Hari: Januari 31, 2014

Inilah Keutamaan Umar bin al-Khattab [rodlialloohu’anhu]

Setelah membahas tentang keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq, kiranya perlu juga kita membahas tentang kemualiaan Umar bin Khattab. Ia adalah seorang khalifah yang sangat terkenal, perjalanan hidupnya adalah teladan yang diikuti, dan kepemimpinannya adalah sesuatu yang diimpikan. Banyak orang saat ini memimpikan, kiranya Umar hidup di zaman ini dan memipin umat yang tengah kehilangan jati diri.

Ada beberapa gelintir orang yang tidak menyukai khalifah yang mulia ini, mereka mengatakan al-Faruq telah mencuri haknya Ali. Menurut mereka, Ali bin Abi Thalib lebih layak dan lebih pantas dibanding Umar untuk menjadi khalifah pengganti Nabi. Berangkat dari klaim tersebut, mulailah mereka melucuti kemuliaan dan keutamaan Umar. Mereka buat berita-berita palsu demi rusaknya citra amirul mukminin Umar bin Khattab. Mereka puja orang yang memusuhinya dan pembunuhnya pun digelari pahlawan bangsa.

Berikut ini kami cuplikkan kabar-kabar ilahi yang bercerita tentang keutamaan, kemuliaan, dan kedudukan Umar bin Khattab, karena seperti itulah ia layak untuk diceritakan.

Nasab dan Ciri Fisiknya

Ia adalah Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luai, Abu Hafsh al-Adawi. Ia dijuluki al-Faruq.

Ibunya bernama Hantamah binti Hisyam bin al-Mughirah. Ibunya adalah saudari tua dari Abu Jahal bin Hisyam.

Ia adalah seseorang yang berperawakan tinggi, kepala bagian depannya plontos, selalu bekerja dengan kedua tangannya, matanya hitam, dan kulitnya kuning. Ada pula yang mengatakan kulitnya putih hingga kemerah-merahan. Giginya putih bersih dan mengkilat. Selalu mewarnai janggutnya dan merapikan rambutnya dengan inai (daun pacar) (Thabaqat Ibnu Saad, 3: 324).

Amirul mukminin Umar bin Khattab adalah seorang yang sangat rendah hati dan sederhana, namun ketegasannya dalam permasalahan agama adalah ciri khas yang kental melekat padanya. Ia suka menambal bajunya dengan kulit, dan terkadang membawa ember di pundaknya, akan tetapi sama sekali tak menghilangkan ketinggian wibawanya. Kendaraannya adalah keledai tak berpelana, hingga membuat heran pastur Jerusalem saat berjumpa dengannya. Umar jarang tertawa dan bercanda, di cincinnya terdapat tulisan “Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu hai Umar.”

Keistimewaan dan Keutamaannya

– Umar adalah Penduduk Surga Yang Berjalan di Muka Bumi

Diriwayatkan dari Said bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata, ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Sewaktu tidur aku bermimpi seolah-olah aku sedang berada di surga. Kemudian aku melihat seorang wanita sedang berwudhu di sebuah istana (surga), maka aku pun bertanya, ‘Milik siapakah istana ini?’ Wanita-wanita yang ada di sana menjawab, ‘Milik Umar.’ Lalu aku teringat dengan kecemburuan Umar, aku pun menjauh (tidak memasuki) istana itu.” Umar radhiallahu ‘anhu menangis dan berkata, “Mana mungkin aku akan cemburu kepadamu wahai Rasulullah.”

Subhanallah! Kala Umar masih hidup di dunia bersama Rasulullah dan para sahabatnya, namun istana untuknya telah disiapkan di tanah surga.

– Mulianya Islam dengan Perantara Umar

Dalam sebuah hadisnya Rasulullah pernah mengabarkan betapa luasnya pengaruh Islam di masa Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu. Beliau bersabda,

“Aku bermimpi sedang mengulurkan timba ke dalam sebuah sumur yang ditarik dengan penggerek. Datanglah Abu Bakar mengambil air dari sumur tersebut satu atau dua timba dan dia terlihat begitu lemah menarik timba tersebut, -semoga Allah Ta’ala mengampuninya-. Setelah itu datanglah Umar bin al-Khattab mengambil air sebanyak-banyaknya. Aku tidak pernah melihat seorang pemimpin abqari (pemimpin yang begitu kuat) yang begitu gesit, sehingga setiap orang bisa minum sepuasnya dan juga memberikan minuman tersebut untuk onta-onta mereka.”

