Bantahan thd Tuduhan Dusta dan Fitnah Fauzan – MMI –

MENEPIS TUDUHAN MEMBELA KEBENARAN

Bantahan Terhadap Tuduhan Dusta dan Fitnah Fauzan al-AnshoriOleh : Abdurrohman bin Toyyib As-Salafy, Lc(Dimuat di dalam Majalah adz-Dzakhirah edisi bulan ini –insya Alloh-)Celaan demi celaan, tuduhan demi tuduhan serta kedustaan demi kedustaan akan terus dilontarkan bertubi-tubi kepada dakwah yang mubarokah ini (dakwah Salafiyah), tapi Alhamdulillah -dengan seizin Allah- dakwah Salafiyah ini ‘kan terus maju dan semakin menebarkan keharuman sunnah dan atsar ditengah umat. Dakwah Salafiyah ‘kan senantiasa tegak diatas kebenaran, menampakkan yang benar dan tidak akan menyembunyikan (sesuatu pun). Salafiyah bukanlah gerakan di bawah tanah (seperti tikus) yang selalu bersembunyi dari satu lorong ke lorong yang lain, dari satu selokan ke selokan yang lain. Itulah sifat/ciri dakwah Salafiyah (Thoifah Manshuroh) yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam dalam sabda beliau :(لا تزال طائفة من أمتي قائمة بأمر الله لا يضرهم من خذلهم أو خالفهم حتى يأتي أمر الله و هم ظاهرون على الناس) Artinya : “Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak diatas perintah (agama) Allah, tidak memadharotkan mereka celaan serta penyelisihan orang yang menyelisihi mereka sampai datangnya perintah Allah (hari kiamat) dan mereka (kelompok tersebut) selalu nampak dihadapan manusia” [HR. Bukhori 8/149 dan Muslim 3/1524].Diantara tuduhan-tuduhan batil dan dusta yang dilontarkan kepada dakwah Salafiyah ini adalah tulisan yang berjudul “Salafiyyun dalam sorotanÂ…” yang disebarkan di website Majelis Mujahidin Indonesia, kontribusi dari Fauzan Al-Anshori -semoga Allah mengampuninya dan memberinya petunjuk-. Tuduhan-tuduhan/syubhat-syubhat ini sebetulnya juga pernah dilontarkan oleh mulut-mulut berbisa lainnya. [كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا]Artinya : “Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengatakan kecuali dusta” [QS Al-Kahfi 5].Oleh karenanya dengan memohon pertolongan dan taufik-Nya, kami akan berusaha untuk menyingkap dan menepis tuduhan-tuduhan batil ini dan membela kebenaran agar jalan Allah selalu terang benderang malamnya seperti siangnya dan [لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ]. Artinya : “Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata pula” [QS Al-Anfaal 42].Simak dan nikmati bantahan terhadap tuduhan serta syubhat-syubhat yang ada di dalam artikel “Salafiyyun dalam sorotan Â…..” .Syubhat/tuduhanFauzan berkata : Sejak beberapa puluh tahun yang lalu, ditengah kaum muslimin muncul sebuah gerakan yang menamakan dirinya Salafiyah atau salafiyyun.BantahanPerlu diketahui bersama bahwa Salafiyah bukanlah suatu gerakan/partai/golongan yang serupa dengan Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir atau Jama’ah Tabligh atau NII yang didirikan beberapa puluh tahun yang lalu oleh pemimpin-pemimpin besarnya seperti Hasan Al-Banna, Taqiyuddin An-Nabhani, Muhammad Illyas dan Kartosuwiryo. Dakwah Salafiyah adalah nisbah/menisbatkan diri kepada manhaj/metode salaf (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) dan bukan aliran baru dalam Islam.[1] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu berkata : “Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbatkan diri kepadanya, bahkan wajib untuk menerima hal tersebut menurut kesepakatan, karena tidaklah madzhab salaf itu kecuali benar” [Majmu’ Fatawa 4/149].Salafiyah adalah silsilah dakwah para salaf, pemegang tongkat estafet dakwah mereka. Salafiyah selalu berusaha mewujudkan sabda Nabi  dalam hadits Firqotun Najiyah : [ما أنا عليه اليوم وأصحابي] Artinya : “Yang mengikuti aku dan para sahabatku” [HR Tirmidzi dengan sanad yang hasan]. Salafiyah merupakan perwujudan dari anjuran ulama salaf , diantaranya Imam Al-‘Auzai Rahimahullahu yang berkata : “Bersabarlah diatas sunnah, berhentilah kemana (para salaf) berhenti, katakan dengan apa yang mereka katakan dan cegahlah dari apa yang mereka cegah. Telusurilah jejak salafush sholeh karena akan mencukupimu apa yang mencukupi mereka”.[2] Lebih dari itu Salafiyah adalah pengikut setia para salaf yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya :[وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ] Artinya : “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.Â…” [QS At-Taubah 100].Madzhab Salaf (dakwah Salafiyah) adalah manhaj yang benar karena dia berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para salafush sholeh. Inilah yang harus kita katakan seperti yang telah dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah diatas. Adapun pribadi orang yang menisbatkan kepada manhaj ini maka kita katakan : [كل بني آدم خطاء و خير الخطائين التوابون] Artinya : “Setiap manusia itu pernah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang salah adalah yang bertaubat” [HSR Ibnu Majah]. Dan kita katakan seperti yang dikatakan oleh Imam Malik Rahimahullahu : “Tidak ada seorangpun setelah Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam melainkan diambil ucapannya atau ditolak”.Saya sarankan kepada penulis untuk dia membaca kitab “Limaadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy ?” karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly agar dia –Fauzan- tidak asal berbicara tentang Salafiyah tanpa ilmu. Allah Subhanahu wa TaÂ’ala berfirman :[وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا] Artinya : “Dan jangan kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” [QS. Al-Israa 36]Syubhat/tuduhanFauzan berkata : Bagaimana aqidah dan manhaj mereka (salafiyyun) menurut Al-Qur’an dan sunnah ala fahmi salafush sholeh ?BantahanSiapakah Salafush Sholeh menurutmu ? apakah Dzul Khuwaisiroh atau Abdurrohman bin Muljam? ataukah Washil bin ‘Atho? ataukah Abdullah bin Saba’ atau Sayid Qutub ? Jika anda ingin tahu aqidah kita dan manhaj salaf cobalah anda buka “Ushulus Sunnah” karya Imam Ahmad yang telah kami terjemahkan dan kami muat dalam Adz-Dzakhiroh edisi 13 lalu, atau coba baca “Syarhus Sunnah” oleh Imam Al-Barbahari yang salafiyun belajar aqidah dan manhaj darinya dan dari kitab aqidah ulama salaf. Mungkin anda tidak pernah mengetahui buku2 tersebut dan kami rasa tidak akan mungkin anda mau membacanya dengan baik karena kitab-kitab ulama salaf tersebut sangat amat menyelisihi anda dan yang semisal dengan anda (atau mungkin anda tidak bisa membaca ???).Syubhat/tuduhanFauzan berkata : Pertama, Salafiyun Ta’ashub dan taqlid buta. Bila diperhatikan, sebenarnya sikap ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Sikap ini lahir dari sikap hizbiyyah mereka, yang mereka terima dari para syuyukh mereka sendiriÂ… BantahanSeperti kita katakan bahwa salafiyyun hanya menyeru kepada metode para salaf (sahabat, tabi’un dan tabi’ut tabi’in) dalam