bahwasanya pernah ada suatu perjalanan (rihlah) yang mengumpulkan empat orang ulama yang sama-sama bernama Muhammad :
▬ Muhammad bin Jarir ath-Thobari,
▬ Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah,
▬ Muhammad bin Nashr al-Marwazi
▬ dan Muhammad bin Harun ar-Ruyani
▬▬ rahimahumullah jami’an.

Bekal perjalanan mereka sama-sama habis sehingga mereka sama-sama merasa lapar. Lalu mereka berkumpul di dalam sebuah rumah dan mengundi, barang siapa yang keluar namanya, maka ia mendapat tugas untuk meminta sedekah kepada masyarakat.

Ternyata undian jatuh kepada Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah. Ia berkata: “Tunggu sejenak, biarkan aku sholat istikhoroh terlebih dahulu.”

Setelah itu ia bertolak menuju ke pintu untuk keluar. Namun tiba-tiba ia melihat beberapa buah lilin ada di depan pintu yang dibawa oleh beberapa tentara utusan. Mereka mengetuk pintu. Muhammad bin Ishaq lalu membukakan pintu untuk mereka.

Mereka (para tentara utusan) berkata:
“Siapa dari kalian yang bernama Muhammad bin Nashr?.” Lalu mereka mengeluarkan pundi uang sejumlah 50 dinar dan memberikan kepadanya.

Mereka bertanya lagi:
“Mana yang namanya Muhammad bin Jarir?.” Lalu mereka memberinya 50 dinar. Demikian seterusnya hingga keempat Muhammad mendapatkan 50 dinar.

Kemudian utusan itu menjelaskan bahwa Amir (Pemimpin) mereka telah bermimpi dan melihat keempat Muhammad kelaparan, maka itu ia mengirimkan pundi-pundi uang itu kepada mereka. Dan dia bersumpah, apabila uang-uang tersebut habis, hendaklah mereka mengabarkan kepada Amir tersebut.

[Siyar A’lam an-Nubala`, adz-Dzahabi, 14/270 & 508. Dinukil dari kitab Jami’ Mukhtashor al-‘Ulum, DR. Fakhruddin bin az-Zubair al-Muhsi, hlm. 24]
——————————————————————————————

.
BUAH ISTIKHOROH
▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Ternyata Allah ta’ala tidak ridha melihat keempat hamba-Nya yang pada akhirnya menjadi ulama besar, untuk meminta sedekah kepada masyarakat. Allah telah mengijabahi doa Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah ketika beristihkoroh kepada-Nya.

Bukankah di antara isi doa istikhoroh berbunyi,
“Ya Allah, apabila Engkau tahu bahwa urusanku ini baik bagiku, bagi agamaku, hidupku, dan kesudahan urusanku –atau berkata: baik urusanku sekarang atau akan datang-, maka takdirkanlah terjadi padaku, mudahkanlah ia bagiku, kemudian berkahilah aku padanya. Namun apabila Engkau tahu bahwa urusan ini buruk bagiku, bagi agamaku, hidupku dan kesudahan urusanku –atau berkata: baik urusanku sekarang atau yang akan datang-, maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah bagiku kebaikan dimanapun ia berada, kemudian jadikanlah aku ridha dengannya.” (HR. Ahmad, al-Bukhari, dll.)

Allah ta’ala mendengar doa mereka dan menunjukkan kepada mereka bahwa meminta-minta adalah perbuatan buruk yang tidak pantas mereka lakukan, maka itu Allah mengirimkan rezeki kepada mereka melalui seorang Amir yang berhati mulia.

Semoga Allah menjaga para ulama dari keburukan dan memberikan keberkahan kepada para pemimpin yang berhati dermawan. Aamiin.

sumber: sulhan.net

PemudaMuslim.Com
https://www.facebook.com/PemudaMuslimCom/posts/819274048098321

Biografi Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr

Bismillah, washshalaatu wassalaamu ‘alaa rasulillah.

Sejak dulu hingga sekarang Allah selalu mengutus dan membangkitkan manusia-manusia pilihan yang akan menyebarkan agama-Nya. Mulai dari Nabi Adam dan seluruh nabi, sampai para ulama rabbani. Untuk itu, pada kesempatan kali ini, kami menyajikan biografi salah satu dari mereka, para ulama rabbani yang hidup pada zaman ini. Beliau adalah Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Badr.

Nama dan nasab beliau

Beliau bernama ‘Abdul Muhsin bin Hamd bin ‘Abdil Muhsin bin ‘Abdillah bin Hamd bin ‘Utsman keluarga Badr, sedangkan keluarga Badr berasal dari keluarga Jalaas dari suku ‘Anazah, salah satu suku ‘Adnan.

Sementara ibu beliau adalah keponakan paman bapak beliau, yaitu Sulaiman bin ‘Abdillah bin Hamd bin ‘Utsman keluarga Badr.

Kakek kedua beliau yang bernama ‘Abdullah diberi julukan ‘Abbaad. Dan julukan tersebut juga disandarkan kepada sebagian anak keturunan beliau.

Kelahiran beliau

Beliau dilahirkan usai sholat ‘Isya malam Ahad, yang bertepatan dengan tanggal 3 Ramadhan 1353 H di sebuah kota bernama Zulfa, yang terletak di sebelah utara kota Riyadh.

Perjalanan beliau dalam menuntut ilmu dan mengajar

Beliau mengawali riwayat pendidikannya dengan belajar baca tulis di sebuah ‘kuttab’ (semacam TPA kalau di Indonesia) bersama para guru yang mulia.

Selesai mengenyam pendidikan di kuttab, beliau melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Ibtidaiyah di Zulfa pada tahun 1368 H dan lulus pada tahun 1371 H. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikannya ke Ma’had Ar-Riyaadh Al-‘Ilmi, kemudian ke Kuliah Syari’ah di Riyadh.

Pada tahun terakhir kuliahnya, beliau ditunjuk sebagai pengajar di Ma’had Buraidah Al-‘Ilmi, yaitu pada tanggal 13 Jumadal Ula 1379 H, dan kembali ke Riyadh saat ujian akhir di Kuliah Syari’ah Riyadh.

Pada tahun 1380 H, beliau ditunjuk kembali sebagai pengajar. Namun, kali ini di Ma’had Ar-Riyaadh Al-‘Ilmi.

Ketika Universitas Islam Madinah didirikan, beliau dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh sebagai pengajar di sana. Dan fakultas pertama yang dibuka di Universitas tersebut adalah Fakultas Syari’ah yang mengawali proses perkuliahannya pada hari Ahad, 2 Jumaada Tsani 1381 H. Sedangkan syaikh adalah orang yang pertama menyampaikan pelajaran pada hari itu, dan masih terus berlanjut sampai saat ini.

Pada tanggal 30 Rajab 1381 H, beliau ditunjuk sebagai Wakil Rektor Universitas Islam Madinah, atas pilihan Raja Faishol untuk menduduki posisi ini. Dalam pemilihan tersebut, beliau termasuk salah satu dari tiga orang yang dicalonkan oleh Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku Rektor Universitas saat itu.

Selama dua tahun, beliau menjabat sebagai Wakil Rektor di Universitas Islam Madinah. Selanjutnya, setelah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz diangkat sebagai Ketua di Pusat Penelitian Ilmiah dan Pemberian Fatwa, beliau diangkat menjadi Rektor di Universitas. Beliau tetap menduduki posisi ini hingga 26 Syawwal 1399 H setelah sebelumnya beliau terus mendesak untuk mengundurkan diri.

Selama enam tahun ini, beliau tidak pernah kosong dari penyampaian dua pelajaran per pekan pada Fakultas Syari’ah tahun keempat.

Beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi pada bulan Muharram 1406 H setelah sebelumnya beliau rutin menyampaikan pelajaran di sana pada musim haji sebagai pembekalan bagi jama’ah haji. Terhitung sampai musim panas tahun 1428 H, beliau telah sempurna menyampaikan syarah/penjelasan kitab Shahih BukhariShahih MuslimSunan Abi DaudSunan An-Nasaa’i, serta ¾ kitab Jami’ at-Tirmidzi. Adapun kajian beliau diadakan antara sholat Maghrib dan Isya pada 6 malam dalam seminggu, dengan istirahat selama musim liburan tiba.

Semangat beliau dalam menuntut ilmu

Beliau termasuk sosok yang dikaruniai semangat dalam menuntut ilmu oleh Allah sejak usia dini. Beliau selalu mencatat ilmu-ilmu yang beliau dapatkan dalam buku-buku catatan beliau selama menempuh seluruh jenjang pendidikan. Dan saat ini, beliau masih menyimpan catatan-catatan itu yang terhitung sejak tahun ketiga jenjang Madrasah Ibtidaiyah.

Beliau juga masih menyimpan manuskrip kitab Bulughul Maram karya al-Imam Ibnu Hajar al-Asqalani yang beliau dapatkan sebelum masuk ke Madrasah Ibtidaiyyah. Dan ini merupakan kitab pertama yang ada di perpustakaan pribadi beliau. Dalam kitab tersebut terdapat tulisan tangan beliau yang bertanggalkan 6 Muharram 1368 H.

Prestasi Beliau

  1. Meraih peringkat pertama pada ujian kelulusan tingkat Tsanawiyyah (di Indonesia setingkat SMA) di Ma’had Ar-Riyaadh Al-‘Ilmi.
  2. Menduduki peringkat pertama pada setiap ujian kenaikan kelas selama belajar di Kuliah Syari’ah Riyadh.
  3. Masuk nominasi 4 besar dari 80 alumnus pada ujian akhir di Kuliah Syari’ah Riyadh, dan menduduki peringkat pertamanya.
  4. Dengan pertolongan Allah, kemudian dengan kesungguhan dan bantuan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, beliau berhasil membuka program beasiswa untuk tingkat Magister dan Doktoral serta beberapa Fakultas baru di Universitas Islam Madinah saat beliau menjabat sebagai Rektor di Universitas tersebut. Di antaranya adalah Fakultas Al-Qur’anul Karim, Fakultas Al-Hadits Asy-Syarif, dan Fakultas Bahasa Arab.
  5. Selama itu juga, beliau berhasil mendirikan percetakan-percetakan kampus.

Guru-guru beliau

A.    Para guru beliau di Kuttab:

  1. Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad al-Mani’
  2. Syaikh Zaid bin Muhammad al-Manifi
  3. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman al-Ghaits. Bersama beliau inilah Syaikh ‘Abdul Muhsin menyempurnakan bacaan Al-Qur’an-nya.
  4. Syaikh Falih ar-Ruumi.

B. Di antara guru beliau ketika di Madrasah Ibtidaiyyah adalah Syaikh Hamdan bin Ahmad Al-Batil. Kepada beliau, syaikh ‘Abdul Muhsin mempelajari kitab “Ar-Rahbiyyah” tentang faraaidh atau ilmu tentang warisan dan kitab “Al-Ajurumiyyah” di bidang nahwu.

C. Para guru beliau di Ma’had Ar-Riyadh dan Kuliah Syari’ah:

  1. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz
  2. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-syinqithi
  3. Syaikh ‘Abdur Razzaq ‘Afifi
  4. Syaikh ‘Abdurrahman Al-Afriqiy
  5. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Khulaifi

Pujian ulama terhadap beliau

Syaikh ‘Abdurrahman Al-Afriqi berkata tentang beliau, “Beliau adalah seorang pengajar yang gemar memberi nasihat, ulama besar, pengayom, pembimbing, serta panutan dalam kebaikan. Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau.”

Syaikh Hammaad Al-Anshari bercerita tentang beliau, “Saya pernah pergi ke kampus (Universitas Islam Madinah) pada waktu Ashar saat Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad menjabat sebagai rektornya. Saat itu, tidak ada seorang pun di kampus kecuali saya dan beliau. Lantas saya berkata kepada beliau, ‘Kenapa Anda tidak datang bersama orang yang bisa membantu Anda membuka kampus untuk Anda sebelum Anda datang?’ Kemudian beliau menjawab, ‘Saya tidak akan memperkerjakan seorang pun pada waktu seperti ini, karena ini waktu istirahat.’ Saat itu adalah waktu ashar.”

Beliau juga berkomentar tentang Syaikh ‘Abdul Muhsin, “Adapun Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad, sungguh kedua mataku ini tidak pernah melihat yang seperti beliau dalam ke-wara’-an (berhati-hati terhadap perkara-perkara yang haram).”

Murid-murid beliau

Karena luasnya keilmuan yang Allah berikan kepada beliau, sangat banyak para penuntut ilmu dari berbagai penjuru yang duduk belajar kepada beliau. Dan tidak sedikit dari mereka yang menjadi ulama dan intelek muslim terkemuka yang tersebar di negeri-negeri Islam. Di antaranya adalah:

  1. Syaikh Ihsan Ilahi Dzhahir
  2. Dr. Ali Nashir Faqihi
  3. Syaikh Yusuf bin ‘Abdirrahman Al-Barqawi
  4. Dr. Shalih As-Suhaimi
  5. Dr. Washiyullah ‘Abbas
  6. Dr. ‘Abdurrahman Al-Fariwa’i
  7. Syaikh Al-Hafidzh Tsanaa-ullah Al-Madani
  8. Dr. Basam Al-Jawabirah
  9. Dr. Shalih Ar-Rifa’i
  10. Dr. ‘Abdurrahman Ar-Rusyaidan
  11. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili
  12. Anak beliau sendiri Dr. ‘Abdurrazzaaq,

Dan masih banyak lagi, yang merupakan para alumni Universitas Islam Madinah serta para penuntut ilmu di Masjid Nabawi.

Karya-karya beliau

Di tengah kesibukan yang sangat padat, beliau masih sempat membuahkan banyak karya yang sangat bermanfaat bagi umat. Di antara karya beliau adalah:

A.    Di bidang Ulumul Qur’an:

  1. Aayaat mutasyaabihaatul alfaadzh fil-qur’anil kariim, wa kaifa at-tamyiiz bainaha.
  2. Min kunuuzil qur’aanil kariim.

B.     Di bidang Hadis:

  1. ‘Isyruuna haditsan min shahihil bukhori, diroosatu asaaniidiha wa syarhu mutuuniha.
  2. Syarhu hadiitsi Jibril fii ta’liimid-diin.
  3. Kaifa nastafiidu minal kutub al-haditsiyyah as-sittah.

C.     Di bidang Akidah:

  1. ‘Aaqidatu ahlis-sunnah wal jama’ah fish-shohabatil kiraam, radhiallahu ‘anhum wa ardhoohum.
  2. At-tahdziir min ta’dzhimil aatsaar ghairil masyruu’ah.
  3. Al-hatstsu ‘ala ittibaa’i as-sunnah wat-tahdziir minal bida’i wa bayaanu khathariha.
  4. ‘Aqidatu ahlis-sunnati wal-aatsaar fil mahdi al-muntadzhar.

D.    Fikih:

  1. Ahammiyatul ‘inaayah bit-tafsiir wal-hadits wal-fiqh.
  2. Syarhu syuruuthish-sholaah wa arkaaniha wa waajibaatiha.
  3. Syarhu kitaab aadabil masy-yi ila ash-sholaah.

E.     Adab dan akhlak:

  1. Min akhlaaqir-rasuul al-kariim shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Badzlun-nush-hi wa at-tadzkiir li baqooyaa al-maftuuniina bit-takfiiri wat-tafjiir.
  3. Rifqon ahlas-sunnah bi ahlis-sunnah.
  4. Asy-syaikh ‘abdul ‘aziz ibnu baaz rahimahullah, namuudzajun min ar-raa’iil al-awwal.

Dan masih banyak lagi karya-karya beliau yang belum disebutkan di sini.

Semoga dengan ulasan singkat ini, bisa menambah pengetahuan kita seputar biografi ulama rabbani masa kini. Dan mudah-mudahan dengan mengenal mereka kita bisa lebih mencintai dan menghargai ilmu yang merupakan warisan para nabi.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

 Referensi:

  1. Majmu’ kutub wa rosaa-il syaikh ‘abdil muhsin ibni hamd al-‘abbaad al-badr.
  2. s.sunnahway.net/abbad/
  3. ar.m.islamway.net/scholar/461

Penulis: Muhammad Nurul Fahmi

Artikel Muslim.Or.Id

Imam Ahmad bin Hanbal, Teladan dalam Semangat dan Kesabaran

Disusun oleh: Tim Buletin Al Ilmu

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Ahmad bin Hanbal adalah seorang tauladan dalam 8 hal: tauladan dalam bidang hadits, fiqih, bahasa arab, Al-Qur’an, kefakiran, zuhud, wara’ dan dalam berpegang teguh dengan sunnah Nabi shalallahu’alaihi wa sallam.

Kunyah dan Nama Lengkap beliau rahimahullah
Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdillah bin Hayyan bin Abdillah bin Anas bin ‘Auf bin Qosith bin Mazin bin Syaiban Adz Dzuhli Asy-Syaibani Al-Marwazi Al-Baghdadi.

Lahir pada bulan Rabi’ul Awal tahun 164 Hijriyah di kota Marwa. Beliau lebih dikenal dengan Ahmad bin Hanbal, disandarkan kepada kakeknya. Karena sosok kakeknya lebih dikenal daripada ayahnya. Ayahnya meninggal ketika beliau masih berusia 3 tahun. Kemudian sang ibu yang bernama Shafiyah binti Maimunah membawanya ke kota Baghdad. Ibunya benar-benar mengasuhnya dengan pendidikan yang sangat baik hingga beliau tumbuh menjadi seorang yang berakhlak mulia.

