Hari: Januari 17, 2014

Sahabat Mu’min [cs]

Ust Aris

Bagus banget deeeee #terharu

Sahabat, dengarkanlah sejenak…

Diriwayatkan bahwa apabila penghuhi surga telah masuk ke dalam surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat mereka yang selalu bersama mereka di dunia.

Mereka bertanya kepada Allah Ta’ala tentang sahabat mereka, “Ya Rabb, kami tidak melihat sahabat-sahabat kami sewaktu di dunia (yang) shalat bersama kami, puasa bersama kami, dan berjuang bersama kami.”

Maka Allah Ta’ala berfirman: “Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah.” (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab “Az-Zuhd”)

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Perbanyaklah sahabat-sahabat mu’min mu, karena mereka memiliki syafa’at pada hari kiamat.”

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, “Jika kalian tidak menemukan aku nanti di surga bersama kalian maka tolonglah bertanya Allah Ta’ala tentang aku: ‘Wahai Rabb kami… hamba-Mu fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau… maka masukkanlah dia bersama kami di surga-Mu.'”

# Sahabat-sahabatku, mudah-mudahan dengan ini, aku telah mengingatkan kalian tentang Allah Ta’ala, agar aku dapat bersamamu kelak di Surga dalam Ridho-Nya.

Aku memohon kepada-Mu ya Rabb… karuniakanlah kepadaku sahabat-sahabat yang selalu mengajakku untuk tunduk, patuh, dan ta’at kepada syari’at-Mu. Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat dengan-Mu…

Like page Kata Cinta Penggugah Jiwa
via Darus

Ziarah Kuburan

Ziarah Kuburan.
Ust. Muhammad Arifin Badri

Sobat! Ziarah kuburan adalah satu amal ibadah yang dianjurkan untuk kita amalkan. Bahkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam begitu menekankan agar kita menziarahi kuburan.

Ziarah kuburan menjadi kita memiliki keseimbangan antara semangat membangun kehidupan dunia dengan tuntutan iman kepada hari akhir.

Setelah berlari kencang mengejar kehidupan dunia, maka semua itu sekejap menjadi sirna karena anda teringat akan kematian.

Dengan demikian, anda terlindungi dari badai dan kemilau kehidupan dunia yang begitu menggiurkan, dan terwujudkan keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
زوروا القبور فإنها تذكركم الموت
Berziarahlah kalian ke kuburan, karena ziarah kubur mengingatkan kalian akan kematian.( An Nasai dan lainnya)

Inilah tujuan utama dari berizrah kuburan, agar anda ingat bahwa suatu saat nanti, cepat atau lambat anda pasti menjadi salah satu penghuninya. Karena itu ketika menziarahi kuburan anda diajarkan untuk mengucapkan :
«السلام عليكم دار قوم مؤمنين، وإنا إن شاء الله بكم لاحقون
Salam sejahtera teruntuk kalian wahai penghuni negri, yaitu orang orang yang beriman, dan sejatinya kami dengan izin Allah pasti segera menyusul kalian. ( Muslim)

Namun demikian, saat ini sangat disayangkan betapa banyak dari ummat Islam yang berziarah bukan semakin ingat akan kematian, akan tetapi semakin hanyut dalam ambisi kehidupan dunia. 

Betapa tidak, dari mereka ada yang berzirah ke kuburan karena mengharapkan agar usahanya sukses. Ada pula yang berharap agar lulus ujian, atau diterima sebagai PNS, atau hartanya melimpah, tanamannya selamat dari serangan hama atau tujuan serupa lainnya. Akibatnya setiba mereka di kuburan bukannya meneteskan air mata karena teringat mati, namun mereka meneteskan air mata karena kawatir usahanya gagal, lamarannya ditolak, tanamannya diserang hama atau nilai ujiannya buruk.

Mereka keluar dari kuburan bukan semakin ingat akan kematian, namun sebaliknya semakin berambisi mengejar dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun

Sobat, semoga anda tidak termasuk orang orang yang semacam itu. Amiin.

 

https://www.facebook.com/muhammadarifin.badri?fref=ts

MENGAPA SETELAH “IYYAAKA NA’BUDU” DISUSUL DENGAN “WA IYYAAKA NASTA’IN”…?

MENGAPA SETELAH “IYYAAKA NA’BUDU” DISUSUL DENGAN “WA IYYAAKA NASTA’IN”…?
Ust. Sofyan Chalid Ruray

Dalam sholat kita selalu membaca firman Allah ta’ala,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.” [Al-Fatihah: 4]

Pada ayat yang mulia ini terdapat tiga pelajaran penting:

1) “Hanya kepada-Mu kami beribadah” adalah hakikat Tauhid Uluhiyah, yaitu meyakini hanya Allah ta’ala satu-satunya sesembahan yang benar, adapun sesembahan selain Allah ta’ala adalah salah. Maka seorang hamba hanya boleh beribadah kepada Allah ta’ala yang satu saja, tidak boleh mempersembahkan ibadah kepada selain-Nya. Ini adalah hikmah penciptaan manusia dan dakwah seluruh para nabi dan rasul ‘alaihimussalaam, dan selalu kita diingatkan setiap hari dalam ayat yang mulia ini, menunjukkan pentingnya mentauhidkan Allah ta’ala dan mendakwahi manusia kepadanya.

2) “Hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan” adalah hakikat Tauhid Rububiyah, yaitu meyakini hanya Allah ta’ala yang mencipta, menguasai dan mengatur, maka hanya Dialah yang mampu menolong kita, mengabulkan doa-doa kita dan menghilangkan kesusahan dari kita. Sedangkan kita adalah makhluk yang lemah, yang selalu membutuhkan pertolongan-Nya.

Sangat mengherankan, jika seseorang yang membaca ayat ini setiap hari namun tidak mentauhidkan Allah ta’ala, baik dalam uluhiyah maupun rububiyah. Ada yang masih menganggap boleh-boleh saja beribadah kepada selain Allah karena itu hak asasi manusia, ada yang masih mendatangi kuburan-kuburan atau tempat-tempat keramat untuk berdoa kepada para penghuni kubur atau “penunggu” tempat “keramat” serta mengharapkan berkah dari mereka. Dan ketika ditimpa musibah bukannya minta tolong kepada Allah ta’ala malah lari ke dukun, mempersembahkan sesajen kepada setan, pake jimat, takut bulan sial, hari sial, angka sial, dan berbagai macam kesyirikan serta kekufuran lainnya.

3) Ibadah membutuhkan pertolongan Allah ta’ala. Al-‘Allamah Al-Mufassir As-Si’di rahimahullah berkata,

وذكر { الاستعانة } بعد { العبادة } مع دخولها فيها، لاحتياج العبد في جميع عباداته إلى الاستعانة بالله تعالى. فإنه إن لم يعنه الله، لم يحصل له ما يريده من فعل الأوامر، واجتناب النواهي

“Dan disebutkan isti’anah (memohon pertolongan) setelah ibadah, padahal isti’anah juga ibadah, sebab seorang hamba membutuhkan pertolongan Allah ta’ala dalam seluruh ibadahnya, karena jika Allah ta’ala tidak menolongnya maka ia tidak akan berhasil dalam mengamalkan ibadah yang ia inginkan, apakah menjalankan perintah atau menjauhi larangan.” [Tafsir As-Si’di, hal. 39]

[Silakan ta’awun wahai Ahlus Sunnah untuk menyebarkan dakwah tauhid wa sunnah, jazaakumullaahu khayron]