segala bidang. Salafiyah bukan seperti “Ikhwanul Muslimin” yang menyeru kepada manhaj ‘gado-gadonya’ Hasan Al-Banna yang extrim dalam kesufiannya atau seperti “Jama’ah Tabligh” yang menyeru kepada manhaj pendirinya Muhammad Ilyas yang juga tenggelam dalam empat toriqot sufiyah[3] atau kelompok-kelompok lain yang hanya menyeru kepada perorangan atau pembesar mereka. Tidak ada yang lebih membuktikan akan jauhnya Salafiyah dari ta’ashub dan taqlid buta melainkan seruan mereka di mesjid-mesjid, halaqoh-halaqoh, majalah-majalah dll untuk kembali kepada manhaj salaf bukan kepada perorangan seperti yang dituduhkan. Coba anda lihat Muqodimah kitab “Sifat Sholat Nabi” oleh Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullahu yang sangat jauh dari seruan kepada ta’ashub atau “Iiqoozhul himmah littiba’i nabiyyil ummah” oleh Kholid bin Abdillah An-Najmy yang kami ajarkan dimasjlis ta’lim kami.Dakwah Salafiyah menyeru andam muslimin agar tidak menuntut ilmu melainkan dari ahli sunnah yang selalu menyeru kepada aqidah tauhid dan sunnah serta membasmi syirik, khurofat dan bid’ah. Dakwah Salafiyah melarang andam muslimin untuk menimba ilmu dari ahli bid’ah yang menyeru kepada bid’ah dengan segala bentuknya. Dan perkara ini diambil oleh Dakwah Salafiyah dari para salaf mereka seperti Ibnu Sirin Rahimahullahu yang mengatakan : “Ilmu ini adalah agama itu sendiri maka lihatlah darimana kamu mengambil ilmu tersebut” dan dari ucapan beliau juga : “Dahulu para salaf (sahabat) tidak pernah bertanya tentang isnad tapi ketika terjadi fitnah mereka bertanya : siapa guru-gurumu ? jika guru tersebut dari ahli sunnah maka diambil haditsnya tapi jika dari ahli bid’ah maka ditolak haditsnya” [Muqqoddimah Shohih Muslim dalam bab Annal Isnad Minad Diin]. Ketahuilah Salafiyah bukan seperti kelompok-kelompok hizbiyah yang menerima semua golongan baik syi’ah maupun mu’tazilah. Mereka (orang-orang harokah) bak tong sampah yang menerima semua kotoran. Imam Al-Auza’i, pernah diceritakan kepada beliau bahwa ada seseorang yang mengatakan : ‘aku terkadang duduk (menimba ilmu -pent) dari ahli sunnah dan terkadang aku duduk (menimba ilmu -pent) dari ahli bid’ah‘. Maka Imam Al-Auza’i mengatakan : ‘orang itu ingin menyamakan kebenaran dengan kebatilan’.[4] Syubhat/tuduhanUcapan penulis (Fauzan Al-Anshori) yang mengatakan : ‘adalah Syaikh Ali Hasan Al Halabi Al Atsari -seorang syaikh panutan mereka yang mengakui dirinya Syaikh salafiyyin ketiga setelah syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan syaikh Muhammad Ibrohim Syuqroh- yang mengatakan ijma’ tentang kedudukan tiga syuyukh salafiyyun ini dengan mengatakan : “Para ulama kami yang agung itu, mereka itulah bintang-bintang pemberi petunjuk dan meteor yang tinggi, barangsiapa berpegang teguh dengan mentaati mereka, mereka itulah yang selamat dan barangsiapa memusuhi mereka, maka dialah orang yang tersesat” (At Tahdziru Min Fitnatit Takfir hal.39)BantahanDarimana anda mendapatkan pengakuan Syaikh Ali bahwa beliau mengklaim sebagai syaikh ketiga ? Coba buktikan kepada kami bila anda benar-benar bukan pendusta ulung? [قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ] Artinya : “Katakanlah : tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar” [QS Al-Baqarah 111].Disini timbul beberapa pertanyaan setelah kami baca langsung ucapan Syaikh Ali dalam bukunya “At-Tahdziru Min Fitnatit Takfir”. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah :1. Apakah Fauzan Al-Anshori punya/pernah melihat kitab tersebut ?2. Apakah Fauzan Al-Anshori paham bahasa arab ?3. Apakah Fauzan Al-Anshori bisa baca kitab arab gundul ?4. Apakah Fauzan Al-Anshori pernah membaca kitab tersebut ?5. Apakah Fauzan Al-Anshori hanya membeo para pendahulunya dalam masalah ini ?6. Apakah Fauzan Al-Anshori sengaja berdusta ????????Mengapa timbul pertanyaan-pertanyaan seperti diatas ? Karena apa yang dia pahami dari nukilan tersebut tidak sama dengan apa yang ditulis oleh Syaikh Ali dalam bukunya. Syaikh Ali memaksudkan tiga syuyukh (para ulama kami) adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahumullahu. Tapi Fauzan Al-Anshori mengatakan yang berlainan dengan fakta, dia memahami tiga syuyukh itu adalah Al-Albani, Muhammad Ibrohim Syuqroh dan Syaikh Ali sendiri. Syaikh Ali dalam buku tersebut mengatakan (sebelum nukilan yang dibawakan penulis diatas) : “Wahai pembaca, buku ini adalah kumpulan ucapan tiga ulama pada zaman ini, mereka adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Abdul Aziz Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahumullah. Wahai Fauzan Al-Anshori kalau anda memang membaca buku tersebut, bacalah dengan mata terbuka dan ditempat bercahaya, serta jangan anda membaca di dalam mimpi atau di gua di dalam hutan belantara di saat malam yang gelap gulita!!!!! Adapun ucapan Syaikh Ali : “Para ulama kami Â…..” maka telah beliau jelaskan langsung maksud dan beliau sebutkan atsar dari para salaf yang serupa dengan ucapan beliau tersebut. Tapi sayang mengapa penulis (Fauzan Al-Anshori) tidak menukilnya ? Fauzan Al-Anshori memotong-motong ucapan/nukilan hingga bisa menipu dan mengelabui orang-orang awam, seperti yang Fauzan Al-Anshori lakukan pada saat menukil ucapan Syaikh Muhammad Ibrahim Syuqroh yang akan kami jelaskan nanti -InsyaAllah-. Dan ini diantara metode ahli bid’ah sepanjang zaman untuk membuat talbis/syubhat ditengah umat. Metode seperti ini bak orang yang membaca Al-Qur’an : [فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ] “Celakalah orang-orang yang shalat” [QS Al-Maa’un 4], kemudian dia berhenti disini dan tidak meneruskan ayat selanjutnya. Atau dia memotong ayat [يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ] “wahai orang-orang yang beriman janganlah anda mendekati/melaksanakan shalat” [QS AN-Nisa’ 43]. –Na’uudzu billahi minadh dholaalati wal jahaalati-.Syaikh Ali bin Hasan -hafidzallahu- setelah mengatakan hal diatas beliau berkata : Sesungguhnya aku yakin bahwa sebagian anak yang masih ingusan dan pendek akalnya -tapi sudah berani berfatwa – akan berteriak kencang memperingatkan teman dan pengikutnya sambil mengatakan : ‘ini adalah taqlid (buta) ! Kita menolak taqlid !!’