Bulan: Juli 2013

KONSPIRASI JAHAT DI BALIK PELECEHAN MEREKA (SYI’AH) TERHADAP PARA SAHABAT

Ternyata dibalik pelecehan mereka terhadap para sahabat, ada konspirasi jahat yg terselubung yaitu :
▬ mencela Nabi
▬ menggugurkan Al Qur’an dan As Sunnah
▬▬►sekaligus agama Islam.

Al Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata :
”Mereka itu adalah suatu kaum yang sebenarnya berambisi untuk mencela Nabi namun ternyata tidak mampu. Maka akhirnya mereka mencela para sahabatnya sampai kemudian dikatakan bahwa beliau adalah orang jahat, karena kalau memang beliau orang baik, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang baik pula”.

_____

Al Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata:
”Bila engkau melihat seseorang merendahkan kedudukan seorang sahabat Rasulullah maka ketahuilah bahwa dia adalah Zindiq (munafik).

Sebab,
▬ sunnah Rasul dan Al Qur’an adalah kebenaran di sisi kita.
▬ Sedangkan yang menyampaikan Al Qur’an dan Sunnah tadi kepada kita adalah para sahabat Rasulullah .

Mereka (Syi’ah Rafidhah) mencela para SAKSI KITA dengan tujuan untuk menggugurkan Al Qur’an dan As Sunnah. Justru mereka inilah yang lebih pantas untuk dicela. Merekalah orang-orang zindiq”.
_______

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
”Celaan terhadap mereka (para sahabat) adalah celaan terhadap agama ini”.

HUKUMAN BAGI ORANG2 YANG MENCELA PARA SAHABAT

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam kitab Ash Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul memberikan rincian tentang hukum orang yang mencela para sahabat Nabi yang bisa diringkas sebagai berikut :

1•►Bila orang tersebut mencela para sahabat dengan celaan yang tidak sampai menjatuhkan keadilan dan agama mereka seperti : mensifati para sahabat dengan kebakhilan, penakut, dangkal ilmunya dan selain itu maka dia tidak dihukumi sebagai orang yang murtad atau kafir. Hanya saja orang ini dihukum ta’zir (hukuman dera atau penjara yang dilaksanakan oleh pemerintah kaum muslimin setelah dimintai taubat dan diberi penjelasan,pen).

2•►Adapun orang yang mencela para sahabat karena keyakinan bahwa mereka telah murtad atau sesat sepeninggal Nabi maka tidak ragu lagi bahwa orang tersebut kafir (setelah memenuhi kriteria syariat untuk dikafirkan, pen).

3•►Demikian juga seseorang yang ragu terhadap kafirnya orang jenis kedua maka dia kafir.

Dinukil dr.
http://abuabdurrohmanmanado.wordpress.com/tag/para-sahabat-dalam-tinjauan-syiah-rafidhah/
☑ Bagi teman2 yang berkeinginan untuk men-tag / share/copas/save …. dipersilahkan .Semoga bermanfaat,Aamiin Yaa Rabbal’alamiin
Oleh: Orcela Puspita

Komentar Ulama Salaf dan Khalaf tentang Syiah Rafidhah…

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah semoga Allah melimpahkan rahmat yang luas kepadanya berkata: “Para ulama sepakat bahwa Rafidhah adalah salah satu sekte paling besar dustanya, kedustaan mereka sudah dikenal sejak lama. Karena itu, para ulama memberikan cap dengan kelompok yang banyak dustanya.”

Asyhab bin Abdul Aziz berkata, Imam Malik rahimahullah ditanya tentang Rafidhah, maka beliau menjawab: “Jangan berbicara dengannya, dan Anda jangan meriwayatkan hadits darinya, sesungguhnya mereka para pendusta.”

Masih dari Imam Malik, “Orang yang mencaci para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak memiliki bagian dalam Islam (tidak tergolong orang Islam).”

Ibnu Katsir rahimahullah memberikan penafsiran tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala di bawah ini:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا ﴿٢٩﴾ الفتح

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tanpak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat, dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia, dan tegak lurus diatas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang Mukmin).” (Al-Fath: 29)

Imam Malik rahimahullah mengambil kesimpulan dari ayat ini tentang kafirnya orang-orang Rafidhah yang membenci para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka benci kepada para sahabat, dan orang yang benci kepada mereka adalah kafir berdasarkan ayat ini.

Imam al-Qurthubi berkata, “Sungguh Imam Malik telah berpendapat dengan sebaik-baik pendapat, dan penafsirannya benar, sebab orang yang mencaci salah satu dari sahabat Nabi atau mencela riwayatnya berarti telah menolak Allah subhanahu wa ta’ala, dan membatalkan syari’at Islam.”[1]

Abu Hatim mengatakan bahwa Harmalah bercerita kepadaku, dia mendengar Imam asy-Syafi’i berkata: “Saya belum pernah melihat orang paling dusta kesaksiannya daripada Rafidhah.”

Muammal bin Ahab mengatakan bahwa dia mendengar Yazid bin Harun berkata: “Bisa diterima riwayat seorang pelaku bid’ah, selama tidak mengajak kepada kebid’ahannya, kecuali Rafidhah, selamanya tidak bisa diterima riwayatnya dikarenakan mereka pendusta.”

