Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata tentang para Sahabat

Sahabat Nabi di Mata Ahlussunnah wal Jamaah (2)

31 January, 2007

– Tingkat pembahasan: Dasar

Diterjemahkan dari Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah
Karya Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin
Oleh: Ustadz Abu Isa

Syaikhul Islam –Ibnu Taimiyah- berkata, “Ahlussunnah mempersaksikan orang-orang yang telah dipersaksikan oleh Rasulullah sebagai penduduk surga, seperti 10 orang sahabat, Tsabit bin Qais bin Syammas, dan sahabat-sahabat lainnya.”

Penjelasan:

Persaksian sebagai penduduk surga ada 2 bentuk:

  1. Persaksian yang berkaitan dengan sifat tertentu.
  2. Persaksian yang berkaitan dengan orang tertentu.

Adapun persaksian yang dikaitkan dengan sifat tertentu, maka kita bersaksi bahwa setiap mukmin pasti masuk surga, dan setiap orang yang bertaqwa pasti masuk surga, tanpa menunjuk orang tertentu. Persaksian seperti ini disebut persaksian umum. Wajib bagi kita untuk bersaksi demikian karena Allah telah memberitakannya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan. Mereka kekal di dalamnya; sebagai janji Allah yang benar. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Luqman: 8-9)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Adapun persaksian yang dikaitkan dengan orang tertentu, maka caranya adalah kita bersaksi bahwa si fulan atau beberapa orang tertentu merupakan penghuni surga. Persaksian seperti ini dinamakan persaksian khusus.

Kita memberikan persaksian kita terhadap orang-orang yang telah dipersaksikan oleh Rasulullah, baik untuk seseorang tertentu maupun beberapa orang tertentu, bahwa mereka sebagai penduduk surga.

Contohnya sebagaimana yang telah disebutkan oleh Syaikhul Islam dengan perkataan beliau “10 orang.” Yang beliau maksudkan adalah 10 orang sahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah sebagai penduduk surga. Mereka digelari dengan gelar seperti ini karena Nabi menyebutkan mereka semua dalam satu hadits yang sama. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah bin Ubaidah, az-Zubair bin al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Sa’id bin Zaid, dan Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah rodhiallahu ‘anhum.

Rasulullah bersabda, “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, az-Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’ad di surga, Sa’id di surga, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kita wajib menyatakan bahwa mereka masuk surga karena Nabi telah menyatakan demikian.

Sedang yang dimaksud oleh Syaikhul Islam dengan “Tsabit bin Qais bin Syammas” adalah Tsabit bin Qais yang merupakan salah satu juru khutbah Nabi yang memiliki suara yang keras.

(Dia sempat merasa sedih) tatkala Allah menurunkan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. al-Hujurat: 2)

Dia takut amalnya telah terhapus sedangkan dia tidak menyadarinya. Akhirnya, dia bersembunyi saja di rumahnya, tidak keluar. Sampai kemudian Nabi merasa kehilangan dia. Beliau lantas mengutus seseorang untuk menanyakan alasannya tidak keluar rumah. Dia menjawab, “Karena Allah telah menurunkan firman-Nya (yaitu ayat di atas) padahal akulah orang yang telah mengeraskan suara melebihi suara Rasulullah. Tentulah telah terhapus amalku dan aku menjadi penghuni neraka.” Utusan tadi lalu menyampaikan kepada Rasulullah apa yang telah dikatakan Tsabit, kemudian beliau bersabda,

“Pergilah engkau kepadanya dan katakan, ‘Engkau bukan penghuni neraka, namun penghuni surga.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun perkataan Syaikhul Islam “Dan sahabat-sahabat Nabi yang lain”, seperti para istri Nabi-karena mereka berada satu derajat di surga bersama Nabi -, Bilal, Abdullah bin Salam, Ukkasyah bin Mihshan, Sa’ad bin Mu’adz.

Syaikhul Islam berkata, “Ahlussunnah menetapkan penukilan yang mutawatir dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan selainnya bahwa orang terbaik setelah Nabi adalah Abu Bakar kemudian Umar.”

Penjelasan:

Kabar mutawatir adalah kabar yang mengandung keyakinan/ilmu yakin, yaitu kabar yang dinukil oleh banyak orang yang tidak mungkin bersepakat dalam suatu kebohongan.

Dan di dalam shahih al Bukhari dan selainnya dari Abdullah bin Umar berkata, “Kami memilih orang-orang (yang terbaik) pada zaman Nabi, maka kami memilih Abu Bakar, Umar bin Khaththab, kemudian Utsman bin Affan.”