. Mereka mengatakan seperti ini agar hanya merekalah yang berhak untuk di taqlid !! Perkataan merekalah yang berhak didengar dan diterima!! Alangkah sesuainya mereka dengan apa yang dikatakan seorang penyair :إذا ما خلا الجبان بأرض طلب الطعن وحده و النزالا وApabila bumi hanya dihuni seorang pengecutMaka dia akan menantang untuk berperang sendirian.Saya –Syaikh Ali- katakan kepada orang ini dan yang semisalnya, anda dan pendukung-pendukung anda belum tahu cara menangkal taqlid, hukum taqlid atau taqlid yang tercela kecuali dari jalan mereka (para ulama). Apakah anda kira mereka (para ulama) itu -dengan kealiman dan besarnya keyakinan mereka- mereka menyelisihi prinsip yang telah mereka pegang dan yang mereka jelaskan ?Disana terdapat perbedaan yang sangat jauh antara permasalahan-permasalahan yang terperinci yang terkadang tersembunyi kebenaran didalamnya dari seorang alim baik secara nash, fiqh/pemahamannya, bahasanya lalu alim tersebut salah dan ditaqlid (oleh manusia) dengan permasalahan besar yang tidak boleh bagi seorangpun untuk berkecimpung (berfatwa) kecuali ulama-ulama besar seperti masalah kekafiran dan pengkafiran, perdamaian dan peperangan serta yang mencakup masalah umat dan pembantaian, pengusiran, pembunuhan, penafkahan harta, kegoncangan dalam umat, fitnah dan lain-lain.Barangsiapa yang belum tahu perbedaan kedua hal ini maka dia tidak pantas untuk dia mendebat ulama atau menduduki singgasana ulama ataupun mencela ulama.Diantara atsar para ulama salaf yang menguatkan ucapan saya diatas adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Khotib Al-Baghdady dalam “Tarikh” nya 3/268 bahwasanya Abdullah bin Mubarok Rahimahullahu ditanya tentang ittiba’ (siapa yang berhak diikuti -pent) beliau menjawab : ‘yang berhak diikuti adalah Husein bin Waaqid dan Abu Hamzah As-Sukkari’.Didalam Sunan Tirmidzi 6/335 : ‘bahwasanya Abdullah bin Mubarok pernah ditanya tentang hadits (Tangan Allah diatas jama’ahÂ….) Siapakah jama’ah itu ? Beliau menjawab : Abu Bakar dan Umar. Beliau ditanya lagi : Abu Bakar dan Umar telah meninggal ? Beliau menjawab : Fulan dan fulan. Beliau ditanya lagi : Mereka telah meninggal. Abdullah bin Mubarok mengatakan : Abu Hamzah As-Sukkari adalah jama’ah’.Saya –Syaikh Ali- katakan : Hidupnya para ulama adalah kehidupan dan kelanggengan bagi umat ini. Mendekatnya umat kepada para ulama adalah sebab bagi bangkitnya umat ini, bahkan dahulu pernah dikatakan hidupnya ulama adalah hidupnya/bangkitanya alam semesta. Adapun mencaci, mencela dan menuduh para ulama yang mengakibatkan (jauhnya umat dari ulama -pent) dan mendekatkan umat kepada anak-anak yang masih ingusan yang hanya ingin popularitas maka ini adalah (kabar duka) yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam : “Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat adalah diambilnya ilmu (agama) dari anak-anak ingusan/bodoh” [HR Al-Lalikai dalam ‘Syarhu Ushul I’tiqod Ahli Sunnah’ 102].Hukum yang disepakati oleh ketiga imam dan ulama/fuqoho tersebut, tidak terlalu jauh dari kebenaran jika ada yang mengatakan hal tersebut sebagai ijma’ dan bahwasanya hal tersebut adalah benar serta merupakan petunjuk karena mereka adalah imam-imam/ulama pada zaman ini…” [“At-Tahdziru Min Fitnati Takfir” hal 42-45]. Wahai Fauzan Apakah ucapan Abdullah bin Mubarok Rahimahullahu diatas bisa anda katakan sebagai seruan kepada taqlid ? apakah anda pernah membaca ayat dalam surat An-Nisa’ 59 : [يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ] Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu..”?Syubhat/tuduhanUcapan penulis (Fauzan Al-Anshori) yang mengatakan : ‘pernyataan bahwa siapa yang bergabung dengan Syaikh fulan dan membelanya baik benar maupun salah berarti kelompok yang benar Â…BantahanSalafiyah tidak pernah menyeru untuk membela ulama jika salah tapi Salafiyah menghormati ulama -yang betul-betul ulama- yang menyeru kepada aqidah dan sunnah shohihah serta melarang dari syirik dan bid’ah. Coba anda tunjukkan kepada kami bahwa Salafiyah membela ulama jika salah ??? Salafiyah bukan seperti da’i-da’i harokah/pergerakan yang selalu mencela ulama. Mereka, da’i-da’i pergerakan tidak mau merujuk kepada ulama meskipun dalam masalah besar yang menyangkut umat manusia. Mereka seenaknya berfatwa tanpa bercermin terlebih dahulu. Padahal Allah Subhanahu wa TaÂ’ala berfirman : [فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ] Artinya : “Bertanyalah kepada ulama jika kalian tidak mengetahui” [QS Al-Anbiya’ 7]. Dan Allah Subhanahu wa TaÂ’ala juga berfirman : “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri (ulama) diantara mereka tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulama)” [QS An-Nisa 83].Sungguh sangat menyedihkan keadaan umat sekarang, mereka yang masih ingusan sudah berani berfatwa dan mencela ulama. Sebagian dari mereka yang berfatwa terkadang belum bisa membaca kitab-kitab ulama yang berbahasa arab, tapi hanya menukil buku-buku terjemahan. Maka pantas kalau dikatakan :لمثل هذا يذوب القلب من كمد إن كان في القلب إسلام و إيمانKarena hal seperti inilah hati meleleh dengan kesedihanJika didalam hati ini masih terdapat keislaman dan keimananImam Malik Rahimahullahu pernah mengatakan : “Tidaklah aku berfatwa hingga ada 70 ahli ilmu menyaksikan bahwa aku telah layak untuk berfatwa” [Sifatul Fatwa wal Mustafti (7) oleh Ibnu Hamdan].Coba anda renungkan ucapan-ucapan masyayikh dakwah Salafiyah tentang taqlid, apakah sama dengan apa yang anda tuduhkan ?1. Syaikh Muqbil bin Hadi Rahimahullahu pernah ditanya tentang taqlid, lalu beliau menjawab : ‘Taqlid itu haram, tidak boleh bagi seorang muslim untuk taqlid dalam agama. Allah Ta’ala berfirman : “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya [QS Al-A’raf 3]. ‘Beliau mengatakan : ‘Aku bukanlah hujjah, maka wajib bagimu untuk meminta kepadaku dalil sebab hujjah itu ada pada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa SallamÂ….‘ [“Tuhfatul Mujiib ‘ala As-Ilatil haadhir wal Ghoriib” oleh Syaikh Muqbil bin Hadi 205-206].2. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly -حفظه الله – mengatakan : ‘Sesungguhnya metode Islam dalam menuntut ilmu baik dalam masalah pokok maupun furu’/cabang hanya satu yaitu menyeru manusia untuk mengikuti dalil. Tidak boleh taqlid kecuali dalam keadaan terpaksa yaitu ketika tidak mampu mengenal dalil dan menelusurinya, baik dalam masalah aqidah atau hukum. Barangsiapa yang mampu berijtihad dalam masalah Fiqih -misalnya- tidak boleh baginya untuk taqlidÂ…‘ [“Al-Moqoolaat As-Salafiyah” oleh Syaikh Salim Al-Hilaaly hal 31].3. Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkholi -حفظه الله – mengatakan : ‘Taqlid dalam Islam adalah mengikuti suatu ucapan yang tidak ada dalilnya. Dan ini dilarang dalam agama. Adapun ittiba’ adalah (mengikuti suatu ucapan/perbuatan -pent) yang ada dalilnya. Taqlid dalam agama Allah tidaklah dibenarkan sedangkan ittiba’ dalam agama diperbolehkan dan taqlid itu dilarang Â…Â….‘ [“Al-Iqna’ bimaa ja-a ‘an Aimmatid dakwah Minal Aqwal Fil Ittiba’ “ oleh Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkholi hal 105].4. Syaikh Ali bin Hasan Al-Halaby – حفظه الله – mengatakan : ‘Taqlid adalah mengambil perkataan orang lain tanpa dalil dan ini adalah batil menurut para imam empat. Abu Hanifah mengatakan : ‘Tidak boleh bagi seseorang untuk mengambil perkataan kami selama dia tidak tahu darimana kami mengambilnyaÂ….