Dari Muhammad bin Said al-Ashbahani, dia mendengar Syuraik berkata, “Ambillah ilmu dari siapa saja yang Anda jumpai kecuali dari Rafidhah, karena mereka membuat hadits sendiri dan menjadikannya sebagai agama.” Yang dimaksud dengan Syuraik di sini adalah Syuraik bin Abdillah, hakim kota Kufah.

Muawiyah rahimahullah berkata, dia mendengar al-A’masy berkata: “Saya menjumpai segolongan manusia yang dikenal dengan “Kaum Pendusta” mereka ini adalah teman-teman al-Mughirah bin Said seorang pendusta Rafidhah, sebagaimana dikatakan adz-Dzahabi.”[2]

Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan komentar terhadap ucapan ulama salaf, ia mengatakan, “Pokok-pokok dasar dari bid’ah orang-orang Rafidhah adalah kekufuran mereka yang tersembunyi dan penyekutuan kepada Allah. Kedustaan adalah hal biasa bagi mereka, bahkan mereka sendiri mengakuinya, dengan mengatakan bahwa agama kami adalah taqiyyah yaitu ucapan seseorang dengan lisannya yang bertolak-belakang dengan keyakinannya. Inilah kedustaan dan kemunafikan, mereka dalam hal ini seperti ucapan pepatah, “Melempar orang lain tapi kena dirinya sendiri.”[3]

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata:
”Saya pernah bertanya kepada bapak saya tentang Rafidhah, maka beliau menjawab: “Yaitu mereka yang mencaci dan mencela Abu Bakar dan Umar.”

Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad tentang Abu Bakar dan Umar, beliau menjawab: “Berdoalah agar mereka berdua dirahmati oleh Allah, dan berlepas dirilah dari orang-orang yang membenci mereka.”[4]

Diriwayatkan oleh al-Khallal dari Abu Bakar al-Marwazi, ia berkata: “Saya bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan Aisyah radhiallahu ‘anhum, beliau menjawab: “Orang itu tidak berada dalam agama Islam.”[5]

Al-Khallal juga berkata: “Bercerita kepada saya Harb bin Ismail al-Kirmani dengan mengatakan, bahwa Musa bin Harun bin Ziyad berkata: “Saya mendengar seseorang bertanya kepada al-Firyabi tentang orang yang mencaci dan mencela Abu Bakar, maka ia menjawab: “Orang seperti itu adalah kafir”, kemudian dia bertanya lagi: “Apakah dia dishalatkan jika meninggal?” Beliau menjawab: “Tidak!”[6]

Ibnu Hazm rahimahullah berkata tentang Rafidhah ketika mendebat kaum Nashrani yang membawa referensi buku-buku Rafidhah agar mereka bisa mendebat beliau: “Sesungguhnya orang-orang Rafidhah bukan dari golongan kaum Muslimin, perkataan mereka tidak bisa menjadi rujukan agama, mereka hanyalah kelompok yang muncul pertama kali dua puluh lima tahun setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berawal dari sambutan terhadap seseorang yang telah dihinakan Allah yang mengajak semua orang yang ingin merusak Islam. Sebuah kelompok yang mempunyai metode seperti kaum Yahudi dan Nashrani dalam mendustakan agama dan dalam kekufuran.”[7]

Abu Zur’ah ar-Razi berkata: “Jika kamu melihat seseorang mendiskreditkan salah seorang sahabat Nabi ketahuilah dia adalah zindiq (kafir dan merusak Islam dari dalam).”

Dewan Tetap untuk Fatwa di Saudi Arabia pernah ditanya dengan pertanyaan, bahwa penanya dan orang-orang yang bersamanya berdomisili di belahan utara Arab, berdekatan dengan Iraq. Di sana terdapat suatu jamaah penganut madzhab Ja’fariyyah, sebagian dari mereka tidak bersedia makan sembelihan jamaah ini dan sebagian yang lain bersedia. Mereka bertanya: “Apakah halal bagi kami makan sembelihan mereka, padahal diketahui mereka berdoa kepada (meminta) Ali, Hasan, Husain dan semua pembesar mereka dalam berbagai kesempatan”?

Dewan yang saat itu dipimpin oleh yang mulia Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Syaikh Abdur Razak Afifi, Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud semoga Allah memberikan pahala kepada mereka menjawab:

“Segala puji hanya milik Allah saja, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasul-Nya, berikut keluarga dan semua sahabat, wa ba’du:

Jika masalahnya seperti yang dikemukakan oleh penanya bahwa kelompok Ja’fariyyah yang ada di sekitarnya berdoa kepada Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husain serta para pembesar mereka, maka mereka ini tergolong orang-orang Musyrik, telah keluar dari agama Islam semoga Allah melindungi kita. Tidak boleh makan hewan sembelihan mereka karena itu adalah bangkai meskipun saat menyembelih mereka menyebut nama Allah.”[8]

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin -semoga Allah menjaganya dan melindunginya dari semua keburukan- pernah ditanya: “Syaikh yang mulia, di daerah kami terdapat orang Rafidhah yang bekerja sebagai penyembelih hewan dan banyak dari orang Ahlus Sunnah yang mendatanginya untuk menyembelihkan hewan sembelihannya. Di sana terdapat juga sebagian rumah makan yang bekerja sama dengan tukang sembelih Rafidhah ini. Bagaimana hukumnya bekerja sama dengan orang Rafidhah ini dan yang semisalnya, dan apa hukum sembelihannya? Halal atau haram? Mohon diberikan fatwa. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada Syaikh.”