Perjalanan beliau dalam menuntut ilmu

Sungguh mengagumkan semangat Al-Imam Ahmad bin Hanbal di dalam menuntut ilmu. Beliau hafal Al-Qur’an pada masa kanak-kanak. Beliau juga belajar membaca dan menulis. Semasa kecil beliau aktif mendatangi kuttab (semacam TPA di zaman sekarang).

Kemudian pada tahun 179 Hijriyah, saat usianya 15 tahun, beliau memulai menuntut ilmu kepada para ulama terkenal di masanya. Beliau awali dengan menimba ilmu kepada para ulama Baghdad, di kota yang ia tinggali.

Di kota Baghdad ini, beliau belajar sejumlah ulama, diantaranya:

1. Al-Imam Abu Yusuf, murid senior Al-Imam Abu Hanifah.

2. Al-Imam Husyaim bin Abi Basyir. Beliau mendengarkan dan sekaligus menghafal banyak hadits darinya selama 4 tahun.

3. ‘Umair bin Abdillah bin Khalid.

4. Abdurrahman bin Mahdi.

5. Abu Bakr bin ‘Ayyasy.

Pada tahun 183 Hijriyah pada usia 20 tahun, beliau pergi untuk menuntut ilmu kepada para ulama di kota Kufah. Pada tahun 186 H beliau belajar ke Bashrah. Kemudian pada tahun 187 H beliau belajar kepada Sufyan bin ‘Uyainah di Qullah, sekaligus menunaikan ibadah haji yang pertama kali. Kemudian pada tahun 197 H beliau belajar kepada Al-Imam ‘Abdurrazaq Ash Shan’ani di Yaman bersama Yahya bin Ma’in.

Yahya bin Ma’in menceritakan: “Aku keluar ke Shan’a bersama Ahmad bin Hanbal untuk mendengarkan hadits dari ‘Abdurrazaq Ash Shan’ani. Dalam perjalanan dari Baghdad ke Yaman, kami melewati Makkah. Kami pun menunaikan ibadah haji. Ketika sedang thawaf, tiba-tiba aku berjumpa dengan ‘Abdurrazaq, beliau sedang thawaf di Baitullah. Beliau sedang menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Aku pun mengucapkan salam kepada beliau dan aku kabarkan bahwa aku bersama Ahmad bin Hanbal. Maka beliau mendoakan Ahmad dan memujinya. Yahya bin Ma’in melanjutkan, “Lalu aku kembali kepada Ahmad dan berkata kepadanya, “Sungguh Allah telah mendekatkan langkah kita, mencukupkan nafkah atas kita, dan mengistirahatkan kita dari perjalanan selama satu bulan. Abdurrazaq ada di sini. Mari kita mendengarkan hadits dari beliau!”

Maka Ahmad berkata, “Sungguh tatkala di Baghdad aku telah berniat untuk mendengarkan hadits dari ‘Abdurrazaq di Shan’a. Tidak demi Allah, aku tidak akan mengubah niatku selamanya.’ Setelah menyelesaikan ibadah haji, kami berangkat ke Shan’a. Kemudian habislah bekal Ahmad ketika kami berada di Shan’a. Maka ‘Abdurrazaq menawarkan uang kepadanya, tetapi dia menolaknya dan tidak mau menerima bantuan dari siapa pun. Beliau pun akhirnya bekerja membuat tali celana dan makan dari hasil penjualannya.” Sebuah perjalanan yang sangat berat mulai dari Baghdad (‘Iraq) sampai ke Shan’a (Yaman). Namun beliau mengatakan: “Apalah arti beratnya perjalanan yang aku alami dibandingkan dengan ilmu yang aku dapatkan dari Abdurrazaq.”

Al-Imam Abdurrazaq sering menangis jika disebutkan nama Ahmad bin Hanbal dihadapannya, karena teringat akan semangat dan penderitaannya dalam menuntut ilmu serta kebaikan akhlaknya.

Beliau melakukan perjalanan dalam rangka menuntut ilmu ke berbagai negeri seperti Syam, Maroko, Aljazair, Makkah, Madinah, Hijaz, Yaman, Irak, Persia, Khurasan dan berbagai daerah yang lain. Kemudian barulah kembali ke Baghdad.

Pada umur 40 tahun, beliau mulai mengajar dan memberikan fatwa. Dan pada umur tersebut pula beliau menikah dan melahirkan keturunan yang menjadi para ulama seperti Abdullah dan Shalih. Beliau tidak pernah berhenti untuk terus menuntut ilmu. Bahkan, walaupun usianya telah senja dan telah mencapai tingkatan seorang Imam, beliau tetap menuntut ilmu.

Guru-guru beliau

Beliau menuntut ilmu dari para ulama besar seperti Husyaim bin Abi Basyir, Sufyan bin Uyainah, Al-Qadhi Abu Yusuf, Yazid bin Harun, Abdullah bin Al-Mubarak, Waki’, Isma’il bin ‘Ulayyah, Abdurrahman bin Mahdi, Al-Imam Asy-Syafi’i, Abdurrazaq, Muhammad bin Ja’far (Ghundar), Jarir bin Abdul Hamid, Hafsh bin Ghiyats, Al-Walid bin Muslim, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain dan lain-lain.

Al-Imam Adz Dzahabi menyebutkan dalam kitab As-Siyar, jumlah guru-guru Al-Imam Ahmad yang beliau riwayatkan dalam Musnadnya lebih dari 280 orang.

Murid-murid beliau

Para ulama yang pernah belajar kepada beliau adalah para ulama besar pula seperti Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, Al-Imam Al-Bukhari, Al-Imam Muslim, Abu Dawud, An-Nasai, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Zur’ah, Abu Hatim Ar-Razi, Abu Qilabah, Baqi bin Makhlad, Ali bin Al-Madini, Abu Bakr Al-Atsram, Shalih dan Abdullah (putra beliau), dan sejumlah ulama besar lainnya.

Bahkan yang dulunya pernah menjadi guru-guru beliau, kemudian mereka meriwayatkan hadits dari beliau seperti Al-Imam Abdurrazaq, Al-Hasan bin Musa Al-Asyyab, Al-Imam Asy-Syafi’i.

Al-Imam Asy-Syafi’i ketika meriwayatkan dari Al-Imam Ahmad tidak menyebutkan namanya bahkan dengan gelarnya, “Telah menghaditskan kepadaku Ats-Tsiqat (seorang yang terpercaya).

Demikian pula teman-temannya seperjuangan dalam menuntut ilmu, mereka juga meriwayatkan dari beliau, seperti Yahya bin Ma’in.

Ahlak dan Ibadah Beliau rahimahullah

Pertumbuhan beliau berpengaruh terhadap kematangan dan kedewasaannya. Sampai-sampai sebagian ulama menyatakan kekaguman akan adab dan kebaikan akhlaknya, “Aku mengeluarkan biaya untuk anakku dengan mendatangkan kepada mereka para pendidik agar mereka mempunyai adab, namun aku lihat mereka tidak berhasil. Sedangkan ini (Ahmad bin Hanbal) adalah seorang anak yatim, lihatlah oleh kalian bagaimana dia!”

Beliau adalah seorang yang menyukai kebersihan, suka memakai pakaian berwarna putih, paling perhatian terhadap dirinya, merawat dengan baik kumisnya, rambut kepalanya dan bulu tubuhnya.

Orang-orang yang hadir di majelis beliau tidak sekedar menimba ilmunya saja bahkan kebanyakan mereka hanya sekedar ingin mengetahui akhlaq beliau.

Majelis yang diadakan oleh beliau dihadiri oleh sekitar 5000 orang. Yang mencatat pelajaran yang beliau sampaikan jumlahnya adalah kurang dari 500 orang. Sementara sisanya sekitar 4500 orang tidak mencatat pelajaran yang beliau sampaikan namun sekedar memperhatikan akhlak dan samt (baiknya penampilan dalam perkara agama) beliau.

Yahya bin Ma’in berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Ahmad. Kami bersahabat dengannya selama 50 tahun. Dan belum pernah kulihat ia membanggakan dirinya atas kami dengan sesuatu yang memang hal itu ada pada dirinya.”

Beliau juga sangat benci apabila namanya disebut-sebut (dipuji) di tengah-tengah manusia, sehingga beliau pernah berkata kepada seseorang: “Jadilah engkau orang yang tidak dikenal, karena sungguh aku benar-benar telah diuji dengan kemasyhuran.”

Beliau menolak untuk dicatat fatwa dan pendapatnya. Berkata seseorang kepada beliau: “Aku ingin menulis permasalahan-permasalahan ini, karena aku takut lupa.” Berkata beliau: “Sesungguhnya aku tidak suka, engkau mencatat pendapatku.”

Beliau adalah seorang yang sangat kuat ibadahnya. Putra beliau yang bernama Abdullah menceritakan tentang kebiasaan ayahnya: ” Dahulu ayahku shalat sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Dan tatkala kondisi fisik beliau mulai melemah akibat pengaruh dari penyiksaan yang pernah dialaminya maka beliau hanya mampu shalat sehari semalam sebanyak 150 rakaat.”

Abdullah mengatakan: “Terkadang aku mendengar ayah pada waktu sahur mendoakan kebaikan untuk beberapa orang dengan menyebut namanya. Ayah adalah orang yang banyak berdoa dan meringankan doanya. Jika ayah shalat Isya, maka ayah membaguskan shalatnya kemudian berwitir lalu tidur sebentar kemudian bangun dan shalat lagi. Bila ayah puasa, beliau suka untuk menjaganya kemudian berbuka sampai waktu yang ditentukan oleh Allah. Ayah tidak pernah meninggalkan puasa Senin-Kamis dan puasa ayyamul bidh (puasa tiga hari, tanggal 13, 14, 15 dalam bulan Hijriyah).

Dalam riwayat lain beliau berkata: “Ayah membaca Al-Qur’an setiap harinya 1/7 Al-Qur’an. Beliau tidur setelah Isya dengan tidur yang ringan kemudian bangun dan menghidupkan malamnya dengan berdoa dan shalat.

Suatu hari ada salah seorang murid beliau menginap di rumahnya. Maka beliau menyiapkan air untuknya (agar ia bisa berwudhu). Maka tatkala pagi harinya, beliau mendapati air tersebut masih utuh, maka beliau berkata: “Subhanallah, seorang penuntut ilmu tidak melakukan dzikir pada malam harinya?”

Beliau telah melakukan haji sebanyak lima kali, tiga kali diantaranya beliau lakukan dengan berjalan kali dari Baghdad dan pada salah satu hajinya beliau pernah menginfakkan hartanya sebanyak 30 dirham.

Ujian yang menimpa beliau

Beliau menerima ujian yang sangat berat dan panjang selama 3 masa kekhalifahan yaitu Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq. Beliau dimasukkan ke dalam penjara kemudian dicambuk atau disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan. Itu semua beliau lalui dengan kesabaran dalam rangka menjaga kemurnian aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk. Di masa itu, aqidah sesat yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk (bukan kalamullah) diterima dan dijadikan ketetapan resmi oleh pemerintah.

Sedangkan umat manusia menunggu untuk mencatat pernyataan (fatwa) beliau. Seandainya beliau tidak sabar menjaga kemurnian aqidah yang benar, dan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, niscaya manusia akan mengiktui beliau. Namun beliau tetap tegar dan tabah menerima semua ujian tersebut. Walaupun beliau harus mengalami penderitaan yang sangat. Pernah beliau mengalami 80 kali cambukan yang kalau seandainya cambukan tersebut diarahkan kepada seekor gajah niscaya ia akan mati. Namun beliau menerima semua itu dengan penuh kesabaran demi mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah.

Sampai akhirnya, pada masa khalifah Al-Mutawakkil, beliau dibebaskan dari segala bentuk penyiksaan tersebut.

Wafat beliau rahimahullah

Pada Rabu malam tanggal 3 Rabi’ul Awal tahun 241 Hijriyah, beliau mengalami sakit yang cukup serius. Sakit beliau semakin hari semakin bertambah parah. Manusia pun berduyun-duyun siang dan malam datang untuk menjenguk dan menyalami beliau. Kemudian pada hari Jum’at tanggal 12 Rabi’ul Awal, di hari yang ke sembilan dari sakitnya, mereka berkumpul di rumah beliau sampai memenuhi jalan-jalan dan gang. Tak lama kemudian pada siang harinya beliau menghembuskan nafas yang terakhir. Maka meledaklah tangisan dan air mata mengalir membasahi bumi Baghdad. Beliau wafat dalam usia 77 tahun. Sekitar 1,7 juta manusia ikut mengantarkan jenazah beliau. Kaum muslimin dan bahkan orang-orang Yahudi, Nasrani serta Majusi turut berkabung pada hari tersebut.

Selamat jalan, semoga Allah merahmatimu dengan rahmat-Nya yang luas dan menempatkanmu di tempat yang mulia di Jannah-Nya.

Maraji’:

1. Musthalah Hadits karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 63-66.

2. Pewaris Para Nabi hal. 49,55,91,94,173,1843. Mahkota yang hilang hal.39

4. Kitab Fadhail Ash-Shahabah jilid I hal 25-32.

5. Siyar A’lamin Nubala

6. Al-Bidayah wan Nihayah

7. Mawa’izh Al-Imam Ahmad

Buletin Islam Al Ilmu Edisi No : 29/VII/VIII/1431

Sumber: http://www.buletin-alilmu.com/?p=475

http://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/08/imam-ahmad-bin-hanbal-teladan-dalam-semangat-dan-kesabaran/

Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Mu’awiyah Dan Pertikaiannya Dengan Ali Abul Abbas

PERSELISIHAN ANTARA ALI DAN MU’AWIYAH SERTA PENDIRIAN AHLU SUNNAH DALAM MENYIKAPINYA
Tidak syak lagi, bahwasanya Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu & orang-orang nan menyertainya lebih patut dikatakan sebagai kelompok nan benar daripada nan lainnya.

Imam Muslim meriwayatkan dlm Shahih-nya (1065) dari hadits al Qasim bin al Fadhl al Haddani, dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَمْرُقُ مَارِقَةٌ عِنْدَ فُرْقَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَقْتُلُهَا أَوْلَى الطَّائِفَتَيْنِ بِالْحَقِّ

“Kelak akan muncul 1 kelompok nan menyempal ketika terjadi pertikaian di antara kaum Muslimin. Kelompok itu akan diperangi oleh kelompok nan lebih mendekati kebenaran dari 2 kelompok (yang bertikai itu)”

Abu Zakaria an Nawawi berkata di dlm Syarah Shahih Muslim (VII/168): “Riwayat-riwayat ini secara tegas menjelaskan, bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu berada di pihak nan benar. Sementara kelompok lain, para pengikut Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu tergolong kelompok nan menyempal, karena takwil keliru. Hadits itu juga menjelaskan, kedua kelompok tersebut tergolong mukmin, tak keluar dari lingkaran keimanan karena perang tersebut, & tak pula disebut fasik. Itulah pendapat kami. “

Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata di dlm Majmu’ Fatawa (IV/467): “Hadits ini, secara tegas menunjukkan bahwa kedua kelompok nan berperang itu, yakni kelompok Ali & orang-orang nan menyertainya, serta Mu’awiyah & orang-orang nan menyertainya, berada di atas kebenaran. Dan sesungguhnya, Ali & sahabat-sahabatnya lebih mendekati kebenaran daripada Mu’awiyah & sahabat-sahabatnya”. Ibnul Arabi juga mengeluarkan pernyataan senada dlm kitab al Awashim halaman 307.

Abul Fida’ Ibnu Katsir dlm al Bidayah wan Nihayah (*1) (X/563) berkata: “Hadits ini termasuk mu’jizat kenabian, sebab benar-benar telah terjadi seperti nan dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalamnya juga disebutkan, kedua kelompok nan bertikai itu, yakni penduduk Syam & penduduk Iraq, masih tergolong muslim. Tidak seperti anggapan kelompok Rafidhah, orang-orang jahil lagi zhalim, nan mengkafirkan penduduk Syam. Dalam hadits itu juga disebutkan, kelompok Ali paling mendekati kebenaran; itulah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Yakni Ali berada di pihak nan benar, & Mu’awiyah memeranginya karena ijtihad nan keliru, & ia berhak mendapat 1 pahala atas kesalahan ijtihad itu, insya Allah. Sedangkan Ali Radhiyallahu ‘anhu adalah imam nan sah, berada di pihak nan benar insya Allah, & berhak mendapat 2 pahala”.

Demikianlah madzhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah, yaitu Ali Radhiyallahu ‘anhu berada di pihak nan benar. Adapun Mu’awiyah nan memerangi Ali telah salah dlm ijtihadnya, & ia mendapat 1 pahala atas kesalahan ijtihadnya tersebut, insya Allah. Sebagaimana disebutkan dlm Shahih al Bukhari (*2), dari hadits Amru bin al Ash Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا َاجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذََا اجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Jika seorang hakim berijtihad lalu benar, maka ia berhak mendapat 2 pahala, namun jika ia berijtihad lalu salah, maka ia mendapat 1 pahala”

Hadits di atas lebih dijelaskan lagi oleh hadits nan diriwayatkan oleh Imam al Bukhari dlm Shahih-nya (3609) & Muslim (2214) dari jalur Ma’mar dari Hammam dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ وَتَكُونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ وَدَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ

“Tidak akan datang hari Kiamat hingga muncul 2 kelompok nan saling berperang & akan terjadi pertumpahan darah nan hebat, sedangkan dakwah keduanya sama”.

