Logika : Kenapa dalam Islam wanita tidak boleh berjabat tangan dengan laki2?

Lelaki inggris bertanya: “Kenapa dalam Islam wanita tidak boleh berjabat tangan dengan laki2?”

Lelaki muslim menjawab: “Bisakah kamu berjabat tangan dengan ratu elizabeth?

Lelaki inggris menjawab: “oh tentu tidak bisa! cuma orang2 tertentu saja yang bisa berjabat tangan dengan ratu.”

Lelaki muslim tersenyum & berkata:” Wanita2 dari golongan kami(Kaum muslimin) adalah para ratu, & ratu tidak boleh berjabat tangan dengan pria sembarangan (yg bukan mahramnya”)

Lalu Lelaki inggris bertanya lagi, “Kenapa perempuan Islam menutupi tubuh dan rambut mereka?”

Lelaki muslim tersenyum dan menunjukkan 2 buah permen, ia membuka bungkus permen yg pertama dan membiarkan permen yg kedua tertutup bungkusnya, tiba2 dia melemparkan permen2 itu ke lantai yang sangat kotor.

Lelaki muslim bertanya: ” Jika saya meminta anda untuk mengambil satu permen,maka permen mana yg akan anda pilih?”

Lekaki inggris spontan menjawab: “Tentu saja yang masih tertutup dengan bungkusnya karena isinya tetap bersih dan tidak kotor..”

Dan Lelaki muslim berkata: ” Begitulah cara kami orang muslim memperlakukan dan melihat perempuan dari golongan kami”
(Faedah dari ceramah syaikh Muhammad Abdul Latif hafidzahullah)
via Hizbul Majid

Iklan

Dunia itu seluruhnya sedikit

Ibnus Sammak -rohimahulloh-:

Dunia itu seluruhnya sedikit… Yang masih tersisa darinya juga sedikit… Yang menjadi milikmu dari yang tersisa itu juga sedikit… Yang tersisa dari yang menjadi milikmu yang sedikit itu juga sedikit… Dan sekarang kamu telah berada di negeri tempat bersabar… sedang besok kamu akan menuju ke negeri tempat menerima balasan… maka belilah dirimu, agar kamu selamat.

[Kitab: Siyaru A’lamin Nubala’ 8/330]
————————————————
.
الدنيا كلها قليل، والذي بقي منها قليل، والذي لك من الباقي قليل، ولم يبق من قليلك إلا قليل، وقد أصبحت في دار العزاء، وغدا تصير إلى دار الجزاء، فاشتر نفسك، لعلك تنجو

Ust. Ustadz Abu Abdillah Addariny
https://www.facebook.com/addariny.abuabdillah/posts/521116918003230?stream_ref=1

Biografi Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr

Bismillah, washshalaatu wassalaamu ‘alaa rasulillah.

Sejak dulu hingga sekarang Allah selalu mengutus dan membangkitkan manusia-manusia pilihan yang akan menyebarkan agama-Nya. Mulai dari Nabi Adam dan seluruh nabi, sampai para ulama rabbani. Untuk itu, pada kesempatan kali ini, kami menyajikan biografi salah satu dari mereka, para ulama rabbani yang hidup pada zaman ini. Beliau adalah Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Badr.

Nama dan nasab beliau

Beliau bernama ‘Abdul Muhsin bin Hamd bin ‘Abdil Muhsin bin ‘Abdillah bin Hamd bin ‘Utsman keluarga Badr, sedangkan keluarga Badr berasal dari keluarga Jalaas dari suku ‘Anazah, salah satu suku ‘Adnan.

Sementara ibu beliau adalah keponakan paman bapak beliau, yaitu Sulaiman bin ‘Abdillah bin Hamd bin ‘Utsman keluarga Badr.

Kakek kedua beliau yang bernama ‘Abdullah diberi julukan ‘Abbaad. Dan julukan tersebut juga disandarkan kepada sebagian anak keturunan beliau.

Kelahiran beliau

Beliau dilahirkan usai sholat ‘Isya malam Ahad, yang bertepatan dengan tanggal 3 Ramadhan 1353 H di sebuah kota bernama Zulfa, yang terletak di sebelah utara kota Riyadh.

Perjalanan beliau dalam menuntut ilmu dan mengajar

Beliau mengawali riwayat pendidikannya dengan belajar baca tulis di sebuah ‘kuttab’ (semacam TPA kalau di Indonesia) bersama para guru yang mulia.