Beliau menjawab: “Wa ‘alaikum Salam wa Rahmatullahi wa Barakatuh. Tidak sah sembelihan Rafidhah dan tidak halal makan sembelihannya, dikarenakan kebanyakan mereka menyekutukan Allah, dengan selalu berdoa kepada Ali bin Abi Thalib baik di saat sempit atau lapang, di Arafah, pada saat thawaf dan sa’i, mereka bermohon kepadanya dan anak-anaknya serta imam-imam mereka, seperti sering kita dengar.

Ini merupakan syirik akbar dan perbuatan murtad, bahkan mereka berhak dibunuh atas perbuatan mereka. Sebagaimana mereka juga berlebih-lebihan dalam memuji Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, sampai mereka mensifati beliau dengan sifat-sifat yang hanya layak dimiliki Allah subhanahu wa ta’ala, seperti sering kita dengar di Arafah. Dengan perbuatan ini mereka dianggap murtad dan keluar dari agama Islam, disebabkan telah menjadikan Ali sebagai tuhan, pencipta, yang menjalankan roda perputaran alam, mengetahui yang ghaib, bisa memberikan manfaat maupun marabahaya dan kesyirikan lain yang sejenis ini. Mereka juga mencela al-Qur’anul Karim dan menuduh para sahabat Nabi telah merubah dan membuang banyak ayat yang berkenaan dengan Ahlul Bait dan musuh-musuhnya. Tidak bersedia mengikutinya (al-Qur’an) dan tidak mau menjadikannya sebagai dalil.

Di samping itu, mereka mencaci para tokoh sahabat Nabi seperti ketiga Khulafaur Rasyidin dan sahabat lain yang mereka ini tergolong sebagai sepuluh sahabat yang dijanjikan Allah dengan surga, para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat lain yang masyhur seperti Anas, Jabir, Abu Hurairah dan yang lainnya. Mereka juga tidak menerima hadits-hadits sahabat tadi karena telah dianggap kafir. Hadits-hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim juga tidak mereka amalkan kecuali riwayat yang berasal dari Ahlul bait.

Mereka juga berpegangan dengan hadits-hadits palsu dan mengutarakan pendapat mereka tanpa berdasar kepada suatu dalil. Ditambah lagi dengan kemu-nafikan mereka, mengatakan sesuatu dengan lisannya yang berbeda dengan apa yang di hatinya. Apa yang ada dalam hati mereka disembunyikan dan bersemboyan: “Siapa yang tidak melakukan taqiyyah maka ia tidak beragama.”

Karena itu, jangan sampai kamu terima pengakuan sikap persaudaraan dan cinta mereka dengan dasar agama… kemunafikan adalah agama mereka, semoga Allah menjaga kita dari keburukan mereka. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.”[9]

———————————————————————–
[1] Dr. Nashir al-Qiffari, Ushulu Madzahibis Syi’atil Itsna ‘Asyariyyah, 3/1250
[2] Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, 1/59-60
[3] Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, 1/68
[4] Abdul Ilah bin Sulaiman al-Ahmadi, al-Masaailu war Rasaailul Marwiyyah ‘anil Imami Ahmadabni Hanbal (Masalah-masalah dan Risalah yang Dinukil dari Imam Ahmad bin Hanbal), 2/357.
[5] Al-Khallal, as-Sunnah, 3/493, ini merupakan pernyataan yang tegas dari Imam Ahmad tentang kekafiran Rafidhah.
[6] Al-Khallal, as-Sunnah, 3/499
[7] Ibnu Hazm, al-Fashlu fil Milali wan Nihal, 2/78
[8] Fatawal Lajnatid Daa’imah Lil Ifta’, jilid 2, hal: 264
[9] Fatwa ini disampaikan beliau ketika diajukan pertanyaan tentang hukum berinteraksi dengan orang Rafidhah pada tahun 1414 H. Saya ingin meluruskan apa yang santer dibicarakan orang bahwa Syaikh Abdullah al-Jibrin –semoga Allah menjaganya- adalah satu-satunya ulama yang menganggap kaum Rafidhah kafir. Sebenarnya para imam dari salaf (para ulama periode awal) sampai khalaf (para ulama setelah periode salaf) juga mengkafirkan sekte ini. Ini mereka sampaikan untuk menegakkan hujjah dan untuk menyadarkan mereka dari ketidaktahuan dalam masalah ini.