Dan dalam shahih al Bukhari juga bahwa Muhammad bin al-Hanafiyah berkata, “Aku berkata kepada bapakku (Ali), ‘Siapakah orang terbaik setelah Nabi?’ Beliau menjawab, ‘Abu Bakar.’ Kemudian aku berkata, ‘Lalu siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Kemudian Umar.’ Aku khawatir jika beliau mengatakan Utsman, maka aku berkata, “Kemudian engkau!” Tetapi beliau berkata, ‘Tidaklah aku ini kecuali hanya seorang laki-laki dari kaum muslimin.’”

Jika Ali saja berkata pada zaman kekhalifahan beliau bahwa umat terbaik sesudah Nabi adalah Abu Bakar lalu Umar, maka sungguh telah gugur hujjah kelompok Rafidhah yang lebih mengutamakan Ali daripada Abu Bakar dan Umar.

Perkataan Syaikhul Islam di atas “…dan selainnya” adalah selain Ali bin Abu Thalib dari kalangan Sahabat dan Tabi’in.

Dan ini adalah kesepakatan para imam. Imam Malik berkata, “Saya tidak mendapati seorang pun yang ragu dalam mendahulukan keduanya.“ Imam Syafi’i berkata, “Sahabat dan Tabi’in tidak berselisih dalam mengutamakan Abu Bakar dan Umar.”

Dengan demikian, barangsiapa yang keluar dari ijmak (kesepakatan) di atas, maka sungguh dia telah keluar dari jalan orang-orang yang beriman.

Syaikhul Islam berkata, “Ahlussunnah menempatkan Utsman di urutan ketiga dan Ali di urutan keempat, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh atsar dan sebagaimana kesepakatan para sahabat yg mendahulukan membai’at Utsman (daripada Ali).”

Penjelasan:

Dari kesimpulan di atas, maka yang terbaik dari umat ini (sesudah Nabi) adalah Abu Bakar kemudian Umar (dengan kesepakatan) kemudian Utsman, dan terakhir Ali.

Kemudian Syaikhul Islam berdalil dengan 2 dalil tentang urutan ini:

  1. Dalil yang ditunjukkan oleh atsar. Sebagiannya telah dijelaskan di atas.
  2. Kesepakatan para sahabat yang lain yang mendahulukan membai’at Utsman daripada Ali (menjadi khalifah).

Maka cukuplah keutamaan Utsman daripada Ali dengan dalil-dalil syar’i (nukilan) dan aqli (akal) berupa ijmak para sahabat bahwa Utsman lebih dulu dalam masalah bai’at. Ijmak para sahabat tersebut mengharuskan Utsman lebih utama dari Ali karena suatu hikmah. Allah memilih yang terbaik dalam satu generasi dan tidaklah Allah memberi pemimpin kecuali orang yang paling baik dari mereka.

Syaikhul Islam berkata, “Sebagian Ahlussunnah ada yang berbeda pendapat dalam masalah Utsman dan Ali -setelah mereka bersepakat mengutamakan Abu Bakar lalu Umar -, siapakah dari keduanya yang afdhal (lebih utama) sesudah Abu Bakar dan Umar? Satu kelompok dari mereka mendahulukan Utsman kemudian diam, atau menyebutkan Ali sebagai yang keempat. Sedang kelompok lain lebih mengutamakan Ali. Dan kelompok terakhir bersikap tawakkuf (tidak memilih).”

Penjelasan:

Kelompok pertama berkata, “Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman.” Setelah itu mereka diam (tidak menyebutkan yang keempat). Atau mereka berkata, “Kemudian Ali.”

Kelompok kedua berkata, “Abu Bakar kemudian Umar kemudian Ali kemudian Utsman.” Ini salah satu dari pendapat-pendapat Ahlussunnah.

Kelompok terakhir berkata, “Abu Baka kemudian Umar.” Kemudian mereka bersikap tawakkuf dalam menentukan siapa yang lebih utama antara Utsman dan Ali. Dan ini berbeda dari pendapat kelompok pertama.

Jadi semuanya ada 4 pendapat, yaitu:

  1. Pendapat yang masyhur: Abu Bakar lalu Umar lalu Utsman lalu Ali.
  2. Pendapat kedua: Abu Bakar lalu Umar lalu Utsman lalu diam (tidak menyebut nama Ali).
  3. Pendapat ketiga: Abu Bakar lalu Umar lalu Ali lalu Utsman.
  4. Pendapat keempat: Abu Bakar lalu Umar lalu tawakkuf (tidak memilih) yang mana yang lebih utama antara Utsman dan Ali. Mereka berkata, “Kami tidak mengatakan bahwa Utsman yang lebih utama atau Ali yang lebih utama, namun kami (juga) tidak berpandangan ada orang yang lebih utama daripada Utsman atau Ali setelah Abu Bakar dan Umar.”

