Kolom Ummi

MEMAKNAI MUSIBAH

         Kupandangi sosok mungil yang berbaring lemah di depanku. Matanya yang cekung menatapku sayu. Dipergelangan tangan kirinya tertancap jarum infus yang mengalirkan cairan dari plabot infus yang tergantung di atas. Ini adalah malam rawatan pertama anakku yang baru berusia 20 bulan di rumah sakit.Setelah tadi pagi dokter yang memeriksa anakku di UGD menyatakan bahwa anakku harus di opname.

 

        “Untuk mengantisipasi adanya dehidrasi,sebaiknya anak ibu di rawat dulu….”

Aku hanya mengangguk pelan.Keadaan anakku memang makin mengkhwatirkan,sejak 3 hari yang lalu.Qodarullah ……ia munth-muntah dan buang air tidak berhenti. Obat dan makanan yang masuk juga keluar kembali bersama dengan muntahnya. Wajar saja kini berat badannya turun drastis.

 

        “Sabar ………,setiap manusia itu ada ujiannya …,insya alloh nggak papa…,”

kakak iparku berbisik pelan.Yaa…. sabar memang kata – kata yang sering kita dengar . Kata sabarpun berkaitan erat dengan musibah.Apabila kita ditimpa musibah,maka harus bersabar,mengembalikan semuanya kepada alloh dan senantiasa ihtisab (mengaharap pahala) dalam setiap musibah yang kita alami. Allohpun berfirman dalam surat al- baqarah ayat 155 – 156, “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan,kelaparan,kekurangan harta, jiwa dan buah -buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang – orang yang sabar (yaitu.)orang-orang yang apabila ditimpa musibah ,mereka mengucapkan “Innalillahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (sesunguhnya kami berasal dari alloh dan hanya kembali kepada alloh)

 

     SMS dan jengukan sanak kerabatpun berdatangan, menyirami hatiku yang kerdil untuk tetap tegar.”Bersabar ya…dulu anakku juga pernah dirawat, malah sampai koma,tapi alhamdulillah sembuh .La  Ba”sa thohuurun insya alloh…’

 

     SMS dari teman suamiku yang kubaca membuat hatiku terperangah, Suubhanallah Walhamdulillah.ternyata anakknya dulu keadaannya lebih buruk darianaaku. Toh anakku cuma mengalmi muntahber yang memang sedang mewabah, dan lagi masih dalam keadaan sadar. Akhirnya musibah itu terasa menjadi nikmat.

 

        Rasa syukur tiba tiba terlintas,bahwa masih banyak yang lebih parah keadaannya dari anakku,yang hati ibunya lebih teriris dan sedih melihatkondisi buah hatinya.

Sekali lagi dalam renunganku di keheningan rumah sakit ini, kupandangi anakku….Kuucapkan syukur dan tasbih tiada henti.

 

        Semoga musibah ini menjadikanku lebih mengerti akan hikmah yang yang tersimpan di dalamnya.

Allahummaj’alni minas shabiriin. Amiin.

(Umminya shafiyya) 

Nikah, Vol. 5 No.6 September 2006

Iklan