Sumber: http://www.siapasyiah.blogspot.com

Kehancuran Bangsa Yahudi Menurut Al-Qur’an Dan Sunnah

Oleh, Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied al-Hilali
Nubuwat al-Qur’an Tentang Kebinasaan Bangsa Yahudi

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin yang dimuliakan Allah …
Berbesar hatilah, karena Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا فَإِذَا جَاء وَعْدُ أُولاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَا أُوْلِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُواْ خِلاَلَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولاً ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاء وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوؤُواْ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُواْ الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوْاْ تَتْبِيرًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يَرْحَمَكُمْ وَإِنْ عُدتُّمْ عُدْنَا وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا
“Dan Telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi Ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, kami datangkan kepadamu hamba-hamba kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya kami kembali (mengazabmu) dan kami jadikan Neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.” ( QS al-Israa’ 17:4-8)
Pertama : Ayat ini menegaskan terjadinya dua kerusakan yang dilakukan oleh Bani Israil. Sekiranya dua kerusakan yang dimaksud sudah terjadi pada masa lampau, maka sejarah telah mencatat bahwa Bani Israil telah berbuat kerusakan berkali-kali, bukan hanya dua kali saja. Akan tetapi yang dimaksudkan di dalam Al-Qur’an ini merupakan puncak kerusakan yang mereka lakukan. Oleh karena itulah Allah mengirim kepada mereka hamba-hamba-Nya yang akan menimpakan azab yang sangat pedih kepada mereka.
Kedua : Dalam sejarah tidak disebutkan kemenangan kembali Bani Israil atas orang-orang yang menguasai mereka terdahulu. Sedangkan ayat di atas menjelaskan bahwa Bani Israil akan mendapatkan giliran mengalahkan musuh-musuh yang telah menimpakan azab saat mereka berbuat kerusakan yang pertama. Allah mengatakan : “Kemudian kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali.”
Ketiga : Sekiranya yang dimaksudkan dengan dua kerusakan itu adalah sesuatu yang telah terjadi, tentulah tidak akan diberitakan dengan lafazh idza, sebab lafazh tersebut mengandung makna zharfiyah (keterangan waktu) dan syarthiyah (syarat) untuk masa mendatang, bukan masa yang telah lalu. Sekiranya kedua kerusakan itu terjadi di masa lampau, tentulah lafazh yang digunakan adalah lamma bukan idza. Juga katalatufsidunna (Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan), huruf laam dan nuun berfungsi sebagai ta’kid(penegasan) pada masa mendatang.
Keempat : Demikian pula firman Allah : “dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana” menunjukkan sesuatu yang terjadi pada masa mendatang. Sebab tidaklah disebut janji kecuali untuk sesuatu yang belum terlaksana.
Kelima : Para penguasa dan bangsa-bangsa yang menaklukan Bani Israil dahulu adalah orang-orang kafir dan penyembah berhala. Namun bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan dalam ayat di atas : “Kami datangkan kepadamu hamba-hamba kami yang mempunyai kekuatan yang besar”. Sifat tersebut mengisyaratkan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang beriman, bukan orang-orang musyrik atau penyembah berhala. Pernyertaan kata “Kami” dalam kalimat di atas sebagai bentuk tasyrif (penghormatan). Sementara kehormatan dan kemuliaan itu hanyalah milik orang-orang yang beriman.
Keenam : Dalam aksi pengerusakan kedua yang dilakukan oleh Bani Israil terdapat aksi penghancuran bangunan-bangunan yang menjulang tinggi (gedung pencakar langit). Sejarah tidak menyebutkan bahwa pada zaman dahulu Bani Israil memiliki bangunan-bangunan tersebut.
Kesimpulan : Hakikat dan analisa ayat-ayat di atas menegaskan bahwa dua aksi pengerusakan yang dilakukan oleh Bani Israil akan terjadi setelah turunnya surat al-Israa’ di atas.
Realita : Sekarang ini bangsa Yahudi memiliki daulah di Baitul Maqdis. Mereka banyak berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka membunuhi kaum wanita, orang tua, anak-anak yang tidak mampu apa-apa dan tidak dapat melarikan diri. Mereka membakar tempat isra’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan merobek-robek kitabullah. Mereka melakukan kejahatan di mana-mana hingga mencapai puncaknya.
Mereka menyebarkan kenistaan, kemaksiatan, kehinaan, pertumpahan darah, pelecehan kehormatan kaum muslimin, penyiksaan dan pelanggaran perjanjian.
Jadi, aksi pengerusakan yang kedua sedang berlangsung sekarang dan telah mencapai titik klimaks dan telah mencapai puncaknya. Sebab tidak ada lagi aksi pengerusakan yang lebih keji daripada yang berlangsung sekarang.
Adakah aksi yang lebih keji daripada membakar rumah Allah?
Adakah aksi pengerusakan yang lebih jahat daripada merobek-robek kitabullah dan menginjak-injaknya?
Adakah aksi pengerusakan yang lebih sadis daripada membunuhi anak-anak, orang tua dan kaum wanita serta mematahkan tulang mereka dengan bebatuan?
Adakah aksi pengerusakan yang lebih besar daripada pernyataan perang secara terang-terangan siang dan malam melawan Islam dan para juru dakwahnya?
Sungguh demi Allah, itu semua merupakan aksi pengerusakan yang tiada tara!!!
Lalu Allah Azza wa Jalla melanjutkan firman-Nya : “dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.
Artinya, hamba-hamba Allah kelak akan meruntuhkan apa saja yang dibangun dan dikuasai oleh bangsa Yahudi. Mereka akan menggoyang benteng Yahudi dan meluluhlantakkan serta meratakannya dengan tanah. Sebelumnya, tidak pernah disaksikan bangunan-bangunan menjulang tinggi di tanah Palestina kecuali pada masa kekuasaan Zionis sekarang ini. Gedung-gedung pencakar langit dan rumah-rumah pemukiman dibangun di setiap jengkal tanah Palestina yang diberkahi.
Kami katakan kepada mereka : Dirikanlah terus wahai anak keturunan Zionis, tinggikan bangunan sesukamu! Sesungguhnya kehancuran kalian di situ dengan izin Allah.
Dan tak lama lagi kalian akan luluhlantak dan tertimpa bangunan kalian itu! Dan Allah takkan memungkiri janjinya : “dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana”.
Penguasaan Masjidil Aqsha tidak disebutkan pada kali yang pertama dan disebutkan pada kali yang kedua.