Selesai mengenyam pendidikan di kuttab, beliau melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Ibtidaiyah di Zulfa pada tahun 1368 H dan lulus pada tahun 1371 H. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikannya ke Ma’had Ar-Riyaadh Al-‘Ilmi, kemudian ke Kuliah Syari’ah di Riyadh.

Pada tahun terakhir kuliahnya, beliau ditunjuk sebagai pengajar di Ma’had Buraidah Al-‘Ilmi, yaitu pada tanggal 13 Jumadal Ula 1379 H, dan kembali ke Riyadh saat ujian akhir di Kuliah Syari’ah Riyadh.

Pada tahun 1380 H, beliau ditunjuk kembali sebagai pengajar. Namun, kali ini di Ma’had Ar-Riyaadh Al-‘Ilmi.

Ketika Universitas Islam Madinah didirikan, beliau dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh sebagai pengajar di sana. Dan fakultas pertama yang dibuka di Universitas tersebut adalah Fakultas Syari’ah yang mengawali proses perkuliahannya pada hari Ahad, 2 Jumaada Tsani 1381 H. Sedangkan syaikh adalah orang yang pertama menyampaikan pelajaran pada hari itu, dan masih terus berlanjut sampai saat ini.

Pada tanggal 30 Rajab 1381 H, beliau ditunjuk sebagai Wakil Rektor Universitas Islam Madinah, atas pilihan Raja Faishol untuk menduduki posisi ini. Dalam pemilihan tersebut, beliau termasuk salah satu dari tiga orang yang dicalonkan oleh Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku Rektor Universitas saat itu.

Selama dua tahun, beliau menjabat sebagai Wakil Rektor di Universitas Islam Madinah. Selanjutnya, setelah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz diangkat sebagai Ketua di Pusat Penelitian Ilmiah dan Pemberian Fatwa, beliau diangkat menjadi Rektor di Universitas. Beliau tetap menduduki posisi ini hingga 26 Syawwal 1399 H setelah sebelumnya beliau terus mendesak untuk mengundurkan diri.

Selama enam tahun ini, beliau tidak pernah kosong dari penyampaian dua pelajaran per pekan pada Fakultas Syari’ah tahun keempat.

Beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi pada bulan Muharram 1406 H setelah sebelumnya beliau rutin menyampaikan pelajaran di sana pada musim haji sebagai pembekalan bagi jama’ah haji. Terhitung sampai musim panas tahun 1428 H, beliau telah sempurna menyampaikan syarah/penjelasan kitab Shahih BukhariShahih MuslimSunan Abi DaudSunan An-Nasaa’i, serta ¾ kitab Jami’ at-Tirmidzi. Adapun kajian beliau diadakan antara sholat Maghrib dan Isya pada 6 malam dalam seminggu, dengan istirahat selama musim liburan tiba.

Semangat beliau dalam menuntut ilmu

Beliau termasuk sosok yang dikaruniai semangat dalam menuntut ilmu oleh Allah sejak usia dini. Beliau selalu mencatat ilmu-ilmu yang beliau dapatkan dalam buku-buku catatan beliau selama menempuh seluruh jenjang pendidikan. Dan saat ini, beliau masih menyimpan catatan-catatan itu yang terhitung sejak tahun ketiga jenjang Madrasah Ibtidaiyah.

Beliau juga masih menyimpan manuskrip kitab Bulughul Maram karya al-Imam Ibnu Hajar al-Asqalani yang beliau dapatkan sebelum masuk ke Madrasah Ibtidaiyyah. Dan ini merupakan kitab pertama yang ada di perpustakaan pribadi beliau. Dalam kitab tersebut terdapat tulisan tangan beliau yang bertanggalkan 6 Muharram 1368 H.

Prestasi Beliau

  1. Meraih peringkat pertama pada ujian kelulusan tingkat Tsanawiyyah (di Indonesia setingkat SMA) di Ma’had Ar-Riyaadh Al-‘Ilmi.
  2. Menduduki peringkat pertama pada setiap ujian kenaikan kelas selama belajar di Kuliah Syari’ah Riyadh.
  3. Masuk nominasi 4 besar dari 80 alumnus pada ujian akhir di Kuliah Syari’ah Riyadh, dan menduduki peringkat pertamanya.
  4. Dengan pertolongan Allah, kemudian dengan kesungguhan dan bantuan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, beliau berhasil membuka program beasiswa untuk tingkat Magister dan Doktoral serta beberapa Fakultas baru di Universitas Islam Madinah saat beliau menjabat sebagai Rektor di Universitas tersebut. Di antaranya adalah Fakultas Al-Qur’anul Karim, Fakultas Al-Hadits Asy-Syarif, dan Fakultas Bahasa Arab.
  5. Selama itu juga, beliau berhasil mendirikan percetakan-percetakan kampus.