‘. Syaikh Ali mengomentari Abul Hasan Al-Karkhi -yang menyeru kepada ta’ashub- yang dia mengatakan : ‘setiap ayat yang menyelisihi madzhab kami maka dia harus ditakwil atau dikatakan mansukh/terhapus, demikian juga dengan hadits’. Beliau (Syaikh Ali) mengatakan : ‘ini adalah ucapan batil dan sangat batil’. [“At-Tashfiyah wat tarbiyah” oleh Syaikh Ali bin Hasan hal 50-52]. Inilah dakwah Salafiyah. Inilah seruan da’i-da’i Salafiyah. Baca dan renungkanlah jika anda masih belum buta !!!!الحق شمس و العيون نواظر لكنها تخفى على العميانKebenaran itu bak mentari dan mata-mata ini memandangnyaAkan tetapi matahari itu tersembunyi bagi si butaAllah Subhanahu wa TaÂ’ala berfirman : [فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ] Artinya : “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang didalam dada” [QS Al-Hajj 46]. Jika anda ingin tahu siapa penyeru ta’ashub, silahkan lihat ucapan Hasan Al-Banna pendiri Ikhwanul Muslimin : ‘Sesungguhnya yang aku maksud dengan pemahaman disini adalah anda menyakini bahwa pemikiran-pemikiran kita adalah Islam yang benar dan anda harus memahami Islam ini sesuai dengan apa yang kami pahamiÂ…‘ [“Majmu’atu Rasaail Al-Imam Asy-Syahiid” hal 363]. Sa’id hawa mengatakan : ‘Tidak ada dihadapan andam muslimin kecuali pemikiran ustadz Al-Banna jika mereka ingin jalan yang benar’ [“Fil Aafaaqit Ta’aaliim” hal 5].Syubhat/tuduhanFauzan menuduh salafiyun sebagai berikut : Ciri salafiyun kedua, “Sekulerisme. Maka inilah yang terjadi bagaimana sebuah kelompok yang menamakan dirinya salafiyyun, pengikut salafush sholeh, namun menganut paham sekulerisme…”BantahanLagi-lagi Fauzan Al-Anshori berdusta kepada dakwah Salafiyah, takutlah anda wahai Fauzan Al-Anshori dari sabda Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam : “Bukankah manusia itu ditelungkupkan wajah-wajah mereka didalam neraka dengan sebab ucapan lisan-lisan mereka” [HSR. Tirmidzi 2616]. Dan tidaklah anda khawatir untuk menjadi pemilik sifat-sifat orang-orang munafik : “Empat hal barangsiapa yang memilikinya maka dia adalah seorang munafik. Dan jika ada sebagiannya saja maka dia telah memiliki sebagian dari sifat kemunafikan hingga dia meninggalkannya : apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari, apabila berselisih dia curang dan apabila bersepakat dia mengkhianati” [Muttafaqun ‘alaihi]. Inilah ucapan-ucapan masyayikh dakwah Salafiyah tentang berhukum hanya kepada Allah :1. Syaikh Kholid bin Ali bin Muhammad Al-Anbari – حفظه الله – mengatakan : “Diantara perkara yang tidak diperselisihkan lagi, adalah bahwa Allah satu-satunya yang berhak menghukumi diantara manusia. Tidak ada seorangpun yang berhak menyamai hukum-Nya meski tinggi kedudukan dan sempurna akalnya. Dialah sebaik-baik yang membuat hukum, hukum-Nya adalah benar dan adil secara mutlak. Adapun selain hukum Allah dari undang-undang buatan serta hukum-hukum jahiliyah maka hal itu adalah kedzoliman, kesesatan yang jauhÂ…” [Muqoddimah (cetakan ke 5) kitab “Al-Hukmu bighoiri maa anzalallhu” oleh Syaikh Kholid hal 17].2. Syaikh Ali bin Hasan, Salim bin ‘Ied Al-Hilaali, Masyhur bin Hasan Alu Salman, Husein Al-‘Awaayisyah, dan Muhammad bin Musa Alu Nash – حفظهم الله – mereka semua mengatakan dalam “Mujmal Masaailul Iman” hal 23 dalam bab berhukum dengan hukum Allah :a. Berhukum dengan hukum Allah adalah suatu kewajiban (yang fardhu ‘ain) bagi setiap muslim baik perorangan maupun kelompok, baik pemimpin ataupun rakyat. Semuanya adalah pemimpin dan semua akan diminta pertanggungan jawab atas yang dipimpinnya.b. Berhukum dengan hukum Allah mencakup segala bidang (kehidupan) umat manusia semuanya baik dalam bidang aqidah, dakwah, tarbiyah, akhlak, ekonomi, politik, sosiologi, kebudayaan dll.c. Meninggalkan berhukum dengan hukum Allah termasuk sebab segala bencana, perpecahan, kehinaan dan kenistaan yang telah meliputi umat ini baik perorangan maupun golongan.Adapun apa yang anda nukilkan wahai Fauzan Al-Anshori -semoga Allah memberimu petunjuk dan membalasmu jika anda memang sengaja berdusta- dari ucapan Syaikh Muhammad Ibrohim Syuqroh[5] maka sekali lagi kami ingin bertanya kepadamu :1. Apakah anda wahai Fauzan menukil langsung ucapan ini dari kitab aslinya atau anda hanya mencomotnya dari leluhurmu ?2. Apakah anda paham bahasa arab ?3. Apakah anda paham ucapan Muhammad Ibrohim Syuqroh ?4. Apakah anda punya buku “Hiyas Salafiyah Nisbatan wa Aqidatan..” ?5. Apakah anda memang sengaja mengambil yang sesuai hawa nafsumu atau yang dibisikkan oleh syaitan-syaitanmu dan meninggalkan apa yang tidak sesuai dengan seleramu ? “Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain” [QS Al-Baqoroh 85]. Memang metodemu seperti yang telah kita katakan, bak orang yang membaca [فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ] “Celakalah orang-orang yang shalat” [QS Al-Maa’un 4], atau memotong ayat [يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ] “wahai orang-orang yang beriman janganlah anda mendekati/melaksanakan shalat” [QS AN-Nisa’ 43], kemudian dia berhenti tidak menyambungnya. –Na’udzu billahi minadh dholaalati wal jahaalati-.Tidakkah anda baca dalam kitab “Hiyas Salafiyah Nisbatan wa Aqidatan” hal 167 yang jelas-jelas beliau menolak sekularisme : Dan kita tidak mengatakan : berikan hak kaisar kepada kaisar dan hak Tuhan kepada Tuhan”. Bahkan pada hal 164 beliau mengatakan : “Sesungguhnya politik yang tidak berdasarkan kepada aqidah dan hukum-hukum syariat akan mendorong kelompok-kelompok sesat menentang Islam secara keseluruhanÂ…. Dan beliau juga mengatakan pada hal 173 : Politik islam adalah bagian dari aturan-aturan Islam yang umum, tidak boleh untuk melalaikan dan meniadakannya dari aturan Islam. Ketika Islam telah memiliki daulah yang melindungi politik Islam dan para politikusnya maka politik tersebut akan menjadi suatu amal yang disunnahkan bagi umat Islam karena dua hal :a. Politik membutuhkan spesialis dan para pakar.b. Politik termasuk bagian dari kepemimpinan.Adapun maksud ucapan Syaikh Muhammad Ibrohim Syuqroh yang anda nukil maka tidaklah seperti apa yang anda pahami. Beliau hanya menggambarkan keadaan politik sekarang yang tidak ada lagi amar ma’ruf dan nahi anil mungkar, yang telah bercampur aduk antara kebenaran dan kebatilan. Beliau memberikan contoh orang yang terjun kedalam kancah politik : “Misalnya seseorang yang berkecimpung dalam kancah politik dia melaksanakan shalat sedangkan temannya tidak shalat maka tidak dibenarkan orang yang shalat tersebut mencela temannya yang tidak shalatÂ…….” .Kemudian beliau mengatakan : “Apakah politik seperti ini bisa dibenarkan/diterima ?! Saya kira bahwa slogan ‘berikan hak kaisar kepada kaisar dan hak Tuhan kepada Tuhan’ adalah sebuah kalimat hikmah/bijaksana yang sesuai dengan (fakta) zaman ini” [“Hiyas Salafiyah Nisbatan wa Aqidatan” hal 172]. Beliau dengan ucapannya ini bukan menyetujui/mendukung ucapan sekuler diatas tapi hanya menjelaskan alangkah sesuainya politik sekarang dengan ucapan sekuler diatas. Maka baca dan pahamilah dengan benar wahai Fauzan Al-Anshori !!! Kalau anda tidak punya kitabnya, kemarilah akan kami tunjukkan kesalahpahamanmu ini !!!