Sebab penguasaan Masjidil Aqsha oleh kaum muslimin akan berakhir. Kalaulah belum berakhir berarti penguasaan yang kedua merupakan lanjutan dari yang pertama. Akan tetapi berhubung penguasaan Masjidil Aqsha yang pertama akan berakhir, maka penguasaan untuk yang kedua kalinya merupakan peristiwa baru.
Dan itulah realita yang terjadi! Penguasaan pertama telah berakhir sesudah bangsa Yahudi menguasai al-Quds serta beberapa wilayah tanah Palestina lainnya dalam satu serangan yang sangat sporadis pada tahun 1967, orang-orang menyebutnya tahun kekalahan. Sebelumnya pada tahun 1948 mereka sebut dengan tahun kemalangan.
Penguasaan yang pertama berakhir disebutkan karena adanya faktor penghalang yang menghalangi kaum muslimin untuk menguasainya. Penghalang itu merupakan musuh bagi Islam dan kaum muslimin. Dan cukuplah Yahudi sebagai musuh bebuyutan yang sangat menentang Islam, kaum muslimin dan para pembela Islam.
Maka kita harus membebaskan tanah kita yang dirampas dan membuat perhitungan dengan mereka serta menyalakan api kebencian terhadap mereka!!! Sudah tergambar pada wajah mereka tanda-tanda kemalangan dan kehinaan.
Kaum muslimin akan kembali menguasai Masjidil Aqsha –insya Allah- sebagaimana kaum salafus shalih menguasainya pertama kali. Sebab kehancuran kedua yang telah dijanjikan oleh Allah dalam firman-Nya : “dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama”.
Kita sedang menanti peristiwa itu sebagai kebenaran janji Allah dan kebenaran berita-berita RasulullahShallallahu ‘alaihi wa Salam. Pada hari itu kaum muslimin bergembira dengan pertolongan dari Allah Azza wa Jalla.[2]
Nubuwat as-Sunnah ash-Shahihah tentang Kebinasaan Bangsa Yahudi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah mengabarkan bahwa kaum muslimin akan berperang melawan bangsa Yahudi, beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :
“Tidak akan tiba hari kiamat sehingga kaum muslimin berperang melawan Yahudi. Sampai-sampai apabila orang Yahudi bersembunyi di balik pepohonan atau bebatuan, maka pohon dan batu itu akan berseru, ‘wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini orang Yahudi ada bersembunyi di balikku, kemarilah dan bunuhlah ia.’ Kecuali pohon Ghorqod, karena ia adalah pohon Yahudi.” (Muttafaq ‘alaihi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).
Diriwayatkan oleh Syaikhaini (Bukhari dan Muslim) dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Kalian benar-benar akan membunuhi kaum Yahudi, sampai-sampai mereka bersembunyi di balik batu, maka batu itupun berkata, ‘wahai hamba Allah, ini ada Yahudi di belakangku, bunuhlah dia!’.”
Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa :
Pertama : Akan datang masa sebelum datangnya hari kiamat bahwa kaum muslimin dan bangsa Yahudi akan mengalami peperangan besar dan ini adalah suatu hal yang pasti akan terjadi.
Kedua : Bangsa Yahudi akan dibantai oleh kaum muslimin, dan hal ini terjadinya di bumi Palestina, dan saat itu seluruh pepohonan dan bebatuan yang dijadikan tempat persembunyian bangsa Yahudi akan berseru memanggil kaum muslimin untuk membunuh mereka, kecuali pohon Ghorqod.
Ketiga : Hal ini menunjukkan bahwa kemenangan berada di tangan Islam dan kehinaan akan meliputi bangsa Yahudi yang terlaknat dan terkutuk.
Keempat : Berkaitan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma di atas, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda “latuqootilunna” (Kalian benar-benar akan membunuhi kaum Yahudi) yang disertai dengan lam dan nun sebagai ta’kid(penegasan) akan kepastian hal ini. Khithab (seruan) Nabi ini adalah kepada para sahabat, hal ini menunjukkan secara sharih bahwa masa depan adalah milik Islam saja –biidznillahi-, namun haruslah dengan metode para sahabat Nabi dan kaum salaf yang shalih.
Kelima : Berkaitan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda tentang seruan batu dan pohon : “Wahai muslim, wahai hamba Allah…” yang menunjukkan manhaj tarbawi (pendidikan) ishlahi (pembenahan) yang ditegakkan di atas manifestasi tauhid dan al-‘Ubudiyah (penghambaan) yang merupakan cara di dalam menegakkan syariat Islam di muka bumi dan melanggengkan kehidupan Islami berdasarkan manhaj nabawi.[3]
Tha`ifah al-Manshurah adalah Pembebas Negeri Syam al-Muqoddasah
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberkahi negeri Syam di dalam kitab-Nya al-Majid (yang terpuji) di dalam 5 ayat, sebagai berikut :
“Dan kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang kami Telah memberkahinya untuk sekalian manusia.” (QS al-Anbiyaa’ 21:71)
“Dan (telah kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya, dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS al-Anbiyaa’ 21:81)
“Dan kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya, dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka, dan kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” ( QS al-A’raaf 7:137)
“Dan kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan, berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman.” (QS Sabaa` 34:18)
“Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” ( QS al-Israa` 17:1)
Seluruh ayat di atas menunjukkan akan keutamaan dan keberkahan negeri Syam, tidak diketahui adanya perselisihan para ulama tafsir tentangnya. Negeri Syam adalah negeri yang memiliki fadhilah (keutamaan) dibandingkan negeri-negeri lainnya.
Di negeri inilah risalah-risalah kenabian banyak diturunkan, para rasul banyak diutus dan menjadi tempat hijrah para Nabi Allah. Di dalamnya terdapat kiblat pertama kaum muslimin, di-isra`kannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Di dalamnya Dajjal akan binasa di tangan al-Masih ‘alaihi Salam, demikian pula Ya’juj dan Ma’juj serta bangsa Yahudi akan binasa.
Namun negeri ini kini terampas dan terjajah, dirampas dan dijajah oleh bangsa terburuk di muka bumi ini. Namun penjajahan mereka atas bumi Palestina dan Syam adalah penggalian kuburan bagi mereka sendiri. Karena Nabi yang mulia telah memilih negeri ini sebagai bangkitnya ath-Tha`ifah al-Manshurah (golongan yang mendapat pertolongan) yang akan membinasakan bangsa Yahudi dan membebaskan negeri Syam dari kekuasaan mereka serta menegakkan Islam sebagai agama yang haq.
Berikut ini adalah hadits-hadits yang menjelaskannya:
Pertama : Hadits ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu : “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku, yang berperang di atas kebenaran, yang menampakkan (kebenaran) terhadap orang-orang yang mencela mereka, hingga terbunuhnya orang yang terakhir dari mereka, yaitu al-Masih ad-Dajjal.” (HR Abu Dawud : 2484; Ahmad : IV/329 dan IV/343; ad-Daulabi dalam al-Kuna : II/8; al-Lalika`i dalam Syarh I’tiqod ‘Ushulis Sunnah no. 169; dan al-Hakim : IV/450; dari jalan Hammad bin Salamah, meriwayatkan dari Qotadah, dari Mutharif).
Al-Hakim berkata : “Shahih menurut syarat Muslim” dan Imam adz-Dzahabi menyepakatinya. Syaikh Salim berkata : “Hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hakim”.
Dan menyertai (tabi’) riwayat ini adalah riwayat dari Abul ‘Alaa` bin asy-Syakhir dari saudaranya Mutharif, dikeluarkan oleh Ahmad (IV/434), dan Syaikh Salim berkomentar : “isnadnya shahih menurut syarat imam yang enam.”
Kedua : Hadits Salamah bin Nufail radhiyallahu ‘anhu : “Saat ini akan tiba masa berperang, akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang menampakkan (kebenaran) di hadapan manusia, Allah mengangkat hati-hati suatu kaum, mereka akan memeranginya dan Allah Azza wa Jalla menganugerahkan kepada mereka (kemenangan), dan mereka tetap dalam keadaan demikian, ketahuilah bahwa pusat negeri kaum mukminin itu berada di Syam, dan ikatan tali itu tertambat di punuk kebaikan hingga datangnya hari kiamat.” (HR Ahmad : IV/104; an-Nasa`i : VI/214-215; Ibnu Hibban : 1617-Mawarid; al-Bazzar dalam Kasyful Astaar : 1419; dari jalan al-Walid bin Abdurrahman al-Jarsyi dari Jabir bin Nufair.)
Syaikh Salim berkata : “Dan isnad ini shahih menurut syarat Muslim.”
Ketiga : Hadits Qurrah radhiyallahu ‘anhu : “Apabila penduduk negeri Syam telah rusak, maka tidak ada lagi kebaikan bagi kalian. Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang mendapatkan pertolongan, tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datangnya hari kiamat.” (HR at-Tirmidzi : 2192; Ahmad : V/34; al-Lalika`i : 172; Ibnu Hibban : 61; al-Hakim di dalam Ma’rifatu ‘Ulumul Hadits hal. 2; dari jalan Syu’bah bin Mu’awiyah bin Qurrah, dari ayahnya secara marfu’)
Imam at-Tirmidzi berkata : “hadits hasan shahih.” Syaikh Salim berkomentar : “Hadits ini shahih menurut syarat Syaikhaini (Bukhari dan Muslim).”
Keempat : Hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh radhiyallahu ‘anhu yang memiliki dua lafazh yang berbeda, yaitu :
Pertama : Beliau berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam : “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang menampakkan (diri) di atas kebenaran, yang senantiasa perkasa hingga hari kiamat.” (HR al-Lalika`i di dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah : 170).
Kedua : Beliau berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam : “Akan senantiasa penduduk Maghrib (barat) menampakkan kebenaran hingga datangnya hari kiamat.” (HR Muslim : XIII/68-Nawawi; Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah : III/95-96; as-Sahmi di dalam Tarikh Jurjaan : 467; dan selainnya dari jalan Abu Utsman al-Hindi)
Syaikh Salim berkomentar : “Iya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah menjelaskan negeri al-Firqah an-Najiyah dengan penjelasan yang terang yang tidak ada lagi keraguan padanya, dan beliau mengabarkan bahwa negeri itu adalah Syam yang diberkahi dan penuh kebaikan.”
Dan penjelasan Syaikh Salim al-Hilali di sini ditopang oleh penjelasan berikut :
Hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh ‘Umair dari Malik bin Yakhomir, Mu’adz berkata : “Dan mereka ini (ath-Tha`ifah al-Manshurah) berada di Syam.” Dan ucapan ini dihukumi marfu’ karena tidaklah diucapkan dengan ra’yu (pendapat) dan ijtihad.
Hadits Sa’ad di atas : “Akan senantiasa penduduk Maghrib (barat) menampakkan kebenaran hingga datangnya hari kiamat.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu menukil dalam kitabnya Manaqib asy-Syam wa Ahluhu (hal. 72-77) ucapan Imam Ahmad bin Hanbal : “Penduduk Maghrib, mereka adalah penduduk Syam.
Syaikh Salim mengomentari : “Saya sepakat dengan dua alasan :
Pertama adalah, bahwa seluruh hadits-hadits di atas menjelaskan bahwa mereka adalah penduduk Syam.
Kedua, bahasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan penduduk Madinah tentang “penduduk Maghrib (barat)” maksudnya adalah penduduk Syam, karena mereka (penduduk Maghrib) berada di barat mereka (Rasulullah dan para sahabatnya), sebagaimana bahasa mereka tentang “penduduk Masyriq (timur)” adalah penduduk Nejed dan Irak. Karena Maghrib (barat) dan Masyriq (timur) adalah perkara yang nisbi (relatif).
Seluruh negeri yang memiliki barat maka bisa jadi merupakan bagian timur bagi negeri lainnya dan sebaliknya. Dan yang menjadi pertimbangan di dalam ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam ini tentang barat dan timur adalah tempat beliau mengucapkan hadits ini, yaitu Madinah.”
Kesimpulan : Negeri Syam adalah negeri ath-Tha`ifah al-Manshurah yang akan menampakkan kebenaran, tidaklah akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi dan mencela mereka, mereka akan mendapatkan kemenangan dari Allah dan mereka tetap dalam keadaan demikian sampai datangnya hari kiamat. Ath-Tha’ifah al-Manshurah inilah yang akan memenangkan Islam dan membebaskan negeri Syam dari belenggu penjajahan bangsa Yahudi yang terlaknat, dan merekalah yang akan membinasakan bangsa Yahudi terlaknat ini.
Catatan Kaki
[1] Sengaja kami pilih kata Nubuwat daripada kata ramalan, karena kata nubuwat lebih sesuai dan pantas daripada penggunaan kata ramalan. Kata ramalan seringkali berasosiasi dengan klenik, khurafat, takhayul ataupun metafisika. Sedangkan nubuwat maka asosiasinya adalah dengan wahyu : al-Qur’an atau as-Sunnah yang shahih.
[2] Disarikan dari “Jama’ah-Jama’ah Islamiyah Ditimbang Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah” (terj. Al-Jama’at al-Islamiyyah fi Dhou’il Kitaabi was Sunnah), karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly, pent. Ust. Abu Ihsan al-Atsari, Pustaka Imam Bukhari, Jilid I, cet. I, Juni 2003, hal. 90-108.
[3] Dipetik secara ringkas dan bebas dari artikel yang berjudul Haditsu Qitaali al-Yahuudi Riwaayatan
*Disarikan dari artikel yang berjudul ath-Tha`ifah al-Manshurah wal Bilaad al-Muqoddasah, karya Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied al-Hilali, dalam Majalah al-Asholah, no. 30, th, V, hal. 17-21.