Guru-guru beliau

A.    Para guru beliau di Kuttab:

  1. Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad al-Mani’
  2. Syaikh Zaid bin Muhammad al-Manifi
  3. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman al-Ghaits. Bersama beliau inilah Syaikh ‘Abdul Muhsin menyempurnakan bacaan Al-Qur’an-nya.
  4. Syaikh Falih ar-Ruumi.

B. Di antara guru beliau ketika di Madrasah Ibtidaiyyah adalah Syaikh Hamdan bin Ahmad Al-Batil. Kepada beliau, syaikh ‘Abdul Muhsin mempelajari kitab “Ar-Rahbiyyah” tentang faraaidh atau ilmu tentang warisan dan kitab “Al-Ajurumiyyah” di bidang nahwu.

C. Para guru beliau di Ma’had Ar-Riyadh dan Kuliah Syari’ah:

  1. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz
  2. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-syinqithi
  3. Syaikh ‘Abdur Razzaq ‘Afifi
  4. Syaikh ‘Abdurrahman Al-Afriqiy
  5. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Khulaifi

Pujian ulama terhadap beliau

Syaikh ‘Abdurrahman Al-Afriqi berkata tentang beliau, “Beliau adalah seorang pengajar yang gemar memberi nasihat, ulama besar, pengayom, pembimbing, serta panutan dalam kebaikan. Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau.”

Syaikh Hammaad Al-Anshari bercerita tentang beliau, “Saya pernah pergi ke kampus (Universitas Islam Madinah) pada waktu Ashar saat Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad menjabat sebagai rektornya. Saat itu, tidak ada seorang pun di kampus kecuali saya dan beliau. Lantas saya berkata kepada beliau, ‘Kenapa Anda tidak datang bersama orang yang bisa membantu Anda membuka kampus untuk Anda sebelum Anda datang?’ Kemudian beliau menjawab, ‘Saya tidak akan memperkerjakan seorang pun pada waktu seperti ini, karena ini waktu istirahat.’ Saat itu adalah waktu ashar.”

Beliau juga berkomentar tentang Syaikh ‘Abdul Muhsin, “Adapun Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad, sungguh kedua mataku ini tidak pernah melihat yang seperti beliau dalam ke-wara’-an (berhati-hati terhadap perkara-perkara yang haram).”

Murid-murid beliau

Karena luasnya keilmuan yang Allah berikan kepada beliau, sangat banyak para penuntut ilmu dari berbagai penjuru yang duduk belajar kepada beliau. Dan tidak sedikit dari mereka yang menjadi ulama dan intelek muslim terkemuka yang tersebar di negeri-negeri Islam. Di antaranya adalah:

  1. Syaikh Ihsan Ilahi Dzhahir
  2. Dr. Ali Nashir Faqihi
  3. Syaikh Yusuf bin ‘Abdirrahman Al-Barqawi
  4. Dr. Shalih As-Suhaimi
  5. Dr. Washiyullah ‘Abbas
  6. Dr. ‘Abdurrahman Al-Fariwa’i
  7. Syaikh Al-Hafidzh Tsanaa-ullah Al-Madani
  8. Dr. Basam Al-Jawabirah
  9. Dr. Shalih Ar-Rifa’i
  10. Dr. ‘Abdurrahman Ar-Rusyaidan
  11. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili
  12. Anak beliau sendiri Dr. ‘Abdurrazzaaq,

Dan masih banyak lagi, yang merupakan para alumni Universitas Islam Madinah serta para penuntut ilmu di Masjid Nabawi.

Karya-karya beliau

Di tengah kesibukan yang sangat padat, beliau masih sempat membuahkan banyak karya yang sangat bermanfaat bagi umat. Di antara karya beliau adalah:

A.    Di bidang Ulumul Qur’an:

  1. Aayaat mutasyaabihaatul alfaadzh fil-qur’anil kariim, wa kaifa at-tamyiiz bainaha.
  2. Min kunuuzil qur’aanil kariim.

B.     Di bidang Hadis:

  1. ‘Isyruuna haditsan min shahihil bukhori, diroosatu asaaniidiha wa syarhu mutuuniha.
  2. Syarhu hadiitsi Jibril fii ta’liimid-diin.
  3. Kaifa nastafiidu minal kutub al-haditsiyyah as-sittah.