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Kami menjadi kuat setelah Umar memeluk Islam.”

– Kesaksian Ali bin Abi Thalib Tentang Umar bin al-Khattab

Diriwayatkan dari Ibnu Mulaikah, dia pernah mendengar Abdullah bin Abbas berkata, “Umar radhiallahu ‘anhu ditidurkan di atas kasurnya (menjelang wafatnya), dan orang-orang yang berkumpul di sekitarnya mendoakan sebelum dipindahkan –ketika itu aku hadir di tengah orang-orang tersebut-. Aku terkejut tatkala seseorang memegang kedua pundakku dan ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib. Kemudian Ali berkata (memuji dan mendoakan Umar seperti orang-orang lainnya), “Engkau tidak pernah meninggalkan seseorang yang dapat menyamai dirimu dan apa yang telah engkau lakukan. Aku berharap bisa menjadi sepertimu tatkala menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, aku sangat yakin bahwa Allah akan mengumpulkanmu bersama dua orang sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakar).

Aku sering mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku berangkat bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar.”

– Umar adalah Seorang yang Mendapat Ilham

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapat ilham. Apabila salah seorang umatku mendapakannya, maka Umarlah orangnya.”

Zakaria bin Abi Zaidah menambahkan dari Sa’ad dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Bani Israil ada yang diberikan ilham walaupun mereka bukan nabi. Jika salah seorang dari umatku mendapatkannya, maka Umarlah orangnya.”

– Wibawa Umar

Dari Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar.” (HR. Tirmidzi dalam al-Manaqib, hadits no. 3791)

Demikianlah di antara keutamaan Umar bin al-Khattab yang secara langsung diucapkan dan dilegitimasi oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah meridhai Umar bin al-Khattab.

Sumber: al-Bidayah wa an-Nihayah

Ditulis oleh Akh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com

Air Zam-Zam Bisa Jadi Obat Dan Sesuai Niat Peminumnya

Posted by 

Salah satu keajaiban Air sumur Zam-Zam yang membuat bingung sebagian ahli adalah airnya tidak habis-habis, pahahal diambli dalam jumlah yang sangat banyak dan tiada henti-hentinya. Ada juga keajaiban air zam-zam lainya, Air Zam-zam ini bisa juga digunakan untuk berobat. Menyembuhkan berbagai penyakit bahkan bisa memenuhi berbagai hajat keinginan manusia dengan izin Allah Ta’ala. Karena Air Zam-Zam itu sesuai dengan apa yang diniatkan peminumnya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

زَمْزَمُ لِمَا شُرِبَ لَهُ

“Air zamzam itu sesuai dengan apa yang diniatkan peminumnya”.[1]

Tabi’in Ahli tafsir, Mujaahid rahimahullah berkata,

ماء زمزم لما شرب له، إن شربته تريد شفاء شفاك الله، وإن شربته لظمأ أرواك الله، وإن شربته لجوع أشبعك الله، هي هَزْمة جبريل وسُقيا الله إسماعيل.

“Air zamzam sesuai dengan apa yang diniatkan peminumnya. Jika engkau meminumnya untuk kesembuhan, maka Allah akan menyembuhkanmu. Apabila engkau meminumnya karena kehausan, maka Allah akan memuaskanmu. Dan apabila engkau meminumnya karena kelaparan, maka Allah akan mengenyangkanmu. Ia adalah usaha Jibril dan pemberian (air minum) Allah kepada Isma’il”.[2]

Ibnul-Qayyim rahimahullah, seorang ulama dan dokter telah membuktikan mujarrabnya air zam-zam menyembuhkan berbagai penyakit, beliau berkata,

وقد جرّبت أنا وغيري من الاستشفاء بماء زمزم أمورا عجيبة، واستشفيت به من عدة أمراض، فبرأت بإذن الله

“Sesungguhnya aku telah mencobanya, begitu juga orang lain, berobat dengan air zamzam adalah  hal yang menakjubkan. Dan aku sembuh dari berbagai macam penyakit dengan ijin Allah Ta’ala[3].

 

Akan tetapi yang perlu diperhatikan bahwa Air Zam-Zam juga sesuai denga kadar keimanan dan amal shalih orang yang menjadikannya sebagai obat. Jika ada yang berkata,

“saya sudah minum beberapa liter tapi panyakit saya kok ga’ sembuh-sembuh?”