و كم من عائب قولا صحيحا و آفته من الفهم السقيمBerapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar ????Sebabnya karena pemahaman yang salah/burukDakwah Salafiyah memang tidak mau terjun ke kancah politik sekarang yang penuh dengan kekotoran, kemunafikan dan kekufuran. Bahkan dakwah Salafiyah menyakini diantara politik (sekarang) adalah meninggalkan politik. Dakwah Salafiyah hanya ingin politik Islam yang murni, bukan seperti mereka yang dahulunya mengatakan ‘tidak ada hukum selain hukum Allah’ dan ‘barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia kafir’ tapi ketika mereka sudah masuk ke kancah politik atau parlemen dia lupa dengan ucapannya tadi, dia disumpah dengan selain hukum Allah, dia ridho Islam jadi barang dagangan yang bisa ditawar di pasar parlemen, diapun tidak sadar telah berhukum dengan selain hukum Allah, bercampur baur/ikhtilat dengan lawan jenis dan lain-lain dari kemungkaran. [مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ] Artinya : “Mengapa kamu (berbuat demikian) bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” [QS Al-Qolam 36].Apakah ini cara mendirikan khilafah Islamiyah ??? Apakah mereka ingin menghalalkan segala cara untuk tujuan yang mulia ??? Jika iya, (dan inilah fakta yang ada), maka alangkah serupanya mereka dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yahudi yang mendirikan kaidah “Al-Ghoyah tubarrirul wasilah” (tujuan itu menghalalkan segala cara), seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya : [وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ ءَامِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا ءَاخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ] Artinya : “Berimanlah (perlihatkan keimanan) dengan apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman pada permulaan siang dan ingkarilah ia apada akhirnya supaya orang-orang beriman kembali kepada kekafiran” [QS Ali Imron 72].Dakwah Salafiyah bukan mengingkari tujuan kalian yang mulia untuk mendirikan khilafah islamiyah, tapi dakwah Salafiyah mengingkari cara/metode kalian yang salah. Kita (dakwah Salafiyah) mengingkari dzikir berjamaah, bukan berarti kita melarang dzikir, tapi kita mengingkari caranya yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda : [من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد] Artinya : “Barangsiapa yang melakukan suatu amal ibadah yang tidak sesuai dengan sunnahku maka amal tersebut tertolak” [HR Muslim]. Hadits ini bukan hanya berkaitan dengan ibadah ritual seperti shalat, puasa haji dll, tapi umum mencakup segala permasalahan agama semisal dakwah dan jihad.Dari Sa’id bin Musayyib Radhiyallahu anhu bahwasanya beliau melihat seseorang yang shalat setelah terbit fajar lebih dari 2 rakaat dan dia memperbanyak ruku’ pada shalatnya tersebut, maka Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Lalu orang tersebut berkata : ‘Wahai Aba Muhammad, apakah Allah akan mengadzabku karena shalatku ?‘ Sa’id bin Musayyib berkata : ‘Tidak, tapi Allah mengadzabmu karena anda menyelisihi sunnah‘ [HR Baihaqi dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam ‘Irwa’ul Gholil’ 2/236]. Jika anda ingin tahu bagaimana politik yang diinginkan dakwah Salafiyah, baca “As-Siyasah Al-Lati Yuriiduhas Salafiyyun” oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman – حفظه الله -. Dan perlu diketahui bahwa Salafiyah tidaklah mencela mereka yang selalu mencaci maki, melaknat dan mendemo para penguasa, melainkan dalam rangka mengikuti jejak ulama salaf seperti Imam Al-Barbahari yang mengatakan dalam kitabnya “Syarhus Sunnah” hal 212 (beserta syarah/penjelasan dari Syaikh al-Allamah Ahmad Yahya An-Najmy hafizhahullahu) : “Jika anda melihat ada seseorang yang melaknat (mencaci-maki/mencela -pent) penguasa maka ketauhilah dia adalah pengekor hawa nafsu..”. Kalau anda ingin tahu cara salafiyun dalam bermuamalah (amar ma’ruf dan nahi ‘anil mungkar) kepada penguasa coba baca “Mu’amalatul Hukkam Fii Dho’ii Kitab was Sunnah” oleh Syaikh Abdussalam Barjas rahimahullahu.Syubhat/tuduhanFauzan menuduh : “Ketiga. Menihilkan jihad. Ta’thil (menihilkan) jihad, itulah salah satu (sifat gerakan) salafiyyunÂ…Â…..…”BantahanWahai Fauzan Al-Anshori dan yang serupa denganmu, semakin anda berceloteh semakin anda tambah dusta dan dosamu. Takutlah akan siksaan Allah dan dari sifat kemunafikan. Seorang muslim -Insya Allah- jika masih ada keimanan dalam dirinya maka semangat untuk berjihad meninggikan kalimat Allah tentulah masih berkobar dalam hatinya. Mungkin anda Fauzan Al-Anshori tidak tahu ucapan para ulama dan masyayikh dakwah Salafiyah tentang jihad, oleh karenanya simak ucapan mereka ini :1. Samaahatusy Syaikh Bin Baz Rahimahullahu berkata : “Sesungguhnya jihad fii sabiilillah termasuk semulia-mulianya ibadah dan seagung-agungnya ketaatan. Jihad adalah suatu hal yang layak untuk anda muslimin berlomba-lomba didalamnya. Semua itu, karena dampak positif yang ditimbulkannya yaitu dapat menolong andam mukminin, meninggikan kalimat Allah, membasmi orang-orang kafir dan munafik, membuka jalan bagi dakwah islamiyah diseantero dunia, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, menebarkan kebaikan-kebaikan islam dan hukum-hukumnya yang adil diantara makhluk dan lain-lain dari kebaikan yang banyak sekali bagi andam muslimin” [Majmu Fatawa wa Moqoolaat Mutanawi’ah 18/61-62].2. Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan – حفظه الله – berkata : “Sesungguhnya jihad di jalan Allah termasuk kewajiban yang mulia, dia adalah penegak agama seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam Â….” [Al-Jihad An waa’uhu wa ahkaamuhu oleh Syaikh Fauzan hal 1].3. Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr – حفظهما الله – berkata : “Sesungguhnya jihad dijalan Allah termasuk seutama-utama yang diperintah dalam syariat dan semulia-mulia ibadah. Para ulama terdahulu dan sekarang sangat memperhatikan satu hal ini, bahkan sebagian mereka ada yang menyendirikan masalah ini dalam karangan-karangan mereka yang lebih dari 30 kitab diantaranya “Al-Jihad” oleh Abdullah bin Mubarok, “Al-Jihad” oleh Ibnu Abi ‘Ashim, “Al-Jihad” oleh Ibnu ‘AsaakirÂ…Â…..” [Al-Quthuf Al-Jiyaad min Hikami wa ahkaamil jihad oleh Syaikh Abdurrozzaq hal 3].4. Syaikh Muhammad Musa Alu Nash – حفظه الله – berkata : “Jihad adalah tulang punggung islam yang tidak diperselisihkan lagi oleh andam muslimin. Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang menyeru kepada jihad sangatlah banyak sekali. Akan tetapi jihad memiliki kaidah-kaidah, syarat-syarat dan caranya. Salafiyyun tidak mau berperang dibawah bendera fanatik jahiliyah, Karena jihad tidaklah disyariatkan melainkan untuk menegakkan syariat Allah. [حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ]. ‘Hingga tidak ada lagi fitnah dan agama ini semuanya untuk Allah’ [QS Al-Anfal 39]. Harus ada imam dalam berjihad, harus ada bendera islam, pendidikan tentang jihad, serta persiapan dan bekal. Jihadnya salafiyyun didasari oleh ilmu dan tujuan yang jelas. Ketika telah berkibar bendera jihad (yang syar’i) dan jelas tujuannya maka salafiyyun tidak pernah ketinggalan. Bumi Palestina, Cechnya, Afghanistan, Balkan, Kasmir sebagai saksi disisi Allah akan jihadnya salafiyyun” [Maadza Yanqumuuna Minas Salafiyah oleh Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr hal 85].5. Syaikh Muhammad bin Ibrohim Syuqroh berkata pada awal bab jihad : “Jihad merupakan benteng Allah yang kokoh, tali agama yang kuat, tulang punggung islam tertinggi dan penjaga bagi tauhid”. Kemudian beliau mengatakan pada hal 192 : “Jihad adalah istilah islam yang murni. Apabila disebutkan (jihad) disebutkan pula kata sabar, pengorbanan, kesungguhan dan harapan untuk mendapat 1 dari 2 kebaikan, pertolongan atau mati syahid. Dan kedua hal tersebut merupakan jalan bagi kemuliaan didunia dan diakherat. Dan barangsiapa yang mati sedang dia tidak berjihad serta tidak ada bisikan jihad dalam hatinya maka jika dia mati, matinya dalam keadaan jahiliyah. ‘Iyaadzan billahi”.Apakah ini yang anda tuduhkan kepada kami (dakwah Salafiyah) ??? Apakah ucapan-ucapan diatas menihilkan jihad??? Kemanakah larinya akal dan hatimu wahai Fauzan Al-Anshori -semoga Allah membalas segala kedustaanmu didunia dan akherat nanti- ??? Cobalah anda buka penglihatanmu untuk membaca buku-buku dakwah Salafiyah hingga anda tidak buta terhadapnya dan mungkin Allah memberi hidayah kepadamu lewat buku-buku tersebut !!! Sekali lagi, baca dan pahami dengan baik !!! Adapun ucapan Syaikh Muhammad Ibrohim Syuqroh yang anda jadikan pegangan dalam menuduh bahwa dakwah Salafiyah menihilkan jihad maka sebenarnya beliau telah menjelaskan maksudnya yang Fauzan Al-Anshori tidak mau membacanya atau pura-pura bodoh atau Fauzan Al-Anshori sengaja memotong-motongnya seperti yang dilakukan sebelumnya. Tapi memang, “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang didalam dada” [QS Al-Hajj 46]. Syaikh Muhammad Ibrahim Syuqroh mengatakan dalam [“Hiyas Salafiyah Nisbatan wa Aqidatan” hal 202-203 : “Janganlah pembaca memahami bahwa aku menihilkan kewajiban jihad pada saat ini sedangkan umat dalam keadaan terpuruk dan terhina serta dilanda bencana yang membinasakan. Umat ini secara keseluruhan merasakan pahitnya keadaan yang memotong-motong usus, membakar wajah dan meleburkan hati !!Sesungguhnya kalau ada orang yang menihilkan kewajiban jihad selama-lamanya berarti dia telah menuangkan kepada dirinya sendiri siksaan yang pedih. Tapi disana ada perbedaan yang sangat jauh sekali, antara orang yang menihilkan jihad (selama-lamanya) dengan orang yang mengatakan wajibnya mempersiapkan (jihad) dengan persiapan yang benar, meskipun harus membutuhkan waktu yang panjang, karena jihad merupakan perwujudan dari firman Allah [وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ] Artinya : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya sedang Allah mengetahuinya” [QS Al-Anfal 60]. Barangsiapa yang merenungi ayat diatas hampir-hampir dia akan mengatakan wajibnya menahan diri dari berjihad hingga memiliki persiapan yang matang -dan terkadang bentuk I’dad (menahan diri) itu dengan tidak ber i’dad-. Karena maksud dari i’dad itu sendiri adalah menggentarkan musuh Allah dan musuh andam muslimin. Jika i’dad tersebut belum bisa matang dan belum bisa menggentarkan hati-hati mereka serta tidak menggoncangkan singgasana serta kestabilan mereka maka ini bukanlah i’dad yang diperintahkan. Jika tidak demikian maka apalah artinya firman Allah [تُرْهِبُونَ] ‘kamu menggentarkan musuh Allah’. Dan i’dad haruslah dengan hal-hal yang disyariatkan[6] yang dapat mewujudkan tujuan semulaÂ…”. Dan pada halaman sebelumnya beliau juga mengatakan (hal 196-197) : “Allah tidaklah memerintahkan umat ini berjihad untuk memberatkan mereka. Jihad termasuk perintah syariat yang juga tercakup dalam (kaidah) firman Allah Ta’ala : “Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan yang dia sanggupi”. Jika umat belum mampu untuk menegakkan jihad karena ketiadak adanya pemimpin (kholifah) yang mengibarkan bendera jihad serta menyeru dan memimpin pasukan, maka jihad termasuk kewajiban yang belum bisa dilaksanakan dan tidaklah berdosa umat ini jika belum bisa melaksanakannya kecuali kalau ada yang ridho (meninggalkan jihad selama-lamanya). Tidaklah yang diwajibkan melainkan menghadirkan niat dan berjihad jika telah datang saatnyaÂ…”.Sedemikian jelasnya ucapan Syaikh Muhammad Ibrahim Syuqroh, tapi kalau hawa nafsu telah mendarah daging, mata dan telinga bisa tertutup dan terkunci. Dan yang dimaksud jihad oleh Syaikh Muhammad Ibrahim Syuqroh disini adalah jihad tholab/menyerang bukan difa’/membela diri -wallahu ‘alam-. Orang yang masih punya akal tidak akan mungkin menyeru andam muslimin untuk berjihad (tholab) tanpa ada persiapan dan bekal yang cukup. Nabi  selama 13 tahun berdakwah di kota Mekah bersama para sahabatnya. Mereka selalu mendapat gangguan bahkan sebagian mereka terbunuh dijalan Allah. Tapi karena belum ada kemampuan dan persiapan yang cukup, Allah pun tidak mewajibkan mereka berjihad bahkan Allah memerintahkan mereka untuk berhijrah. Mungkin inilah yang mendasari fatwa Syaikh Al-Albani v yang menyeru penduduk muslim Palestina berhijrah. Bukan untuk menyerahkan Palestina kepada Yahudi -semoga Allah membinasakan mereka- secara percuma seperti yang Fauzan Al-Anshori anggap dan tuduhkan. Jika ini yang Fauzan Al-Anshori tuduhkan, beranikah anda Fauzan Al-Anshori menuduh Rasulullah  dan para sahabatnya telah menyerahkan bumi Mekkah (yang lebih mulia dari Palestina) ketangan kafir Quraisy secara percuma ? Apakah dengan Rasulullah  dan para sahabatnya berhijrah dari Mekah berarti mereka tidak berjihad ? Jihad bukan hanya modal semangat tapi harus juga pakai ilmu dan otak.Perlu anda – Fauzan Al-Anshori – ketahui bahwa hijrah seperti jihad tak akan pernah terputus sampai hari kiamat kelak sebagaimana sabda Nabi  : “Tidak akan terputus hijrah hingga terputusnya taubat dan tidak akan terputus taubat hingga terbit matahari dari barat” [HSR Abu Daud 2479]. Dan hijrah termasuk salah satu bentuk I’dad, seperti yang dilakukan oleh Nabi  di Medinah. Imam Nawawi Rahimahullahu mengatakan dalam “Roudhotut tholibin” 