Hadits ini menjelaskan hadits sebelumnya, Abul Fida’ Ibnu Katsir berkata di dlm al Bidayah wan Nihayah (IX/192): “Kedua kelompok itu adalah 2 kelompok nan terlibat dlm peperangan Jamal & Shifin. Karena kala itu, dakwah ke 2 kelompok tersebut sama. Yakni sama-sama menyeru kepada Islam. Mereka hanya berselisih pendapat tentang masalah kekuasaan, & dlm menetapkan mashlahat bagi umat & segenap rakyat. Tidak terlibat dlm peperangan itu adalah lebih utama, daripada melibatkan diri ke dalamnya. Itulah madzhab jumhur sahabat”.

PERDAMAIAN ANTARA MU’AWIYAH DAN AL HASAN BIN ALI
Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu secara resmi memegang tampuk kekhalifahan setelah al Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhuma mengundurkan diri demi menghentikan pertumpahan darah di antara kaum Muslimin.

Imam al Bukhari meriwayatkan dlm kitab Shahih-nya, dari jalur Abdullah bin Muhammad dari Sufyan dari Abu Musa, ia berkata:

Saya mendengar al Hasan berkata: “Demi Allah, al Hasan bin Ali mendatangi Mu’awiyah dgn membawa pasukan besar laksana gunung”.

Amru bin al Ash berkata,”Menurutku pasukan ini tak akan kembali hingga menghancurkan lawannya”.

Mu’awiyah –beliau adalah sebaik-baik orang- berkata kepadanya: “Hai, Amru. Jika kedua pasukan ini saling bunuh, lantas siapakah nan akan mengatur urusan kaum Muslimin? Siapakah nan melindungi para wanita muslimah? Siapakah nan melindungi harta benda mereka?” maka Mu’awiyah mengutus 2 orang Quraisy dari Bani Abdi Syams kepada al Hasan, yakni Abdurrahman bin Samurah & Abdullah bi Amir bin Kuraiz.

Mu’awiyah berkata kepada mereka berdua: “Temuilah ia, tawarkanlah (perdamaian) kepadanya. Katakanlah kepadanya & mintalah agar ia menerimanya,” maka kedua utusan itupun menemui al Hasan & mengutarakan maksudnya, & memintanya agar menerima tawaran mereka. Lalu al Hasan bin Ali berkata kepada mereka berdua: “Kami dari kabilah Bani Abdul Muththalib telah memperoleh harta ini, & sesungguhnya umat ini telah tertumpah darahnya”.

Keduanya berkata,”Sesungguhnya Mu’awiyah menawarkan ini & ini kepadamu, ia meminta agar Anda menerimanya. “

Al Hasan berkata,”Siapakah nan akan mendukungku?”

“Kamilah nan mendukungmu,” jawab mereka berdua.

Setiap kali al Hasan menanyakan hal itu, keduanya menjawab: “Kamilah nan mendukungmu, berdamailah dengannya”

Al Hasan berkata: “Saya mendengar Abu Bakrah berkata,’Aku pernah melihat Rasulullah di atas mimbar, sementara al Hasan bin Ali di sisi beliau. Kadangkala Rasulullah menatap al Hasan, & kadangkala menatap para hadirin, lalu (beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata:

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“(Sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid. Mudah-mudahan dengannya Allah akan mendamaikan 2 kelompok besar kaum Muslimin nan bertikai)”(*3).

Demikianlah Allah menghindarkan terjadinya peperangan di antara kaum Mukminin melalui as Sayyid al Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Al Hasan menyerahkan tampuk kekhalifahan kepada Mu’awiyah & membaiatnya utk menegakkan kitabullah & Sunnah NabiNya. Maka Mu’awiyah pun memasuki Kufah, & kaum Muslimin membaiatnya. Dalam sejarah Islam, tahun itu disebut tahun Jama’ah; karena pada tahun itu kaum Muslimin bersatu. Semua orang nan sebelumnya menghindarkan diri dari fitnah, mereka turut membaiat Mu’awiyah, seperti Sa’id bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Muhammad bin Maslamah & lainnya.

Abul Fadhl Ibnu Hajar dlm Fathul Bari (6613) menjelaskan hadits di atas sebagai berikut:

1). Menerangkan salah 1 mu’jizat kenabian.
2). Menerangkan keutamaan al Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhu nan telah mengundurkan diri dari tampuk kekhalifahan bukan karena sedikit pendukung atau kalah, & bukan pula karena kesalahan, namun semata-mata mengharap balasan di sisi Allah, ketika beliau melihat hal itu dapat menghentikan pertumpahan darah di antara kaum Muslimin. Beliau lebih mengedepankan kemashlahatan agama & kemashlahatan umat.
3). Bantahan terhadap kelompok Khawarij nan mengkafirkan Ali & orang-orang nan menyertai beliau serta mengkafirkan Mua’wiyah & orang-orang nan bersama beliau. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa kedua kelompok itu masih tergolong muslim.
4). Keutamaan usaha perdamaian di antara manusia, terutama demi memelihara darah kaum Muslimin.
5). Bukti kasih-sayang Mu’awiyah kepada rakyatnya & kasih-sayangnya terhadap kaum Muslimin, ketajaman pandangannya dlm mengatur negara & kearifan beliau dlm melihat akibat nan akan terjadi.

Perkataan Ibnu Hajar “Bukti kasih sayang Mu’awiyah kepada rakyatnya . . . . . . ” didasarkan atas pujian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap pengunduran diri al Hasan dari tampuk kekhalifahan & menyerahkannya kepada Mu’awiyah sebagaimana telah dijelaskan terdahulu.

MU’AWIYAH TIDAKLAH MEMBENCI ALI, AL-HASAN DAN AHLI BAIT
Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu juga memuliakan & menghormati al Hasan. Ia sering mengirim hadiah setiap tahun sebanyak seratus ribu dirham. Al Hasan pernah datang mengunjunginya, lalu Mu’awiyah memberinya hadiah sebanyak 4 ratus ribu dirham. (*4)

AQIDAH SALAF DALAM MENYIKAPI PERTIKAIAN nan TERJADI DI ANTARA SAHABAT
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin & orang-orang Anshar, nan mengikuti Nabi dlm masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka” [at Taubah/9:117]

Berkaitan dgn larangan mencampuri pertikaian besar di antara sahabat, Ibnu Baththah rahimahullah berkata:

“Kita harus menahan diri dari pertikaian nan terjadi di antara sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab mereka telah melalui berbagai peristiwa bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sllam, & telah mendahului nan lainnya dlm hal keutamaan. Allah telah mengampuni mereka & memerintahkan agar memintakan ampunan utk mereka, & mendekatkan diri kepadaNya dgn mencintai mereka. Semua itu Allah wajibkan melalui lisan RasulNya. Allah Maha Tahu apa nan bakal terjadi, bahwasanya mereka akan saling berperang. Mereka memperoleh keutamaan daripada nan lainnya, karena segala kesalahan & kesengajaan mereka telah dimaafkan. Semua pertikaian nan terjadi di antara mereka telah diampuni. Janganlah lihat komentar-komentar negatif tentang peperangan Shiffin, Jamal, peristiwa di kediaman Bani Sa’idah & pertikaian-pertikaian lain nan terjadi di antara mereka. Janganlah engkau tulis utk dirimu atau utk orang lain. Janganlah engkau riwayatkan dari seorangpun, & jangan pula membacakannya kepada orang lain, & jangan pula mendengarkannya dari orang nan meriwayatkannya.

Itulah perkara nan disepakati oleh para ulama umat ini. Mereka sepakat melarang perkara nan kami sebutkan tersebut. Di antara ulama-ulama tersebut adalah: Hammad bin Zaid, Yunus bin Ubaid, Sufyan ats Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Abdullah bin Idris, Malik bin Anas, Ibnu Abi Dzi’b, Ibnul Munkadir, Ibnul Mubarak, Syu’aib bin Harb, Abu Ishaq al Fazari, Yusuf bin Asbath, Ahmad bin Hambal, Bisyr bin al Harits & Abdul Wahhab al Warraq, mereka semua sepakat melarangnya, melarang melihat & mendengar komentar tentang pertikaian tersebut. Bahkan mereka memperingatkan orang nan membahas & berupaya mengumpulkannya. Banyak sekali perkataan-perkataan nan diriwayatkan dari mereka nan ditujukan kepada orang-orang nan melakukannya, dgn lafal bermacam-macam namun maknanya senada; intinya membenci & mengingkari orang nan meriwayatkan & mendengarnya”. (*5)

Apabila Umar bin Abdul Aziz ditanya tentang peperangan Shiffin & Jamal, beliau berkata: “Urusan nan Allah telah menghindarkan tanganku darinya, maka aku tak akan mencampurinya dgn lisanku”(*6)

Al Khallal meriwayatkan dari jalur Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Ada nan berkata kepada Abu Abdillah, ketika itu kami berada di tengah pasukan & kala itu datang pula seorang utusan khalifah, yakni Ya’qub, ia berkata: “Wahai Abu Abdillah, apa komentar Anda tentang pertikaian nan terjadi antara Ali & Mu’awiyah?”

Abu Abdillah menjawab,”Aku tak mengatakan kecuali nan baik, semoga Allah merahmati mereka semua. “(*7)

Imam Ahmad menulis surat kepada Musaddad bin Musarhad nan isinya: “Menahan diri dari memperbincangkan kejelekan sahabat. Bicarakanlah keutamaan mereka & tahanlah diri dari membicarakan pertikaian di antara mereka. Janganlah berkonsultasi dgn seorangpun dari ahli bid’ah dlm masalah agama, & janganlah menyertakannya dlm perjalananmu”. (*8)

Imam Ahmad juga menulis surat kepada Abdus bin Malik tentang pokok-pokok dasar Sunnah. Beliau menuliskan di dlm suratnya:
“Termasuk pokok dasar, (yaitu) barangsiapa melecehkan salah seorang sahabat Nabi atau membencinya karena kesalahan nan dibuat atau menyebutkan kejelekannya, maka ia termasuk mubtadi’ (ahli bid’ah), hingga ia mendoakan kebaikan & rahmat bagi seluruh sahabat & hatinya tulus mencintai mereka”(*9).
Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman ash Shaabuni rahimahullah berkata di dlm Aqidah Salaf Ashhabul Hadits: “Ahlu Sunnah memandang, wajib menahan diri dari mencampuri pertikaian di antara sahabat Rasul. Menahan lisan dari perkataan nan mengandung celaan & pelecehan terhadap para sahabat”.

Dalam kitab Lum’atul I’tiqad, Ibnu Qudamah al Maqdisi berkata: “Termasuk Sunnah Nabi adalah, menahan diri dari menyebutkan kejelekan-kejelekan para sahabat & pertikaian di antara mereka. Serta meyakini keutamaan mereka & mengenal kesenioran mereka”.

Dalam kitab Aqidah Wasithiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Ahlus Sunnah wal Jama’ah menahan diri dari memperbincangkan pertikaian di antara para sahabat. Mereka mengatakan, riwayat-riwayat nan dinukil tentang kejelekan mereka, sebagiannya ada nan dusta, ada nan ditambah-tambah & dikurangi serta dirobah-robah dari bentuk aslinya. Berdasarkan sikap nan benar, para sahabat dimaafkan kesalahannya. Mereka itu adalah alim mujtahid, nan kadangkala benar & kadangkala salah”.

Imam al Asy’ari dlm kitab al Ibanah mengatakan: “Adapun nan terjadi antara Ali, az Zubair & ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhum adalah bersumber dari takwil & ijtihad. Ali adalah pemimpin, sedangkan mereka semua termasuk ahli ijtihad. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjamin mereka masuk surga & mendapat syahadah (mati syahid). Itu menunjukkan bahwa, ijtihad mereka benar. Demikian pula nan terjadi antara Ali & Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhuma, juga bersumber dari takwil & ijtihad. Semua sahabat adalah imam & orang-orang nan terpercaya, bukanlah orang nan dicurigai agamanya”.

Al Qadhi Iyadh berkata dlm karyanya, Syarah Shahih Muslim: “Mu’awiyah termasuk sahabat nan shalih & termasuk sahabat nan utama. Adapun peperangan nan terjadi antara dirinya dgn Ali, & pertumpahan darah nan terjadi di antara para sahabat, maka sebabnya adalah takwil & ijtihad. Mereka semua berkeyakinan bahwa ijtihad mereka tepat & benar”.

Al Qahthaani berkata dlm Nuniyah-nya:
Ucapkanlah sebaik-baik perkataan pada sahabat Muhammad
Pujilah seluruh ahli bait & isteri beliau
Tinggalkanlah pertikaian nan terjadi di antara sahabat
Saat mereka saling bertempur dlm sejumlah pertempuran
Yang terbunuh maupun nan membunuh
sama-sama dari mereka & utk mereka
Kedua pihak akan dibangkitkan pada hari berbangkit
dalam keadaan dirahmati
Allah akan membangkitkan mereka semua pada Hari Mahsyar
dan mencabut kebencian nan tersimpan dlm dada mereka

Hafizh al Hikmi berkata dlm Sullamul Wushul ila Ilmil Ushul:
Kemudian wajib menahan diri dari pertikaian di antara mereka
Yang mana hal tersebut telah berjalan menurut takdir ilahi
Mereka semua adalah mujtahid nan pasti mendapat pahala
Sementara kesalahan mereka diampuni Allah nan Maha Memberi.

Demikian penjelasan singkat mengenai sikap Ahlus Sunnah wal Jamaah terhadap pertikaian nan terjadi antara Sahabat Mu’awiyah & Ali Radhiyallahu ‘anhuma. Begitu pula sikap kita ini kepada para sahabat Nabi n secara keseluruhan.
Wallahu a’lam bish shawab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Referensi
(*1). Ditahqiq oleh Abdullah at Turki. Beliau memaparkan beberapa perbedaan nan terdapat dlm sejumlah naskah, namun perbedaan itu tak terlalu serius.
(*2). Shahih al Bukhari, hadits nomor 7352.
(*3). HR al Bukhari, 2704.
(*4). Tarikh Dimasyqi, XIII/166.
(*5). Al Ibanah, karya Ibnu Baththah, halaman 268. Bagi nan ingin mengetahui penjelasan lebih lengkap, silakan lihat kitab as Sunnah, karya al Khallal. Beliau telah menulis sebuah bab dlm kitab tersebut, tentang teguran keras terhadap orang nan menulis riwayat-riwayat nan berisi hujatan terhadap sahabat Nabi.
(*6). As Sunnah, karya al Khallal, 717.
(*7). As Sunnah, karya al Khallal, 713.
(*8). Thabaqaatul Hanaabilah, I/344.
(*9). Thabaqaatul Hanaabilah, I/345.
sumber: http://www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari tags: Abul Abbas, Wa Sallam, Imam Muslim

PERSELISIHAN ANTARA ALI DAN MU’AWIYAH SERTA PENDIRIAN AHLU SUNNAH DALAM MENYIKAPINYA
Tidak syak lagi, bahwasanya Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu & orang-orang nan menyertainya lebih patut dikatakan sebagai kelompok nan benar daripada nan lainnya.

Imam Muslim meriwayatkan dlm Shahih-nya (1065) dari hadits al Qasim bin al Fadhl al Haddani, dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَمْرُقُ مَارِقَةٌ عِنْدَ فُرْقَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَقْتُلُهَا أَوْلَى الطَّائِفَتَيْنِ بِالْحَقِّ

“Kelak akan muncul 1 kelompok nan menyempal ketika terjadi pertikaian di antara kaum Muslimin. Kelompok itu akan diperangi oleh kelompok nan lebih mendekati kebenaran dari 2 kelompok (yang bertikai itu)”

Abu Zakaria an Nawawi berkata di dlm Syarah Shahih Muslim (VII/168): “Riwayat-riwayat ini secara tegas menjelaskan, bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu berada di pihak nan benar. Sementara kelompok lain, para pengikut Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu tergolong kelompok nan menyempal, karena takwil keliru. Hadits itu juga menjelaskan, kedua kelompok tersebut tergolong mukmin, tak keluar dari lingkaran keimanan karena perang tersebut, & tak pula disebut fasik. Itulah pendapat kami. “

Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata di dlm Majmu’ Fatawa (IV/467): “Hadits ini, secara tegas menunjukkan bahwa kedua kelompok nan berperang itu, yakni kelompok Ali & orang-orang nan menyertainya, serta Mu’awiyah & orang-orang nan menyertainya, berada di atas kebenaran. Dan sesungguhnya, Ali & sahabat-sahabatnya lebih mendekati kebenaran daripada Mu’awiyah & sahabat-sahabatnya”. Ibnul Arabi juga mengeluarkan pernyataan senada dlm kitab al Awashim halaman 307.