Syaikhul Islam berkata, “Akan tetapi, Ahlussunnah telah berketetapan dalam hal mengutamakan Utsman (daripada Ali).”

Penjelasan:

Ini adalah ketetapan Ahlussunnah. Mereka berkata, “Orang yang paling utama di antara umat ini setelah Nabi adalah: Abu Bakar lalu Umar lalu Utsman lalu Ali menurut urutan-urutan mereka menjadi khalifah. Dan inilah yang benar sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh dalil-dalil di atas.

Syaikhul Islam berkata, “Masalah ini (yaitu masalah Utsman dan Ali) menurut jumhur Ahlussunnah bukanlah termasuk masalah-masalah ushul (prinsip/pokok) yang dinilai sesat orang yang menyelisihinya.”

Penjelasan:

Masalah penentuan yang lebih utama antara Utsman dan Ali bukan termasuk diantara prinsip-prinsip Ahlussunnah yang penyelisihnya akan dinilai sesat. Jadi, jika ada orang yang mengatakan bahwa Ali lebih utama daripada Utsman, maka tidak boleh kita katakan bahwa orang tersebut sesat, akan tetapi kita katakan bahwa itu adalah salah satu pendapat dari pendapat-pendapat Ahlussunnah dan kita tidak mengomentarinya sedikit pun.

Syaikhul Islam berkata, “Akan tetapi, masalah yang menjadikan seseorang dinilai sesat (jika keliru) adalah masalah urutan kekhalifahan (pemerintahan) mereka.”

Penjelasan:

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk berkata, “Khalifah sesudah Nabi adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali.” Barangsiapa yang mengatakan bahwa khilafah (hak pemerintahan) adalah milik Ali, bukan milik ketiga khalifah sebelumnya (Abu Bakar, Umar, dan Utsman), maka dia sesat. Dan barangsiapa yang mengatakan bahwa khilafah itu adalah milik Ali setelah Abu Bakar dan Umar, maka dia telah sesat karena telah menyelisihi ijmak sahabat (yang memilih Utsman).

Untuk itu, Syaikhul Islam berkata, “Ahlussunnah beriman bahwa khalifah sesudah Nabi adalah Abu Bakar lalu Umar lalu Utsman lalu Ali. Dan inilah yang disepakati oleh Ahlussunnah dalam masalah kekhalifahan.”

Syaikhul Islam kemudian berkata, “Barangsiapa yang mengingkari salah satu dari empat khalifah ini, maka dia lebih sesat daripada keledainya.”

Penjelasan:

Yaitu mengingkari kekhalifahan (pemerintahan) salah satu di antaranya dengan mengatakan, “Ia tidak berhak menjadi khalifah,” atau, “Dia lebih berhak daripada khalifah sebelumnya,” maka dia lebih sesat daripada keledai. Wallahu a’lam.

Syaikhul Islam berkata, “Ahlussunnah berlepas diri dari sikap Rafidhah yang membenci dan mencaci para Sahabat.”

Penjelasan:

Mereka dinamakan Rafidhah (berarti ‘yang menolak’) karena menolak jawaban Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib yang menjawab pertanyaan mereka tentang Abu Bakar dan Umar, “Keduanya para pembantu/pendamping kakekku (Rasulullah).”

Kelompok Rafidhah mengingkari dan membenci sahabat dengan hati dan lidah mereka.

  1. Dalam hati, mereka membenci sahabat Nabi, kecuali sejumlah sahabat yang mereka jadikan sebagai perantara untuk mendapatkan keinginan mereka dan bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) kepadanya, yaitu kepada Ahlu bait.
  2. Dengan lidah, mereka mencela dan melaknat para sahabat. Mereka berkata, “Para sahabat telah berlaku zalim dan murtad sesudah Nabi wafat, kecuali sedikit saja dari mereka.” Dan perkataan-perkataan lain yang terdapat dalam kitab-kitab mereka yang terkenal.

Pada hakikatnya mencela para sahabat bukan terbatas pencelaan kepada mereka saja, akan tetapi tertuju kepada para sahabat, Nabi, syariat Allah, dan dzat Allah.

  1. Dikatakan mencela para sahabat karena telah jelas dari lontaran ungkapan-ungkapan Rafidhah.
  2. Dikatakan celaan kepada Nabi karena mereka adalah sahabat dan teman dekat beliau, serta pemimpin kaum muslimin sesudah beliau. Di samping itu, karena berarti mendustakan pemberitaan Nabi tentang keutamaan para sahabatnya.
  3. Dikatakan celaan kepada syariat karena mereka adalah perantara sampainya syariat yang dibawa Nabi kepada kita. Apabila hilang kepercayaan kita terhadap mereka, maka nukilan syariat agama ini tidak ada yang benar.
  4. Dikatakan celaan kepada Allah karena Allah-lah yang mengutus Nabi-Nya kepada sebaik-baik umat. Allah-lah yang telah memilih para Sahabat sebagai sahabat Nabi-Nya serta pembawa syariat guna disampaikan kepada umat.