10/282 : “Seorang muslim apabila dia dalam keadaan lemah dinegri kafir, dia tidak dapat menampakkan agamanya maka diharamkan baginya tinggal disana dan wajib baginya untuk hijrah ke negri islamÂ…”. Agar anda lebih jelas -wahai Fauzan Al-Anshori – dan tidak buta tentang masalah hijrah yang merupakan salah satu tahapan jihad, maka bacalah “Al-Fashl al-Mubiin fii Mas`alatil Hijroh wa Mufaaroqotil Musyrikiin” oleh Syaikh Husein Al-Awaayisyah – حفظه الله -. Tidakkah orang yang melarang penduduk muslim Palestina berhijrah membaca firman Allah Subhanahu wa TaÂ’ala : [إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا(97)إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا] Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).” [QS. An-Nisaa’ : 97-98]. Imam Ibnu Katsir v menafsirkan ayat diatas dengan ucapan beliau : “Ayat ini turun kepada setiap orang yang tinggal ditengah-tengah orang-orang musyrik sedangkan dia (sebenarnya) sanggup untuk berhijrah dan dia tidak dapat menampakkan agamanya, maka dia telah mendzolimi dirinya sendiri dan dia telah melakukan suatu yang haram secara ijma’ maupun menurut ayat ini” (Tafsir Al-Qur’anil ‘Adzim 1/708).Apakah mereka yang mengharamkan penduduk muslim Palestina berhijrah tidak tahu bahwa andam muslimin disana semakin dicabik-cabik kehormatan diri mereka, keluarga, dan agama mereka ??? Berapa banyak wanita-wanita lemah dirampas kesucian mereka dan anak-anak kecil yan menjadi sasaran kebiadaban Yahudi – قاتلهم الله -, masihkah anda – Fauzan Al-Anshori – memerintahkan mereka terus menjadi korban ?? anda – Fauzan Al-Anshori – dengan enak menggembar-gemborkan jihad diantara istri-istri dan anak-anakmu, tapi merekaÂ…!! Bayangkan jika istri dan anak serta kedua orang tuamu ada disana !!![7] Anda – Fauzan Al-Anshori – dan yang semisal dengan anda yang selalu menggembar-gemborkan jihad, kenapa anda sendiri dan teman-teman anda tidak pergi saja sekarang ke Palestina atau Iraq ??? Pergi ke Iraq atau Palestina mungkin lebih baik bagi anda dari pada anda berdusta dan menyesatkan kaum awam di Indonesia !!! Anda menggembar-gemborkan jihad dan menyalahkan para ulama tanpa bukti yang nyata, sedangkan anda sendiri tertawa bersama istri-istri dan sanak kerabatmu Â…apakah ini yang dikatakan orang tong kosong nyaring bunyinya ??? Ya Allah, jadikanlah kami pejuang-pejuang agamamu yang selalu berpegang dengan ajaran Rasul dan para sahabat, hidupkan serta wafatkan kami diatas sunnah dan manhaj salaf .Syubhat/tuduhanFauzan berkata : “Untuk kepentingan siapa Syaikh mereka Rabi’ Al-Madkholi mengarahkan meriam takfir (pengkafiran) kepada Sayid Quthub yang aktif mengkritik pemerintahan sekuler ? “Bantahan :Coba buktikan kepada kami kalau Syaikh Rabi’ mengkafirkan Sayid ghofarallahu lahu??? Syaikh Rabi’ hanya mengungkap kesesatan-kesesatan Sayid dengan bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang nyata, seperti dalam “Mathoo’in sayyid quthub fii ashaaabi Rasulillah” dll. Semua itu beliau lakukan untuk kepentingan islam dan andam muslimin agar mereka tidak terpedaya dan tertipu oleh Sayid yang sesat dan menyesatkan. Tidak tahukah anda bahwa idolamu Sayid yang aktif mengkritik pemerintahan sekuler, dia juga aktif mengkritik dan mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam, bahkan dia berani mencela seorang Nabi Allah yaitu Musa ‘alaihi salam ??? Mau bukti, coba simak dan renungkan ucapan idolamu ini : “Kita ambil Musa sebagai contoh pemimpin yang cepat naik pitamÂ…” [“At-tashwir al-fanni fil Qur’an” hal 200]. Dia juga mengatakan : “Ketika Mu’awiyah dan temannya memilih jalan kedustaan, kecurangan, penipuan, kemunafikan, suap dan membeli kehormatan, maka Ali tidak dapat melakukan perangai yang buruk ini. Oleh karenanya, tidak heran kalau Mu’awiyah dan teman-temannya berhasil sedang Ali gagal, tapi kegagalan ini lebih mulia dari semua kesuksesan” [“Kutubun wa syakhshiyaat” hal.242]. Ini masih sebagian dari kesesatan idolamu, kalau anda mau, kami -insya Allah- dapat menjelaskan lebih terang lagi berbagai macam kesesatannya.Jadi mana yang anda bela wahai Fauzan Al-Anshori, sahabat Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam atau yang mencela mereka ??? Apakah salah jika Syaikh Rabi’ – حفظه الله – membela para sahabat ? Ya, beginilah akhir zaman yang penuh dengan keajaiban, yang ma’ruf dikatakan mungkar dan yang mungkar dikatakan ma’ruf. Alangkah benarnya ucapan seorang penyair : الله أخر موتتي فتأخرت حنى رأيت من الزمان عجائبAllah mengakhirkan kematianku hingga akumelihat zaman ini penuh dengan keajaibanSikap membela sahabat dan mencela para pencela sahabat adalah warisan para ulama salaf kita. Tidakkah anda pernah membaca ucapan Imam Abu Zur’ah Ar-Roozi Rahimahullahu : “Apabila anda melihat seseorang mencela salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia itu zindiq, karena Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam menurut kami adalah benar dan Al-Qur’an itu benar. Sesungguhnya yang menyampaikan Al-Qur’an dan hadits kepada kita adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Mereka (yang mencela para sahabat) hanyalah ingin mencela para saksi kita untuk membatalkan Al-Qur’an dan sunnah, padahal celaan itu lebih pantas untuk mereka dan mereka adalah orang-orang zindiq” [lihat Al-Kifaayah fii ‘ilmil riwaayah oleh Al-Khotib Al-Baghdadi hal.67]. Imam Al-Barbahaari Rahimahullahu berkata dalam “Syarhus sunnah” hal 50 no.104 : “Apabila anda melihat seseorang mencela para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia itu pemilik ucapan yang jelek dan pengekor hawa nafsu”. Syubhat/tuduhanTuduhan Fauzan : “4. Cuek dengan nasib umat islamÂ….”Bantahan : Sesungguhnya waqi’/kenyataan atau realita umat yang pahit ini tidaklah tersembunyi bagi yang masih melihat dengan kedua matanya dan tidaklah ada yang jahil terhadapnya melainkan yang buta mata dan hati. Realita umat yang pahit ini merupakan dampak negatif maksiat dan jauhnya umat ini dari agama Allah yang murni[8] terutama dari tauhid dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Maka tidak ada jalan lain untuk mengatasi realita umat yang pahit dan getir ini melainkan dengan Tashfiyah dan Tarbiyah, hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam : “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah (sejenis riba -pent), kalian mengambil ekor-ekor sapi dan ridho dengan persawahan serta kalian tinggalkan jihad maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan dicabut hingga kalian kembali kepada agama kalian (yang murni)” [HSR Abu Daud].Didalam hadits ini Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam tidak mengatakan jalan keluarnya adalah kalian kembali kepada jihad saja, tapi kembali ke agama (yang murni) dalam segala bidangnya terutama tauhid sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nuur 55[ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ] Artinya : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. “Bagaimana mungkin umat ini dapat menang dalam berjihad melawan orang-orang kafir sedang mayoritas mereka masih tenggelam dalam kesyirikan, kebid’ahan, khurafat dan maksiat ??? Oleh karenanya diperlukan Tashfiyah (pemurnian umat dari semua hal diatas) dan Tarbiyah (mendidik umat dengan islam yang murni). Inilah perhatian dakwah Salafiyah terhadap umat, menyeru mereka kepada fiqhul kitab dan sunnah, bukan dengan fiqhul waqi’ (mengamati realita umat dengan baca koran, majalah, mendengar radio, melihat TV) seperti yang kalian banggakan. Dan inilah fiqhul waqi’ yang ditolak/ditiadakan oleh Syaikh Muhammad Ibrohim Syuqroh. Tidakkah anda – Fauzan Al-Anshori – tahu bahwa istilah fiqhul waqi’ yang sering kalian dengungkan tidak pernah digunakan oleh para salafush sholeh. Istilah tersebut adalah istilah baru dalam agama (bid’ah).