http://nahimunkar.com/kehancuran-bangsa-yahudi-menurut-al-quran-dan-sunnah/

KAPAN KITA KEMBALI SEPERTI DULU

KAPAN KITA KEMBALI SEPERTI DULU
Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Tatkala kita membuka lembaran-lembaran sejarah, kita akan mendapati bahwa dulu kita adalah umat yang berwibawa, seluruh dunia kecil di hadapan kita.

Surat berikut ini, kami keluarkan dari laci sejarah, sebuah surat yang dikirimkan oleh Raja Inggris George II kepada Khalifah kaum muslimin di Andalusia Hisyam III.

Akan bisa dilihat apakah yang diminta oleh Raja Inggris dari Khalifah kaum musliman di Andalus?!! Dan bagaimanakah Raja Terkuat di Eropa berbicara kepada kita?!!

Raja George II, mengirimkan putri saudaranya, seorang gubernur wanita Dubanit, dan juga kepala kabinetnya sebagai pimpinan rombongan ilmiah yang terdiri dari 18 pemudi dari putri-putri para pembesar menuju Andalus untuk mempelajari aturan-aturan kenegaraan, serta hukum-hukum, dan adab-adab perilaku Islam, serta segala sesuatu yang berkenaan dengan pendidikan kepada kaum wanita, dan untuk mengambil manfaat dari peradaban, serta produk-produk Islam.