C.     Di bidang Akidah:

  1. ‘Aaqidatu ahlis-sunnah wal jama’ah fish-shohabatil kiraam, radhiallahu ‘anhum wa ardhoohum.
  2. At-tahdziir min ta’dzhimil aatsaar ghairil masyruu’ah.
  3. Al-hatstsu ‘ala ittibaa’i as-sunnah wat-tahdziir minal bida’i wa bayaanu khathariha.
  4. ‘Aqidatu ahlis-sunnati wal-aatsaar fil mahdi al-muntadzhar.

D.    Fikih:

  1. Ahammiyatul ‘inaayah bit-tafsiir wal-hadits wal-fiqh.
  2. Syarhu syuruuthish-sholaah wa arkaaniha wa waajibaatiha.
  3. Syarhu kitaab aadabil masy-yi ila ash-sholaah.

E.     Adab dan akhlak:

  1. Min akhlaaqir-rasuul al-kariim shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Badzlun-nush-hi wa at-tadzkiir li baqooyaa al-maftuuniina bit-takfiiri wat-tafjiir.
  3. Rifqon ahlas-sunnah bi ahlis-sunnah.
  4. Asy-syaikh ‘abdul ‘aziz ibnu baaz rahimahullah, namuudzajun min ar-raa’iil al-awwal.

Dan masih banyak lagi karya-karya beliau yang belum disebutkan di sini.

Semoga dengan ulasan singkat ini, bisa menambah pengetahuan kita seputar biografi ulama rabbani masa kini. Dan mudah-mudahan dengan mengenal mereka kita bisa lebih mencintai dan menghargai ilmu yang merupakan warisan para nabi.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

 Referensi:

  1. Majmu’ kutub wa rosaa-il syaikh ‘abdil muhsin ibni hamd al-‘abbaad al-badr.
  2. s.sunnahway.net/abbad/
  3. ar.m.islamway.net/scholar/461

Penulis: Muhammad Nurul Fahmi

Artikel Muslim.Or.Id

Dalil Membaca Yasin Saat Ziarah Kubur

A. Pertanyaan:
Kekuatan sanad hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar tentang ziarah kubur kedua orang tua atau salah satu dari mereka pada setiap hari Jum‘at, kemudian hadits tentang membaca surat Yasin akan diampuni dia sebanyak jumlah ayat dan huruf?

Jawaban:

Setelah melalui pelacakan dari berbagai kitab hadits, akhirnya bisa ditemukan di dalam kitab Faidl al-Qadir Syarah Kitab al-Jami‘ ash-Shaghir karya Abd ar-Rauf al-Manawi, Juz VI: 141. Teks selengkapnya adalah:

لِأَبِي الشَّيْخِ وَالدَّيْلَمِي عَنْ أَبِي بَكْرٍ مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ كُلُّ جُمُعَةٍ أَوْ أَحَدِهِمَا فَقَرَأَ عِنْدَهُ يسٍ وَالْقُرْآنِ الْحَكِيْمِ غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ كُلِّ أَيَةٍ وَحُرْفٍ مِنْهَا.

Artinya: “Riwayat Abu asy-Syaikh dan ad-Dailamiy dari Abu Bakar: Barangsiapa berziarah kubur kedua orang tuanya atau salah satunya pada setiap hari Jum‘at, kemudian membaca surat “Yasin wa al-Qur’an al-Hakim”, maka diampunilah dia sebanyak jumlah ayat dan huruf dari surat itu.”
Menurut kitab Mizan al-I‘tidal fi Naqd ar-Rijal, karya Syams ad-Din Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi, Juz V: 316, dinyatakan bahwa sanad hadits tersebut bathil, dengan demikian tidak bisa dijadikan hujjah.

Sedangkan hadits kedua tentang pembacaan permulaan surat al-Baqarah di sebelah kepala mayit, dan akhir surat al-Baqarah di sebelah kakinya, dengan sangat menyesal belum bisa ditemukan rujukannya, meskipun sudah dilacak di berbagai kitab hadits. Kami kesulitan menemukan kata kunci untuk mencari hadits tersebut, karena dalam pertanyaan anda hanya menyertakan terjemahannya.
Referensi:

http://www.fatwatarjih.com/2011/09/ziarah-kubur-dan-bacaan-yasin.html

http://ustadzaris.com/dalil-yasin-ketika-ziarah-kubur