[9] Yang ada pada mereka (salafush sholeh) adalah fiqhul kitab, fiqhul sunnah, fiqhul akbar dll. Oleh karena anda –Fauzan Al-Anshori– bergelut dengan fiqhul waqi’ maka anda jauh dari kitab-kitab ulama salaf dan buta terhadap kebenaran dakwah Salafiyah. Waktumu habis dengan koran, siaran radio, TV, internet dll, maka bertakwalah kepada Allah akan dirimu !!! Tidakkah anda tahu bahwa media masa tersebut milik musuh-musuh islam yang tanpa sadar anda terbius dan teracuni oleh kabar-kabar mereka. Kalian mendakwahkan sebagai orang yang tahu fiqhul waqi’, padahal anda dan bala pasukanmu adalah orang yang paling bodoh dengan fiqhul waqi’. Insya Allah, kita akan bahas lebih lanjut masalah fiqhul waqi’ ini dalam majalah “Adz-Dzakhiroh” pada edisi mendatang.Syubhat/tuduhanFauzan berkata : “Inilah gambaran sekilas latar belakang pemikiran gerakan sesat Murjiah extrim, yang hari ini dengan bangga menggelari dirinya sebagai gerakan dakwah Salafiyah. “Bantahan : Tahukah anda wahai Fauzan Al-Anshori semoga Allah membalas segala kedustaan dan tuduhan batilmu apakah gerakan sesat murjiah extrim itu ? Apakah seperti Syaikh Ali bin Hasan, Salim bin Ied Al-Hilali, Masyhur bin Hasan, Muhammad bin Musa Alu Nashr, Husein Al-‘Awaayisyah – حفظهم الله – yang mereka semua mengatakan : “Iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dalam lisan dan perbuatan dengan anggota badan dan bahwasanya amal dengan segala macamnya (amalan hati dan anggota badan) termasuk dari imanÂ… dan bahwasanya iman itu bisa bertambah dengan ketaatan hingga mencapai puncaknya dan iman bisa berkurang dengan kemaksiatan hingga bisa sirna dan tidak tersisa sedikitpunÂ…” [“Mujmal masaailil iman al-‘ilmiyahÂ…”hal 14. dan ucapan serupa juga disampaikan oleh Syaikh Al-Albani dalam Syarh wa ta’liq terhadap Aqidah Thohawiyah hal.62.] termasuk murjiah ??? Apakah anda buta dengan ucapan salaf tentang murjiah ? Pernahkah anda membaca ucapan Imam Al-Barbahaari Rahimahullahu dalam “Syarhus sunnah” hal 132-133 : “Barangsiapa yang mengatakan bahwa iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang, maka dia telah keluar dari irja’ (murjiah) awalnya hingga akhirnya dan ucapan Imam Ahmad Rahimahullahu tentang orang yang mengatakan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang, beliau mengatakan : Orang itu telah terlepas dari irja’ ” [“As-Sunnah” oleh Al-Khollal 3/581]. Apakah setiap orang yang tidak mengkafirkan penguasa muslim dikatakan murjiah ? Apakah setiap orang yang tidak meledakkan tempat-tempat umum dikatakan murjiah ? Apakah yang tidak ikut dengan Fauzan Al-Anshori dikatakan murjiah ? Tidakkah anda yang mengatakan sendiri : “Vonis-vonis keras kepada seseorang atau kelompok Islam yang berada di luar arus mereka” ??? apakah tuduhan murjiah kepada dakwah salafiyah bukan vonis ??? Wahai Fauzan, Sadar dan bertaubatlah anda ke jalan kebenaran (dakwah Salafiyah) sebelum ajal tiba !!!! Pahamilah bantahan/nasehat kami dengan mata terbuka dan lapang dada, jika anda tidak paham juga, maka kami hanya bisa mengatakan seperti apa yang dikatakan seorang penyair : علي نحت القفافي من معادنها و ما علي إن لم تفهم البقرTugasku adalah mengukir bait-bait syair dari sumbernyaDan bukanlah tugasku jika sapi itu tidak paham (Ditulis oleh al-Ustadz Abu Abdirrahman Abdurrahman Thayib, Lc. Beliau adalah staf pengajar MaÂ’had Ali Al-Irsyad Surabaya. Risalah ini akan dimuat di Majalah adz-Dzakhiirah, edisi depan –insya Alloh-)


[1] [“Limaadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy ?” oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly hal 33. lihat pula “Al-Manhaj As-Salafy ‘Inda Syaikh Nashiruddin Al-Albany” oleh Amru Abdul Mun’im hal 14.]

[2] [“Asy-Syari’ah ” oleh Al-Ajury” hal 58.]

[3] [Coba anda lihat kitab “Al-Qoulul Baliqh Fit Tahdzir min Jama’atit Tabligh” oleh Syaikh Hamud At-Tuwaijiry, “Al-Maurid Al-‘Adzbu Azzalal” oleh Syaikh Ahmad An-Najmy, “Al Jama’at Al-Islamiyah” oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly.]

[4] [Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh dalam “Al-Ibanah” 2/456 dan beliau mengomentari ucapan Al-Auza’i tersebut dengan perkataannya :’sungguh benar apa yang diucapkan oleh Al-Auza’i, orang tersebut tidak tahu kebenaran’].

[5] [Syaikh Muhammad Ibrohim Syuqroh memang dahulu dikenal dengan kesalafiannya, tapi sekarang dia menyimpang dari dakwah Salafiyah. Seperti yang dijelaskan oleh Majalah Ash-Sholah edisi 25/26. kita disini ingin membela yang haq bukan perorangan. “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu andam membuatmu tidak berbuat adil, berbuat adillah karena itu lebih dekat dengan takwa” (QS Al-Maidah 8).]

[6] [Bukan dengan cara bom bunuh diri atau meledakkan fasilitas umum atau membunuh manusia yang tidak berhak untuk dibunuh, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang-orang gerakan (tikus) bawah tanah yang [لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوع] Artinya : ” yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS.Al-Ghoosyiyah : 7). Coba anda baca “As-Salafiyyun wa qodhiyatu falestiin” oleh Syaikh Masyhur bin Hasan, “Al-irhab wa atsaruhu fil afrod wal ummah” oleh Syaikh Zaid bin Hadi Al-Madkholi dan “Fatawa aimmah fin nawaazil al-mudlahimmah” oleh Syaikh Muhammad bin Husein Al-Qohthooni.]

[7] [Apa yang kami utarakan tentang hijrah diatas merupakan nukilan secara ringkas dan dengan sedikit tambahan dari “Salafiyyun wa qadhiyatul falestiin-As” oleh Syaikh Masyhur bin Hasan حفظه الله hal. 18-37.]

[8] [“Maadza yanqumuuna minas Salafiyah” oleh Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr hal.71]

[9] [Buletin yang berjudul “Fiqhul waqi'” oleh Syaikh Sholeh bin Abdul Aziz Alu Syaikh – حفظه الله -]

——————————–

sumber : www.abusalma.blogspot.com

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s