Dia menulis surat bersama dengan gubernur wanita itu, dan berikut ini adalah naskahnya:

Kepada yang mulia
Khalifah kaum muslimin
Hisyam III, yang agung kedudukannya.

Dari George III, Raja Inggris, Swedia, dan Norwegia
kepada Khalifah, Raja Kaum Muslimin di kerajaan Andalus
pemilik keagungan Hisyam yang mulia.

Setelah pengagungan dan penghormatan, maka kami telah mendengar akan kemajuan besar yang anda nikmati dengan berdirinya sekolah-sekolah ilmu pengetahuan, dan penemuan-penemuan baru di negeri anda yang makmur, maka kami menginginkan akar putra-putra kami bisa mengambil sedikit contoh dari karunia tersebut, agar menjadi permulaan kebaikan di belakang jejak anda sekalian. Guna menebarkan cahaya ilmu di negeri kami yang diliputi oleh kebodohan dari keempat tiangnya.

Kami telah memposisikan putri saudara kandung kami, yaitu gubernur wanita Dubanit sebagai kepala rombongan yang berasal dari putri-putri pemuka Inggris. Agar
وقد وضعنا ابنة شقيقنا الأميرة دوبانت على رأس البعثة من بنات أشراف الإنكليز، لتتشرف بلثم أهداب العرش والتماس العطف، وتكون مع زميلاتها موضع عناية عظمتكم وفي حماية الحاشية الكريمة، و الحدب من قبل اللواتي سوف يقمن على تعليمهن، و قد أرفقت الأميرة الصغيرة بهدية متواضعة لمقامكم الجليل، أرجو التكرم بقبولها ، مع التعظيم والحب الخالص..
Aku sertakan bersamnya satu hadiah sederhana bagi kedudukan anda yang mulia. Dan aku berharap mendapatkan kemuliaan dengan dikabulkannya permintaanku ini, dengan disertai penghormatan dan cinta yang tulus.

Dari pelayanmu yang setia

Geroge M I

Adapun jawaban dari Khalifah Andalus Hisyam III:

Dengan menyebut asma Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allâh, Rabb semesta alam, shalawat dan salam atas Nabi-Nya, penghulu para Rasul,
Waba’du:
Kepada Raja Inggris و ايكوسيا dan Skotlandia
Aku sudah membaca permohonan anda sekalian, dan aku menyetujuinya, setelah bermusyawarah dengan para pemilik urusan tersebut yang nanti akan membantu mereka. Oleh karena itu, kami beritahukan kepada anda sekalian, bahwa rombongan itu nanti akan dibiayai dari baitul mal kaum muslimin, sebagai bukti akan cinta kami kepada pribadi anda sebagai seorang raja.

Adapun hadiah anda sekalian, maka kami telah menerimanya dengan penuh kebahagiaan yang berlebih. Sebagai balasan, maka kami kirimkan kepada anda sekalian permadani Andalus yang termahal, itu adalah hasil karya putra-putra kami, sebagai hadiah untuk anda sekalian. Padanya terdapat maksud yang cukup untuk menunjukkan akan perhatian dan kecintaan kami.
Wassalam
Khalifah Rasulullah di Negeri Andalus
Hisyam III

Surat ini ditulis pada permulaan abad kelima hiriyah, dan telah disebut dalam sejumlah buku-buku rujukan sejarah, baik yang berbahasa Arab, Inggris, Jerman, maupun Perancis. Diantaranya adalah al-‘Arab ‘Unshurus Siyadah fil Qurunil Wustha, oleh penulis sejarah berkebangsaan Inggris Sir John دوانبورت
Sebagaimana disebutkan pula oleh seluruh ahli sejarah Sprengastinn dan Christer Samuelsson.

Perhatikanlah bersama saya, bagaimanakah kedudukan kita tempo dulu?

Raja Eropa mengirimkan putri saudara kandungnya, sebagai pimpinan rombongan kerajaan untuk mempelajari ilmu dari negeri kaum muslimin. Sementara kita, pada hari ini, pergi kepada mereka!!!

Perhatikanlan, bagaimana Seorang raja mengakui akan kebodohan mereka dan keagungan kita..!!!
Perhatikanlah, dia berkata kepada Khalifat kaum muslimin, ‘Pelayanmu yang setia’
Maka dimanakah kita pada hari ini?!!

Demi Allâh, sungguh, mata ini benar-benar menangis, dan hati ini benar-benar bersedih akan hal ini.
Mereka mengambil faidah dari ilmu kakek buyut kita, dan sekarang mereka menjadi tuan bagi kita.

Aku tidak akan mengatakan kecuali seperti apa yang dikatakan oleh Umar bin al-Khaththab :
أَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلاَمِ وَسَيُذِلُّنَا دُوْنَهُ
“Allâh muliakan kita dengan Islam, dan akan menghinakan kita selainnya”

Aku memohon kepada Allâh, agar mengembalikan kita dengan baik, dan generasi penerus kita akan menemukan surat semacam itu pada masa mendatang dengan idzin Allâh.mendatang dengan idzin Allâh.

Via: Majalah Qiblati – Menyatukan Hati Dalam Sunnah Nabi