Maka yang disalahkan adalah orang tersebut bukan Air Zam-zam. Mari kita lihat contohnya, Sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengobati sengatan kalajengking hanya dengan dibacakan (ruqyah) Al-Fatihah saja. Kemudian sembuh seperti tidak pernah tersengat.

Berikut kisahnya.

 

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانُوا فى سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ. فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَىِّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا. وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-. فَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ مَا رَقَيْتُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. فَتَبَسَّمَ وَقَالَ « وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ». ثُمَّ قَالَ « خُذُوا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ »

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu berada dalam perjalanan safar, lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata pada para  sahabat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyahkarena pembesar kampung tersebut tersengat binatang atau terserang demam.” Di antara para sahabat lantas berkata, “Iya ada.” Lalu ia pun mendatangi pembesar tersebut dan ia meruqyahnya dengan membaca surat Al Fatihah. pembesar tersebutpun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing, namun ia enggan menerimanya -dan disebutkan-, ia mau menerima sampai kisah tadi diceritakan pada Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al Fatihah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu Al Fatihah adalah ruqyah?” Beliau pun bersabda, “Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian.[4]

Jika ada orang yang terkena penyakit yang sama disengat kalajengking atau yang lebih ringan misalnya disengat tawon, kemudian ada yang membacakan Al-fatihah ternyata tidak sembuh. Maka jangan salahkan Al-Fatihah jika tidak sembuh tetapi salahkan tangan yang tidak mahir serta kuat memegang pedang yang tajam. Jika iman, amal dan tawakkal sebaik Abu Sa’id Al-Khudri maka kita bisa berharap penyakit tersebut sembuh.

 

Demikian pembahasan singkat ini semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

 

@Pogung Kidul, Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

DOKTOR WANITA MASUK ISLAM KARENA MAHASISWINYA

Oleh: Ibrahim al-Khoir, dari Kitab Kaifa Tabu

Ada seorang doktor wanita berasal dari Jerman, berkebangsaan Amerika, umurnya 46 tahun. Dia masuk Islam karena mahasiswinya yang bernama Fathimah. Dia menuturkan kisah keislamannya:

Dulu saya membenci kalimat Islam. Saya tidak pernah berangan-angan akan menemui seorang muslim atau muslimah hingga saya sampai di Amerika. Sejak bertahun-tahun lamanya saya menambah kebencian terhadap Islam sesuai dengan pemberitaan di pagi hari dan sore hari yang memberikan menu kebencian terhadap Islam. Setelah itu takdir Allah menundukkan saya untuk bertemu dengan Fathimah.

Pada suatu hari Kepala jurusan berkata kepada saya: “Kami memiliki seorang mahasiswi muslim yang cerdas dan baik. Dia memiliki syarat yang aneh, yaitu dia harus berada di bawah bimbingan seorang doktor wanita tidak di bawah bimbingan doktor laki-laki!”
Saya katakan: “Saya tidak tahu, saya akan mencobanya. Saya akan menemuinya terlebih dahulu sebelum persetujuan untuk membimbingnya.” Maka sayapun menemuinya.

Berubahlah segalanya. Hanya sekedar bertemu dengannya. Berubahlah pandanganku terhadap Islam. Dia adalah seorang wanita yang elok, berbudi luhur, berbaju sopan yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Sebuah wajah bercahaya putih yang semakin menambah cahaya dan kilatannya setiap kali tersenyum. Konsisten memegang agama dan ajaran. Konsisten terhadap pakaiannya hingga sampai pada tingkatan yang semakin menambah penghormatanku kepadanya.

Wahai Tuhanku, dia kuat berbangga dengan agamanya! Dia mensyaratkan apa yang menjaga kemuliaan diri dan agamanya!! Dia memuliakan orang lain, dia muliakan dirinya, agamanya, dan umatnya. Dia tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan.

Saya putuskan untuk setuju dan membimbingnya. Setiap hari bertambahlah kekagumanku terhadapnya. Dia tunaikan shalat pada sudut terbuka dari ruangan laboratorium. Maka saya izinkan dia untuk masuk ke kantorku saat dia memerlukan shalat. Saya mengawasi shalatnya, dia menoleh setelah shalat, dan sungguh wajahnya bersinar dan bercahaya. Saya merasa seakan-akan dia telah menjadi makhluk malaikat dari cahaya setelah selesai dari beribadah.

Saya sangat berkeinginan untuk mengetahui rahasia hal ini, saya berusaha untuk mengetahuinya. Sayapun berbincang dengannya, berdebat dan berdialog tentang segala sesuatu; kehidupannya, dan ilmunya. Sayapun menyetujuinya dalam keimanan, akan tetapi saya tidak merasakan kenikmatan terhadap keimanan sebagaimana dia bisa merasakan keimanan tersebut.