Abul Fida’ Ibnu Katsir dlm al Bidayah wan Nihayah (*1) (X/563) berkata: “Hadits ini termasuk mu’jizat kenabian, sebab benar-benar telah terjadi seperti nan dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalamnya juga disebutkan, kedua kelompok nan bertikai itu, yakni penduduk Syam & penduduk Iraq, masih tergolong muslim. Tidak seperti anggapan kelompok Rafidhah, orang-orang jahil lagi zhalim, nan mengkafirkan penduduk Syam. Dalam hadits itu juga disebutkan, kelompok Ali paling mendekati kebenaran; itulah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Yakni Ali berada di pihak nan benar, & Mu’awiyah memeranginya karena ijtihad nan keliru, & ia berhak mendapat 1 pahala atas kesalahan ijtihad itu, insya Allah. Sedangkan Ali Radhiyallahu ‘anhu adalah imam nan sah, berada di pihak nan benar insya Allah, & berhak mendapat 2 pahala”.

Demikianlah madzhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah, yaitu Ali Radhiyallahu ‘anhu berada di pihak nan benar. Adapun Mu’awiyah nan memerangi Ali telah salah dlm ijtihadnya, & ia mendapat 1 pahala atas kesalahan ijtihadnya tersebut, insya Allah. Sebagaimana disebutkan dlm Shahih al Bukhari (*2), dari hadits Amru bin al Ash Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا َاجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذََا اجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Jika seorang hakim berijtihad lalu benar, maka ia berhak mendapat 2 pahala, namun jika ia berijtihad lalu salah, maka ia mendapat 1 pahala”

Hadits di atas lebih dijelaskan lagi oleh hadits nan diriwayatkan oleh Imam al Bukhari dlm Shahih-nya (3609) & Muslim (2214) dari jalur Ma’mar dari Hammam dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ وَتَكُونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ وَدَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ

“Tidak akan datang hari Kiamat hingga muncul 2 kelompok nan saling berperang & akan terjadi pertumpahan darah nan hebat, sedangkan dakwah keduanya sama”.

Hadits ini menjelaskan hadits sebelumnya, Abul Fida’ Ibnu Katsir berkata di dlm al Bidayah wan Nihayah (IX/192): “Kedua kelompok itu adalah 2 kelompok nan terlibat dlm peperangan Jamal & Shifin. Karena kala itu, dakwah ke 2 kelompok tersebut sama. Yakni sama-sama menyeru kepada Islam. Mereka hanya berselisih pendapat tentang masalah kekuasaan, & dlm menetapkan mashlahat bagi umat & segenap rakyat. Tidak terlibat dlm peperangan itu adalah lebih utama, daripada melibatkan diri ke dalamnya. Itulah madzhab jumhur sahabat”.

PERDAMAIAN ANTARA MU’AWIYAH DAN AL HASAN BIN ALI
Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu secara resmi memegang tampuk kekhalifahan setelah al Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhuma mengundurkan diri demi menghentikan pertumpahan darah di antara kaum Muslimin.

Imam al Bukhari meriwayatkan dlm kitab Shahih-nya, dari jalur Abdullah bin Muhammad dari Sufyan dari Abu Musa, ia berkata:

Saya mendengar al Hasan berkata: “Demi Allah, al Hasan bin Ali mendatangi Mu’awiyah dgn membawa pasukan besar laksana gunung”.

Amru bin al Ash berkata,”Menurutku pasukan ini tak akan kembali hingga menghancurkan lawannya”.

Mu’awiyah –beliau adalah sebaik-baik orang- berkata kepadanya: “Hai, Amru. Jika kedua pasukan ini saling bunuh, lantas siapakah nan akan mengatur urusan kaum Muslimin? Siapakah nan melindungi para wanita muslimah? Siapakah nan melindungi harta benda mereka?” maka Mu’awiyah mengutus 2 orang Quraisy dari Bani Abdi Syams kepada al Hasan, yakni Abdurrahman bin Samurah & Abdullah bi Amir bin Kuraiz.

Mu’awiyah berkata kepada mereka berdua: “Temuilah ia, tawarkanlah (perdamaian) kepadanya. Katakanlah kepadanya & mintalah agar ia menerimanya,” maka kedua utusan itupun menemui al Hasan & mengutarakan maksudnya, & memintanya agar menerima tawaran mereka. Lalu al Hasan bin Ali berkata kepada mereka berdua: “Kami dari kabilah Bani Abdul Muththalib telah memperoleh harta ini, & sesungguhnya umat ini telah tertumpah darahnya”.

Keduanya berkata,”Sesungguhnya Mu’awiyah menawarkan ini & ini kepadamu, ia meminta agar Anda menerimanya. “

Al Hasan berkata,”Siapakah nan akan mendukungku?”

“Kamilah nan mendukungmu,” jawab mereka berdua.

Setiap kali al Hasan menanyakan hal itu, keduanya menjawab: “Kamilah nan mendukungmu, berdamailah dengannya”

Al Hasan berkata: “Saya mendengar Abu Bakrah berkata,’Aku pernah melihat Rasulullah di atas mimbar, sementara al Hasan bin Ali di sisi beliau. Kadangkala Rasulullah menatap al Hasan, & kadangkala menatap para hadirin, lalu (beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata:

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“(Sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid. Mudah-mudahan dengannya Allah akan mendamaikan 2 kelompok besar kaum Muslimin nan bertikai)”(*3).

Demikianlah Allah menghindarkan terjadinya peperangan di antara kaum Mukminin melalui as Sayyid al Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Al Hasan menyerahkan tampuk kekhalifahan kepada Mu’awiyah & membaiatnya utk menegakkan kitabullah & Sunnah NabiNya. Maka Mu’awiyah pun memasuki Kufah, & kaum Muslimin membaiatnya. Dalam sejarah Islam, tahun itu disebut tahun Jama’ah; karena pada tahun itu kaum Muslimin bersatu. Semua orang nan sebelumnya menghindarkan diri dari fitnah, mereka turut membaiat Mu’awiyah, seperti Sa’id bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Muhammad bin Maslamah & lainnya.

Abul Fadhl Ibnu Hajar dlm Fathul Bari (6613) menjelaskan hadits di atas sebagai berikut:

1). Menerangkan salah 1 mu’jizat kenabian.
2). Menerangkan keutamaan al Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhu nan telah mengundurkan diri dari tampuk kekhalifahan bukan karena sedikit pendukung atau kalah, & bukan pula karena kesalahan, namun semata-mata mengharap balasan di sisi Allah, ketika beliau melihat hal itu dapat menghentikan pertumpahan darah di antara kaum Muslimin. Beliau lebih mengedepankan kemashlahatan agama & kemashlahatan umat.
3). Bantahan terhadap kelompok Khawarij nan mengkafirkan Ali & orang-orang nan menyertai beliau serta mengkafirkan Mua’wiyah & orang-orang nan bersama beliau. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa kedua kelompok itu masih tergolong muslim.
4). Keutamaan usaha perdamaian di antara manusia, terutama demi memelihara darah kaum Muslimin.
5). Bukti kasih-sayang Mu’awiyah kepada rakyatnya & kasih-sayangnya terhadap kaum Muslimin, ketajaman pandangannya dlm mengatur negara & kearifan beliau dlm melihat akibat nan akan terjadi.

Perkataan Ibnu Hajar “Bukti kasih sayang Mu’awiyah kepada rakyatnya . . . . . . ” didasarkan atas pujian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap pengunduran diri al Hasan dari tampuk kekhalifahan & menyerahkannya kepada Mu’awiyah sebagaimana telah dijelaskan terdahulu.

MU’AWIYAH TIDAKLAH MEMBENCI ALI, AL-HASAN DAN AHLI BAIT
Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu juga memuliakan & menghormati al Hasan. Ia sering mengirim hadiah setiap tahun sebanyak seratus ribu dirham. Al Hasan pernah datang mengunjunginya, lalu Mu’awiyah memberinya hadiah sebanyak 4 ratus ribu dirham. (*4)

AQIDAH SALAF DALAM MENYIKAPI PERTIKAIAN nan TERJADI DI ANTARA SAHABAT
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin & orang-orang Anshar, nan mengikuti Nabi dlm masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka” [at Taubah/9:117]

Berkaitan dgn larangan mencampuri pertikaian besar di antara sahabat, Ibnu Baththah rahimahullah berkata:

“Kita harus menahan diri dari pertikaian nan terjadi di antara sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab mereka telah melalui berbagai peristiwa bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sllam, & telah mendahului nan lainnya dlm hal keutamaan. Allah telah mengampuni mereka & memerintahkan agar memintakan ampunan utk mereka, & mendekatkan diri kepadaNya dgn mencintai mereka. Semua itu Allah wajibkan melalui lisan RasulNya. Allah Maha Tahu apa nan bakal terjadi, bahwasanya mereka akan saling berperang. Mereka memperoleh keutamaan daripada nan lainnya, karena segala kesalahan & kesengajaan mereka telah dimaafkan. Semua pertikaian nan terjadi di antara mereka telah diampuni. Janganlah lihat komentar-komentar negatif tentang peperangan Shiffin, Jamal, peristiwa di kediaman Bani Sa’idah & pertikaian-pertikaian lain nan terjadi di antara mereka. Janganlah engkau tulis utk dirimu atau utk orang lain. Janganlah engkau riwayatkan dari seorangpun, & jangan pula membacakannya kepada orang lain, & jangan pula mendengarkannya dari orang nan meriwayatkannya.

Itulah perkara nan disepakati oleh para ulama umat ini. Mereka sepakat melarang perkara nan kami sebutkan tersebut. Di antara ulama-ulama tersebut adalah: Hammad bin Zaid, Yunus bin Ubaid, Sufyan ats Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Abdullah bin Idris, Malik bin Anas, Ibnu Abi Dzi’b, Ibnul Munkadir, Ibnul Mubarak, Syu’aib bin Harb, Abu Ishaq al Fazari, Yusuf bin Asbath, Ahmad bin Hambal, Bisyr bin al Harits & Abdul Wahhab al Warraq, mereka semua sepakat melarangnya, melarang melihat & mendengar komentar tentang pertikaian tersebut. Bahkan mereka memperingatkan orang nan membahas & berupaya mengumpulkannya. Banyak sekali perkataan-perkataan nan diriwayatkan dari mereka nan ditujukan kepada orang-orang nan melakukannya, dgn lafal bermacam-macam namun maknanya senada; intinya membenci & mengingkari orang nan meriwayatkan & mendengarnya”. (*5)

Apabila Umar bin Abdul Aziz ditanya tentang peperangan Shiffin & Jamal, beliau berkata: “Urusan nan Allah telah menghindarkan tanganku darinya, maka aku tak akan mencampurinya dgn lisanku”(*6)

Al Khallal meriwayatkan dari jalur Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Ada nan berkata kepada Abu Abdillah, ketika itu kami berada di tengah pasukan & kala itu datang pula seorang utusan khalifah, yakni Ya’qub, ia berkata: “Wahai Abu Abdillah, apa komentar Anda tentang pertikaian nan terjadi antara Ali & Mu’awiyah?”

Abu Abdillah menjawab,”Aku tak mengatakan kecuali nan baik, semoga Allah merahmati mereka semua. “(*7)

Imam Ahmad menulis surat kepada Musaddad bin Musarhad nan isinya: “Menahan diri dari memperbincangkan kejelekan sahabat. Bicarakanlah keutamaan mereka & tahanlah diri dari membicarakan pertikaian di antara mereka. Janganlah berkonsultasi dgn seorangpun dari ahli bid’ah dlm masalah agama, & janganlah menyertakannya dlm perjalananmu”. (*8)

Imam Ahmad juga menulis surat kepada Abdus bin Malik tentang pokok-pokok dasar Sunnah. Beliau menuliskan di dlm suratnya:
“Termasuk pokok dasar, (yaitu) barangsiapa melecehkan salah seorang sahabat Nabi atau membencinya karena kesalahan nan dibuat atau menyebutkan kejelekannya, maka ia termasuk mubtadi’ (ahli bid’ah), hingga ia mendoakan kebaikan & rahmat bagi seluruh sahabat & hatinya tulus mencintai mereka”(*9).
Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman ash Shaabuni rahimahullah berkata di dlm Aqidah Salaf Ashhabul Hadits: “Ahlu Sunnah memandang, wajib menahan diri dari mencampuri pertikaian di antara sahabat Rasul. Menahan lisan dari perkataan nan mengandung celaan & pelecehan terhadap para sahabat”.

Dalam kitab Lum’atul I’tiqad, Ibnu Qudamah al Maqdisi berkata: “Termasuk Sunnah Nabi adalah, menahan diri dari menyebutkan kejelekan-kejelekan para sahabat & pertikaian di antara mereka. Serta meyakini keutamaan mereka & mengenal kesenioran mereka”.

Dalam kitab Aqidah Wasithiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Ahlus Sunnah wal Jama’ah menahan diri dari memperbincangkan pertikaian di antara para sahabat. Mereka mengatakan, riwayat-riwayat nan dinukil tentang kejelekan mereka, sebagiannya ada nan dusta, ada nan ditambah-tambah & dikurangi serta dirobah-robah dari bentuk aslinya. Berdasarkan sikap nan benar, para sahabat dimaafkan kesalahannya. Mereka itu adalah alim mujtahid, nan kadangkala benar & kadangkala salah”.

Imam al Asy’ari dlm kitab al Ibanah mengatakan: “Adapun nan terjadi antara Ali, az Zubair & ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhum adalah bersumber dari takwil & ijtihad. Ali adalah pemimpin, sedangkan mereka semua termasuk ahli ijtihad. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjamin mereka masuk surga & mendapat syahadah (mati syahid). Itu menunjukkan bahwa, ijtihad mereka benar. Demikian pula nan terjadi antara Ali & Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhuma, juga bersumber dari takwil & ijtihad. Semua sahabat adalah imam & orang-orang nan terpercaya, bukanlah orang nan dicurigai agamanya”.

Al Qadhi Iyadh berkata dlm karyanya, Syarah Shahih Muslim: “Mu’awiyah termasuk sahabat nan shalih & termasuk sahabat nan utama. Adapun peperangan nan terjadi antara dirinya dgn Ali, & pertumpahan darah nan terjadi di antara para sahabat, maka sebabnya adalah takwil & ijtihad. Mereka semua berkeyakinan bahwa ijtihad mereka tepat & benar”.

Al Qahthaani berkata dlm Nuniyah-nya:
Ucapkanlah sebaik-baik perkataan pada sahabat Muhammad
Pujilah seluruh ahli bait & isteri beliau
Tinggalkanlah pertikaian nan terjadi di antara sahabat
Saat mereka saling bertempur dlm sejumlah pertempuran
Yang terbunuh maupun nan membunuh
sama-sama dari mereka & utk mereka
Kedua pihak akan dibangkitkan pada hari berbangkit
dalam keadaan dirahmati
Allah akan membangkitkan mereka semua pada Hari Mahsyar
dan mencabut kebencian nan tersimpan dlm dada mereka

Hafizh al Hikmi berkata dlm Sullamul Wushul ila Ilmil Ushul:
Kemudian wajib menahan diri dari pertikaian di antara mereka
Yang mana hal tersebut telah berjalan menurut takdir ilahi
Mereka semua adalah mujtahid nan pasti mendapat pahala
Sementara kesalahan mereka diampuni Allah nan Maha Memberi.

Demikian penjelasan singkat mengenai sikap Ahlus Sunnah wal Jamaah terhadap pertikaian nan terjadi antara Sahabat Mu’awiyah & Ali Radhiyallahu ‘anhuma. Begitu pula sikap kita ini kepada para sahabat Nabi n secara keseluruhan.
Wallahu a’lam bish shawab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Referensi
(*1). Ditahqiq oleh Abdullah at Turki. Beliau memaparkan beberapa perbedaan nan terdapat dlm sejumlah naskah, namun perbedaan itu tak terlalu serius.
(*2). Shahih al Bukhari, hadits nomor 7352.
(*3). HR al Bukhari, 2704.
(*4). Tarikh Dimasyqi, XIII/166.
(*5). Al Ibanah, karya Ibnu Baththah, halaman 268. Bagi nan ingin mengetahui penjelasan lebih lengkap, silakan lihat kitab as Sunnah, karya al Khallal. Beliau telah menulis sebuah bab dlm kitab tersebut, tentang teguran keras terhadap orang nan menulis riwayat-riwayat nan berisi hujatan terhadap sahabat Nabi.
(*6). As Sunnah, karya al Khallal, 717.
(*7). As Sunnah, karya al Khallal, 713.
(*8). Thabaqaatul Hanaabilah, I/344.
(*9). Thabaqaatul Hanaabilah, I/345.
sumber: http://www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari tags: Abul Abbas, Wa Sallam, Imam Muslim

 

http://www.senyummuslim.com/sikap-ahlus-sunnah-terhadap-muawiyah-dan-pertikaiannya-dengan-ali-abul-abbas-1463.htm

 

Siapa Kita, Siapa Mu’awiyah?