Maka, lihatlah akibat penghinaan Rafidhah terhadap para sahabat. Kita berlepas diri dari orang-orang yang mencela dan membenci para sahabat, dan kita mencintai para sahabat karena keimanan dan ketakwaan mereka, serta pertolongan mereka kepada Nabi.

Syaikhul Islam berkata, “Dan berlepas diri dari Kelompok Nawashib yang menyakiti Ahlu Bait dengan perkataan dan perbuatan.”

Penjelasan:

Kelompok Nawashib adalah kebalikan dari kelompok Rafidhah yang telah bersikap berlebih-lebihan terhadap Ahlu Bait sampai-sampai mengangkat mereka dari derajat manusia biasa menjadi derajat maksum dan bahkan sampai derajat uluhiyah (ketuhanan).

Kelompok Nawashib melawan bid’ah (Rafidhah) dengan bid’ah. Ketika melihat Rafidhah bersikap ghuluw terhadap Ahlu bait, mereka berkata, “Karena Rafidhah mencintai Ahlu Bait, maka itu kami membenci Ahlu Bait dan mencela mereka sebagai bentuk penentangan terhadap Rafidhah yang ghuluw dalam mencintai dan memuji Ahlu Bait.” Ketahuilah bahwa selamanya sikap yang pertengahan itu selalu menjadi yang terbaik dalam segala perkara. Melawan bid’ah dengan bid’ah tidak akan ada hasilnya sama sekali.

Syaikhul Islam berkata, “Dan Ahlussunnah wal Jamaah tawakkuf (berdiam diri) terhadap segala perdebatan yang terjadi di antara para sahabat.”

Penjelasan:

Terjadi perdebatan di antara sahabat setelah terbunuhnya Umar, dan perdebatan itu menjadi lebih keras setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, sehingga terjadilah apa yang terjadi yang berujung pada peperangan.

Permasalahan ini sangat masyhur, dan tidak diragukan lagi semuanya bersumber dari hasil ijtihad (masing-masing sahabat). Setiap orang dari mereka mengira bahwa dirinyalah yang berada di atas kebenaran. Tidak mungkin kita katakan bahwa Aisyah dan Zubair bin Awwam telah memerangi Ali sedang mereka meyakini bahwa Aisyah dan Zubair-lah yang salah, sedangkan Ali di atas kebenaran.

Keyakinan mereka bahwa mereka di atas kebenaran tidak melazimkan bahwa mereka menepati kebenaran itu. Demikian pula, jika mereka salah -dan kita tahu bahwa mereka tidak berpendapat kecuali atas dasar ijtihad-, maka sungguh Nabi telah bersabda, “Jika seorang hakim memutuskan suatu hukum dengan ijtihadnya dan dia benar, maka baginya 2 pahala. Tetapi jika salah, maka baginya satu pahala.”

Karenanya kita katakan, “Mereka salah, namun mereka mujtahid, bagi mereka satu pahala.”

Jadi perkara yang kita sikapi ini memiliki dua sisi. Pertama, hukum atas pelaku. Kedua, sikap kita kepada pelaku.

Mengenai hukum atas pelaku, maka telah berlalu penjelasannya. Yang jelas, yang menjadi keyakinan kita adalah bahwa apa yang terjadi di antara mereka bersumber dari hasil ijtihad (pelakunya). Dan sebuah ijtihad jika ternyata keliru, maka pelakunya tetap mendapat udzur dan pengampunan.

Adapun tentang sikap kita kepada pelaku, maka wajib bagi kita menahan diri dari (mengomentari) perdebatan yang timbul di antara mereka. Mengapa kita menjadikan perbuatan mereka sebagai bahan untuk mencela dan menghina mereka, dan bahan pemicu kebencian di antara kita? padahal –dengan perbuatan kita ini- baik kita (dianggap) berdosa ataukah tidak, kita tidak akan memperoleh (keuntungan) apapun.

Dalam menghadapi masalah-masalah seperti ini, kita harus berdiam diri terhadap (perselisihan/perdebatan) yang terjadi di antara para sahabat. Tidak boleh kita mencari-cari berita atau sejarah dalam urusan-urusan seperti itu, kecuali untuk mengkaji ulang karena darurat/terpaksa. Wallahu a’lam.

(Dari majalah Fatawa)

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s