Pada suatu kali dia shalat pada salah satu tiang di dalam kantorku, sayapun mengawasinya, dan memperhatikan gerakan-gerakannya. Maka saat dia menoleh kepadaku, dia tersenyum dengan senyuman lembut. Sayapun merasakan perasaan yang mengalirkan keinginan untuk menangis. Saya sangat ingin memeluknya, dan memintanya dengan terus terang untuk mengetahui rahasia kebahagiaan yang terus menerus dan cahaya pada wajahnya?!

Pada suatu kali saya gagal dalam menjalankan perkerjaan rutinku. Maka dia tersenyum dan berkata: “Sesungguhnya ini adalah termasuk pengaturan Allah Ta’ala.” Maka saya bertanya kepadanya, maka diapun menjelaskan kepada saya tentang iman terhadap qadha dan qadar!! Oh…. Seandainya saya memiliki iman ini, agar tidak bosan dengan jiwa saya, tidak menggerutu atas kegagalan saya yang menjadikan saya merasa gundah.

Sayapun meminta dia memberikan informasi tentang agamanya. Maka dia menghadiahkan kepada saya sebuah mushhaf, yang di dalamnya telah diterjemahkan makna-makna kalimat. Saya terhenti pada dua ayat yang ada di halaman pertama (yakni pada surat al-Fatihah):

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Siapakah mereka yang telah diberi nikmat oleh Allah? Apakah jalan yang lurus itu? Saya terus mengulang-ulang kedua ayat tersebut tanpa sadar, sayapun hampir berteriak. Kemudian pecahlah tangisan saya, dan saya berteriak tanpa sadar: “Wahai Tuhanku, tunjukilah saya jalan yang lurus, tunjukilah saya jalan yang lurus!!

Sungguh saya telah hidup dalam jalan yang bengkok, gelap, dan derita!” Kemudian saya menguasai diri dan bertanya-tanya: Apakah jalan yang lurus itu?! Saya kembali lagi melihat kepada al-Qur`an, maka datanglah jawabannya yaitu jalannya orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah Ta’ala atas mereka. Siapakah mereka menurut pendapat anda?!

Jiwa saya menjawabnya, dari lubuk hati yang paling dalam. Mereka itu adalah orang-orang seperti Fathimah!! Ya, orang-orang seperti Fathimah, yang hidup dalam nikmatnya senyuman, nikmatnya kebahagiaan, nikmatnya ketenangan jiwa, mulia dengan apa yang dimilikinya dan apa yang tumbuh baginya.!!
Sayapun menangis, dan saya mengulang-ulang do’a, “Tunjukkanlah kepad saya jalan yang lurus wahai Tuhanku!” Pada malam itu saya tidak bisa tidur dengan baik. Pagi harinya saya menemui Fathimah. Saya memuliakan dan menghormatinya dengan penghormatan yang lebih dari biasanya, seakan-akan saya adalah mahasiswi dan dia adalah dosen.

Sayapun mengabarkan kepadanya akan keputusan saya!! Saya ingin di pagi ini menjadi orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah atas mereka!! Diapun tersenyum kemudian memelukku!! Kamipun diam sambil berpelukan satu sama lain untuk beberapa menit. Sayapun menangis dengan penuh kerinduan dan kekhusyukan. Saya sama sekali tidak ingin melepaskan lehernya.

Dia mengurus urusan pernyataan keislaman saya melalui Islamic Center.
Saya merasakan nikmatnya kebahagiaan. Saya rasakan nikmat dan manisnya iman. Saya rasakan manisnya kehidupan dalam lindungan dan naungan Allah. Saya semakin bertambah bahagia setelah saya bertemu dengan bagian kewanitaan pada Islamic Center tersebut, dimana kami membaca al-Qur`an, kami saling membantu dalam membaca al-Qur`an, dan peningkatan keimanan melalui program menyenangkan yang memenuhi hidup saya dengan kesenangan dan kebahagiaan.

Saya mencintai Allah, saya mencintai saudari-saudariku muslimah, saya terikat dengan mereka di rumah Allah, sayapun menjadi ibu bagi yang kecil diantara mereka, menjadi teman bagi yang besar, dan ini adalah sesuatu yang paling mahal yang saya temui dalam kehidupan saya.
Alhamdulillah Rabbil Alamin.