Salah satu cara “halus” yang digunakan oleh musuh-musuh Islam demi memadamkan cahaya Allah l adalah merusak citra para sahabat Rasulullah n. Dikatakan “halus” karena banyak dari kalangan muslim yang terpengaruh ikut-ikutan larut dalam “settingan” ini. Sebutlah Sayyid Quthub—tokoh Ikhwanul Muslimin—yang menyudutkan Utsman bin Affan, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan Amr bin Ash g; bahkan mencela Nabiyullah Musa q. Demikian juga Abul A’la al-Maududi yang mencitrakan sosok Mu’awiyah dengan sangat buruk. Sementara itu, dari luar Islam, Syiah Rafidhah—selain mengafirkan hampir seluruh sahabat—adalah kelompok yang paling getol mencaci maki Mu’awiyah.
Dengan menyusupkan berita dusta dan hadits-hadits palsu, Mu’awiyah digambarkan oleh para pencela sahabat sebagai pribadi yang penuh khianat, licik, ambisius, dsb.
Padahal, kalangan Islam telah bersepakat bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah seorang sahabat. Oleh karena itu, jika ada ayat atau hadits yang mengungkapkan tentang kemuliaan sahabat secara umum, beliau termasuk di dalamnya. Secara khusus, hadits-hadits yang sahih juga menyebutkan keutamaan-keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Di antaranya, beliau adalah salah satu sahabat yang dipercaya menjadi penulis wahyu, beliau dijamin masuk jannah, seorang yang faqih, dsb.
Patut digarisbawahi di sini, mencela sahabat sendiri bukanlah perkara remeh. Ini sudah masuk ranah akidah. Sahabat Rasulullah n adalah perantara kita dengan Rasulullah n. Merekalah pembawa kabar-kabar dari Rasulullah n. Semua ilmu agama, baik bersumber dari al-Qur’an maupun hadits, sampai kepada kita melalui perantaraan mereka. Tak heran jika musuh-musuh Islam dan yang terpengaruh oleh mereka, mencela para sahabat ini dengan cerita-cerita dusta, hadits-hadits lemah dan palsu, bahkan yang tidak ada asalnya sama sekali, demi menjadikan umat Islam ragu terhadap para sahabat Rasulullah n. Ujung-ujungnya, mereka meragukan al-Qur’an atau hadits yang sampai kepada mereka walaupun hadits-hadits tersebut sahih, terutama jika diriwayatkan oleh sahabat yang mereka cela.
Alhasil, menjadi penting bagi kita untuk terus menyuarakan pembelaan terhadap para sahabat yang niscaya penistaan terhadap mereka tak akan berhenti sampai kapan pun. Lucunya, ada kalangan Islam yang meradang ketika pelecehan terhadap sahabat dilakukan oleh orang liberal semacam Faraj Fouda atau Thaha Husain, tetapi ketika yang melakukannya adalah Sayyid Quthub yang mereka idolakan, mereka tutup mata dan membela idolanya mati-matian. Ketika pengagum Faraj Fouda menggelari idolanya dengan Syahid al-Kalimah atau Syahid al-Fikr, demikian juga pengagum Sayyid Quthub menggelari idolanya dengan asy-Syahid, gelar yang tentunya teramat tidak pantas disandang para pencela sahabat Rasulullah n.
Seorang muslim semestinya menahan lisannya dari mencela sahabat Rasulullah n. Bagaimana mungkin seorang muslim sampai hati memberikan gambaran yang sangat tidak beradab tentang sahabat Rasulullah n dan mempertajam citra buruk mereka, padahal Allah l telah memuji mereka dalam firman-Nya? Apa keuntungan yang kita cari dengan mengumbar fitnah dan caci maki kepada sahabat Nabi n? Atau jangan-jangan, para penghujat merasa lebih mulia dari para sahabat, generasi yang Allah l ridha kepada mereka? Na’udzubillah.

http://asysyariah.com/muawiyah.html

Konspirasi Mencabik Kehormatan Mu’awiyah Bintu Abi Sofyan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)

Sahabat Rasulullah n adalah kaum yang telah mengorbankan harta, jiwa, dan segala yang mereka miliki fi sabilillah saat kebanyakan manusia memerangi agama Allah l.Sepeninggal Rasulullah n, mereka tidak menghentikan langkah menegakkan kalimat Allah l. Pengorbanan, keberanian, dan sikap kesatria terus menghiasi lembaran-lembaran tarikh (sejarah).
Mengikuti jejak sahabat dan mencintai mereka adalah bagian penting akidah dan salah satu pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dengannya, umat mencapai kemuliaan dan selamat dari kesesatan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah n bersabda,
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Sungguh, di antara kalian yang hidup sesudahku akan melihat berbagai perselisihan, maka berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin yang diberi petunjuk. Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan sahih.”)
Ketika Rasulullah n bercerita tentang perpecahan umat, beliau ditanya tentang golongan yang selamat. Beliau n menjawab,
مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي
“(Yaitu orang yang berjalan pada) jalan yang aku dan para sahabatku berada di atasnya hari ini.”
Al-Imam Malik t berkata,
لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا
“Akhir dari umat ini tidak akan baik melainkan dengan menempuh jalan yang menyebabkan generasi awal (sahabat) menjadi baik.”
Musuh-musuh Islam mengerti faktor kejayaan ini. Mereka paham bahwa menjadikan sahabat sebagai suri teladan adalah pokok mendasar bagi umat Islam untuk meraih kejayaan. Maka dari itu, tidaklah mengherankan apabila mereka dengan gigih berusaha menjauhkan kaum muslimin dari generasi sahabat.
Segala cara ditempuh. Manipulasi sejarah, celaan, dan cercaan, tak kunjung henti tertuju kepada sahabat-sahabat Rasul n. Makar musuh Islam merusak citra sahabat telah dipraktikkan oleh pemimpin kaum munafik di zaman Rasulullah n, Abdullah bin Ubai bin Salul. Dia menebarkan fitnah seputar tuduhan zina terhadap Aisyah x.1
Konspirasi menggulung kemuliaan sahabat adalah makar besar musuh-musuh Islam: Yahudi, Syiah Rafidhah, para orientalis, dan sekutunya. Demi Allah, tidak sedikit sahabat yang menjadi sasaran celaan dan caci maki, termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.
Demikian kenyataan yang harus kita hadapi. Mereka membuat makar, kita pun harus berjuang membela kehormatan generasi mulia yang telah berjasa terhadap umat ini. Kita tidak boleh berputus asa menegakkan prinsip yang agung ini. Sesungguhnya Allah l pasti membalas makar mereka.
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali Imran: 54)
“Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu….” (Ibrahim: 46)

Kedengkian Musuh Allah l Menyaksikan Kejayaan Islam
Pada masa sahabat, kekuatan daulah islamiyah kokoh di muka bumi. Kekuatan politik Islam dan tentara-tentara Allah l menjadi kekuatan yang sangat ditakuti. Kekaisaran Romawi dan Persia pun harus bertekuk lutut di hadapan tentara-tentara Allah l. Futuhat islamiyah (perluasan wilayah Islam) tidak bisa dibendung di masa al-Khulafa’ ar-Rasyidin, termasuk di zaman pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c yang telah memimpin kaum muslimin dengan penuh keadilan selama dua puluh tahun (41—60 H).
Cahaya tauhid terus menyebar ke seluruh penjuru barat dan timur dunia, berjalan pasti bersama langkah kaki generasi paling mulia, mewujudkan kabar gembira ar-Rasul n dalam sabdanya,
إِنَّ اللهَ زَوَى لِيَ الْأَرْضَ، فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا، وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ: الْأَحْمَرَ وْالْأَبْيَضَ
“Sesungguhnya Allah l mengumpulkan bumi untukku hingga aku bisa melihat timur dan baratnya. Sungguh kekuasaan umatku akan mencapai bagian bumi yang digulungkan di hadapanku, dan aku diberi Allah dua perbendaharaan, emas dan perak (yakni Romawi dan Persia, -pen).” (HR. Muslim 4/2215 no. 2889 dari Tsauban z)
Kejayaan Islam tentu tidak diharapkan oleh musuh-musuh Islam. Kedengkian telah merasuki dada mereka. Perjuangan sahabat semakin bersinar, sementara itu musuh-musuh Islam semakin geram dan sesak dada menyaksikan kemuliaan Islam. Hal ini sesuai dengan permisalan sahabat yang disebutkan oleh Allah l dalam firman-Nya,
“Sifat-sifat mereka dalam Injil yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir….” (al-Fath: 29)
Mereka tidak berdaya memerangi muslimin dengan kekuatan fisik. Upaya yang mereka anggap bermanfaat adalah dengan merusak akidah Islam dalam dada para pemeluknya, memperburuk citra Islam di tengah-tengah manusia, dan berusaha mencerai-beraikan barisan muslimin, serta mewujudkan keragu-raguan tentang agama yang mulia ini.
Makar demi makar muncul. Di antara makar besar yang pengaruhnya masih tampak hingga saat ini adalah makar Abdullah bin Saba’ al-Yahudi. Pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan z adalah buah makar Ibnu Saba’, demikian pula fitnah-fitnah berikutnya. Munculnya sekte Rafidhah pun tidak lepas dari peran sosok Ibnu Saba’ al-Yahudi.2
Hadits-hadits Rasulullah n dan tarikh Islam tidak luput dari makar. Mereka menebarkan hadits-hadits palsu dan menyusupkan kedustaan demi kedustaan, terutama terkait dengan tarikh sahabat Rasulullah n.
Demikianlah kaum zindiq (munafik) membuat makar. Mereka menyusup di tengah-tengah kaum muslimin sembari menyebarkan berita-berita dusta dalam hal akidah, ibadah, akhlak, muamalah, atau perkara halal haram. Semua itu untuk sebuah tujuan: merusak agama Islam dan memecah belah barisan kaum muslimin.
Riwayat Palsu adalah Makar Musuh Islam
Di antara makar musuh Islam adalah menyebarkan banyak riwayat maudhu’ (palsu) untuk merusak syariat dan prinsip-prinsip Islam. Oleh karena itu, para ulama menganggap penting untuk mengumpulkan hadits-hadits maudhu’ tersebut dalam buku-buku khusus, di antaranya kitab al-Maudhu’at karya al-Imam Ibnul Jauzi t, sebagai peringatan bagi umat, walhamdulillah.
Perhatikan contoh hadits palsu berikut sebagai bukti makar orang kafir.
إِنَّ اللهَ خَلَقَ خَيْلًا فَأَجْرَاهَا فَعَرَقَتْ فَخَلَقَ نَفْسَهُ مِنْ ذَلِكَ الْعَرْقِ
“Allah menciptakan kuda, lalu kuda itu dijalankan hingga berkeringat. Allah lalu menciptakan Diri-Nya dengan keringat itu.”
A’udzubillahi minasy syaithanir rajim! Demi Allah, ini adalah kalimat kekafiran yang sengaja diembuskan oleh kaum zindiq untuk merusak akidah muslim tentang Rabb-Nya.
Ibnul Jauzi t berkata, “Hadits ini tidak diragukan kepalsuannya. Tidak mungkin ada seorang muslim pun memalsukan hadits seperti ini.” (al-Maudhu’at 1/105)
Mereka juga membuat kedustaan tentang kerasulan. Muhammad bin Sa’id asy-Syami al-Mashlub, misalnya.3 Pendusta ini telah memalsukan riwayat yang merusak salah satu pokok Islam tentang rasul terakhir. Melalui jalan Humaid, dari Anas z, Muhammad bin Sa’d al-Mashlub meriwayatkan sabda Rasulullah n,
أَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ اللهُ
“Aku penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku melainkan apabila Allah menghendaki.” (Dikeluarkan Ibnul Jauzi dalam al-Mudhu’at 1/279)
Kalimat “melainkan apabila Allah menghendaki” yang ia dustakan atas nama Nabi n membuka celah adanya nabi sesudah beliau n.
Saudaraku muslim, jika musuh-musuh Islam berani merusak akidah tentang Allah l dan Rasul-Nya, lebih tidak mustahil lagi mereka menebarkan kedustaan untuk mencoreng kehormatan sahabat dan merusak tarikh mereka yang gemilang, baik kedustaan itu tertuju pada sahabat secara umum (sebagai sebuah generasi) atau individu sahabat, seperti Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Aisyah, Abu Hurairah, Amr bin al-Ash, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abu Sufyan, Khalid bin al-Walid, Abu Musa al-Asyari, dan lainnya g.
Setan manusia dan setan jin bahu-membahu dalam makar menebar dusta ini, seperti dalam firman Allah l,
“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)….” (al-An’am: 112)

Mu’awiyah bin Abi Sufyan z, Target Makar Musuh Allah l
Di antara hadits palsu yang dimaksudkan untuk mencerca beberapa individu sahabat adalah hadits-hadits tentang Mu’awiyah z. Diriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda,
إِذَا رَأَيْتُمْ مُعَاوِيَةَ عَلَى مِنْبَرِي فَاقْتُلُوهُ
“Apabila kalian melihat Mu’awiyah berada di atas mimbarku, bunuhlah ia.”
Teks hadits ini lahiriahnya berisi celaan atas Mu’awiyah z, bahkan tidak berlebihan seandainya sebagian manusia mengafirkan Mu’awiyah dengan hadits ini. Namun, ternyata hadits ini adalah sebuah kedustaan yang diatasnamakan Rasul n.
Tentang hadits ini dan beberapa hadits lain yang ditebarkan musuh-musuh Islam untuk mencela Mu’awiyah z sebagai jembatan mencela generasi sahabat, akan kita khususkan pembahasannya dalam rubrik “Hadits” kali ini dengan judul Benarkah Hadits-Hadits Rasulullah n Menghujat Mu’awiyah z?

Pentingnya Pembahasan tentang Mu’awiyah bin Abi Sufyan
Mu’awiyah bin Abi Sufyan c menjadi topik pembahasan penting. Di antara sebabnya adalah musuh-musuh Islam, baik yang kafir maupun yang munafik, seringkali mengupas sejarah Mu’awiyah bin Abi Sufyan c dengan tidak adil dan jauh dari kaidah-kaidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, bahkan menyelisihi ijma’ (kesepakatan) ulama.
Membahas akidah Ahlus Sunnah tentang sahabat Mu’awiyah z sangatlah mendesak, lebih-lebih di zaman kita, saat media-media semakin maju. Di dunia maya, musuh-musuh Islam dengan leluasa berbicara seenaknya mencaci-maki Mu’awiyah bin Abi Sufyan z. Racun-racun yang ditebarkan menyebabkan banyak debu menutupi pemikiran sebagian muslimin tentang sahabat ini. Akhirnya, beliau dipandang sebelah mata atau malah benar-benar menjadi bahan cemoohan dan caci maki.
Syiah Rafidhah termasuk makhluk buruk yang paling doyan mencerca sahabat. Kenyataan ini tidak bisa mereka mungkiri karena bukti-bukti celaan tersebut nyata tertera dalam buku-buku rujukan mereka, termasuk tulisan dan ucapan tokoh-tokoh terdepan mereka semacam Khomeini. Mereka mengafirkan Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, bahkan seluruh sahabat, kecuali beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari.
Tidak lupa pula kita ingatkan kepada pembaca, mereka—Rafidhah—juga mencela Aisyah x dan menuduhnya berbuat keji (zina). Padahal para ulama telah bersepakat tentang kafirnya orang yang menuduh Aisyah melakukan perbuatan itu karena ia telah mengingkari al-Qur’an yang dengan tegas membebaskan Aisyah dari tuduhan tersebut.
Maka dari itu, tidak heran ketika kita saksikan Rafidhah bersama barisan Yahudi, orientalis, dan munafik berupaya keras mencabik kehormatan Mu’awiyah z. Jangankan sosok Mu’awiyah z, Aisyah binti Abu Bakr c yang adalah ibunda kaum mukminin, mereka berani mengobok-obok nama baik beliau, wal ‘iyadzu billah.
Sebelum kita memasuki pembahasan tentang sahabat Mu’awiyah z lebih dalam, perlu disadari bahwa pembelaan terhadap kehormatan Mu’awiyah z adalah pembahasan yang sangat penting di zaman ini. Sebab, akidah tentang sahabat menjadi sebuah masalah yang asing bagi kebanyakan kaum muslimin.4
Adapun pemilihan tema pembelaan terhadap Mu’awiyah bin Abi Sufyan, banyak alasan yang mendasarinya sebagaimana diisyaratkan di atas.
Di samping itu, beberapa alasan lain yang patut disebutkan di sini di antaranya:
1. Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, ahlul hadits, menjadikan sikap terhadap Mu’awiyah bin Abi Sufyan z sebagai salah satu barometer akidah seorang muslim tentang sahabat Nabi n.
Artinya, sikap jelek yang ditampakkan seseorang terhadap Mu’awiyah z adalah pertanda buruk akan sikapnya yang tidak baik kepada sahabat secara umum. Demikianlah kebiasaan yang berlaku. Jika ada seseorang mencela Mu’awiyah z, ia akan berani mencela sahabat lainnya karena Mu’awiyah bin Abi Sufyan c bagian dari sahabat, generasi terbaik yang telah diridhai oleh Allah l.
Ar-Rabi’ bin Nafi’ t mengatakan,
مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سِتْرُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ n فَإِذَا كَشَفَ الرَّجُلُ السِّتْرَ اجْتَرَأَ عَلَى مَا وَرَاءَهُ
“Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah tirai bagi sahabat-sahabat Rasulullah n. Siapa berani menyingkap tirai itu, niscaya ia akan berbuat lancang atas apa yang ada di baliknya (yakni dia akan lancang mencela sahabat lainnya).” (Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad [1/209] dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq [59/209])
2. Kehormatan Mu’awiyah bin Abi Sufyan z sering dicemarkan dalam berbagai kajian, kurikulum pendidikan, atau mata kuliah sejarah. Dengan demikian, kita mengharapkan para pelajar, lebih-lebih para guru dan dosen sejarah, takut kepada Allah l ketika membicarakan sahabat yang mulia dan segera kembali kepada jalan salafus saleh.
3. Beliau dituduh sebagai raja yang zalim, suka menumpahkan darah, nepotisme, ahli maksiat, dan sebagainya. Bahkan, sebagian orang yang celaka berani mengeluarkan beliau dan ayahnya dari keislaman.
Sungguh jauh penilaian ini dengan penilaian ahlul hadits dan ahli sejarah Islam yang lurus akidahnya. Para sahabat, tabi’in, dan ulama Ahlus Sunnah bersepakat bahwa beliau dan ayahnya adalah sahabat Rasulullah n dan orang yang mulia.
4. Banyak kaum muslimin—karena kejahilan—lebih menempatkan Umar bin Abdul Aziz t sebagai khalifah kelima—setelah al-Khulafa’ ar-Rasyidin—dan melupakan Mu’awiyah bin Abi Sufyan z. Seolah-olah, di alam ini tidak terlahir seorang pun bernama Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.
Penilaian tersebut tentu tidak benar. Keutamaan Mu’awiyah z sebagai sahabat Rasulullah n tidak bisa dibandingkan dengan Umar bin Abdul Aziz t, seorang tabi’in. Bahkan, pemerintahan Mu’awiyah jauh lebih adil dan lebih sentosa dibandingkan dengan pemerintahan Umar bin Abdul Aziz t.
5. Syiah Rafidhah sangat gencar melancarkan makarnya untuk menjatuhkan nama baik Mu’awiyah z dan seluruh sahabat Rasulullah n.
Mu’awiyah divonis kafir oleh para penganut agama Syiah Rafidhah. Mu’awiyah dituduh sebagai pemberontak, tokoh yang selalu mencaci-maki Ali, bahkan dianggap sebagai dalang pembunuhan sahabat Ali, peminum khamr, ahli maksiat, dan sekian tuduhan buruk tertuju pada beliau.
Semua tuduhan itu dihiasi dengan pemutarbalikan fakta, berita-berita palsu, dan penafsiran ngawur tentang beberapa peristiwa tarikh. Bahkan, dihiasi pula dengan dalil-dalil dari hadits yang sebagiannya akan kita bahas dalam rubrik hadits edisi ini. Semua itu mereka lakukan untuk merobek kehormatan Mu’awiyah dan seluruh sahabat Rasulullah n.
6. Adanya beberapa tokoh pergerakan Islam yang sangat tersohor, melontarkan pernyataan-pernyataan miring tentang sahabat, termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan c dengan sebab kebodohan.
Sebut saja sebagai misal adalah Sayyid Quthub. Dalam tulisannya, al-‘Adalah al-Ijtima’iyah hlm. 206, ia mencela sahabat Utsman bin Affan z dengan perkataannya, “Kami condong kepada penetapan bahwa kekhilafahan Ali adalah perpanjangan dari kekhilafahan syaikhain (yakni Abu Bakr dan Umar) sebelumnya. Adapun kekhilafahan Utsman bin Affan hanyalah celah (kekosongan) antara keduanya.”
Lihatlah, wahai kaum muslimin, kekhilafahan Utsman bin Affan z sejak tahun 23—35 H tidak dianggap oleh seorang Sayyid Quthub. Padahal pemerintahan beliau adalah mata rantai yang tidak bisa dilepas dari sejarah perjuangan Islam.
Ia juga berbicara tentang Mu’awiyah bin Abi Sufyan c, menyematkan sifat dusta, khianat, dan kemunafikan pada pribadi beliau. Dalam tulisannya, al-Kutub wa Syakhshiyat (hlm. 242), ia mengatakan, “… dan ketika Mu’awiyah dan temannya (yakni Amr bin al-‘Ash) telah condong kepada kedustaan, penipuan, pengkhianatan, kemunafikan, suap, dan menjual tanggung jawab (amanat-amanat),….”
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t mengomentari ucapan Sayyid Quthub di atas, “Ini adalah ucapan kotor. Ini adalah ucapan yang kotor, mencela Mu’awiyah dan mencela Amr bin al-Ash.” (Dari kaset Aqwal al-Ulama fi Muallafati Sayyid Quthub, Tasjilat Minhajus Sunnah, Riyadh)

Lebih menyedihkan lagi ketika Sayyid Quthub berbicara tentang Abu Sufyan bin Harb z. Ia berkata meragukan keislaman Abu Sufyan, “Keislamannya adalah Islam di bibir dan lisan, bukan keimanan dalam hati. Keislaman belumlah masuk ke dalam kalbu laki-laki itu….” Ucapannya ini terlontar di Majalah al-Muslimun edisi ketiga tahun 1371 H.
Lihatlah, betapa berbahaya ucapan Sayyid Quthub ini. Anehnya, tokoh seperti Sayyid Quthub ini justru sangat dielu-elukan oleh sebagian firqah (kelompok sempalan), seperti Ikhwanul Muslimin.
Sungguh aneh, ketika Sayyid Quthub dikritik, mereka marah. Namun, ketika sahabat Utsman bin Affan z, Dzun Nurain (pemilik dua cahaya), penyandang janji surga, dicela oleh Sayyid Quthub, demikian pula Mu’awiyah bin Abi Sufyan c dan ayahnya, mereka duduk manis tidak bergeming. Demikian parahkah kerusakan al-wala’ wal bara’ yang ada dalam timbangan Ikhwanul Muslimin?
Allahul musta’an.

Catatan Kaki:

1 Ibnu Salul mencemarkan nama baik keluarga Rasulullah n dengan menebar berita dusta (haditsul ifk) bahwa Ummul Mukminin Aisyah x melakukan perbuatan keji dengan sahabat Shafwan ibnu Mu’aththal z. Berita dusta itu ditebarkan seusai Perang Bani Musthaliq, bulan Sya’ban 5 H. Kedustaannya tersingkap dengan turunnya surat an-Nur yang membebaskan Aisyah x dari tuduhan tersebut.

2 Keberadaan Ibnu Saba’ dan makarnya dapat dilihat kembali pada Asy-Syariah No. 57/V/1431 H/2010, “Meluruskan Sejarah Memurnikan Akidah”, Rubrik Kajian Utama berjudul Kontroversi Ibnu Saba’ al-Yahudi.
3 Ats-Tsauri dan Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Muhammad bin Sa’id adalah kadzdzab (pendusta).”
Dalam sebagian riwayat, al-Imam Ahmad berkata, “Ia dibunuh oleh Abu Ja’far (yang berjuluk al-Manshur, seorang khalifah Abbasiyah) karena kezindikannya. Hadits-haditsnya adalah hadits maudhu’.”

4 Alhamdulillah, pembahasan tentang sahabat telah banyak diangkat di Majalah Asy-Syariah. Pembaca dapat merujuk pada edisi-edisi yang telah lalu.

http://asysyariah.com/konspirasi-mencabik-kehormatan-muawiyah-bintu-abi-sofyan.html

Keutamaan Mu’awiyah Kesepakatan Ahlussunah Sepanjang Zaman

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)

Keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan z adalah perkara yang sangat jelas menurut para sahabat, tabi’in, dan atba’ut tabi’in. Demikian pula dalam pandangan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Keutamaan Mu’awiyah z adalah kesepakatan umat. Tidak ada seorang ulama pun yang mencela Mu’awiyah z, apalagi mengeluarkan beliau dari wilayah Islam. Justru sebaliknya, ulama bersepakat bahwa Mu’awiyah z adalah sahabat Rasulullah n, generasi terbaik yang beliau n puji. Adapun dalil-dalil kaum zindiq (munafik) untuk menyudutkan Mu’awiyah z, semua adalah dalil-dalil palsu, lemah, atau riwayat sahih yang disimpangkan maknanya menurut akal mereka yang rusak.
Dalam ruang yang terbatas mari kita telaah bersama beberapa keutamaan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan z. Semoga Allah l memberkahi setiap langkah kita dan membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus. Amin.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan z, Paman Kaum Mukminin
Beliau adalah Amirul Mukminin, Abu Abdirrahman Mu’awiyah bin Abi Sufyan—Harb—bin Umayyah bin Abdisy Syams bin Abdi Manaf al-Umawi z.
Nasabnya yang mulia bertemu dengan nasab Utsman bin Affan z pada Umayyah bin Abdisy Syams, dan bertemu dengan nasab Rasulullah n pada kakeknya, Abdu Manaf.
Beliau masuk Islam sebelum Fathu Makkah. Ibnu Asakir t meriwayatkan dalam Tarikh Dimasyq dengan sanadnya sampai kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan z, ia berkata, “Aku telah masuk Islam lebih dahulu dari itu (Fathu Makkah), tetapi aku menyembunyikan keislamanku… Demi Allah, ketika Rasulullah n meninggalkan Hudaibiyah, saat itulah aku beriman kepada beliau.”1
Mu’awiyah z memiliki kedekatan dengan Rasulullah n. Saudarinya seayah, Ummu Habibah Ramlah bintu Abi Sufyan z, dipersunting oleh Rasulullah n menjadi salah satu ummahatul mukminin, ahlu bait Rasulullah n. Mu’awiyah pun menjadi saudara ipar Nabi n dan mendapat julukan “Khal al-Mukminin”, paman kaum mukminin.
Diriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa al-Imam Ahmad bin Hanbal t (wafat 241 H) berkata, “Mu’awiyah adalah paman kaum mukminin. Demikian pula, Ibnu Umar adalah paman kaum mukminin.” (as-Sunnah, al-Khallal, 2/433)
Seseorang bertanya kepada al-Hakam bin Hisyam al-Kufi, “Apa pendapatmu tentang Mu’awiyah?”
Ia berkata, “Dia adalah paman seluruh kaum mukminin.” Al-‘Ijli meriwayatkan atsar ini dalam ats-Tsiqat (1/314)—dan Ibnu Asakir (15/88) meriwayatkan melalui jalan beliau dengan sanad yang sahih.

Mu’awiyah z Adalah Sahabat Rasulullah n Berdasarkan Ijma’
Telah menjadi ijma’ ulama Ahlus Sunnah dan seluruh kaum muslimin bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan z termasuk sahabat Rasulullah n. Artinya, ulama bersepakat bahwa beliau adalah seorang yang berjumpa dengan Nabi n, beriman kepada beliau, dan meninggal di atas keislaman.2
Di antara bukti kesepakatan tersebut, seluruh ulama ahlul hadits, Ahlus Sunnah wal Jamaah, menerima riwayat hadits Mu’awiyah z dari Rasulullah n.
Bukti lain, al-Bukhari dan Muslim mengeluarkan hadits-hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan z dalam ash-Shahihain. Sementara itu, kaum muslimin bersepakat bahwa semua hadits dalam dua kitab ini adalah sahih. Dengan demikian, umat Islam bersepakat bahwa Mu’awiyah z adalah seorang sahabat, yang riwayatnya diterima tanpa perselisihan.
Bukti lain atas kesepakatan ini, kita mendapatkan ulama ahlul hadits, ulama sirah (sejarah), penulis kitab-kitab thabaqat (biografi para ulama berdasarkan tahun), biografi, dan kitab-kitab hadits, memasukkan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c dalam thabaqat (level)sahabat Rasulullah n.
Tidak ada yang menyelisihi kesepakatan ini selain Rafidhah. Mereka justru memasukkan Mu’awiyah z dalam deretan orang-orang kafir, termasuk pula ayahnya, Abu Sufyan z. Sebaliknya, Abu Thalib yang mati dalam keadaan kafir sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat-riwayat sahih dan mu’tabar malah diangkat tinggi-tinggi, bahkan dikatakan sebagai mukmin sejati.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani t berkata, “Aku telah membaca sebuah kitab hadits dari kalangan Syi’ah Rafidhah. Di dalamnya termuat banyak hadits lemah seputar masuk Islamnya Abu Thalib. Namun, tidak ada satu pun yang sahih, wa billahit taufiq. Aku telah meringkasnya dalam kitab al-Ishabah pada biografi Abu Thalib.” (Fathul Bari 7/234)
Kesepakatan Ahlus Sunnah bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan c termasuk sahabat Rasulullah n adalah sisi terpenting dalam menepis segala syubhat yang berusaha menjatuhkan sahabat yang mulia ini. Sebab, semua dalil tentang keutamaan sahabat Rasulullah n, maka Mu’awiyah z masuk ke dalamnya menurut kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Demikian pula semua dalil tentang larangan mencela sahabat Rasulullah n, maka termasuk pula di dalamnya Mu’awiyah bin Abi Sufyan z.
Sahabat Rasulullah n tanpa kecuali adalah manusia terbaik setelah para nabi dan rasul. Hal ini ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah l berfirman,
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)
Tidak diragukan bahwa ayat ini pertama kali ditujukan kepada para sahabat Rasulullah n. Allah l mengabarkan bahwa mereka adalah umat terbaik.
Di samping itu, Rasulullah n juga memberikan rekomendasi dalam sabda beliau n,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya.” (HR. al-Bukhari no. 2652 dari Abdullah bin Mas’ud z)
Kemuliaan sahabat akan terus kokoh bersama kekokohan al-Kitab, as-Sunnah, dan ijma’. Walaupun para pendengki terus berusaha merobek lembaran keutamaan itu, tetapi perjuangan sahabat bersama Nabi n akan selalu dikenang sepanjang masa. Pahala akan terus mengalir kepada mereka, generasi yang gigih memperjuangkan syariat Allah l dan membelanya. Nama mereka akan selalu harum.
Adapun pihak yang membenci mereka, demi Allah, akan tenggelam dalam kehinaan akibat kebencian mereka kepada generasi yang diridhai oleh Allah l ini.
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia,3 adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Tunas itu pun menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir….” (al-Fath: 29)

Seluruh Sahabat ‘Adil (Tepercaya) dan Dijanjikan al-Jannah
Ahlus Sunnah wal Jamaah bersepakat bahwasanya seluruh sahabat Nabi n, termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan c, adalah orang tepercaya dan mulia. Mereka adalah kaum yang diakui ‘adalah (kesalehan dan ketsiqahan)nya.
Seluruh sahabat Nabi n mendapatkan janji al-Jannah, baik yang beriman sebelum Fathu Makkah atau sesudahnya. Hal ini sebagaimana firman Allah l,
“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Dan Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka semua (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hadid: 10)
“Al-Khusna” dalam firman Allah l adalah al-Jannah (surga), sebagaimana penafsiran Mujahid bin Jabr al-Makki dan Qatadah rahimahumallah. Dengan demikian, makna ayat di atas adalah seperti apa yang diterangkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari t, “Mereka semua yang menafkahkan hartanya sebelum Fathu Makkah dan berjihad, serta yang menafkahkan hartanya sesudahnya dan berperang, Allah l menjanjikan mereka dengan al-jannah.” (Tafsir ath-Thabari)
Al-Khathib al-Baghdadi t dalam kitabnya, al-Kifayah, setelah menyebutkan dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah tentang kemuliaan seluruh sahabat dan ‘adalah mereka, beliau berkata, “Ini adalah mazhab seluruh ulama dan fuqaha yang diakui ucapannya.” (al-Kifayah, hlm. 67)
Kesepakatan ulama tentang ‘adalah sahabat—tanpa kecuali, termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan c—dinukil oleh banyak ahli ilmu. Di antara mereka adalah al-Juwaini, al-Ghazali, Ibnu ash-Shalah, an-Nawawi, Ibnu Katsir, al-‘Iraqi, Ibnu Hajar, as-Sakhawi, al-Alusi, dan lainnya.
Sisi ini sesungguhnya cukup untuk membantah seluruh syubhat yang dilontarkan terhadap beliau. Namun, karena musuh-musuh Allah l terus berusaha menyebarkan kebencian kepada sahabat Mu’awiyah z di tengah-tengah umat dengan berbagai syubhat, melalui berbagai media, maka dengan memohon pertolongan Allah l, kita akan melihat beberapa sisi kemuliaan lain dari sosok Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.

Mu’awiyah z, Tirai bagi Para Sahabat Rasulullah n
Mu’awiyah z menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ulama ahlul hadits adalah tirai yang melindungi kehormatan seluruh sahabat Nabi n. Sikap seseorang terhadap Mu’awiyah adalah barometer yang menunjukkan sikapnya terhadap para sahabat lainnya. Abu Taubah ar-Rabi’ bin Nafi’ t berkata,
مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سِتْرَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ n فَإِذَا كَشَفَ الرَّجُلُ السِّتْرَ اجْتَرَأَ عَلَى مَا وَرَاءَهُ
“Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah tirai bagi sahabat-sahabat Rasulullah n. Siapa yang berani menyingkap tirai itu, niscaya ia akan berbuat lancang terhadap yang berada di baliknya.” (Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi t dalam Tarikh Baghdad [1/209] dan Ibnu Asakir t dalam Tarikh Dimasyq [59/209])
Benarlah kata Abu Taubah. Siapa yang berani membicarakan sahabat Mu’awiyah z dengan kejelekan niscaya ia akan lancang membicarakan sahabat lainnya karena tirai telah tersingkap, sebagaimana tirai rumah yang apabila terbuka akan terlihatlah apa yang ada di baliknya.
Oleh karena itu, al-Imam Abdullah ibnul Mubarak al-Marwazi t berkata,
مُعَاوِيَةُ عِنْدَنَا مِحْنَةٌ، فَمَنْ رَأَيْنَاهُ يَنْظُرُ إِلَى مُعَاوِيَةَ شَرًّا اتَّهَمْنَاهُ عَلَى الْقَوْمِ، أَعْنِي عَلَى أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ n
“Mu’awiyah di sisi kami (Ahlus Sunnah, ahlul hadits) adalah ujian (sebagai barometer). Siapa yang kita lihat ia memandang Mu’awiyah dengan pandangan jelek, kita berprasangka bahwa orang ini juga berpandangan jelek kepada seluruh sahabat Muhammad n.” (Tarikh Dimasyq 59/209)
Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah memberikan komentar atas dua ucapan di atas ketika membantah kesesatan seorang Syiah Rafidhah, Hasan al-Maliki, “Benar perkataan Abu Taubah dan Ibnul Mubarak—semoga Allah l merahmati keduanya. Sesungguhnya ketika al-Maliki berani membicarakan Mu’awiyah dengan kejelekan, mencaci, dan mengeluarkan beliau dari barisan sahabat, ia pun lancang kepada sahabat lainnya dan mengatakan bahwa semua yang menyertai Rasulullah n sesudah perjanjian Hudaibiyah bukan sahabat. Lebih parah lagi, ia mencela kekhilafahan Abu Bakr, Umar, dan Utsman, serta meragukan kekhilafahan mereka. Tidak diragukan bahwa penyelewengan akan membuahkan berpalingnya hati, sebagaimana firman Allah l,
‘Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.’ (ash-Shaff: 5).” (al-Intishar lish Shahabatil Akhyar fi Raddi Abathil Hasan al-Maliki hlm. 99)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Seseorang tidak boleh melaknat dan mencerca salah seorang pun dari para sahabat Nabi n. Barang siapa melaknat salah seorang sahabat Nabi n, seperti Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Amr bin al-Ash, dan yang semisal keduanya, atau yang lebih afdal dari keduanya, seperti Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, dan lainnya, atau yang lebih utama dari mereka, seperti Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin al-Awwam, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, atau Aisyah Ummul Mukminin, atau sahabat-sahabat Nabi n lain g, sungguh orang ini berhak mendapatkan hukuman berat dengan kesepakatan ulama-ulama Islam. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam bentuk apa hukuman berat itu, dibunuh atau yang lebih ringan.”4

Mu’awiyah z, Penulis Wahyu
Di antara keutamaan Mu’awiyah z adalah mendapat kepercayaan dari Rasulullah n mencatat wahyu Allah l. Ini adalah sebuat amanat yang besar dan keutamaan yang sangat agung. Keutamaan tersebut dapat dilihat dalam banyak riwayat yang sahih, di antaranya riwayat al-Imam Muslim dalam Shahih-nya bab “Fadha’il Abi Sufyan bin Harb” no. 2501.
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata bahwa Mu’awiyah z adalah salah seorang penulis wahyu Rasulullah n. Tulisannya sangat indah. Ia fasih pula berbicara, lagi lembut, dan sangat berwibawa.” (al-Ishabah 9/232)
Pembaca rahimakumullah, mencela Mu’awiyah z pada hakikatnya adalah mencela Rasulullah n yang telah memercayainya menulis wahyu. Seakan-akan ia berkata, “Wahai Muhammad, mengapa engkau berikan tugas paling penting ini kepada orang yang tidak pantas dan bukan ahlinya?” Bahkan, ini adalah celaan kepada Allah l, seakan-akan ia berkata, “Mengapa Allah l membiarkan Nabi-Nya memberikan tugas menulis wahyu kepada orang yang tidak dipercaya?”
Sungguh, tidaklah Rasulullah n memberikan kepercayaan mencatat wahyu Allahlmelainkan kepada orang yang telah beliau ridhai. Tidaklah yang beliau lakukan itu melainkan berdasar wahyu Allah l.
Posisi Mu’awiyah yang sangat strategis dan sangat mulia sebagai salah seorang pencatat wahyu Allahl membuat musuh-musuh Islam semakin getol berusaha mencoreng kemuliaan Mu’awiyah. Tidak lain tujuan akhirnya adalah menanamkan keraguan terhadap al-Qur’an karena ternyata salah satu penulisnya adalah Mu’awiyah z. Abu Zur’ah ar-Razi t berkata,
إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ، وَذَلِكَ أَنَّ الرَّسُولَ عِنْدَنَا حَقٌّ وَالْقُرْآنَ حَقٌّ وَإِنَّمَا أَدَّى إِلَيْنَا هَذَا الْقَرْآنَ وَالسُّنَنَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ، وَإِنَّمَا يُرِيدُونَ أَن يَجْرَحُوا شُهُودَنَا لِيُبْطِلُوا الْكِتَابَ وَالسَّنَّةَ، وَالْجَرْحُ بِهِمْ أَوْلَى وَهُمْ زَنَادِقَةٌ
“Apabila engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah n (siapa pun sahabat itu), ketahuilah sesungguhnya dia adalah zindiq. Hal itu karena Rasulullah n adalah haq di sisi kita, demikian pula al-Qur’an adalah haq. Sementara itu, yang menyampaikan al-Qur’an dan sunnah tidak lain adalah sahabat-sahabat Rasulullah. (Sungguh) yang mereka kehendaki adalah mencela saksi-saksi kita (yakni para sahabat) demi menolak al-Qur’an dan as-Sunnah. Merekalah yang lebih pantas dicela. Mereka adalah kaum zindiq.”5

Mu’awiyah z, Kepercayaan Generasi Terbaik
Di antara keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c, beliau mendapat kepercayaan para sahabat setelah Rasulullah n memberikan kepercayaan kepadanya untuk sebuah tugas yang sangat agung, mencatat wahyu Allah l.
Di masa Abu Bakr ash-Shiddiq z, Mu’awiyah diangkat sebagai komandan perang, di hadapan para pembesar sahabat, as-sabiqunal awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar.
Pada masa Umar bin al-Khaththab z, beliau dipercaya sebagai amir (gubernur) Syam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Ketika Yazid bin Abi Sufyan meninggal di masa kekhilafahan Umar, beliau (Umar) mengangkat saudaranya—Mu’awiyah bin Abi Sufyan—(sebagai amir). Sesungguhnya Umar bin al-Khaththab termasuk manusia yang paling kuat firasatnya, paling mengerti keadaan manusia, dan paling teguh berpegang kepada al-haq.”6
Demikian pula di masa Utsman bin Affan z, beliau memberikan kepercayaan kepada Mu’awiyah z menjadi amir (gubernur) wilayah Syam.
Al-Qadhi Abu Bakr ibnul ‘Arabi )wafat 543 H( berkata, “… Cobalah Anda semua perhatikan rangkaian ini. Alangkah kuatnya ikatan beliau. Tidak ada seorang pun yang dikaruniai anugerah seperti ini setelah mereka.” (al-‘Awashim min al-Qawasim, hlm. 81)
Genap empat puluh tahun Mu’awiyah memimpin dan mendapatkan kepercayaan generasi terbaik. Dua puluh tahun sebagai gubernur di Syam dan dua puluh tahun memegang kekhilafahan. Pada masa kekhilafahan beliau, tidak ada sedikit pun masalah yang berarti. Hal ini menunjukkan keutamaan beliau dan kearifan beliau dalam memimpin kaum muslimin.

Mu’awiyah z, Mujahid dan Tokoh Besar Futuhat Islamiyah (Perluasan Wilayah Islam)
Ini adalah keutamaan lain dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan z yang lembut, namun tegas dan kokoh dalam memegang al-haq. Tidak ada yang melupakan atau mengingkari keutamaan ini selain orang yang jahil, tidak mengerti tarikh Islam, atau hatinya telah dipenuhi kedengkian kepada sahabat Rasulullah n.
Wilayah Islam sepeninggal al-Khulafa ar-Rasyidin sangat luas, sementara itu rongrongan musuh-musuh Allah l sangat kuat, baik dari dalam maupun dari luar. Kita tidak bisa melupakan fitnah besar yang berakibat syahidnya Utsman bin Affan z dan Ali bin Abi Thalib z. Bermunculan pula pada masa itu firqah-firqah sesat, seperti Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, dan lainnya.
Tugas besar menanti di hadapan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.
1. Beliau harus menstabilkan kondisi daulah yang diliputi oleh fitnah;
2. Beliau harus mempertahankan wilayah Islam dari rongrongan musuh;
3. Melanjutkan risalah jihad, menyebarkan dan mendakwahkan Islam, memperluas wilayah Islam, mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid.
Semua itu—walhamdulillah— beliau tunaikan dengan baik. Fitnah-fitnah teredam, rongrongan musuh Islam dihentikan. Wilayah Islam pun meluas bersamaan dengan meluasnya dakwah tauhid.
Sebagai seorang ahli strategi, Mu’awiyah bin Abi Sufyan c segera merapikan pasukan perang. Beliau membagi pasukan menjadi dua. Pasukan yang berperang di musim dingin dan pasukan yang berperang di musim panas. Dengan demikian, perluasan wilayah pun berlanjut dan berkesinambungan.
Negeri Persia berusaha melepaskan dirinya dari jizyah yang harus mereka bayar. Mereka mulai membuat fitnah pada masa pemerintahan Mu’awiyah z dalam rangka memerangi hukum Islam. Pasukan Mu’awiyah z pun harus menghadapi ancaman ini dan memadamkannya. Perjalanan perjuangan perluasan negeri dilanjutkan ke arah timur. Sungai Jaihan (=Amu Darya, salah satu sungai terpanjang di Asia Tengah) diseberangi sehingga terbukalah wilayah Bukhara, Samarkand, dan Turmudz.
Pada waktu yang bersamaan, kerajaan Romawi juga melakukan rangkaian penyerangan untuk mempersempit wilayah Islam dengan cara menyerang wilayah barat laut. Oleh karena itu, Mu’awiyah z mempersiapkan armada laut yang berkekuatan 1.700 kapal. Angkatan laut yang besar ini, dengan izin Allah l, berhasil menaklukkan wilayah Siprus, Rhodes (salah satu pulau di Yunani), dan kepulauan lainnya yang masuk dalam wilayah kekaisaran Romawi.
Pembaca, sejenak kita melihat ke belakang dan membuka lembaran sejarah pembentukan pasukan laut. Dahulu, tidak pernah terbayang bahwa para sahabat akan berperang di tengah lautan. Namun, sabda Rasulullah n menyingkap tirai gaib bahwa umat ini akan berperang di atas lautan.
Jasa Mu’awiyah bin Abi Sufyan c dalam pembentukan angkatan laut tidak bisa dilupakan dalam tarikh Islam. Pembentukan angkatan laut pertama terwujud di zaman Utsman bin Affan z. Saat itu, Mu’awiyah menjabat gubernur Syam dan diberi kepercayaan penuh memimpin armada laut. Bahkan, Utsman bin Affan z memerintah Mu’awiyah untuk membawa serta istrinya—Fakhitah bintu Qaradzah—berperang di atas laut untuk membuktikan keberanian, kesiapan, dan tanggung jawab Mu’awiyah membawa pasukan kaum muslimin.
Keutamaan Mu’awiyah z ini tampak dalam hadits Rasulullah n ketika menyebutkan umatnya akan berperang di laut. Anas bin Malik z berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللهِ n كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أُمِّ حَرَامٍ بِنْتِ مِلْحَانَ فَتُطْعِمُهُ وَكَانَتْ أُمُّ حَرَامٍ تَحْتَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، فَدَخَلَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللهِ n يَوْمًا فَأَطْعَمَتْهُ ثُمَّ جَلَسَتْ تَفْلِي رَأْسَهُ فَنَامَ رَسُولُ اللهِ n ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: مَا يُضْحِكُكَ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللهِ يَرْكَبُونَ ثَبَجَ هَذَا الْبَحْرِ، مُلُوكًا عَلَى الْأَسِرَّةِ –أَوْ: مِثْلَ الْمُلُوكِ عَلَى الْأَسِرَّةِ؛ يَشُكُّ أَيَّهُمَا قَالَ- قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فَدَعَا لَهَا ثُمَّ وَضَعَ رَأْسَهُ فَنَامَ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: مَا يُضْحِكُكَ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللهِ-كَمَا قَالَ فِي الْأُولَى-قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ: أَنْتِ مِنَ الْأَوَّلِينَ. فَرَكِبَتْ أُمُّ حَرَامٍ بِنْتُ مِلْحَانَ الْبَحْرَ فِي زَمَنِ مُعَاوِيَةَ فَصُرِعَتْ عَنْ دَابَّتِهَا حِينَ خَرَجَتْ مِنَ الْبَحْرِ فَهَلَكَتْ
Rasulullah n pernah menemui Ummu Haram binti Milhan7, lalu beliau disuguhi makanan olehnya. Saat itu, Ummu Haram adalah istri Ubadah bin ash-Shamit z. Suatu hari, Rasulullah datang menemuinya lalu disuguhi makanan, kemudian wanita itu duduk sambil mencari kutu dari kepala beliau hingga tertidurlah Rasulullah n. Tiba-tiba beliau terbangun dan tersenyum.
Ummu Haram bertanya, “Apakah yang membuat engkau tersenyum, wahai Rasulullah?”
Rasulullah n menjawab, “Beberapa orang dari umatku diperlihatkan kepadaku sedang berperang di jalan Allah l dengan menaiki kapal di tengah lautan, raja-raja yang duduk di atas dipan-dipan—atau seperti raja-raja yang duduk di atas dipan-dipan.”—Perawi ragu antara keduanya.
Ummu Haram berkata, “Wahai Rasulullah, mohonkan kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.”
Lalu beliau mendoakannya dan segera meletakkan kepalanya lagi lalu tertidur kembali. Ketika terbangun, beliau tersenyum lagi.
Ummu Haram berkata, “Aku bertanya lagi, ‘Apakah yang membuat engkau tersenyum, wahai Rasulullah?’
Rasulullah n menjawab, ‘Beberapa orang dari umatku diperlihatkan kepadaku mereka sedang berperang di jalan Allah (dst, seperti yang beliau sabdakan sebelumnya).’
Ummu Haram berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka’.”
Rasulullah n bersabda, “Engkau termasuk orang-orang yang pertama.”
Kemudian berlayarlah Ummu Haram pada masa Mu’awiyah. Namun, ketika hendak keluar dari kapal, ia terjatuh dari hewan tunggangannya sehingga wafat. (Shahih Muslim no. 3535)
Al-Bukhari meriwatkan dalam Shahih-nya (6/102 no. 2924 bersama dengan Fathul Bari) dari Ummu Haram al-Anshariyah x, ia mendengar Rasulullah n bersabda,
أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ الْبَحْرَ قَدْ أَوْجَبُوا. قَالَتْ أُمَّ حَرَامٍ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَا فِيْهِمْ؟ قاَلَ: أَنْتِ فِيهِمْ. ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ n: أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ مَدِينَةَ قَيْصَرَ مَغْفُورٌ لَهُمْ. فَقُلْتُ: أَنَا فِيْهِمْ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: لاَ.
Pasukan perang pertama dari umatku yang berperang di atas lautan, sungguh telah wajib atas mereka (yakni mereka melakukan amalan besar yang mengantarkan kepada al-Jannah).
Ummu Haram berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku bersama dengan mereka (pasukan pertama yang berperang di atas laut)?”
Rasulullah bersabda, “Engkau termasuk mereka.” Beliau bersabda kembali, “Pasukan perang pertama umatku yang memerangi kota Kaisar (yakni Konstantinopel), mereka diampuni dosanya.”
Aku berkata, “Apakah aku bersama mereka, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Tidak.”
Muhallab bin Abi Shufrah t (wafat 435 H) berkata, “Hadits ini mengandung dalil tentang keutamaan Mu’awiyah karena beliaulah orang pertama yang berperang di atas laut. Di samping itu, hadits ini juga menunjukkan keutamaan putranya, Yazid, karena dialah yang pertama kali memerangi kota Kaisar.” (Dinukilkan oleh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari)
Az-Zubair bin Abu Bakr t berkata, “Mu’awiyah membelah lautan, berperang bersama kaum muslimin di zaman kekhilafahan Utsman menuju Siprus. Ummu Haram, istri Ubadah, ikut dalam perang tersebut. Ketika Ummu Haram mengendarai bagalnya keluar dari kapal, ia terjatuh dan meninggal—seperti kabar Rasulullah n. Ibnul Kalbi t berkata, ‘Perang yang dipimpin oleh Mu’awiyah tersebut terjadi pada tahun 28 H’.” (Ibnu Baththal 5/9)
Di zaman pemerintahan Mu’awiyah, angkatan laut diperbesar sehingga semakin kokohlah kekuatan muslimin dan semakin tangguh mempertahankan wilayah dan usaha futuhat, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Menceritakan tarikh perjuangan beliau membutuhkan lembaran yang banyak untuk menunaikan haknya. Namun, yang sedikit ini semoga mengingatkan hati yang lalai akan jasa generasi sahabat g secara umum, dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c secara khusus.
Wahai kaum muslimin, tidakkah kita menimbang betapa buruknya mulut-mulut pendusta yang mencerca sahabat Mu’awiyah z? Apa jasa mereka terhadap Islam? Demi Allah, andil mereka hanyalah ucapan-ucapan kotor yang membantu Iblis dan balatentaranya untuk meruntuhkan Islam. Para pencela Mu’awiyah sesungguhnya adalah kaki tangan Iblis.
Lihatlah, wahai kaum muslimin, betapa besar jasa Mu’awiyah z. Lihat pula perjuangannya memimpin kaum muslimin puluhan tahun, memadamkan api-api fitnah, mempertahankan wilayah Islam, dan menegakkan jihad mengajak manusia memeluk agama Allah l. Keamanan pun terwujud, darah-darah kaum muslimin terjaga, ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah tersebar. Namun, hanya manusia berakal sajalah yang bisa menimbang, sedangkan manusia semacam Rafidhah, hati mereka memang sudah dipenuhi kebencian kepada seluruh sahabat, istri-istri Rasulullah n, dan agama Islam yang mulia. Allahul musta’an.

Mu’awiyah, Periwayat Hadits-Hadits Rasulullah n
Di tengah kesibukan memimpin daulah, Mu’awiyah z tidak lupa menunaikan tugas menyampaikan ilmu, meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah n. Beliau pun memperoleh keutamaan doa Rasulullah n dalam sebuah hadits mutawatir,
نَضَّرَ اللهُ عَبْدَا سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا فَبَلَغَهَا مَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا
“Semoga Allah memberikan cahaya kepada seorang hamba yang mendengar ucapanku kemudian ia memahami dan menghafalnya, lalu ia sampaikan kepada orang yang belum mendengarnya.”
Tidak ada kitab-kitab hadits melainkan kita dapatkan sebagian besar kitab tersebut memuat hadits-hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Di antara hadits-hadits yang beliau riwayatkan disepakati kesahihannya oleh al-Bukhari dan Muslim.8
Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah berkata, “Hadits-hadits Mu’awiyah z ada dalam Shahihain dan selainnya. Al-Khazraji dalam al-Khulashah berkata, ‘Mu’awiyah z dalam Kutub as-Sittah memiliki 130 hadits, empat di antaranya disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim. Al-Bukhari meriwayatkan empat hadits dari Mu’awiyah secara tersendiri, sedangkan Muslim lima hadits.’ Dalam Musnad al-Imam Ahmad, hadits yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah mencapai seratus sebelas hadits, mulai no. 16828 hingga no. 16938 (dan satu hadits tambahan riwayat Abdullah bin al-Imam Ahmad, yakni no. 16939, -pen.).” (al-Intishar lish Shahabatil Akhyar hlm. 99)
Di antara hadits yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah adalah sabda Rasulullah n,
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan atasnya, Allah akan memahamkan dia dalam hal agama.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Beliau juga meriwayatkan hadits,
أَلَا، إِنَّ رَسُولَ اللهِ n قَامَ فِينَا فَقَالَ: أَلَا، إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً ، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ، ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
“Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah n pernah berdiri di hadapan kita dan bersabda, ‘Ketahuilah sungguh kaum sebelum kalian dari ahlul kitab berpecah menjadi 72 golongan. Sungguh, umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Tujuh puluh dua golongan dalam neraka dan satu berada di jannah. Mereka (yang satu) adalah al-Jamaah’.” (HR. Abu Dawud no. 3981)
Hadits-hadits Mu’awiyah diriwayatkan oleh banyak sahabat dan tabi’in. Semua ini tentu menunjukkan keutamaan beliau dari sisi periwayatan hadits.
Banyak sahabat mengambil hadits dari Mu’awiyah z, di antaranya Usaid bin Zhuhair, Malik bin Yakhamir, Mu’awiyah bin Hudaij, an-Nu’man bin Basyir, Wail bin Hujr, Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, Abu ad-Darda’, Abu Dzar al-Ghifari, Abu Sa’id al-Khudri, dan Abul Ghadiyah al-Asy’ari, semoga Allah l meridhai mereka semua.
Adapun tabi’in yang menjadi murid beliau adalah Ibrahim bin Abdullah bin Qarizh, Ishaq bin Yasar, Aslam maula Umar, Aifa’ bin Abdin al-Kala’i, Iyas bin Abi Ramlah asy-Syami, Ayyub bin Abdillah bin Yasar, Ayyub bin Maisarah bin Halbas, Bisyr Abu Qais al-Qanasrini, Tsabit bin Sa’d ath-Tha’i, Abu Sya’tsa’ Jabir bin Zaid al-Bashri, Jubair bin Nufair al-Hadhrami, al-Hasan al-Bashri, Hakim bin Jabir, Humran bin Aban maula ‘Utsman bin ‘Affan, Humaid bin Abdurrahman bin ‘Auf, Hanzhalah bin Khuwailid, Abu Qabil Huyai bin Hani’, Khalid bin ‘Abdilah bin Rabah, dan sekumpulan lain yang cukup banyak jumlahnya.
Dari sini, kita juga mengerti maksud buruk yang terselip di balik celaan munafik kepada sahabat pada umumnya dan perawi hadits secara khusus, seperti Abu Hurairah dan Mu’awiyah, yaitu untuk menjatuhkan hadits-hadits Rasulullah n sebagai sumber hukum dan sendi-sendi Islam.

Beberapa Riwayat Marfu’ dan Mauquf Tentang Keutamaan Mu’awiyah
Diriwayatkan dengan sanad yang sahih, Nabi n bersabda kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan z,
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا وَاهْدِ بِهِ
“Ya Allah, jadikanlah Mu’awiyah sebagai orang yang memberi petunjuk dan mendapat hidayah serta jadikanlah manusia mendapat hidayah melalui dirinya.” (HR. at-Tirmidzi, 5/687, beliau berkata tentang hadits ini, “Hadits hasan gharib.”)
Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (4/615). Beliau berkata, “Para perawinya seluruhnya tsiqat (tepercaya) yang termasuk perawi Shahih Muslim. Selayaknya at-Tirmidzi menyatakannya sahih (tidak cukup hanya menyatakan hasan, -pen.).”
Diriwayatkan pula, Rasulullah n mendoakan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c:
اللَّهُمَّ عَلِّمْ مُعَاوِيَةَ الْكِتَابَ وَالْحِسَابَ وَقِهِ الْعَذَابَ
“Ya Allah, ajarilah Mu’awiyah al-Kitab, berhitung, dan lindungilah ia dari azab.” (HR. Ahmad no. 4/127 dan no. 28/383, no. 1752, cetakan ar-Risalah, al-Bazzar [no. 977, Kasyful Asytar], Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban, dari Irbadh bin Sariyah z. Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 3327)
Riwayat lain mengenai keutamaan Mu’awiyah adalah hadits dari Ummu Haram z, Rasulullah n bersabda,
أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ الْبَحْرَ قَدْ أَوْجَبُوا. قَالَتْ أُمُّ حَرَامٍ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَا فِيهِمْ؟ قَالَ: أَنْتِ فِيهِمْ
“Pasukan pertama yang berperang di atas lautan, sungguh telah wajib atas mereka (yakni mereka melakukan amalan yang memasukkan mereka ke dalam al-Jannah).” Ummu Haram berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku termasuk mereka?” Kata Rasul n, “Ya, kamu termasuk….” (HR. al-Bukhari no. 2707, Ma Qila Fi Qitali ar-Rum)
Al-Muhallab t berkata, “Hadits ini menunjukkan keutamaan Mu’awiyah z karena beliaulah yang pertama kali memerangi Romawi (di atas lautan).” (Syarah Ibnu Baththal 5/107)
Adalah Ali bin Abi Thalib z sekembalinya beliau dari Shiffin berkata,
أَيُّهَا النَّاسُ، لاَ تَكْرَهُوا إِمَارَةَ مُعَاوِيَةَ، فَإِنَّكُمْ لَوْ فَقَدْتُمُوهُ رَأَيْتُمُ الرُّؤُوسَ تَنْدُرُ عَنْ كَوَاهِلِهَا كَأَنَّهَا الْحَنْظَلُ.
“Wahai manusia, jangan sekali-kali kalian membenci kepemimpinan Mu’awiyah. Sungguh, jika kalian kehilangan Mu’awiyah niscaya kalian akan melihat kepala-kepala manusia berguguran dari badan-badan mereka seperti buah hanzhal.” (al-Bidayah wan Nihayah 8/125)
Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas c, putra paman Rasulullah n dan ulama umat ini, “Wahai Ibnu Abbas, adakah engkau (berkomentar) tentang Amirul Mukminin Mu’awiyah, karena ia tidaklah melakukan witir melainkan hanya satu rakaat?”
Ibnu Abbas c berkata,
دَعْهُ، فَإِنَّهُ قَدْ صَحِبَ رَسُولَ اللهِ n قَالَ: أَصَابَ إِنَّهُ فَقِيهٌ
“Tinggalkan (komentarmu kepada) Mu’awiyah, sungguh ia seorang (sahabat) yang telah menyertai Rasulullah n.” Kemudian berkata, “Mu’awiyah benar, ia seorang yang faqih.” (“Kitab Fadha’il Shahabah”, bab “Penyebutan Mu’awiyah z”, Fathul Bari [7/103] no. 3765)

Atsar Salaf dan Ulama tentang Keutamaan Mu’awiyah
Mujahid bin Jabr al-Makki t, salah seorang ulama tabi’in dan tokoh tafsir berkata,
لَوْ رَأَيْتُمْ مُعَاوِيَةَ لَقُلْتُمْ: هَذَا الْمَهْدِيُّ.
“Seandainya kalian melihat Mu’awiyah niscaya kalian akan berkata, ‘Dia adalah al-Mahdi’.” (Diriwayatkan oleh al-Khallal t dalam as-Sunnah [1/438] dan disebutkan oleh Ibnu Katsir t dalam al-Bidayah wan Nihayah [8/137])
Al-Khathib al-Baghdadi t meriwayatkan dalam Tarikh-nya dari Rabah bin al-Jarrah al-Maushili, ia berkata, “Aku mendengar seorang bertanya kepada al-Mu’afa bin ‘Imran, ‘Wahai Abu Mas’ud, bagaimana perbandingan Umar bin Abdul ‘Aziz dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan?’
Marahlah al-Mu’afa seraya berkata, ‘Tidak seorang pun boleh dikiaskan dengan sahabat Rasulullah n. Mu’awiyah seorang sahabat, beliau juga ipar Rasulullah n, sekretaris dan kepercayaan Rasul atas wahyu yang diturunkan oleh Allah l kepada beliau. Sungguh Rasulullah n telah bersabda, -Biarkan sahabat-sahabatku dan kerabatku (jangan kalian cela mereka). Siapa mencaci mereka, ia mendapatkan laknat Allah l, para malaikat, dan manusia-’.” (Tarikh Baghdad 1/209, asy-Syariah, al-Ajurri t 5/167, Syarh Ushul I’tiqad, al-Lalikai t. Sanad hadits ini sahih sampai kepada al-Mu’afa t)
Ketika al-Mu’afa ditanya, “Mu’awiyah yang lebih mulia atau Umar bin Abdul ‘Aziz?”
Al-Mu’afa berkata, “Sungguh Mu’awiyah lebih mulia enam ratus kali daripada Umar bin Abdul ‘Aziz.” (as-Sunnah, al-Khallal, 1/437)
Di masa Daulah Abbasiyah, sebagian manusia menjadikan pemerintahan Umar bin Abdul ‘Aziz t sebagai permisalan yang paling tinggi dalam hal keadilan. Kepada mereka, al-Imam Sulaiman bin Mihran al-A’masy t berkata, “(Jika kalian kagum dengan keadilan Umar bin Abdul ‘Aziz –pen.), lantas bagaimana jika kalian berjumpa dengan Mu’awiyah (tentu kalian lebih kagum)?” Mereka berkata, “Apakah dari sisi kelembutannya?” Al-A’masy berkata, “Bukan hanya itu, demi Allah, bahkan dalam hal keadilannya.” (Diriwayatkan oleh al-Khallal dalam as-Sunnah [1/437] dan Minhajus Sunnah [3/185])
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Jika masa kepemimpinan Mu’awiyah dibandingkan dengan masa sesudahnya, tidak ada dalam sejarah penguasa Islam yang lebih baik dari Mu’awiyah z. Tidak pula ada masyarakat dalam sejarah kerajaan Islam, yang lebih baik daripada masyarakat di zaman Mu’awiyah….” (Minhajus Sunnah 3/185)
Keutamaan Mu’awiyah adalah kesepakatan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ibnu Taimiyah t berkata, “Para ulama bersepakat bahwa Mu’awiyah adalah raja (penguasa) yang paling mulia dari umat ini, karena empat sahabat sebelumnya adalah khilafah nubuwah. Adapun beliau adalah raja pertama. Adalah pemerintahan beliau kerajaan dan rahmat.” (Majmu’ Fatawa 4/478)
Al-Hafizh Ibnu Katsir asy-Syafi’i t berkata, “Masyarakat ketika itu (termasuk di antaranya para sahabat, demikian pula tabi’in –pen.) seluruhnya bersatu atas bai’at kepada Mu’awiyah pada tahun 41 H…. Pemerintahan beliau terus berlangsung hingga tahun wafatnya. Selama itu pula, jihad ke negeri musuh ditegakkan, kalimat Allah l ditinggikan, harta rampasan perang terus mengalir kepada baitul mal, dan kaum muslimin bersama beliau berada dalam kelapangan dan keadilan. (al-Bidayah wan Nihayah 8/122)
Atsar dari salaf dan ucapan para ulama tentang kemuliaan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan c sangatlah banyak. Kiranya cukup atsar di atas sebagai isyarat bagi orang yang memiliki hati yang bersih dan akal sehat untuk segera memuliakan seluruh sahabat tanpa kecuali, termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan z.

Tulisan-Tulisan Pembelaan terhadap Mu’awiyah
Pembelaan para ulama terhadap kemuliaan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan c juga menunjukkan keutamaan beliau. Sangat banyak ulama Ahlus Sunnah yang menulis baik secara umum maupun khusus untuk membela kemuliaan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Di antara tulisan yang bersifat umum adalah al-Bidayah an-Nihayah karya Ibnu Katsir t, al-‘Awashim minal Qawashim karya Abu Bakr Ibnul Arabi t, dan Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t.
Adapun tulisan-tulisan yang secara khusus ditulis untuk membersihkan nama baik Mu’awiyah z dan membela kehormatan beliau, di antaranya:
1. Akhbar Mu’awiyah dan Hikamu Mu’awiyah, ditulis oleh Ibnu Abid Dunya t (wafat 281 H)
2. Juz fi Fadha’il Mu’awiyah, karya Muhammad as-Saqathi t (wafat 604 H)
3. Tanzih Khal al-Mukminin dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan karya Abu Ya’la al-Hanbali t (wafat 458 H)
4. Syarhu ‘Aqdi Ahlil Iman fi Mu’awiyah bin Abi Sufyan karya Abu Ya’la al-Ahwazi t (wafat 446 H)
5. Su’al fi Mu’awiyah bin Abi Sufyan karya Ibnu Taimiyah t (wafat 728 H)
6. Tathhirul Jinan wal Lisan karya Ibnu Hajar al-Haitami t (wafat 973 H), dll.
Semoga Allah l memberi taufik kepada kita untuk mencintai seluruh sahabat Rasulullah n, senantiasa mendoakan mereka, serta diselamatkan dari kedengkian dan hasad, sebagaimana firman Allah l,
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 10)

Catatan Kaki:

1 Mu’awiyah bin Abi Sufyan z meninggal di bulan Rajab tahun 60 H dalam usia mendekati delapan puluh tahun, setelah dua puluh tahun menjadi Amirul Mukminin dengan penuh keadilan, kearifan, dan kelembutan.

2 Inilah definisi sahabat, sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya al-Ishabah (1/7—8).

3 Yakni para sahabat.

4 Dinukil oleh asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dalam tulisan beliau Min Aqwalil Munshifin fish Shahabi al-Khalifah Mu’awiyah hlm. 21.

5 Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam al-Kifayah (hlm. 98) dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq (38/32).
6 Makna ucapan ini, apabila Mu’awiyah z bukan orang yang mulia dan disepakati kemuliaannya, tidak mungkin seorang seperti Umar bin al-Khaththab z akan memberikan kepercayaan kepadanya.

7 Ibnul Jauzi menukil dari Yahya bin Ibrahim, Rasulullah n membolehkan Ummu Haram mencari kutu di kepala beliau n karena dia masih memiliki hubungan mahram dari arah bibi-bibi beliau n. Karena, ibu Abdul Muththalib (kakek Nabi n) berasal dari Bani Najjar (kabilah orang-orang Anshar). Ini adalah salah satu jawaban terhadap masalah yang mungkin dianggap janggal ini. Di samping itu, masih ada beberapa jawaban lain dari para ulama, hanya saja perlu dikaji lebih lanjut. (lihat Kasyful Musykil min Hadits ash-Shahihain, -red.)

8 Telah dimaklumi, umat bersepakat bahwa Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim adalah kitab paling sahih di muka bumi setelah al-Qur’an. Artinya, Mu’awiyah z disepakati oleh umat sebagai sahabat yang tepercaya penukilannya dari Rasulullah n karena hadits-hadits beliau diriwayatkan dalam Shahihain.

http://asysyariah.com/keutamaan-muawiyah.html